Showing posts with label seni dan budaya. Show all posts
Showing posts with label seni dan budaya. Show all posts

Friday, 7 July 2017

misteri Candi Sukuh karanganyar, candi unik berbentuk piramida suku maya


Di Kabupaten Karanganyar, tepatnya di timur kota Solo, terdapat sebuah candi yang bernama candi Sukuh. Candi tersebut mirip dengan peninggalan suku Maya di Amerika tepatnya di negara bagian Meksiko. Di negara tersebut, konon terdapat sebuah bangunan kuil yang didirikan pada tahun 800 SM. Kuil tersebut bernama Chichen Itza dan telah ditetapkan sebagai salah satu keajaiban dunia pada tahun 2007. Kalau diperhatikan di gambar, bentuk kuil tersebut tak jauh beda dengan Candi Sukuh yang berada di Karanganyar. Meskipun memiliki ukuran yang jauh lebih besar, keduanya memiliki arsitektur yang sama, yakni berbentuk seperti bentuk piramida.

Kali ini saya  bersama dengan rekan saya berkesempatan mengunjungi Candi ini. Dari berbagai sumber yang saya peroleh, candi Sukuh dikenal sebagai candi yang penuh dengan misteri. Hal itu dikarenakan adanya cerita yang berkembang di kalangan masyarakat tentang adanya ritual uji keperawanan yang dilakukan disana. Candi Sukuh, selain dikenal sebagai tempat uji keperawanan juga dikenal sebagai bangunan suci peninggalan agama Hindu.

candi sukuh karanganyar
bagian utama dari candi sukuh ( sumber : wikipedia )


Rute menuju Candi Sukuh dari Solo

Candi Sukuh berlokasi di Dukuh Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Untuk menuju ke Candi rekan-rekan bisa menggunakan angkutan umum. Jarak candi Sukuh dari kota Karanganyar sekitar 20 km sedangkan dari kota Solo berkisar antara 30-35 km. Jika rekan-rekan ingin menggunakan kendaraan umum bisa menggunakan kendaraan bus ke arah Tawangmangu dan turun di terminal Karangpandan ( terminalnya kecil di sisi kanan jalan ). Dari Terminal Karangpandan lalu ganti angkutan ( menggunakan mini bus ) menuju ke daerah Nglorok. Minibus akan berhenti di Nglorok dan rekan-rekan harus berjalan kaki ke arah kompleks Candi Sukuh. Tanjakan disini cukup berat dan panjang, namun jangan khawatir, ada jasa ojek yang bisa kita gunakan untuk bisa mengantar sampai di pelataran Candi Sukuh. Bila kita menggunakan kendaraan pribadi, dari terminal Karangpandan ikuti jalan yang sudah mulai menanjak ke arah Tawangmangu, lalu belok ke kiri di pertigaan kedua setelah Terminal Karangpandan ( terdapat penunjuk jalan yang cukup jelas di pertigaan ini, belok kanan ke Tawangmangu dan belok kiri ke Candi Sukuh ). Di sepanjang perjalanan kita akan dimanjakan dengan udara khas pegunungan dengan rimbunnya pohon pinus dan sesekali kita akan melewati kebun teh yang cukup luas.

Tidak sampai 2 jam perjalanan dari arah kota Solo sampailah saya di Lokasi Candi Sukuh. Bagi yang baru pertama kali mengunjungi candi ini mungkin akan bingung mencari tempat pembelian tiket. Hal ini dikarenakan letaknya bukan di depan atau jalan utama setelah parkiran kendaraan bermotor, melainkan di bagian pojok kompleks candi. 

Candi Sukuh Teras Pertama

candi sukuh karanganyar
teras pertama candi sukuh


Memasuki area pelataran Candi sukuh kita disambut dengan Gapura Kecil yang mengarah ke sisi barat lereng gunung Lawu. Nampak pemandangan yang masih sangat asri di area ini. Pelataran di Candi Sukuh tidaklah begitu luas, mirip dengan Candi Merak yang berada di daerah Karangnongko Klaten. Nampak dari sini, Candi utama dengan ciri khasnya berbentuk rata pada bagian puncak. Halaman dari Candi Sukuh memiliki 3 teras utama. Menurut cerita yang saya peroleh dari salah satu petugas yang mengelola tempat ini, pada jaman dahulu apabila seseorang hendak mencapai teras utama, maka orang tersebut harus melewati tangga batu yang panjang dari dataran sampai halaman candi. Di pintu masuk ini pula terdapat relief dengan bentuk cukup vulgar. Relief di gapura masuk yang berbentuk alat k*lamin pria dan wanita tersebut memiliki makna tentang kesuburan dan kesucian. Harapannya bagi para pengunjung yang melewati gapura masuk tersebut telah dihapuskan ( dilebur semua pikiran kotor serta hawa nafsu ) guna mempersiapkan diri untuk masuk ke area yang suci di tingkat berikutnya.

Candi sukuh teras yang kedua

candi sukuh karanganyar
teras kedua candi sukuh


Tidak jauh dari teras pertama, kurang lebih berjarak 40 meter kita akan masuk ke bagian teras yang kedua. Terdapat 2 buah tatanan batu besar di teras yang kedua ini. Bila teras yang pertama terdapat atap di bagian gapura sebagai pintu masuk, di teras yang kedua ini saya tidak menemukan atap atau sisi bagian atas dari gapura. Disini hanya ada dwarapala atau patung penjaga pintu yang sudah mengalami beberapa kerusakan.

Bagian utama Candi Sukuh

Tujuan kami tentunya ingin masuk ke bangunan utama Candi Sukuh. Candi dengan ukuran tidak terlalu besar ini jika kita amati bentuknya nampak tidak lazim. Tidak lazim mengingat beberapa bangunan candi di beberapa daerah khususnya di daerah Yogyakarta memiliki bentuk lancip dengan adanya ratna di bagian puncaknya, seperti yang dapat kita temukan di Candi Prambanan atau candi Plaosan. Di bagian atas dari Candi Sukuh terdapat sebuah tempat datar dan bisa kita capai dengan menaiki tangga yang berada di bagian tengah dari Candi. Di bagian samping kanan dan kiri candi terdapat patung kura-kura dengan ukuran yang cukup besar ( kura-kura sebagai lambang dari dunia ).


candi sukuh karanganyar
bagian atas candi 

Pada waktu saya mengunjungi candi Sukuh, Candi Sukuh sangat sepi oleh pengunjung, saya tidak perlu harus mengantri untuk bisa naik ke bagian atas candi. Dengan melewati tangga yang sempit dan dengan lebar kurang lebih 1 meter serta menapaki beberapa anak tangga akhirnya saya sampai di bagian atas candi. Di bagian atas Candi saya dapat melihat keseluruhan kompleks candi temasuk sisi bagian belakang. Disini pula kita bisa menikmati keindahan alam sekitar serta bisa melihat jauh arah kota Solo. Di sisi kanan kita terdapat beberapa arca dengan bentuk-bentuk yang misterius dan di sisi kiri Candi terdapat patung-patung dengan bentuk yang cukup aneh. Di bagian atas candi juga terdapat tempat untuk meletakkan dupa dan tempat yang digunakan untuk menaruh sesaji. Tempat ini dipercaya sebagai tempat tinggal Kyai Sukuh. Seringkali orang datang memberikan sesaji dan kemenyan sebagai bentuk penghormatan kepada Kyai Sukuh. 

Relief misterius di sisi Candi sukuh

Setelah puas mengambil beberapa gambar di atas candi, maka tempat tujuan saya selanjutnya adalah menuju ke bagian relief yang tersusun rapi di sisi kanan candi. Relief-relief disini berbeda dengan relief di beberapa candi lainnya. Banyak tokoh dengan bentuk yang cukup aneh di tempat ini. Sebut saja seorang dengan kepala cukup besar dan berbadan kecil mirip tokoh-tokoh alien yang biasa kita temukan di beberapa film fiksi. Ada juga tokoh dengan mata sipit seperti layaknya seorang Tionghoa. Meskipun dipenuhi dengan relief-relief dengan bentuk aneh, di tempat ini masih ada relief dengan corak khas Nusantara yakni relief yang menceritakan cerita pewayangan. Relief di candi ini mengisahkan cerita kuno Sudamala. Cerita ini dimulai dengan seorang yang diikat pada batang pohon “Kepuh Randu” sedangkan di depannya berdiri seorang dewi yang berwajah menakutkan sambil mengangkat sebilah pedang dan dikawal oleh serombongan hantu. Orang yang diikat ini adalah Sadewa ( Pandawa termuda yang dipersembahkan untuk Betara Durga atau Ratu dari para Hantu ). Sadewa dapat meruwat atau membebaskan Durga dari kutukan yang berwajah Raseksi menjadi dewi yang cantik kembali. Awalnya Durga dikutuk oleh Batara Guru akibat perbuatannya serong kepada seorang gembala. Durga menjadi raseksi dan diusir serta harus turun ke dunia di Setra Gandamayu. Kutukan tersebut telah dilaksanakan meskipun pada akhirnya Durga berhasil dibebaskan oleh Sadewa sebagaimana diceritakan pada relief.

candi sukuh karanganyar
relief dengan berbagai cerita mistis


Selanjutnya tampak Sadewa yang oleh dewi Uma diberikan nama Sudamala ( bersih dari dosa ) berlutut penuh hormat dihadapan Batari Durga beserta pengikutnya yang telah pulih kembali menjadi dewata. Semar, punakawan yang paling setia terhadap Pandawa yang dalam relief terdahulu tampak jongkok dan ketakutan. Nampak pula 3 orang wanita berdiri di atas bantal teratai, menandakan kedudukan mereka sebagai penghuni kayangan yang telah terbebas dari kutukan.

ada yang tahu di relief ini tokoh siapa ???


Relief berikutnya yang dapat kita lihat adalah adegan pertemuan antara Sadewa beserta pengikutnya dengan pendeta buta Tambrapetra dari Nakanwanya. Cerita Sudamala mengisahkan, atas perintah Batari Durga yang telah dibebaskan dan menjadi Dewi Uma kembali, Sadewa harus melangsungkan perkawinan dengan seorang anak dari pendeta buta. Pertapa itu pun berhasil pula dibebaskan dari kebutaan oleh Sadewa. Disini pula kita bisa melihat seorang raksasa bernama Kalantaka diangkat dan ditusuk oleh Bima yaitu kakak Sadewa. Pada bidang relief ini, terdapat inskripsi dengan angka tahun 1371 Caka ( 1449 Masehi ). Bima yang kita jumpai pada beberapa tempat di candi Sukuh, dapat kita kenal dari pahanya yang telanjang, dan juga kainnya dengan motif kotak-kotak. Ia memiliki kuku panjang, yang dapat dipergunakan sebagai senjata untuk menyobek perut musuhnya.

Tugu di candi Sukuh

Selain memiliki beberapa relief yang mempunyai banyak cerita misteri, di candi Sukuh terdapat beberapa bangunan ( menyerupai tugu ) yang memiliki dan berisikan cerita tentang pewayangan. Pada bagian tugu pertama terdapat relief dua orang wanita sedang disisi lainnya terdapat seekor garuda sedang terbang. Pada kedua sisi lainnya kita dapat melihat naga yang merayap secara berurutan. Dua gambar ini termasuk di dalam cerita dua orang wanita bersaudara, Kadru dan Winata, hal ini dikisahkan di dalam cerita Hindu kuno yang sudah banyak tersebar. Agak jauh dari tempat ini kita juga bisa melihat tugu yang dihiasi ornament pada kedua sisinya. Bagian belakang menampakkan seorang raja bersenjatakan sebilah keris dan raksasa yang terbang di atasnya. Sangat disayangkan karena tidak jelas siapakah tokoh yang digambarkan tersebut. Namun gambar disisi muka jelas artinya dimana digambarkan seekor garuda yang terbang membumbung di angkasa sambil mencengkeram seekor gajah pada cakar yang satu dan seekor kura-kura di cakar yang lainnya. Tugu ketiga bagian belakangnya memperlihatkan kepada kita sosok Arjuna. Kita kenal dengan adanya yang bergambar kera, dan rombongan punakawan yang berbaris sambil membawa gong peperangan. 


beberapa tugu nampak dengan kokoh berdiri


Tugu yang keempat memperlihatkan seorang tokoh pahlawan kera ( seperti Hanoman ) dari cerita Rama bersama-sama dengan seorang tokoh raja berdiri di muka seorang pertapa yang menundukkan kepalanya di tugu tersebut. Di bagian muka Candi terdapat sebuah hiasan dengan bentuk tapal kuda namun dengan ukuran yang cukup besar serta di bagian kanan dan kirinya berbentuk seperti kepala Kijang. Sangat disayangkan kepala kijang yang dimaksud telah rusak. Di bagian muka kita juga dapat melihat relief berbentuk Bima di depan Batara Guru, penguasa dari Kahyangan. Di bagian bawah dari tugu ini terdapat beberapa pahatan berupa dua tokoh yang berusaha memperebutkan bayi, dimungkinkan hal ini masih berhubungan dengan tradisi ruwatan untuk anak tunggal agar tidak terkena bala atau bencana.   


Cerita garuda di Candi Sukuh

Di candi Sukuh terdapat patung garuda yang berdiri dengan berhiaskan relief di bagian bawahnya. Pada patung ini terdapat sebuah cerita menarik. Cerita yang dikisahkan adalah sebagai berikut : Pada suatu hari garuda mendengarkan cerita bahwa untuk dapat membebaskan ibunya dari perbudakan, ia harus mampu merebut air minuman para dewa-dewa Amerta dan menyerahkannya pada para naga. Seketika ia memutuskan untuk melaksanakannya, lalu pergilah dia. Di tengah jalan dia merasa lapar dan membuka parunya lebar-lebar seperti goa. Suaranya yang bergemuruh menyebabkan seluruh anggota suatu suku ketakukan dan lari memasuki paruh sang garuda tersebut, anggota suku tersebut kemudian ditelannya. Akan tetapi setelah menelan orang yang berlari ke arahnya, menyebabkan tenggorokannya terasa gatal. Karenanya di antara orang-orang yang ditelannya tersebut terdapat beberapa Brahmana, maka sang garuda memuntahkannya kembali.

patung garuda candi sukuh
patung garuda candi sukuh

Untuk menghilangkan laparnya, ia menyambar seekor kura-kura dan gajah ( kedua binatang ini sebenarnya adalah dua bersaudara dan terkena kutukan ), kedua binatang tersebut dibawa menggunakan cakarnya, kemudian dijatuhkan lalu dimakannya. Dengan demikian kedua binatang tersebut bebas dari kutukannya dan kembali menjadi manusia. Garuda melanjutkan perjalanan menuju tempat penyimpanan Amerta di kayangan. Sesampainya disana, dia menemukan adanya roda dan tombak yang terdiri dari tubuh manusia sehingga tidak memungkinkannya untuk bisa masuk. Dengan cara mengecilkan dirinya, sang garuda bisa masuk lalu menyelinap ke dalam kahyangan dan berhasil merebut amerta yang menjadi incarannya. Akhirnya Amerta tersebut berhasil diserahkan kepada para naga. Sewaktu para naga tersebut memandikan diri dan berebut amerta, maka datanglah Batara Indra merebutnya. Para naga menjilat-jilat tempat dimana air tersebut diletakkan, dan karena tajamnya rumput-rumput disitu, lidah para naga terbelah sebagai mana kita lihat sampai sekarang.

Cerita tersebut hanyalah sebagian kecil cerita yang bisa kita lihat di bagian pahatan dinding atau relief Candi Sukuh. Sebagian besar cerita dapat kita temukan di bagian atas dari sebuah tugu yang berdiri di pojok petak tengah dan menjulang tinggi. Di bagian itu pula kita juga bisa melihat relief sang garuda berada di muka gubug tempat penyimpanan amerta dengan tombak-tombak dan pisaunya. Di beberapa sudut candi terdapat beberapa parit kecil yang berfungsi mengalirkan air hujan yang berasal dari bagian atas candi. Menilik lebih jauh lagi, di dalam batu-batuan candi juga terdapat saluran air. Meskipun kecil, hal ini sangat menarik perhatian dimana pada zaman dahulu sudah ditemukan sistem saluran air yang tertata dengan rapi dan terstruktur.    

Ritual uji keperawanan  dan keperjakaan di candi Sukuh

Sebagai tambahan informasi, candi Sukuh pada zaman dahulu dikenal sebagai tempat untuk menguji kesetian terutama bagi pasangan yang ingin melangsungkan penikahan. Keduanya melakukan ritual untuk menguji apakah pihak dari wanita masih perawan maupun melakukan uji keperjakaan terhadap pihak laki-laki. Adapun ritual yang harus dilakukan adalah : Bagi seorang wanita yang ingin menguji keperawanan dianjurkan untuk melompati sebuah batu pada patung dengan bentuk manusia sedang memegang bagian alat v*talnya, apabila wanita tersebut mengeluarkan darah pada bagian kemaluannya berarti wanita tersebut masih perawan. 

ini dia patung yang dimaksud, patung sebagai ritual uji keperawanan


Selain itu bisa dengan cara lain, yakni : wanita yang akan diuji keperawanannya dianjurkan menggunakan kebaya, setelah itu wanita tersebut dianjukan untuk melangkahi relief persenggamaan. Apabila kebaya yang dipakai terlepas maka artinya wanita tersebut telah berselingkuh atau tidak perawan lagi. Selain itu sesorang wanita juga dinyatakan tidak perawan apabila kain yang dikenakan robek. Hal itu berlaku bagi wanita, bagaimana dengan seorang Pria? Bagi pria yang sudah berselingkuh atau tidak perjaka lagi bila setelah melangkahi relief tersebut dia akan terkencing-kencing. Bagaimana rekan-rekan ?? mau membuktikannya?? kalau saya pribadi meyakini hal tersebut hanya sebagai mitos belaka.

patung dengan bentuk vulgar


Mengunjungi Candi Sukuh tidak ubahnya mengunjungi sebuah tempat yang penuh dengan teka-teki. Ornamen-ornament yang ada disana tidak lazim kita temukan di beberapa candi di tanah Jawa. Banyak pula yang menyebutkan candi Sukuh merupakan candi yang vulgar karena di candi ini terdapat beberapa patung yang secara jelas menampilkan beberapa bentuk alat v*tal manusia. Meskipun demikian, ada baiknya kita harus tetap berfikir positif dalam menanggapi suatu hal terutama menyangkut mitos yang beredar di tengah masyarakat. Pesan yang bisa saya dapatkan setelah berkunjung ke candi Sukuh adalah, bahwasanya seseorang harus bisa menjaga kesetiaan dan kesucian dirinya serta tidak melakukan hal-hal yang gegabah hanya untuk sekedar menuruti hawa nafsu belaka. Demikian pengalaman saya mengunjungi Candi Sukuh Karanganyar, semoga bisa menjadi referensi tempat liburan bagi rekan-rekan.

Bagaimana rekan-rekan, tertarik mengunjungi Candi Sukuh Karanganyar ?? 

Wednesday, 7 June 2017

Candi Barong Prambanan, wujud pengharapan terhadap Dewi kesuburan

Candi Barong Prambanan-Yogyakarta. "Candi yang diatas sana itu namanya Candi Barong dek, lokasinya di atas bukit. Kalau mau kesana bisa lewat rute jalan mblusuk dari Candi Banyunibo ke timur lalu ikuti saja jalannya yang menanjak, atau adek lewat saja jalan arah SMP Prambanan Klaten lurus ke arah Spot Riyadi. Ikuti saja jalannya sampai menemukan papan penunjuk arah ke Candi Barong." 

Candi Barong Prambanan
Candi Barong Prambanan

Itulah obrolan singkat saya tentang dengan salah satu Bapak pegawai dinas purbakala yang saat itu sedang bertugas berjaga di loket pembelian tiket masuk tempat wisata budaya Candi Banyunibo. Memang saya sendiri mengetahui adanya Candi Barong ketika saya mengunjungi Candi Banyunibo. Menurut informasi yang saya peroleh, Candi Barong berlokasi tidak jauh dari Candi Banyunibo, oleh karenanya saya disarankan untuk mengunjungi Candi tersebut.

Rute menuju Candi Barong  

Secara administratif Candi Barong berlokasi di Dusun Candisari, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta. Bila rekan-rekan dari arah Jalan Yogya - Solo bisa melalui rute Prambanan ke selatan. Dari arah Yogya, kita berbelok ke selatan tepat di pertigaan jalan di sisi selatan gapura - ikuti jalan tersebut sampai menemukan jalan yang menanjak - belok kiri melewati SMP Prambanan Klaten -  sampai di pertigaan ambil kiri - ikuti jalan tersebut - sampai di pertigaan ( bila ke kiri ke arah Spot Riyadi ). Kita ikuti jalan yang ke kanan kurang lebih 1 km, kita sudah sampai di Candi Barong. Sebenarnya untuk bisa mencapai Candi Barong kita bisa saja melalui jalan di sisi timur Candi Bayunibo, namun rute tersebut cukup sulit dilalui dan menanjak, oleh karenanya bila rekan-rekan tidak suka dengan perjalanan yang sulit, bisa melewati rute yang telah saya sebutkan :D. 


Tempat pembelian tiket candi barong
Tempat pembelian tiket dan pusat informasi


Candi Barong bukanlah satu-satunya peninggalan purbakala yang bisa kita temukan di daerah tersebut. Di daerah itu kita juga bisa menemukan area dengan banyak bebatuan yang nampaknya belum dipugar. Situs Purbakala tersebut terletak di sisi kiri sebelum tempat pemesanan tiket masuk Candi Barong. Setelah membayar biaya masuk sebesar Rp.5000; saya pun bergegas menuju ke arah bangunan utama Candi Barong. 
Begitu mendengar Candi Barong, dalam pikiran saya terbersit sebuah Candi yang ukurannya tidaklah terlalu besar dan kondisinya tidak begitu terawat seperti beberapa situs purbakala lainnya yang biasa saya temukan di sekitar Kabupaten Klaten dan Kecamatan Prambanan. Namun dugaan saya ternyata tidak tepat. Candi Barong adalah sebuah Candi yang eksotis serta terawat dengan cukup baik yang lokasinya berada di atas bukit dengan pemandangan sekitar yang mempesona. Terletak pada bukit dengan ketinggian 199,27 meter di atas permukaan air laut, membuat Candi ini nampak megah apabila kita melihatnya dari area yang cukup jauh. 

Sudah berasa di Hollywod 


Pintu masuk Candi Barong berada di sisi Selatan Candi, namun saya malah masuk halaman Candi dari arah utara, alhasil saya harus memutar palataran disisi utara Candi terlebih dahulu sebelum sampai di pintu utama. Maklum saja, ini adalah kunjungan saya yang pertama, jadi belum hafal tentang bagian-bagian dari Candi Barong. Area di sisi utara Candi merupakan pelataran yang ditumbui oleh rerumputan. Di beberapa sudut disediakan gazebo yang bisa pengunjung gunakan sebagai tempat berteduh apabila hari sangat panas atau ketika turun hujan ; D. 

Sejarah Candi Barong 

Bersumber dari info yang saya baca di papan informasi, Keberadaan Candi Barong diketahui berdasarkan catatan dari Belanda yang disusun oleh ROD pada tahun 1915. Dalam catatan Belanda tersebut, Candi Barong disebut sebagai Candi Sari Soro Gedug. Namun oleh masyarakat sekitar candi tersebut lazim disebut sebagai Candi Barong. Hal itu dikarenakan adanya sebuah dekorasi kala yang oleh masyarakat Jawa diidentikkan dengan Barongan

Candi Barong dilihat dari sisi Timur


Candi Barongan didirikan sebagai tempat  bagi agama Hindu untuk memuja dewa Wisnu dan Dewi Sri. Dewa Wisnu merupakan salah satu Dewa dari Trimurti yang berkedudukan sebagai Dewa pemelihara. Sedangkan Dewi Sri merupakan salah satu cakti dari Dewa Wisnu, dianggap sebagai Dewi Padi dalam kehidupan masyarakat Jawa. Pemujaan kepada Dewa Wisnu dan Dewi Sri terkait dengan kehidupan masyarakat pada waktu itu yang sebagian besar menggantungkan hidupnya dari hasil pertanian. Oleh karena kondisi lingkungan yang tandus maka masyarakat sekitar berharap dengan melakukan pemujaan terhadap Dewa Wisnu dan Dewi Sri mendatangkan berkah berupa kesuburan dan hasil panen yang baik terhadap tanaman pangan yang mereka tanam di sekitar Candi Barong   



Untuk upaya pemugaran Candi Barong sendiri sudah dilakukan sejak tahun 1987 dengan diawali dengan pemugaran candi di sisi utara. Sewaktu pemugaran tersebut banyak ditemukan benda-benda arkeologis. Ditemukan pula 9 kotak berbentuk bujur sangkar yang merupakan gambaran dari wastupurusandamala. Menurut Stella Kramisch kotak yang terletak di tengah merupakan tempat terkumpulnya potensi gaib yang menguasai alam semesta, sedangkan ke 8 kotak lainnya merupakan penjelmaan dari Dewa mata angin.


Candi Barong terbagi menjadi 3 bagian. 

Hal yang membedakan candi Barong dengan candi-candi lainnya di daerah Yogyakarta adalah, selain candi ini berdiri di atas bukit yang cukup gersang Candi Barong mempunyai halaman atau pelataran yang cukup luas. Adapun 3 halaman atau tingkatan dari Candi Barong diantaranya: 

Halaman pertama merupakan halaman berupa area rerumputan yang luas dan berbentuk persegi, area ini menurut salah satu petugas yang berhasil saya wawancarai, pada sore hari sering digunakan sebagai tempat untuk mencari rumput oleh warga sekitar Candi guna keperluan pakan ternak mereka. Namun karena saya berkunjung pada saat siang hari, saya tidak menemukan pencari rumput yang dimaksudkan.

Halaman kedua merupakan pelataran yang cukup luas serta tidak dijumpai bangunan. Di sisi timur terdapat pagar terluar yang pada saat ditemukan masih terkubur di dalam tanah. Di halaman kedua ini kita bisa melihat bekas-bekas bangunan berupa pondasi yang terbuat dari batu andesit. Bekas pondasi yang ada mirip dengan beberapa bagian di Candi Ratu Boko. Kemungkinan bangunan yang berdiri di halaman kedua merupakan bangunan yang terbuat dari bahan kayu dan sudah rusak karena dimakan oleh usia.

Halaman ketiga merupakan bangunan utama dari Candi Barong. Terdapat 2 buah Candi yang berukuran 8,18 x 8,18 meter dengan ketinggian 9,15 meter. Bila kita perhatikan kedua Candi tersebut berada pada posisi yang tidak simetris. Untuk masuk ke halaman ketika terdapat sebuah pintu atau gapura kecil yang berhiaskan ornament kala pada bagian atasnya. Ornament kala di bagian ini memiliki ukuran paling besar dibandingkan dengan ornament serupa di bagian lain dari Candi Barong.

Candi Banyunibo yang nampak dilihat dari pelataran Candi Barong

Menurut informasi yang saya peroleh, Candi induk pada Candi Barong selesai dipugar pada tahun 1992. Pemugaran kemudian dilanjutkan dengan pemugaran talud dan pagar. Dalam proses pemugarannya ditemukan juga sejumlah penemuan arkeologis seperti dua buah patung Dewa Wisnu, dua bauh arca Dewi Sri, beberapa arca yang belum selesai dikerjakan dan sebuah arca dari Dewa Ganesha. Ditemukan juga kotak-kotak peripih yang terbuat dari batuan andesit. Di dalam kotak-kotak tersebut terdapat lembaran-lembaran emas serta perak. Pada lembaran emas terdapat goresan tulisan namun karena kondisinya rusak sehingga tidak bisa terbaca. Selain itu juga ditemukan pula sejumlah peralatan rumah tangga lainnya seperti guci, mangkuk keramik, mata kapak serta sendok.

salah satu sudut candi Barong


Berada di Candi Barong mengingatkan saya pada pengalaman mengunjungi Candi Ijo. Memang kedua Candi ini memiliki beberapa kemiripan. Kemiripan pertama, sama-sama terletak di atas bukit, yang kedua adalah bentuk dari Candi utama Candi Barong yang berjumlah 2 Candi, hampir mirip dengan bentuk dari Candi Ijo yang merupakan 3 candi kecil yang berada di sisi barat dari Candi Utama. Di bagian Candi utama dari Candi Barong, kita akan dapat menemukan beberapa relief dengan hiasan berupa sulur menghiasi area di sekitar relung kosong yang di bagian atasnya terdapat hiasan kala seperti yang telah saya sebutkan. Relung-relung kosong tersebut konon digunakan sebagai tempat meletakkan arca Dewa Wisnu dan Dewi Sri.

Relung kosong, konon dahulu digunakan untuk meletakkan arca Dewa Wisnu dan Dewi Sri


Pada saat saya mengunjungi Candi Barong, hanya terdapat 3 orang pengunjung yang datang ke tempat ini. Hal tersebut sangat berbeda dibandingkan dengan candi-candi lainnya yang banyak dikunjungi. Dimungkinkan akses yang cukup sulit dan minimnya informasi serta publikasi membuat candi ini sepi pengunjung.

ornament kala di pintu masuk teras ketiga

Candi Barong meskipun terletak di atas bukit serta memiliki akses yang sulit untuk dicapai namun saya rasa tempat wisata ini memiliki fasilitas pendukung yang cukup memadai. Di berbagai sudut telah disediakan beberapa gazebo yang bisa dimanfaatkan pengunjung untuk beristirahat, layanan informasi, toilet serta mushola. Hal yang perlu dibenahi oleh pengelola tentu saja area parkir, mengingat area parkir di tempat wisata ini masih sempit dan masih terbuat dari bangunan semipermanen. Harapannya dengan adanya fasilitas yang memadai dan dengan didukung sarana informasi serta publikasi yang cukup, masyarakat menjadi lebih mengetahui keberadaan candi ini dan dapat menumbuhkan minat untuk mengunjungi tempat-tempat wisata budaya lainnya.


fasilitas di Candi Barong

Mengunjungi Candi Barong dan menelisik lebih dalam tentang sejarahnya setidaknya bisa membuka wawasan kita dan mengetahui rekam jejak kehidupan masa lalu nenek moyang kita, bangsa Indonesia. Meskipun berada di tanah yang tandus namun masyarakat pada jaman dahulu yang hidup di sekitar Candi Barong tidak lantas kehilangan akan pengharapan. Pengharapan akan kesuburan tanah, pengharapan akan hasil panen yang melimpah, semua dipanjatkan dengan ucapan syukur kepada Dewa Wisnu serta Dewi Sri sang dewi Padi dan Dewi Kesuburan.

"Bagaimana, pembaca tertarik mengunjungi Candi Barong ??"


Wednesday, 24 May 2017

Taman sari Yogyakarta Istana air di lingkungan Keraton

Taman sari Yogyakarta atau Taman sari Watercastle merupakan salah satu tempat wisata yang banyak dikunjungi baik itu oleh wisatawan lokal maupun wisatawan asing yang sedang berlibur ke Yogyakarta. Situs ini memiliki sejarah yang panjang, sebuah kolam rekreasi yang dibangun kurang lebih 200 tahun yang lalu dan menjadi tempat rekreatif bagi sang raja untuk menenangkan diri dari segala beban psikologis yang dihadapinya dalam memimpin, mengambilan keputusan yang mengandung keadilan, kebenaran, kemakmuran, kebenaran serta kemenangan.

Kawasan Taman Sari

Sudah menjadi hal yang lumrah bahwasanya seiring dengan bertambahnya beban serta tanggung jawab yang diemban oleh seorang raja, beban psikologis yang dihadapinya akan semakin meningkat. Hampir setiap hari raja dihadapkan oleh segala macam keruwetan dalam bidang pemerintahan. Permasalahan yang muncul seringkali memaksa seorang pemimpin harus bisa berfikir secara jernih guna mengambil keputusan secara arif dan bijaksana karena segala keputusan dan kebijakannya sangat berpengaruh terhadap hidup orang banyak.



Oleh karenanya seorang raja sebagai pemimpin kerajaan memerlukan tempat yang tenang, sebuah lingkungan yang santai guna menopang ketepatannya dalam memimpin dan mengambil keputusan. Taman Sari Yogyakarta atau Taman sari Watercastle dibangun untuk memenuhi segala kebutuhan keluarga Keraton Yogyakarta sebagai tempat yang rekreatif dan sebagai jawaban dari keseimbangan beban psikologisnya itu.

Pintu masuk kawasan Taman Sari ( Gapura Panggung )


Atas ajakan rekan saya dari Solo, di hari Minggu yang cukup cerah saya berkesempatan untuk mengunjungi kawasan Taman Sari Yogyakarta. Untuk menuju ke Taman Sari kita bisa melalui Malioboro - alun-alun utara - masuk ke kawasan Keraton tepatnya di jalan Taman. Kawasan Tamansari terletak kurang lebih 400 meter dari halaman Kemagangan Keraton Yogyakarta sedangkan apabila kita menggunakan kendaraan bermotor cukup memerlukan 5 menit saja dari arah Keraton. Memasuki kawasan Taman Sari kita akan bertemu dengan bangunan yang cukup unik yakni pintu gerbang Taman Sari lengkap dengan 2 patung naga di sisi kiri dan kananya. Bangunan itu disebut sebagai Gapura Panggung. Setelah membayar tiket masuk dan membayar biaya tambahan karena saya membawa sebuah kamera saya'pun dipersilahkan masuk oleh petugas yang berjaga disana.

area Pencaosan Taman Sari
area Pencaosan

Secara umum, kompleks  Taman sari dapat dibagi menjadi 4 bagian yakni : Danau segaran, Gedhog Gapura Heyeg, Pasarean Dalem Ledog Sari dan yang terakhir adalah Jembatan Gantung yang kini sudah tidak tersisa lagi. Masuk di area pertama setelah Gapura Panggung, kita dihadapkan peda sebuah area yang cukup luas dengan setidaknya 4 bangunan limas di sisi kiri dan kanan kita. Bangunan tersebut bernama tempat pencaosan ( pos penjagaan ) serta digunakan sebagai tempat paseban ( ruang ganti ) yang digunakan oleh abdi dalem Keraton sebelum dan setelah selesai bertugas. Area inipun cukup sejuk dengan adanya pepohonan disekitarnya. Setelah memasuki area ini, kita akan memasuki area kolam pemandian.

Kolam pemandian Taman Sari

Kolam pemandian Taman Sari terletak di sebelah selatan masjid dan bila kita perhatikan, area ini membujur dari sisi utara ke selatan. Terdiri dari dari 3 bagian utama, yakni kolam yang dibangun khusus untuk mandi putra-putri sultan yakni kolam pemandian atau Umbul Kawitan, yang kedua adalah kolam pemandian yang dikhususkan bagi permaisuri yakni Umbul Pamuncar. Khusus untuk Sultan Sendiri dibangun sebuah kolam yang bernama Umbul Panguras. Sementara itu diantara umbul panguras dan Pamuncar dibangun sebuah bangunan yang digunakan untuk menyimpan barang-barang pusaka Sultan yang disebut sebagai Gedung Cemeti.

Menara Taman Sari
Menara Taman Sari 

Area kolam pemandian dipenuhi dengan air yang berwarna hijau tosca. Air yang memenuhi kolam pemandian disalurkan melalui saluran air dan bermuara pada pancuran dengan bentuk yang unik yakni bentuk mirip dengan bunga teratai pada bagian tengah kolam. Tepat diantara umbul kawitan dan umbul pamuncar dipisahkan oleh sebuah sekat berupa jalan yang bisa kita lalui. Bila kita perhatikan di sisi selatan dari kolam pemandian terdapat sebuah bangunan yang cukup besar dan terlihat menjulang dibandingkan dengan bangunan yang lainnya. Menurut pemandu menara itu digunakan sebagai tempat bagi Sultan untuk mengamati selir dan puterinya yang sedang mandi di bawah.

area Taman Sari yang digunakan untuk keperluan Fotografi


Di sisi selatan dari kolam pemandian terdapat beberapa ruang kecil yang membujur dari utara ke selatan dan terdiri dari 10 kamar. Menurut pemandu, kamar-kamar tersebut berfungsi sebagai tempat tidur permaisuri raja. Sedangkan bangunan di sisi utara dari pemandian digunakan khusus bagi Sultan. Ruangan di sisi utara kolam terdiri dari 2 kamar. Konon tempat ini digunakan sebagai tempat untuk bersemedi sedangkan ruangan yang lain digunakan sebagai tempat bertemunya Sultan dengan penguasa Pantai Selatan Jawa yakni Kanjeng Ratu Kidul.


Setelah melalui kolam pemandian Taman Sari tujuan saya selanjutnya adalah menuju ke Masjid Taman Sari. Sebelum menuju masjid kita akan melalui sebuah area yang cukup luas dimana di sisi kiri dan kanannya terdapat beberapa rumah warga tempat menjual cinderamata dan beberapa diantaranya digunakan sebagai tempat untuk menyimpan hasil karya warga sekitar berupa lukisan. Di ujung tempat ini terdapat sebuah gapura besar yakni Gapura Agung. Kita bisa naik ke sisi atas gapura untuk melihat area sekitar Taman Sari dari atas ketinggian. Dari atas Gapura Agung ini pula kita bisa melihat area Taman Sari yang semakin terhimpit oleh pemukiman warga.

Masjid di Taman Sari

Setelah puas berkeliling kawasan pemandian saya melanjutkan perjalanan menuju ke masjid Taman Sari yang tergolong masjid dengan asiterktur unik. Masjid ini dikatakan unik karena terdiri dari 2 lantai dengan pondasi berbentuk lingkaran dan memiliki diameter 25 meter. Di bagian tengah dari masjid tersebut terdapat sebuah tempat yang digunakan sebagai tempat untuk wudhu yang bernama Sumur Gumuling. 



Di bagian tengah-tengah dari sumur ini terdapat tangga yang ujungnya bertemu pada satu titik. Tangga yang berjumlah 5 tersebut menyiratkan  5 rukun Islam. 4 tangga dari arah bawah dan satu tangga sebagai penghubung antara lantai 1 masjid dan lantai 2. Diceritakan bahwa lantai pertama masjid di Taman Sari diperuntukkan sebagai tempat sholat bagi permaisuri raja sedangkan lantai dua digunakan sebagai tempat untuk sholat Sultan.

Sumur Gumuling
Sumur Gumuling

Tidak jauh dari masjid terdapat sebuah terowongan yang panjangnya kurang lebih 25 km. Ujung dari terowongan ini konon berada di pantai selatan yakni pantai Parangkusumo. Terowongan ini dibangun dan berfungsi sebagai jalan penyelamatan apabila terjadi peperangan. Kondisi terowongan cukup terawat dan seperti bangunan-bangunan di bawah tanah lainnya, kondisi cukup pengap akan dirasakan oleh pengunjung ketika singgah di tempat ini.



Terowongan Taman Sari
Terowongan yang ujungnya sampai ke Pantai Parangkusumo


Bila kita perhatikan dengan seksama relief-relief yang berada pada beberapa sudut Taman Sari merupakan relief dengan corak gabungan antara gaya arsitektur Eropa, Cina, Hindu, Budha dan Islam. Ciri khas Eropa muncul dikarenakan sosok arsitek yang merancang Taman Sari adalah seorang berkebangsaan Portugis yang terdampar di Laut Selatan. Setelah diselidiki oleh Keraton, pria yang terdampar itu memiliki keterampilan merancang bangunan karena dia adalah seorang arsitek. Maka dari itu pihak Keraton Yogyakarta mempercayakan tanggung jawab mendesain area Taman Sari berupa gapura, plengkung, dan benteng yang mengelilingi area Keraton Yogyakarta.

Gapura Agung Taman Sari
Gapura Agung Taman Sari

Masih banyak lagi bangunan-bangunan di Taman Sari yang menarik untuk kita singgahi seperti Pulau Panembung yang berada di sisi selatan Pulau Kenanga dimana kita harus berjalan menyusuri sebuah terowongan dengan penjang ratusan meter untuk bisa sampai disana. Pulau Panembung sendiri dipercaya sebagai tempat semedi Sultan untuk memohon sesuatu kepada Yang Maha Kuasa.


Di beberapa bangunan di area Taman Sari memiliki beberapa pintu yang menghubungkan antara bangunan satu dengan bangunan lainnya. Tidak sedikit pula kita akan menemukan perkampungan warga yang mengimpit kompleks Taman Sari. Memang beberapa bangunan di Taman Sari kini sudah dijadikan pemukiman seperti area Jembatan Gantung. Beberapa area seperti Pasarean Dalem Ledoksari dan Kolam Gajiwarti kini sudah tidak ada lagi serta tidak meninggalkan bekas yang bisa kita amati. 

Adanya Kampung Cyber

Di penghujung kunjungan saya ke area Taman Sari saya menyempatkan diri untuk mengunjungi sebuah kampung yang letaknya tidak jauh dari kompleks Taman Sari. Nama kampung tersebut adalah kampung Cyber. Kampung Cyber bukanlah sebuah kampung yang besar seperti yang kita bayangkan. Kampung Cyber merupakan sebuah RT dimana setiap rumah warganya sudah terkoneksi dengan jaringan internet. Penggagas dari adanya kampung ini adalah mahasiswa dari UGM dan resmi dibuka pada tahun 2009.

kampung Cyber
Salah satu sudut kampung Cyber





















Menyusuri setiap sudut kampung Cyber kita akan menemukan beberapa lukisan mural. Nampak pula sebuah gambar yang memperlihatkan kunjungan Mark Zuckerberg pendiri Facebook ketika mengunjungi tempat ini pada tahun 2014 silam. Adanya kampung Cyber menambah daya tarik tersendiri khususnya di kawasan Taman Sari Yogyakarta.

Taman Sari yang kita kunjungi sekarang mungkin sudah berbeda dengan Taman Sari 200 tahun yang lalu. Kini Taman Sari bagai sebuah monumen sejarah dimana di setiap sudutnya bercerita tentang kehidupan keluarga kerajaan di masa lalu. Semua rahasia, misteri serta problematika dalam kerajaan tersimpan rapi dalam sebuah taman air yang keberadaannya sudah semakin terhimpit oleh beberapa bangunan penduduk disekitarnya. Keindahan sebuah taman air yang menyatukan gaya arsitektur China, Budha, Islam dan budaya lokal yakni budaya Jawa menambah daya tarik Taman Sari sebagai destinasi wisata budaya dan sejarah yang wajib dikunjungi ketika berlibur ke Yogyakarta.


" Bagaimana, tertarik mengunjungi Taman Sari Watercastle ???"

Monday, 1 May 2017

Jalan-jalan ke gereja ayam bukit rhema magelang, tempat syuting AADC 2

Jalan-jalan ke gereja ayam, tempat syuting AADC 2. Gereja ayam atau bukit Rhema Magelang berlokasi di Dusun Gombong, Desa Kembanglimus, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Propinsi Jawa Tengah. Gereja ayam menjadi semakin populer dikarenakan tempat ini dijadikan lokasi syuting dalam film AADC 2. Untuk menuju ke gereja ayam kita dapat melalui jalan di sisi selatan candi Borobudur. Untuk ke lokasi ini anda dapat melalui tempat wisata Punthuk Setumbu yang berjarak 6 km dari candi Borobudur. Lokasi Gereja ayam sendiri berada di sisi barat dari candi Borobudur.


Jalan-jalan ke gereja ayam bukit rhema magelang, tempat syuting AADC 2
Gereja ayam Magelang Jawa Tengah


Dari judul artikelnya, sepertinya saya sudah menjadi korban film. Dimana mendadak ingin mengunjungi tempat tempat yang menjadi lokasi syuting film kisah percintaan Rangga dan Cinta, film yang disutradarai oleh Riri Riza dimana penayangan perdana film ini dilakukan di kota Yogyakarta, Sabtu 23 April 2016 silam. Namun sebenarnya rencana saya untuk mengunjungi gereja ayam atau orang juga sering menyebutnya sebagai bukit Rhema sudah sejak dari beberapa waktu yang lalu, jauh sebelum lokasi ini dijadikan sebagai tempat syuting AADC 2. Saya mengetahui adanya gereja ayam berkat membaca artikel dari salah seorang blogger yang menuliskan tentang adanya sebuah tempat ibadat ( masyarakat sekitar menyebutnya sebagai gereja ) yang berbentuk unik, yakni berbentuk ayam dan terletak di belakang dari candi Borobudur. Di artikel tersebut, blogger tersebut menuliskan bahwa gereja tersebut sudah lama tidak digunakan dan menjadi angker, sehingga banyak cerita mistis yang berkembang disana. Keinginan yang sudah lama tertunda akhirnya dapat terwujud berkat ajakan dari seorang rekan yang membuat saya tidak bisa lagi mengurungkan rencana jalan-jalan menuju ke gereja ayam bukit Rhema Magelang.


Sebelum berangkat menuju gereja ayam, saya harus menjemput rekan saya dari Solo di stasiun Lempuyangan terlebih dahulu. Pada saat itu adalah hari kedua menjelang hari raya Natal, sehingga arus mudik sangatlah padat dan stasiun dipenuhi oleh para pemudik yang pulang kampung. Rasa kantuk dan lelah dikarenakan lembur kerja semalaman agaknya tidak menjadi alasan bagi saya untuk menunda rencana mengunjungi tempat tersebut. Pukul 08:00 saya sampai di stasiun Lempuyangan, rekan saya ternyata sudah sampai terlebih dahulu sudah menunggu saya. Kamipun bergegas meluncur melalui ringroad utara menuju ke arah Kabupaten Magelang melalui jalan Yogyakarta-Magelang. Namun sebelumnya kami sarapan terlebih dahulu di perempatan Denggung, Kabupaten Sleman. Disana ada warung soto yang sangat laris, dan mempunyai ukuran porsi soto yang cukup banyak.

soto ayam denggung
sarapan dulu di warung soto denggung


Tujuan utama kami adalah wisata Punthuk Setumbu, salah satu wisata alam tempat dimana kita bisa melihat sunrise terbaik dari atas perbukitan. Punthuk setumbu ini pun tidak kalah populer terutama bagi kalangan lokal maupun wisatawan mancanegara. Di tempat ini kita bisa melihat sang surya muncul dari peraduannya di ufuk timur dan dapat melihat indahnya hasil karya nenek moyang kita, Candi Borobudur di pagi hari dengan berhiaskan cahaya matahari.

Rute menuju gereja ayam dari Yogyakarta

Bila kita dari arah Yogyakarta, untuk menuju ke Punthuk Setumbu kita bisa melaui rute jalan Magelang. Bila anda sudah sampai gapura masuk tempat wisata Candi Borobudur maka masih menempuh jarak sekitar 12 km lagi atau 20 menit perjalanan. Sampai di obyek wisata Candi Borobudur maka ambillah jalan di sisi bagian selatan candi yang mengarah atau menuju ke Hotel Manohara. Ikuti jalan tersebut ( lurus ke barat ) sampai menemukan perempatan ( bila ke kiri menuju wisata kerajinan desa Djowahan & kekanan ke arah Punthuk Setumbu ), belok ke kanan dan ikutilah jalan tersebut.

jalan ke gereja ayam


Lokasi Punthuk Setumbu masih berjarak sekitar 4 km lagi. Di sepanjang perjalanan, anda akan menemukan beberapa plakat atau penunjuk arah sebagai acuan bahwa anda berada di jalan yang benar yakni di jalan menuju ke lokasi wisata Punthuk Setumbu. Oya sesekali tengoklah ke sisi kanan anda, tanpa disadari anda berada di sisi bagian selatan candi dan dapat melihat candi Borobudur yang berdiri dengan gagahnya apabila dilihat dari kejauhan. Tidak sampai 10 menit maka anda akan masuk ke desa Karangrejo ( lihat gapura masuk ) ikuti jalan tersebut sampai menemukan perempatan kecil yang terdapat plakat informasi ke arah Punthuk Setumbu ( arah kanan ). Anda harus melalui jalan yang cukup menanjak terlebih dahulu sebelum sampai di tempat parkir wisata.  

Wisata alam Punthuk Setumbu salah satu pintu masuk ke lokasi gereja ayam

jalan ke gereja ayam
Gapura masuk wisata Punthuk Setumbu


Sampai di gapura masuk wisata alam Punthuk Setumbu kami bertanya terlebih dahulu kepada petugas yang memarkirkan kendaraan kami tentang lokasi gereja Ayam, beliau mengatakan untuk menuju ke lokasi gereja ayam harus menempuh perjalanan sekitar 500 m. Setelah membeli tiket seharga Rp.15.000; kami pun memulai perjalanan kami menyusuri bukit yang berada di sisi barat candi Borobudur ini. Jalan yang cukup menanjak dan terbuat dari dari mistar ( beberapa diantaranya masih berupa jalan setepak ) harus kami lewati. Tidak sampai 10 menit berjalan melewati jalanan yang menanjak, akhirnya sampailah kita di area terbuka, area yang cukup luas bagi kami untuk dapat melihat sekeliling termasuk melihat candi Borobudur yang tampak kecil dilihat dari kejauhan. Kami mencari bangunan gereja yang berbentuk ayam tersebut. Perhatian kami tertuju pada sebuah bangunan dengan puncaknya berbemtuk mahkota di sisi timur laut tempat kami berdiri. Nampak terdapat beberapa orang berdiri di atasnya, setelah kami amati dengan seksama, benar bahwa bangunan tersebut adalah gereja ayam yang menjadi tujuan kami.



Punthuk Setumbu


Untuk menuju ke gereja ayam dari arah Punthuk Setumbu maka kita harus berjalan kurang lebih 300 meter lagi melewati perbukitan dengan tanjakan yang cukup menguras tenaga. Jangan lupa ya bawa air mineral ketika melintasi area ini karena dijamin akan capek terutama di siang hari ketika udara di sekitarnya panas. Di bukit ini pula kita dapat melihat adanya rumah pohon yang dibangun secara menggantung diantara 2 pohon besar. Untuk naik ke rumah pohon tersebut maka anda harus membeli tiket masuk. Jika tidak salah sebesar Rp.5.000 / orang. Tiket bisa anda dapatkan di warung sekitar rumah pohon tersebut. Karena tujuan kami adalah gereja ayam, maka kami tidak menyempatkan diri untuk beristirahat sejenak di rumah pohon tersebut.


Jalanan setapak dengan sekitarnya ditumbuhi pohon cacao, pohon jati dan pohon jambu monyet harus kamu lalui untuk menuju ke gereja ayam. Tidak sampai 15 menit kami berjalan, sampailah kita di gereja ayam. Kami berjalan dari sisi bagian belakang atau sisi ekor dari bangunan yang proses pengerjaannya dimulai sejak tahun 1992 silam ini. Tampak beberapa pekerja sedang mengerjakan beberapa bagian dari gereja termasuk bangunan di bagian belakang yakni bagian ekor. Oya untuk dapat masuk area gereja ayam anda juga harus membayar biaya masuk yakni sebesar Rp.10.000;. 

Jalan yang harus dilewati dari Punthuk Setumbu ke Gereja ayam


Kami berjalan menyusuri bagian samping kanan dari gereja tersebut. Di bagian pelataran gereja sudah banyak wisatawan datang lebih awal dibandingkan dengan kami. Wisatawan tersebut ada yang berasal dari arah yang sama dengan kami ( arah Punthuk Setumbu ) dan adapula yang berasal dari arah yang berlawanan ( arah depan gereja). Barulah saat itu kami sadar bahwa untuk menuju ke gereja ayam atau bukit Rhema terdapat jalur lain yang bisa kami lalui tanpa harus menuju ke wisata alam Punthuk Setumbu. Wisatawan yang datang kebanyakan menggunakan motor dan jarang terlihat menggunakan mobil pribadi, kendaraan roda empat yang terlihat di lokasi ini kebanyakan adalah mobil jeep yang sudah dimodifikasi bagian belakangnya sehingga dapat mengangkut lebih banyak penumpang. Agaknya untuk menuju ke lokasi ini harus melalui jalanan yang cukup sulit dilalui sehingga pengunjung harus menggunakan mobil berpenggerak 4 WD. Sampai di bagian depan dari gereja saya menyempatkan mengambil beberapa gambar.     

Sejarah gereja ayam

Bagian sisi sebelah samping gereja ayam Magelang

Sebagai tambahan wawasan bagi para pembaca, saya akan menyampaikan beberapa informasi yang berhasil saya rangkum dari berbagai sumber mengenai sajarah gereja ayam. Berdirinya gereja ayam tidak lain karena jasa seorang yang bernama Daniel Alamsjah. Pria yang kini sudah berusia cukup lanjut ini berasal dari pulau seberang yakni pulau Sumatera tepatnya dari Propinsi Lampung. Pak Daniel mengaku mendapatkan sebuah mimpi, sebuah mimpi yang mengharuskan baginya untuk membangun sebuah tempat peribadatan yang terletak di atas bukit. Pak Daniel yang kebetulan mendapatkan isteri yakni salah satu warga Gombong ( tempat lokasi berdirinya gereja ) memulai pekerjaannya dengan cara membeli sebidang tanah di bukit Rhema dengan luas 3.000 meter persegi.


Setelah menyelesaikan pembebasan lahan dimulailah pembangunan tempat peribadatan tersebut. Tempat peribadatan yang dibangun adalah berbentuk burung merpati ( namun warga sekitar lebih sering menyebutnya sebagai bentuk ayam ). Burung merpati itu sendiri dalam tradisi agama nasrani merupakan simbol akan roh kudus ( Lukas 3:21-22 ) meskipun sebagian diantaranya menyebutkan roh kudus berbentuk seperti lidah-lidah nyala api ( Kisah para rasul 2:3-4 ).  Dalam pengerjaannya pembangunan gereja ini mengalami kendala pada saat terjadinya krisis moneter yang terjadi pada tahun 1998 silam. Hal itu disebabkan karena tidak adanya modal yang digunakan untuk merampungkan pembangunan yang pengerjaannya sudah jadi 70%. Selain itu hal yang menyebabkan pembangunan “gereja” ( yang notebene merupakan tempat peribadatan untuk semua agama ) ini ditentang oleh warga sekitar, alasannya pun beragam. 

Lantai dasar gereja ayam

Tujuan awal kami tentu ingin segera masuk dan melihat isi di bagian dalam gereja yang konon sudah tidak terawat ini. Kami masuk melalui pintu samping tepat di bagian bawah kepala ayam. Jauh dari perkiraan saya sebelumnya, perkiraan saya tempat ini tidak terawat dan tidak dikelola secara baik, baik itu oleh pribadi maupun masyarakat sekitarnya. Saat saya berkunjung kesana sudah tedapat beberapa petugas yang mengatur jumlah pengunjung yang naik ke lantai atas dari bangunan. Oleh karena waktu itu banyak pengunjung yang datang ke tempat ini, kami dipersilahkan duduk terlebih dahulu. Sambil menunggu antrian untuk dapat ke lantai atas saya berkesempatan untuk mendokumentasikan beberapa gambar di tempat ini. Terlihat beberapa pekerja sedang memperbaiki bagian-bagian dari atap ( punggung ayam ) yang rusak menggunakan mesin las dan peralatan lainnya. Selain itu beberapa pekerja juga sedang melakukan pengecatan ulang pada bagian dinding dari bangunan yang catnya sudah terkelupas akibat dimakan usia.

lantai dasar gereja ayam


Bila kita berada di lantai dasar, tidak ubahnya kita berada pada sebuah aula yang ukurannya cukup besar. Aula yang akan lebih mirip seperti lambung sebuah kapal ini memiliki banyak ventilasi di bagian sampingnya. Pada bagian atas terdapat sebuah ventilasi besar yang berbentuk layaknya tanda ( + ) sebagai pencahayaan utama di lantai dasar. Bila sebagian orang melihatnya sebagai tanda salib, menurut saya kurang pas karena garis tersebut memiliki panjang yang sama. Di tempat ini pula terdapat sebuah layar LCD yang menayangkan video tentang awal mula pembuatan dari gereja ayam dan menampilkan beberapa foto yang diambil sekitar tahun 1990an yakni dokumentasi pribadi milik Daniel Alamsjah. Tidak sempat selesai melihat video yang diputar kami sudah dipanggil oleh petugas yang berjaga untuk segera menuju ke lantai atas.

Tingkat pertama dari gereja ayam

lukisan mural di lantai 1

Naik ke tingkat pertama dari gereja ayam, kita akan memasuki sebuah ruangan yang cukup lubar namun lembab. Di lantai 2 ini kita bisa melihat secara keseluruhan bagian lantai dasar sampai ke bagian ekor dai bangunan. Di tempat ini juga terdapat banyak sekali gambar yang berisikan pesan-pesan mural yang ditujukan terutama untuk generasi muda saat ini. Peringatan agar tidak melakukan sex bebas, mengindari gaya hidup hedonisme, serta menjauhkan diri dari penggunaan narkotika dan obat-obatan berbahaya menjadi pesan utama yang ingin disampaikan pelukis bagi setiap orang yang mengunjungi tempat ini. Ruangan yang hanya mampu untuk menampung beberapa orang saja ini tidak mempunyai jendela sehingga kita tidak bisa melihat sisi luar dari ruangan tersebut.

Tingkat kedua dari gereja ayam

Memasuki tingkat selanjutnya yakni tingkat kedua dari gereja ayam. Pengunjung akan memasuki ruangan yang memiliki ukuran lebih kecil dibandingkan dengan tingkat yang pertama. Meskipun memiliki ukuran ruangan yang lebih kecil, namun di tingkat atau lantai yang kedua ini tidak se “lembab” tingkat yang pertama, hal itu dikarenakan, tempat ini memiliki banyak jendela yang berbentuk jajar genjang serta dapat kita gunakan untuk bisa melihat pemandangan di sekitar bangunan gereja.

mari lestarikan kebudayaan bangsa sebagai warisan dari nenek moyang dan leluhur kita

Di tempat ini pula anda bisa melihat bagian dari atap atau “punggung” bangunan dengan ujungnya berbentuk ekor dan menjulang. Sama halnya dengan tingkat sebelumnya. Di lantai kedua dari bangunan gereja ini terdapat banyak gambar mural yang menampilkan tentang kekayaan kebudayaan bangsa Indonesia dari berbagai propinsi. Kekayaan bangsa Indonesia yang ditampilkan berupa gambar tari-tarian seperti Reog dari Ponorogo, tari Srimpi dari Jawa Tengah dan tari-tarian yang berasal dari suku Dayak Kalimantan. Selain itu terdapat pula beberapa gambar destinasi wisata yang cukup popular dari berbagai propinsi di Indonesia seperti : candi Borobudur yang berada di Magelang Jawa Tengah, Raja Ampat yang berada di Propinsi Papua, dan pantai Bunaken yang berada di Propinsi Sulawesi Utara. Disini pula saya menemukan pesan yang cukup mendalam yang ingin disampaikan oleh pelukis yakni :

“ Dengan mencintai seni budaya Indonesia berarti ikut serta melestarikan warisan nenek moyang “

Sebuah pesan luhur yang disampaikan oleh pelukis untuk kembali merefleksikan jati diri kita sebagai bangsa Indonesia, bangsa yang besar dengan beraneka ragam bahasa dan budaya, bangsa yang memiliki beribu pulau. Tercatat 13.466 pulau yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, bahkan 9.634 diantaranya belum bernama. Di bagian tengah dari ruangan tersebut terdapat lukisan lambang negara kita yakni Pancasila. 

Tingkat ketiga gereja ayam

Memasuki ruangan selanjutnya yakni tingkat ketiga dati gereja ayam. Pengunjung akan masuk ke ruangan yang jauh lebih sempit. Nah bila dilihat dari bagian sisi luar bangunan tingkat ketiga ini berada pada bagian paruh dari ayam ( burung merpati ).

paruh gereja ayam
Ada yang tahu ini bagian apa ???


Di tempat ini disediakan beberapa kursi yang dapat kita gunakan sambil menunggu antrian untuk naik ke bagian mahkota dari burung. Disini pula terdapat petugas yang siap berjaga dan mengatur jumlah pengunjung yang naik ke bagian mahkota atau bagian puncak dari gereja ayam. Di khawatirkan apabila tidak diatur sedemikian rupa maka akan terjadi kelebihan pengunjung dan hal ini justru akan membahayakan pengunjung yang datang ke tempat ini. Sambil menunggu antrian beberapa foto berhasil saya ambil di ruangan ini. 

Tingkat keempat puncak bangunan, bagian mahkota burung

Tibalah giliran bagi kami untuk naik ke bagian puncak atau mahkota burung.  Dengan menaiki tangga yang terbuat dari besi, perlahan-lahan kami naik ke bagian mahkota burung. Rasa takjub menjadi kesan pertama yang saya rasakan ketika sampai di puncak dari bangunan ini. Puncak dari bangunan ini berupa sebuah tempat dengan ukuran sekitar 2x3 meter yang dapat menampung sekitar 8 orang saja. Terdapat beberapa pengaman di tempat ini berupa besi yang menjadi pembatas bagi para pengunjung agar tidak melintasi daerah yang ditentukan. Di tempat ini kita dapat melihat daerah-daerah sekitar wisata Punthuk Setumbu, gunung Merapi, gunung Merbabu, gunung Sindoro serta puncak Suroloyo di sisi sebelah barat.   

Di bagian mahkota gereja ayam
Di bagian mahkota gereja ayam


Tidak lupa terlihat pula hasil karya bangsa kita yakni Candi Borobudur yang gagah berdiri disisi sebelah timur seolah menanti kedatangan kami. Pendapat saya apabila kita mengunjungi tempat ini di pagi hari mungkin akan terasa lebih indah, hal tersebut dikarenakan kita dapat melihat indahnya sang surya muncul dari sisi timur. Tempat ini juga menjadi tempat yang paling ideal untuk mengambil foto dari atas ketinggian. Setelah puas foto-foto maka kami pun turun menuju ke bagian sisi lantai dasar gereja, tempat dimana diputarkan video tentang pembangunan gereja pertama yang awal mulanya ditujukan sebagai tempat berdoa untuk semua agama ini. 

Pemandangan kota Magelang dari bagian atas gereja ayam
Melihat tayangan tersebut kita akan mengetahui tentang tempat ini tempo dahulu. Tempat yang masih sangat sepi dan penuh oleh pohon-pohon yang menjulang tinggi. Diperlihatkan pula tayangan dimana warga sekitar bahu membahu mengangkut segala hal yang dibutuhkan untuk dapat membangun tempat peribadatan yang diimpikan oleh sosok Daniel Alamsjah. Mereka mengangkut semen, batu-batuan dan peralatan lainnya yang berasal dari tempat yang cukup jauh. Di suatu tayangan terlihat pak daniel yang ditemani oleh reporter masuk ke dalam ruangan bawah tanah. Rasa penasaran saya pun terusik untuk mencari tempat atau pintu masuk ke ruangan bawah tanah tersebut. Ternyata untuk bisa masuk ke dalam ruangan bawah terdapat sebuah pintu yang berada tepat di bagian bawah ekor. Kami pun meminta ijin kepada beberapa pekerja yang kebetulan sedang melakukan perbaikan di bagian-bagian sekitar ekor bangunan.

Ruangan bawah sebagai tempat doa

Memasuki ruangan bawah kesan pertama yang saya rasakan adalah kesan angker. Hal itu dikarenakan tempat ini sangat gelap dengan sedikit pencahayaan dan sangat lembab. Ruangan ini sangat luas dan berbentuk labirin-labirin dengan ukuran sekitar 2x2,5m. Memasuki lorong di tempat ini seperti berjalan di dalam goa atau seperti ketika saya mengunjungi ruang bagian bawah dari bangunan lawang sewu di semarang.

Ruang doa bagian baseman gereja ayam

Di bagian ini pula terdapat pula toilet dan kamar tempat bagi para pekerja untuk beristirahat. Disini terpampang sebuah relief tentang sejarah berdirinya bukit Rhema. Hasil permenungan dan perjalanan iman seorag Daniel Alamsjah untuk mendirikan tempat doa bagi orang yang percaya kepada Tuhan yang berlokasi di atas bukit Rhema. Menurut beberapa orang yang berhasil saya wawancarai, ruangan bawah yang berbentuk seperti labirin tersebut ditujukan sebagai tempat untuk berdoa.

Hal yang perlu anda ketahui mengena gereja ayam

  1. Lebih terkenal sebagai gereja ayam dibandingkan dengan gereja merpati. Masyarakat sekitar atau bahkan kita lebih mengenalnya sebagai “ gereja ayam ”, namun menurut pendiri tempat ini yakni Bapak Daniel Alamsjah. Bentuk bangunan ini adalah berbentuk burung merpati. Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya bahwa burung merpati merupakan lambang akan roh kudus dalam kepercayaan Nasrani. Namun karena sudah terlanjur terkenal dengan sebutan gereja ayam, maka sampai saat inipun orang enggan merubah pandangan mereka meskipun sudah mengetahui kebenarannya
  2. Bangunan ini sempat tidak terurus. Akibat proses pembangunan yang harus dihentikan tepatnya sejak tahun 2000, otomatis bangunan unik ini sempat tidak terurus. Akibatnya tempat ini menjadi tempat yang dikenal angker dan beberapa bagian dari tempat ini menjadi korban aksi vandalisme yang banyak dilakukan oleh tangan-tangan jahil yang tidak bertanggung jawab. Namun saat ini tempat ini sudah berbenah, beberapa bagian yang menjadi “korban” aksi vandalisme sudah ditutup menggunakan cat dan beberapa bagian bangunan ( termasuk bagian atap ) juga mulai diperbaiki.
  3. Tempat ibadah untuk semua agama. Berepa orang mungkin beranggapan bahwa tempat ini merupakan sebuah gereja, hal tersebut memang sangatlah wajar mengingat pendiri tempat ini merupakan pemeluk agama kristen, namun tujuan awal tempat ini dibangun bukanlah ditujukan sebagai gereja, namun ditujukan sebagai "rumah doa" bagi semua orang yang percaya kepada Tuhan. 

Tempat wisata lain yang bisa anda kunjungi di sekitar gereja ayam :

Jika anda mengunjungi gereja ayam tentu tidak lengkap rasanya jika tidak mengunjungi tempat wisata lainnya di wilayah Magelang yang tidak kalah menarik. Kabupaten ini memang memiiliki destinasi wisata yang menarik baik itu wisata alam maupun wisata budaya. Adapun beberapa tempat wisata yang cukup populer di Kabupaten Magelang diantaranya :

  1. Rafting sungai Elo. Menikmati derasnya aliran sungai Elo sepanjang 12 km menggunakan perahu. Bagi kamu yang suka kegiatan outdoor dan kegiatan seru yang dapat memacu adrenalinmu, kamu perlu mencoba untuk Rafting di tempat ini. Jarak antara Citra Elo (basecamp Rafting ) dari gereja ayam sekitar 10 km. Untuk informasi lebih lanjut, anda bisa membaca pengalaman rafting di sungai elo yang sudah saya tulis beberapa waktu yang lalu. 
  2. Wisata Punthuk Setumbu. Sama seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya. Wisata alam Punthuk Setumbu merupakan wisata alam di atas ketinggian, tepatnya di sisi sebelah barat gereja ayam atau candi Borobudur. Di tempat ini kamu bisa melihat candi Borobudur dari atas ketinggian dan dapat melihat indahnya sunrise terbaik terutama di kawasan Kabupaten Magelang.
  3. Candi Mendut. Menengok hasil karya bangsa Indonesia, peninggalan kerajaan yang masih gagah berdiri. Candi  Mendut didirikan oleh Samaratungga, disebut pula Shrimat Venuvena yang berarti hutan Bambu. Bangunan ini disebut juga Jina  Mandira atau candi sang Jina / Budha Gautama. Candi merupakan tempat peribadatan umat Budha, khususnya para mahasiswa Bumishambarabudhara.
  4. Candi Borobudur. Merupakan warisan budaya bangsa Indonesia yang terkenal hingga mancanegara, dan menjadikannya salah satu warisan dunia yang ditetapkan oleh UNESCO. Bangunan suci utama bertingkat sepuluh ini merupakan bangunan terbesar diantara tiga candi di sekitarnya, yakni candi Mendut dan candi Pawon. Ketiga candi tersebut merupakan candi yang didirikan oleh Samaratungga. Tempat mencapai kesempurnaan abadi ( Dara Badhi Satwa Bumi )

    Kesimpulan

    Saya sangat senang sekali bisa mengunjungi tempat ini, selain memiliki bangunan yang unik tempat ini memiliki nilai sejarah tersendiri. Kekaguman saya terhadap sosok Daniel Alamsjah yang mau mendengarkan "suara hatinya" untuk bisa berbagi dengan sesama melalui pembangunan tempat peribadatan yang saat ini dapat anda kunjungi setiap harinya. Semoga saja pembangunan tempat ini dapat dilanjutkan dan tempat ini dapat difungsikan sebagai mana seperti tujuan awal tempat ini di bangun dan dapat memberikan kegembiraan dan sukacita bagi setiap orang yang mengunjunginya.  


    Bagi rekan-rekan yang ingin mengunjungi tempat ini, rekan-rekan tidak harus melalui wisata Punthuk Setumbu yang notabene harus berjalan cukup jauh untuk sampai ke tempat ini. Jalan menuju bukit Rhema atau gereja ayam dapat anda akses melalui pertigaan sebelum Punthuk Setumbu ( Perhatikan tanda yang menunjukkan arah ke bukit Rhema ).