Showing posts with label rohani. Show all posts
Showing posts with label rohani. Show all posts

Wednesday, 14 June 2017

ziarah ke Goa Maria Mojosongo Solo

Dalam perjalanan ke Kota Solo, saya tiba-tiba diingatkan pada salah satu tempat ziarah umat Katolik yang dulu pernah saya kunjungi 7 tahun silam. Goa Mojosongo adalah nama tempat ziarah yang dimaksudkan. Puji Tuhan, minggu kedua di bulan Juni tahun ini, dimana rekan dan sahabat saya yang beragama muslim sedang menjalankan ibadah puasa, saya berkesempatan mengunjungi serta berziarah di dua tempat ziarah sekaligus yakni Goa Maria Sendangsriningsih dan Goa Maria Mojosongo Solo yang lokasinya cukup tersembunyi di antara rumah-rumah penduduk di kota Surakarta. 

Goa maria Mojosongo Solo
Patung Maria di depan Goa Mojosongo 

Rute menuju Goa Maria Mojosongo Solo

Bagi yang belum pernah ke Goa Maria Mojosongo, mungkin akan sedikit kesulitan untuk mencapai tempat ini karena lokasinya masuk ke dalam area perkampungan. Goa Maria Mojosongo berlokasi di Kampung Debegan RT.04 / RW.05, Mojosongo, Jebres, Kota Surakarta. Bila rekan rekan dari arah Terminal Tirtonadi, terus saja sampai menemukan perempatan di sisi utara RS, dr Oen Kandang Sapi. Setelah itu belok ke utara arah menuju ke perempatan Mojosongo. Sampai di dekat TATV perhatikan plakat penunjuk arah ke Goa Maria di sisi kiri jalan. Lokasi Goa Maria berada di sebuah gang masuk di sisi kiri Jalan Brigjen Katamso.

Goa maria Mojosongo Solo
Taman Getshemani


Masuk di area Goa Maria kita akan menemukan dua patung besar yakni sebuah patung Bunda Maria dan patung Yosef yang berdiri di bagian samping kiri dan kanan gerbang. Kedua patung tersebut seakan menyambut peziarah yang datang ke tempat ini. Ada hal unik dan menjadi kebiasaan pengunjung yang datang ke Goa Maria ini, yakni sebelum masuk ke area peziarahan pengunjung mengusap salah satu patung kemudian membuat tanda Salib.

Goa maria Mojosongo Solo
salah satu sudut taman getshemani


Pada intinya tempat ini dibagi menjadi 7 bagian salah satunya adalah Taman Getshemani. Di taman Getshemani ini juga terdapat sebuah patung Yesus Kristus yang tengah sujud di tengah sebuah kolam. Di tempat ini pula terdapat beberapa terjemahan doa Bapa Kami dalam beberapa bahasa, Bahasa latin, English, Jawa dan tentunya Bahasa Indonesia.

Goa maria Mojosongo Solo


Dari Taman Getshemani kita menuju ke tempat dimana terdapat salib Yubelium. Salib Yubelium berada di sisi kanan belakang dari area Goa Maria. Saya bertemu dengan beberapa orang yang datang silih berganti. Beberapa diantaranya masih menggunakan seragam kantor dan seragam sekolah. Agaknya tempat ini sering dikunjungi oleh beberapa orang yang sengaja menyempatkan diri untuk berdoa setelah mereka pulang dari bekerja atau sekolah. Di samping kiri Salib Yubelium terdapat sebuah Pieta atau patung Bunda Maria membawa Yesus yang telah wafat disalibkan.

salah satu sudut pemberhentian jalan salib

Area jalan salin di Goa Maria Mojosongo berada di sisi kiri dari bangunan utama. Jarak antara satu pemberhentian dengan yang lainnya tergolong dekat. Semua tempat pemberhentian jalan salib terbuat dari ukiran batu alam. Ukiran batu alam tersebut berpadu dengan taman yang tertata dengan rapi rindah membuat tempat ini cukup asri meskipun berada di tengah pemukiman penduduk.

Kapel adorasi Ekaristi


Hal yang membedakan tempat peziarahan ini dengan tempat peziarahan lainnya, bila di beberapa tempat peziarahan Goa Maria berada di luar ruangan, tidak halnya dengan Goa Maria Mojosongo dimana Goa Maria sendiri berada di dalam bangunan utama. Goa Maria terlihat kecil dan berada di pojok kiri. Saya bertemu dengan beberapa ibu-ibu yang berdoa di depan Goa Maria. Di bagian tengah dari bangunan utama, terdapat tempat untuk adorasi sakramen mahakudus dimana penganut Katolik percaya bahwa TubuhDarah, Jiwa, dan Keilahian-Nya hadir dalam rupa hosti yang telah dikonsekrasi. 



Bagi saya pribadi, Goa Maria Mojosongo seakan menjadi oase tersendiri di tengah kesibukan kota Solo. Tempatnya cukup sejuk dan hening membuat peziarah akan betah berlama-lama disini. Tempat ziarah ini juga terbuka untuk umum dalam artian umat lain boleh mengunjunginya. Hal yang perlu diperhatikan ketika mengunjungi tempat ini adalah, kita wajib tetap menjaga keheningan sikap mengingat tempat ini digunakan sebagai tempat untuk berdoa. 

Siapa sangka di tengah pemukiman penduduk yang cukup padat di kota Solo terdapat tempat ziarah umat Katolik yang bernama Goa Maria Mojosongo.   

Wednesday, 19 April 2017

ziarahan ke gua Maria Sendangsono, mujizat yang nyata dalam hidup saya

" Gua Maria Sendangsono merupakan tempat peziarahan umat beragama Katolik yang terletak di wilayah paroki Promasan, Kalibawang, Kulonprogo Daerah Istimewa Yogyakarta. Kawasan ini akan ramai pada bulan-bulan tertentu, diantaranya adalah bulan Mei dan bulan Oktober. Di bulan-bulan tersebut banyak yang berziarah di tempat ini untuk berdoa dan mengucap syukur serta memohon berkat di depan patung Bunda Maria yang sudah ada di kawasan ini sejak puluhan tahun silam "

gua Maria Sendangsono
gua Maria Sendangsono

Ucapan syukur keluarga

Berziarah ke gua Maria merupakan suatu kebiasaan yang dilakukan oleh orang yang beragama nasrani khususnya bagi yang beragama Katolik, termasuk saya dan kedua orang tua saya. Peziarahan ke Sendangsono kali ini saya lakukan bersama keluarga saya di penghujung akhir tahun 2016. Tujuan kami berziarah adalah yang pertama mengucap syukur atas segala berkat yang kami peroleh. Yang kedua adalah memanjatkan permohonan kami  di tahun berikutnya. Meskipun saya adalah orang yang tidak religius-religus amat, namun setidaknya saya adalah orang yang tau akan berterimakasih dan bersyukur atas berkat Tuhan serta mujizat yang ada dalam kehidupan saya. Oleh karenanya, berhubung di akhir tahun lalu saya dan kedua orang tua saya mendapatkan libur kerja secara bersamaan, kami tidak menyia-nyiakan waktu yang ada, kami melakukan ziarah ke Gua Maria Sendangsono yang berlokasi di Kabupaten Kulonprogo.

Pengalaman saya berziarah ke Sendangsono adalah pengalaman saya yang ketiga. Kunjungan ke tempat ini yang pertama adalah di tahun 2006, ketika itu saya berziarah dengan rekan-rekan mudika di wilayah saya dan melakukan prosesi jalan salib serta napak tilas Romo Sandjaja.Pr yang kini makamnya sudah dipindahkan di kerkop. Di tahun 2011 saya berziarah bersama dengan rekan-rekan kuliah saya. Dan di tahun ini saya berkesempatan mengunjungi Sendangsono untuk yang ketiga kalinya bersama dengan kedua orang tua serta adik saya. 

Rute menuju Sendangsono

  • Rute menuju Sendangsono dari Yogyakarta. Rute yang bisa ditempuh bila anda dari kota Yogyakarta adalah : Yogyakarta - jalan Godean – Godean – perempatan Nanggulan belok kanan – Kalibawang – Belok ke kiri ke arah gereja Promasan – Dari Gereja Promasan anda bisa menggunakan kendaraan menuju ke Sendangsono atau melakukan jalan salib dari gereja Promasan sampai ke Sendangsono.
  • Rute menuju Sendangsono dari Semarang. Semarang – Pasar Muntilan – belok kanan – ke arah Kalibawang – desa Dekso ikuti arah ke gua maria Sendangsono.

    Karena kami dari Klaten, kami memilih rute dari Muntilan untuk menuju ke Sendangsono. Hal itu tidak lain untuk menghindari kemacetan apabila kami harus melalui jalur Godean, karena waktu itu masih dalam suasana libur natal dan tahun baru. Bisa dipastikan jalan Yogya-Solo akan macet oleh para pemudik. Kami memerlukan waktu sekitar 2 jam perjalanan dari Klaten untuk sampai di Sendangsono. Kami berangkat tepat jam 08:00 dan sampai di Sendangsono pukul 10:10.

    Pada awalnya kami ingin langsung menuju ke Sendangsono tanpa melalui jalur dari arah Gereja Promasan. Namun karena sempat salah rute, akhirnya terpaksa kami melalui gereja Promasan. Dari gereja Promasan, kita harus menempuh kurang lebih 5 menit perjalanan apabila memakai kendaraan bermotor. Oya bagi yang mau melakukan jalan salib, bisa dimulai di gereja Promasan dengan melalui rute yang telah disediakan.


    Pintu masuk area Sendangsono


    Setelah memarkirkan kendaraan kami, kami sekeluarga bergegas menuju ke arah Gua Maria. Berhubung pada waktu itu banyak peziarah yang datang ke Sendangsono, maka kami terpaksa memarkirkan kendaraan kami di halaman rumah warga sekitar. Oleh bapak yang punya rumah, kami dianjurkan melalui samping rumah mereka dan akan sampai di bagian samping gua Maria, hal itu tentunya akan menyingkat perjalanan. Namun karena kami ingin melihat beberapa barang-barang rohani yang banyak dijual di jalan masuk menuju ke tempat ini, maka kami memutuskan untuk masuk tempat ziarah dari pintu utama.

    Di pintu masuk anda bisa berbelanja benda-benda rohani
     yang banyak di jual di tempat ini


    Memasuki area tempat peziarahan Sendangsono, gapura dengan desain yang unik, yakni gapura dengan bentuk melengkung seolah menyambut kedatangan kami. Deretan orang yang berjualan benda-benda rohani seperti lilin, kalung Rosario, salib serta buku-buku doa menjadi pemandangan yang bisa kita lihat sebelum kami masuk ke area jalan salib. Memasuki area jalan salib, kita bisa memilih, mau ke sendang dengan melalui rute jalan salib atau tidak  melalui jalan salib. Karena pada waktu itu kami tidak berencana melakukan prosesi jalan salib maka kami langsung menuju ke arah sendang dengan berjalan lurus ke depan.


    Sejarah Sendangsono Bethlehem Van Java

    Sendangsono sendiri berasal dari 2 kata berbahasa Jawa yakni : Sendang = Mata Air dan Sono = Pohon Sono. Sendangsono  berarti mata air yang berada di bagian bawah pohon sono. Bersumber dari buku Ziarah Gua Maria di Jawa yang ditulis oleh RL Soemijantoro dan Tim Gua Maria. Masyarakat di wilayah Kalibawang pada jaman dahulu seringkali mengalami kesulitan air bersih.

    Patung Bunda Maria sebagai media kita berdoa


    Hal itu disebabkan karena sulitnya menggali sumur guna mendapatkan air bersih untuk memenuhi kebutuhan mereka. Di daerah ini hanya ada 3 sumber mata air. Salah satunya adalah di Sendangsono. Dari ketiga sumber mata air, sumber mata air yang terletak di bawah pohon sono-lah yang paling banyak digunakan oleh masyarakat, mereka memilih sumber ini karena air yang keluar sangatlah bersih. Selain masyarakat tidak jarang pula para Biksu yang baru pulang dari Candi Borobudur atau biara Boro kidul mengambil air di tempat ini. Perjalanan yang jauh membuat mereka lelah dan meminum air yang ada di sendang untuk mengobati dahaga mereka.

    Mata air yang digunakan sebagai tempat pembaptisan pertama
    tepatnya terletak di bawah pohon sono depan gua Maria 


    Sendang di bawah pohon sono juga dikenal masyarakat sebagai sendang yang angker. Masyarakat percaya bahwa ada roh halus yang mendiami sendang ini. Oleh karenanya,untuk mengusir roh ini, masyarakat mengadakan acara selamatan dan sesaji di tempat ini. Atas dasar itu pulalah, Romo Van Lith SJ. Romo kebangsaan Belanda menjadikan tempat ini sebagai tempat yang kudus. Sendang yang dahulunya dikenal sebagai tempat yang angker, digunakannnya sebagai tempat untuk membabtis 173 orang pada tanggal 14 Desember 1904. 173 orang itulah yang menjadi baptisan pertama dan menjadi orang Katolik pertama yang dimandikan di Jawa Tengah. Oleh karena Sendangsono menjadi tempat lahirnya iman kristiani pertama di Jawa Tengah, beberapa orang menyebut Sendangsono sebagai sebutan "Bethlehem Van Java". Hal tersebut dianalogikan sama seperti halnya Bethlehem yang sekarang berada di Palestina, sebagai tempat kelahiran Yesus Kristus.

    Relief yang  menggambarkan 173 baptisan pertama yang terletak di samping Gua Maria 


    Berdirinya gua Maria yang kita kenal sekarang tidak lepas dari peranan seorang pastor yang bernama Pater J.B Prennthaler SJ yang kala itu bertugas di Kalibawang. Romo Prennthaler menganjurkan agar tempat ini didirikan sebuah tempat lambang kekudusan dan kemurnian. Maka dimulailah pembangunan gua Maria. Ada yang menarik dari pembangunan gua Maria di Sendangsono. Patung yang ada di Sendangsono adalah patung Maria yang dipesan khusus dari Negara Perancis. Masyarakat yang ikut dalam proses pembangunan gua Maria bahu membahu mengangkat peti seberat 300 kg ke arah Sendangsono. Gua Maria Sendangsono diberkati pada tanggal 8 Desember 1929 bertepatan dengan 75 tahun Bunda  Maria Tak bernoda oleh pembesar Serikat Jesus, Pater Kalken. Upacara pemberkatan kala itu dihadiri oleh 700 umat. Perayaan misa dirayakan di sebuah gedung Sekolah Dasar yang biasa digunakan sebagai gereja, kemudian disusul dengan prosesi ke Gua Maria


    Berdoa di Gua Maria Sendangsono

    Sebelum berdoa kami sekeluarga membersihkan diri terlebih dahulu di mata air tepatnya di bagian bawah Gua Maria. Mata air yang dahulu dijadikan tempat pembabtisan jemaat yang pertama di tanah Jawa kini sudah ditutup namun airnya tetap masih bisa kita ambil karena pengelola menyalurkan air tersebut pada beberapa kran air di bagian bawahnya sehingga peziarah akan lebih mudah mengambilnya tanpa harus mengantri terlebih dahulu. 


    Tempat untuk kita membasuh dan membersihkan diri kita


    Pada waktu kami sekeluarga mengunjungi Sendangsono, kawasan ini penuh dengan para peziarah. Saya sempat bertanya kepada beberapa diantara mereka. Mereka datang dari kota-kota besar di wilayah pulau Jawa, ada yang berasal dari Surabaya, Semarang, Jakarta dan kota-kota lainnya di sekitar Yogyakarta. Saya pun bertemu salah satu peziarah dari Paroki saya yakni paroki Gondangwinangun Kabupaten Klaten. Untuk mendapatkan tempat duduk tepatnya di patung Bunda Maria kami harus menunggu terlebih dahulu karena banyaknya peziarah di tempat ini. Tidak sampai 15 menit akhirnya kamipun beroleh tempat yang letaknya di ujung pendopo di depan Gua Maria. 


    " Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu di tempat yang tersembunyi, maka Bapamu di tempat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu " 

    Itu adalah ajaran bagi kita tentang berdoa secara benar, yakni di tempat yang tertutp. Namun karena di lokasi ini merupakan kawasan terbuka hal itu tetap diperbolehkan. Berdoa di alam terbuka dengan udara yang sejuk dibawah pohon sono yang berukuran besar dan berusia puluhan tahun tentu akan membuat diri kita semakin khusuk. Meskipun pada waktu itu kawasan ini penuh dengan peziarah yang berdoa dan mendaraskan segala puji syukur serta permohonan mereka melalui perantaraan Bunda Maria namun keheningan tempat ini tetap terjaga. 

     Gua Maria yang penuh dengan para peziarah

     Arsitektur karya Romo Mangun Wijaya PR

    Selesai berdoa kami pun menuju ke bagian atas dari kawasan Sendangsono yakni di bagian Golgota. Di tempat ini sama halnya di tempat-tempat peziarahan Katolik lainnya, terdapat salib dengan ukuran yang cukup besar terletak disamping kapel Maria yang sering digunakan sebagai tempat peribadatan dan misa di hari-hari tertentu. Dari atas Golgota kita bisa melihat sebagian besar kawasan Sendangsono. Menurut catatan sejarah bangunan di kawasan Sendangsono adalah hasil rancangan Romo Mangunwijaya Pr. Kawasan Sendangsono pernah mendapat penghargaan Agha Khan awards sebuah penghargaan di bidang arsitektur dengan konsep yang menyatu dengan alam dan lingkungan.


    Kapel Tritunggal Mahakudus 


    Dalam video 100 tahun Sendangsono diceritakan bahwa dalam proses pembangunan kawasan Sendangsono seperti yang bisa kita jumpai sekarang bukan tanpa  kendala. Dalam sebuah kesaksian warga di video tersebut Romo Mangun sempat mendapat cibiran oleh beberapa masyarakat yang ikut langsung dalam pengerjaannya. Beberapa diantaranya mengatakan bahwa Romo Mangun mengerjakan hal yang mustahil dilakukan. Beliau tidak ingin pohon-pohon yang sudah ada dan tumbuh di sekitar sendang ditebang begitu saja. Oleh kerena itu beliau menyesuaikan bentuk dan konsep bangunan sesuai dengan kondisi alam di wilayah tersebut. Masih dalam sumber yang sama, dalam pengerjaannya seperti menguruk tanah, membuat paving, mengecor semuanya dilakukan dengan cara manual dan dikerjakan secara bergotong royong. Semua cibiran dari masyarakat yang ikut terlibat ditanggapi dengan kepala dingin sampai akhirnya pengerjaan kawasan ini selesai dan menjadi kawasan Sendangsono yang sangat asri serta sangat sejuk apabila kita kunjungi berkat banyaknya pohon-pohon besar yang tumbuh di tempat ini.

    Salah satu hasil rancangan Romo Mangun Pr


    Masih tentang bangunan di kawasan Sendangsono, apabila kita perhatikan beberapa bagian bangunan di tempat ini mempunyai motif-motif yang unik. Sebut saja paving pada bagian tempat untuk mengambil air. Pada bagian tersebut dapat kita lihat motif tumbuh-tumbuhan yang berpadu serasi satu dengan yang lain. Bangunan di tempat ini juga tidak kalah menarik. Sama seperti karya-karya Romo Mangun lainnya seperti Gereja Maria Asumta di Klaten atau kawasan layak huni di bantaran kali Code Yogyakarta yang memadukan konsep menyatu dengan alam. Bangunan ditempat ini juga sentuhan ornament-ornament yang berasal dari alam seperti penggunaan batu alam sebagai penghias bagian pondasinya, penggunaan kayu sebagai tiang kayu sebagai penyangga utama di beberapa teras yang disediakan, dan masih ada beberapa bangunan lainnya yang mempunyai sentuhan aksen alam. 

    Salah satu sudut tempat prosesi jalan salib 

    Kisah Barnabas Sarikromo

    Karena anda sudah membaca artikel saya maka tidak ada salahnya saya memberikan sedikit informasi mengenai beliau. Berbicara tentang benih iman kekhatolikan di daerah Sendangsono rasa-rasanya tidak akan lengkap apabila tidak membicarakan tokoh yang satu ini. Bapak Barnabas Sarikromo adalah Katekis ( pengajar agama profesional dalam gereja Katolik ) pertama di wilayah Kalibawang. Dalam buku Ziarah Gua Maria di Jawa yang ditulis oleh RL Soemijantoro diceritakan bahwa Bapak Sarikromo semula adalah penggemar ilmu gaib dan kegiatan supranatural lainnya. Beliau sering mengadakan olah batin dengan melakukan ritual di beberapa tempat seperti sendang, sungai dan beberapa tempat lainnya. Dalam perjalanannya, karena tidak puas dengan ilmu yang dimiliki Bapak Sarikromo berguru pada seorang yang bernama Dawud. Bapak Dawud sendiri berubah menjadi seorang kristen kerasulan karena gurunya dikalahkan oleh seorang pendeta Kristen yang bernama kyai Sadrach Supranata yang berkedudukan di Karangjasa Kutoarjo. Pertemuan dengan gurunya inilah yang menjadikan Bapak Sarikrama mengenal seorang Bruder berwarganegaraan Belanda yang sedang mengemban misinya di daerah Muntilan yang bernama Bruder Th. Kersten.

    Di depan makam Bapak Barnabas Sarikromo


    Suatu waktu Bapak Sarikromo mengalami sakit pada kedua kakinya sehingga dia tidak bisa berjalan. Untuk berpindah tempat dia harus merangkak ( Jawa = ngesot ). Terdorong keinginannya untuk sembuh Bapak Sarikromo pergi ke Muntilan untuk bertemu Bruder Th. Kersten. SJ, yang menurut Bapak Dawud beliau adalah seorang dokter berkewarganegaraan Belanda yang baik hati. Di Pastoran Muntilan Bapak Sarikromo diterima oleh Bruder Kersten. Luka-lukanya dibersihkan, dibalut dan diganti verbannya setiap hari. Pada saat itulah Bapak Sarikromo untuk yang pertama mengenal ajaran agama Katolik yang disampaikan oleh Romo Vanlith SJ ketika memimpin misa. Sejak saat itu Bapak Sarikromo secara rutin mengikuti pelajaran agama yang disampaikan oleh Romo Vanlith SJ dan diulang oleh Bapak Andreas Martaadmaja. Bapak Sarikrama akhirnya dibaptis oleh Romo Van Lith pada tanggal 20 Mei 1904. Sesudah upacara pembaptisan selesai Bapak Sarikromo mengucapkan janjinya.
      

    " Kaki saya sudah dapat digunakan lagi karena kemurahan Tuhan, Maka selanjutnya akan saya pakai untuk karya Tuhan "

    Selanjutnya Bapak Sarikromo Mengabdikan diri untuk karya kerasulan awam selama 9 tahun tanpa dibayar dengan memberikan bimbingan kepada kurang lebih 200 orang yang tersebar di kawasan Kalibawang. Dikatakan karya kerasulan awam karena daerah tersebut sempat mengalami kekosongan tenaga pastor dan semua murni dilakukan oleh awam. Baru beberapa tahun kemudian datang tenaga misioner diantaranya adalah : Romo L Groenewegen SJ. Romo J. Barendsen SJ, dan Romo JB. Prennthaler SJ yang berasal dari Austria. Romo Prennthaler inipun sempat dipolisikan oleh pemerintah Belanda dan beberapa kali dipindahkan oleh pemerintah Jepang. 

    Selama 25 tahun Bapak Sarikromo melakukan karya kerasulan awam tanpa sekalipun meminta bayaran. Pada tanggal 08 Desember 1929 saat diadakan perayaan 25 tahun misi di Kalibawang, saat itulah Bapak Sarikromo menerima tanda bintang berwujud salib kehormatan emas dari tahta suci Vatican dengan tulisan " Pro Eccleda de Pontificae " beserta piagamnya. Bapak Sarikromo merupakan orang Indonesia pertama yang menerima penghargaan ini.

    Mujizat nyata dalam hidup saya

    Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, mengunjungi kawasan peziarahan Sendangsono memang bukan pengalaman yang pertama bagi saya, setidaknya saya sudah beberapa kali mengunjungi tempat ini bersama dengan rekan-rekan saya. Pada tahun 2011 tepatnya setelah acara kelulusan di tempat kuliah. Saya bersama 4 orang rekan kuliah saya, Mas Bonaventura, Yoga, Mas Patrick serta Wawan sengaja berziarah ke tempat ini tengah malam, berjaga sampai pagi hari. Tujuannya bersyukur atas kelancaran kami dalam menempuh proses pendidikan sampai selesai dan yang kedua adalah memohon agar kami diberikan pekerjaan yang sesuai. Pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan kami dan pekerjaan yang benar-benar kami peroleh dengan cara yang benar. Karena kami percaya apabila pekerjaan tersebut kami dapatkan dengan cara yang tidak benar, maka sama halnya kami hanya akan mengambil rejeki milik orang lain dan hal itu tidak membawa berkat bagi diri kami.


    sehat-sehat terus ya.....


    Iman dan pengharapan kami akan pertolongan Tuhan membuahkan hasil, satu persatu diantara kami mendapatkan panggilan untuk interview bahkan beberapa diantara kami mendapatkan pekerjaan di tempat yang sama. Kami percaya hal itu adalah permohonan kami dan doa-doa yang kami daraskan melalui perantaraan santa perawan Maria.


    Wisata arsitektur dan kawasan wisata religi

    Peziarahan Sendangsono Kalibawang memang merupakan tempat peziarahan bagi umat beragama Katolik namun kawasan ini tidak menutup diri sebagai kawasan wisata arsitektur dan wisata religi yang dapat dikunjungi bagi semua agama. Bagi yang suka akan arsitektur, kawasan ini menyajikan pemandangan yang indah. Bangunan-bangunan hasil rancangan tangan dingin Romo Mangunwijoyo PR tampak tertata rapi dengan memperhatikan konsepnya menyatu dengan alam. Di bagian sisi sebelah kiri dari goa Maria nampak sungai mengalir dengan jembatannya yang unik. Daerah tepi aliran sungai disulap menjadi tempat yang bisa kita jadikan tempat duduk karena dibuat trap-trap paving yang berukuran besar.


    tepi sungai, tempat ini sering digunakan umat ketika misa
    jika area di depan gua maria sudah penuh


    Di akhir kunjungan saya ke Sendangsono saya dan keluarga saya menyempatkan diri untuk membeli oleh-oleh di tempat ini. Karena kami sudah mempunyai rosario dan barang-barang religi lainnya, kami berencana tidak membeli barag-barang tersebut di tempat ini, melainkan membili makanan khas dari kulonprogo. Bingung juga karena sedikit sekali penjual makanan yang menjajakan makanan di tempat ini, sampai akhirnya kami bertemu dengan seorang nenek yang duduk ditemani oleh cucunya menjual gula aren, ampyang dan jenang. Kami pun membeli makanan tersebut untuk dijadikan oleh-oleh untuk kerabat kami di rumah. 

    nenek penjual makanan ditemani cucu dan guguknya

    Keinginan saya untuk tidak membeli cinderamata berupa barang di tempat ini pun sirna. Pasalnya saya tertarik pada sebuah kalung  usang diantara kalung yang lain yang dijual oleh salah satu penjual alat-alat rohani di depan pintu masuk kawasan Sandangsono. Tidak harus berlama-lama menawar untuk mendapat kalung tersebut. Cukup membayar Rp.10.000 saya bisa membawa pulang kalung sebagai cinderamata berziarah di kawasan peziarahan Sendangsono bersama dengan keluarga saya.   





    Itulah tadi pengalaman saya berziarah ke Goa Maria Sendangsono yang berlokasi di Kalibawang Kabupaten Kulonprogo. Oya di Kabupaten Kulonprogo juga terdapat tempat peziarahan yang lain yakni Gua Maria Lawangsih yang bisa anda singgahi. Berziarah ke Gua Maria Sendangsono akan lebih khusuk apabila anda datang pada malam hari karena tempat ini buka 24 jam dan anda bisa tidur menginap pada teras yang telah disediakan di sisi dari Gua Maria. Berdoa di tengah malam di depan Gua dan diantara lilin-lilin yang menyala temaram sambil merenungi apa yang menjadi rencana Tuhan dalam diri kita.