Tampilkan postingan dengan label gunung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gunung. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Agustus 2017

camping di gunung andong, berburu golden sunrise di atas 1726 mdpl

“ sef-sef, bangun !!!, jadi lihat Golden Sunrise gak ? rekanku mencoba mengajakku keluar dari tenda camping untuk menyongsong sang fajar keluar dari peraduannya tepat di arah gunung Lawu yang terlihat dari kejauhan. Menikmati Golden sunrise di gunung andong adalah waktu yang paling dinantikan oleh para pendaki atau penikmat alam yang mengunjungi gunung setinggi 1726 mdpl ini. 

saya dengan background gunung Merbabu dan gunung Merapi di jalur pendakian gunung Andong 


Pengalaman camping kali di gunung Andong kali ini merupakan pengalaman pertama yang saya lakukan setelah sebelumya melakukan camping di beberapa tempat lainnya di kawasan Yogyakarta dan area Jawa Tengah. Hal yang menjadi tujuan utama saya melakukan camping di gunung Andong adalah melihat golden sunrise yang menurut rekan saya adalah sunrise terbaik diantara beberapa gunung lainnya yang memiliki ketinggian lebih dibandingkan dengan gunung Andong.


Rute menuju Gunung Andong dari Yogyakarta

Bila rekan rekan berasal dari Yogyakarta, untuk bisa mencapai basecamp gunung Andong rekan-rekan bisa melewati jalan Magelang. Dari arah Kota Yogyakarta ke utara menuju terminar Muntilan. Dari terminal masih lurus ke utara hingga menemukan trafficlight yang kedua, setelah itu belok ke kanan ( arah Ketep-Kopeng ) ikuti arah menuju ke pasar Ngablak ( perhatikan gapura pasar Ngablak yang berwarna biru ). Setelah sampai di pasar Ngablak kita belok ke kiri di gapura pertama menuju ke arah Grabag. Jika rekan-rekan melewati lapangan sepak bola Ngablak berarti rekan-rekan berada di jalur yang benar. Dari lapangan sepakbola, kita lurus sekitar 2 km sampai menemukan pertigaan makam dusun Kenteng ( perhatikan arah penunjuk jalan ) belok kiri dan ikuti jalan tersebut sampai menemukan penunjuk selanjutnya ( sampai menemukan SD Girirejo II), kita belok kanan dan tidak jauh dari tempat itu sampailah kita di Dusun Sawit. 

Untuk bisa mendapatkan pemandangan golden sunrise di gunung Andong maka setidaknya rekan rekan harus mencari waktu camping atau waktu pendakian yang tepat. Musim kemarau, adalah musim yang tepat bagi para pendaki untuk bisa mandapatkan view yang istimewa di pucak gunung andong. Bila rekan -rekan melakukan pendakian di musim penghujan maka sangat dimungkinkan pemandangan di kawasan puncak akan terhalang dengan kabut atau mendung. Namun tidak menjadi jaminan pula jika rekan-rekan melakukan pendakian pada waktu musim kemarau bisa mendapatkan pemandangan yang bagus, karena cuaca tidak bisa diprediksi.

Trek pendakian gunung andong

Trek pendakian yang harus dilalui untuk dapat sampai ke puncak gunung Andong terbilang cukup mudah, bahkan bagi seseorang yang belum melakukan pendakian sama sekali. Terdapat 2 basecamp yang bisa rekan-rekan manfaatkan, salah satunya adalah basecamp Taruna Jaya Giri. Dari basecamp ini rekan-rekan harus berjalan terlebih dahului sekitar 1,5 km untuk dapat sampai ke gapura masuk pendakian gunung Andong, yakni melewati perkebunan sayuran milik warga. Setelah itu barulah menemukan trek yang sesungguhnya, yakni trek masuk ke dalam hutan pinus. Setidaknya ada 2 pos yang harus kamu lewati yakni Pos Watu Wayang dan yang kedua adalah pos Gilicino. Di pos Watu wayang pada waktu saya melakukan pendakian di bulan April tahun lalu terdapat sebuah Gazebo, namun saya tidak tahu sekarang gazebo tersebut masih atau tidak, mengingat gazebo pada waktu itu sudah hampir rusak.

sebelum masuk ke hutan pinus kita akan melewati perkebunan warga terlebih dahulu


Pos pendakian gunung Andong yang kedua adalah pos Gilicino. Pos Gilicino merupakan area yang cukup luas tanpa shelter. Nah  di pos kedua pendakian gunung Andong ini kamu dapat mendirikan tenda karena tempatnya cukup luas. Tapi saran saya, jika tidak terpaksa misalkan turun hujan, atau benar-benar kelelahan, sebaiknya rekan-rekan tetap melanjutkan perjalanan dan mendirikan tenda di camping ground. Camping ground letaknya tidak terlalu jauh dari pos 2. Rekan-rekan harus berjalan kurang lebih 15-30 menit untuk bisa sampai di camping Ground, tempat terbaik kedua melihat Golden sunrise di gunung Andong.


Sumber mata air di gunung Andong

Salah satu hal yang perlu kita pertimbangkan ketika kita melakukan camping atau melakukan pendakian gunung adalah mencari informasi apakah tempat yang menjadi tujuan kita memiliki sumber mata air bersih atau tidak. Hal itu dimaksudkan untuk menyesuaikan kebutuhan logistik terutama air bersih yang perlu kita bawa dari bawah guna memenuhi kebutuhan air kita selama melakukan camping atau pendakian di gunung. Kita wajib bersyukur karena di jalur pendakian gunung Andong, terdapat sumber mata air bersih yang bisa kita manfaatkan untuk keperluan memasak. Sumber mata air tersebut berada di sisi sebelah kanan jalur pendakian diantara pos 1 dengan pos 2. Memang kita harus benar-benar jeli melihatnya karena  sumber mata air ini tertutup oleh rimbunnya semak. Oleh warga sekitar air yang berasal dari sumber mata air tersebut disalurkan melalui pipa paralon sehingga membentuk sebuah "pancuran".

Camping Ground, tempat ideal untuk mendirikan tenda 

Bagi rekan-rekan yang ingin mendaki gunug Andong, terdapat satu tempat yang cukup ideal untuk menghabiskan malam sambil menunggu datangnya pagi. Tempat tersebut adalah camping ground yang memiliki ketinggian  1726 mdpl. Area ini dapat menampung belasan tenda dengan ukuran sedang. Kita bisa melihat kelap-kelip lampu kota Boyolali dan Magelang apabila cuaca cerah. Selain itu kita kita dapat melihat gunung Merapi dan gunung Merbabu dari arah utara. Adakalanya, terutama di saat liburan tiba banyak pendaki yang mengunjungi tempat ini dan menyebabkan beberapa diantaranya tidak memperoleh tempat untuk mendirikan tenda. Alhasil beberapa tempat terpaksa digunakan termasuk jalan atau trek pendakian serta lereng di sisi selatan Camping Ground. Hal ini sangat tidak dianjurkan. Selain mengganggu pendaki yang ingin lewat untuk menuju ke puncak alap-alap, dengan mendirikan tenda di lereng maka sangat beresiko terjatuh ke sisi selatan lereng yang curam. Oleh karenanya apabila rekan-rekan menemukan area ini sudah penuh akan tenda, mungkin sebaiknya rekan-rekan harus kembali ke puncak Jiwa atau puncak makam untuk bisa menemukan tempat yang aman untuk bisa beristirahat sambil mendirikan tenda.

Tenda yang dihantam badai

Tidak terpikirkan oleh saya, saya dan  beberapa rekan yang melakukan camping di gunung Andong harus berhadapan dengan badai dan kabut yang cukup tebal. Kejadian itu terjadi ketika kami baru sampai di belokan puncak makam ke puncak jiwa. Jika tidak salah waktu itu pukul 19:30 dimana kabut mulai menutupi area sekitar dan membuat jarak pandang kami sangat terbatas. Kami berjalan di tengah kabut yang tebal serta berupaya untuk mendapatkan tempat yang tepat untuk mendirikan tenda kami. Tidak sampai 15 menit berjalan, akhirnya kami sampai di camping ground. Dengan cekatan kami mendirikan dome dan segera masuk ke dalamnya. Udara dingin ditambah dengan angin yang berhembus kencang seolah-olah ingin mengoyak tenda kami. Kejadian tersebut berlangsung cukup lama dan barulah sekitar pukul 01;00 badai mulai reda kami pun bisa beristirahat. 


Berburu sunrise Gunung Andong 


Menikmati udara pagi nan bersih di ketinggian 1726 mdpl


Sekitar pukul 04:50 dan setelah rekanku berupaya membangunkanku dan setelah alarm di ponselku berbunyi untuk kesekian kali. Saya baru benar-benar bangun, melongok keluar tenda saya sambil melihat pemandangan yang sudah banyak berubah. Terakhir saya di luar tenda adalah saat saya memasak makanan sambil menghangatkan air untuk membuat kopi hitam kesukaan saya. Badai sudah reda, menyisakan kabut yang menghiasi pemandangan di pagi itu. Sinar berwarna orange merubah pemandangan sekitarnya seolah memaksa warga untuk segera mematikan lampu-lampu di rumah mereka. Di luar ternyata sudah banyak pendaki yang keluar dan berburu pemandangan terbaik yang bisa dilihat di puncak gunung Andong yakni melihat Golden Sunrise. Kami pun segera bergegas, mengambil ponsel serta kamera saku kami dan segera menuju ke puncak alap-alap dengan melewati jalur “punukan sapi “ yang menjadi ciri khas dari gunung Andong.

Gunung Andong dan punuk sapi

Apakah yang menjadi keistimewaan dari gunung Andong? Bila sindoro memiliki padang edelwis dan gunung Merbabu memiliki sabana via Suwanting yang sangat indah, maka gunung Andong memiliki trek yang cukup menarik yakni berupa punggung gunung yang memisahkan antara Camping Ground dengan puncak alap-alap dan memiliki melengkung. Oleh warga yang tinggal di daerah gunung Andong punggungan gunung ini di ibaratkan seperti “punuk sapi “Dalam kehidupan masyarakat pedesaan tempo dulu, sapi merupakan hewan yang sering dipelihara karena sangat berguna untuk membantu pekerjaan terutama di bidang pertanian. Selain itu sapi juga digunakan untuk menarik andong ( meskipun lebih banyak dilakukan oleh kuda). Oleh karena mirip seperti punukan sapi, maka gunung ini disebut gunung Andong yang notabene sebagai hewan penarik Andong.  

punuk sapi jalur pendakian gunung andong

Trek melewati punggungan gunung yang mirip seperti punuk sapi inilah  trek yang harus kamu lewati untuk dapat sampai di puncak alap-alap. Lebarnya kurang lebih 1 meter dan memiliki panjang sekitar 100 meter. Trek ini cukup sempit terutama apabila kamu harus berpapasan dengan pendaki lain yang berlawanan arah. Selain itu di sisi samping kanan dan kiri trek ini berupa jurang yang cukup dalam serta curam, oleh karenanya berhati-hatilah ketika melintasinya.

Puncak alap-alap   

Perjalanan untuk melihat Golden Sunrise pun berlanjut. Kami sampai di puncak alap-alap sekitar jam 05:30. Di tempat ini kami menemukan banyak tenda yang didirikan serta banyak pula pendaki yang berfoto bersama sambil menikmat keindahan pagi itu. Agaknya kami kurang beruntung karena pada waktu kami di puncak alap-alap pemandangan tertutup oleh kabut dan mendung, sehingga hanya nampak sedikit sinar orange diantara awan hitam di arah timur.  

Sinar matahari yang tertutup awan 


Kemunculan sang fajar yang seolah memaksa bintang-bintang harus rela mengilang dari kemegahan malam itu tidak kami dapatkan. Namun kami tidak berkecil hati, rasa syukur tetap kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, rasa syukur atas kesempatan yang diberikan kepada kami sehingga kami beroleh kesempatan untuk menghirup udara yang bersih di salah satu puncak nan mungil gunung Andong di bumi pertiwi Indonesia. Kesempatan untuk dapat mengunjungi puncak gunung andong tidak kami lewatkan begitu saja. Beberapa gambar berhasil kami abadikan.

Tenda yang melindungi kami dari badai 

Puas berfoto kami kembali ke camping Ground tempat kami mendirikan tenda. Jalur yang sebelumnya tertutup oleh kabut kini sudah nampak jelas. Terlihat lereng gunung andong yang masih sangat hijau dan curam. Di perjalanan ke camping ground kami juga berpapasan dengan para pendaki yang hendak menuju puncak alap-alap. Beberapa diantaranya berasal dari luar kota, yakni dari kota Bogor dan Surabaya.


Perjalanan pulang

Selesai membereskan  tenda kami dan setelah selesai memunguti sampah di sekitar lokasi kami mendirikan tenda, kami sepakat untuk meninggalkan tempat itu. Tepat pukul 07:00 kami meninggalkan camping ground dan melanjutkan perjalanan pulang melewati rute yang sama. Di perjalanan pulang, kami disuguhkan pamandangan yang sangat indah. Beberapa gunung dapat kami lihat selama di perjalanan pulang. Diantaranya adalah gunung Merapi, Gunung Merbabu, gunung Sindoro, gunung Sumbing serta Gunung Lawu yang terlihat sangat kecil di sisi tenggara. Selain itu kami juga dapat melihat dataran tinggi dieng serta gunung Slamet yang tinggi menjulang di sisi utara. 

camping ground di pagi hari


Kekecewaan kami tidak melihat Golden Sunrise agaknya terobati dengan panorama yang ditawarkan si mungil gunung Andong. Meskipun termasuk gunung yang kecil namun pemandangan yang ditawarkan gunung ini tidak kalah menarik dibandingkan dengan gunung-gunung lainnya yang memiliki ketinggian ribuan meter di atas gunung Andong. Jalanan setapak dengan rimbunnya pepohonan di sekitar kami, menjadi pemandangan yang tidak bisa dilewatkan begitu saja. Cuaca di pagi itu sangat cerah, setelah sebelumnya kawasan lereng gunung Andong tertutup kabut yang cukup tebal.

perjalanan ke puncak makam


Pemandangan di sekitar gunung Andong pagi itu nampak jelas sekali. Pada waktu kami melakukan pendakian, kami berangkat pada malam hari sehingga kami tidak bisa melihat dengan jelas area di sekeliling kami. Nah di pagi itu dari atas ketinggian kami dapat melihat pemandangan perkebunan warga yang membentang luas dan melihat aktifitas penduduk sekitarnya yang mayoritas adalah petani sayuran. 

Hutan pinus yang menawan

Salah satu tempat di gunung Andong yang sangat indah untuk dilewatkan adalah hutan pinus. Menurut saya hutan pinus di gunung Andong jauh lebih bagus dibandingkan dengan hutan pinus yang berada di Mangunan Yogyakarta. 


Kawasan hutan ini masih bersih dan masih sepi.  Tempat yang tepat untuk menikmati liburan sambil berhammocking ria. Sayang sekali kunjungan saya kali ini tidak membawa hammock karena tidak terpikirkan oleh saya akan melawati hutan pinus. Kawasan ini juga digunakan oelhe waga guna mencari rumput untuk pakan ternak mereka serta mencari kayu bakar untuk keperluan memasak. Pemandangan yang tidak bisa kita dapatkan apabila kita hidup di daerah perkotaan.

Kesimpulan dari kegiatan camping di gunung Andong 

  1. Gunung andong merupakan gunung yang ramah untuk pendaki pemula. Gunung yang memiliki ketinggian 1726 mdpl ini memiliki jalur yang mudah kita lalui dan banyak terdapat bonus di sepanjang perjalanan. 
  2. Selain memiliki jalur yang mudah untuk kita lalui di jalur pendakian gunung Andong terdapat sumber mata air yang bisa kita manfaatkan untuk perbekalan. Sumber mata air tersebut berada di sisi kanan jalur pendakian tepatnya diantara pos 1 ke pos 2.
  3. Bagi rekan-rekan yang ingin mengabadikan pemandangan yang indah dan terhindar dari background lautan manusia :D bisa memilih jadwal pendakian selain hari libur, karena pendakian pada hari libur atau di akhir pekan akan lebih membeludak sehingga kawasan puncak akan dipenuhi oleh pendaki.
  4. Untuk dapat mencapai puncak dari gunung Andong, tidak perlu harus bermalam disana. Hal itu dikarenakan perjalanan untuk dapat mencapai puncaknya relatif singkat. Rekan-rekan hanya memerlukan waktu antara 2-3 jam perjalanan untuk dapat sampai di puncak alap-alap. Oleh karenanya rekan-rekan bisa melakukan pendakian di pagi hari bila tidak ingin bermalam di gunung andong.   
  5. Melakukan camping dengan beberapa orang terutama teman-teman dekat akan jauh lebih bermakna jika dibandingkan dengan melakukan camping dengan banyak orang. Saya pribadi lebih memilih melakukan camping dengan 3-5 orang saja karena apabila mengajak banyak orang akan cenderung gaduh dan saya pribadi tidak bisa menikmati perjalanan.
  6. Meskipun memiliki ketinggian kurang dari 2000 mdpl namun jangan pernah menyepelekan pendakian gunung Andong. Bawalah logistik yang cukup dan peralatan yang safety. Pakailah sepatu atau sandal gunung dan bawalah tenda dome. Melakukan kegiatan camping atau pendakian dengan tidak membawa tenda dome merupakan tindakan yang tidak tepat. Hal itu dikarenakan kita tidak tahu cuaca yang dihadapi, karena cuaca sewaktu-waktu bisa berubah.
  7. Bagi kamu yang suka kegiatan berhammocking ria, tidak ada salahnya membawa hammock. Kawasan hiutan pinus di gunung Andong merupakan tempat yang cukup menarik dan sangat ideal untuk bisa beristirahat di dalam hammock.

Rabu, 22 Maret 2017

melihat matahari terbenam di jalur pendakian merbabu via suwanting

Tiap pendakian tentunya memiliki kisah dan kenangan tersendiri. Kenangan tersebut bisa saja kenangan yang indah ataupun kenangan yang buruk. Pendaki yang baik tentu akan mengambil hikmah dari setiap pengalaman, agar nantinya di pendakian berikutnya dapat berjalan dengan lancar. Kali ini saya akan membagikan secuil pengalaman saya mendaki gunung Merbabu via Suwanting yang saya lakukan beberapa waktu yang lalu bersama dengan rekan-rekan saya yang kebetulan baru saja mudik dari Jakarta. Saya bersama dengan kelima rekan saya nekad melakukan pendakian di jalur yang baru saja dibuka setelah sebelumnya lama ditutup karena suatu alasan. Saya sendiri mengetahui adanya jalur pendakian gunung Merbabu via suwanting dari rekan-rekan group Anak Gunung Merbabu Merapi atau AGMM yang seringkali berbagi informasi mengenai situasi dan kabar terbaru dari kedua gunung tersebut ( Gunung Merbabu dan Gunung Merapi ). Beberapa anggota group mengirimkan foto tentang keindahan sabana merbabu yang mereka jumpai yakni tepatnya di atas pos 3 menuju ke arah puncak. Sabana di jalur pendakian gunung Merbabu via Suwanting sangat berbeda dengan sabana yang saya temui baik di sabana 1 ataupun sabana 2 ketika melakukan pendakian Merbabu melalui jalur Selo. 

suasana di pos 3 jalur pendakian gunung merbabu via suwanting


Informasi yang saya peroleh dari beberapa blog yang menuliskan cerita pendakian gunung Merbabu via Suwanting, kami harus menempuh waktu selama 7 jam berjalan ( sudah termasuk istirahat ) untuk bisa sampai ke Puncak Triangulasi. Apabila terpaksa mundur saya rasa juga tidak akan mundur terlalu lama untuk bisa sampai puncak yakni sekitar 8-9 jam perjalanan. Kami mulai memperkirakan waktu agar kiranya dapat sampai puncak bertepatan dengan matahari terbit atau sunrise. Melakukan perjalanan pada malam hari adalah pilihan kami karena selain kami tidak akan mengetahui medan yang ada di depan kita, kami memperkirakan akan sampai puncak bertepatan dengan sunrise yakni sekitar jam 04:00-05:00. Jam 21:00 kami berangkat dari basecamp di desa Suwanting setelah beberapa waktu kami beristirahat dan mengisi bekal kami.


Informasi yang tidak valid

Pada saat kami melakukan pendakian gunung merbabu via Suwanting, memang masih sedikit informasi yang bisa kami peroleh. Beberapa informasi yang kami dapatkan adalah jalur pendakian merbabu via Suwanting lebih mudah dan lebih pendek dibandingkan dengan jalur pendakian merbabu via selo ataupun via wekas. Saya sendiri pernah melewati jalur selo setidaknya 3x. dan cukup hafal jalur ini. Kenyataannya jalur yang kami hadapi ketika melakukan pendakian merbabu via Suwanting jauh dari yang kami bayangkan. Perjalanan dengan tanjakan yang berdebu menyulitkan langkah kami. Beberapa dari kami harus terpeleset karena jalur yang dihadapi sangatlah licin dan curam terutama di pos 2 menuju ke pos 3. Kabut pekat menutupi jarak pandang kami tepatnya di Lemba Manding. Lemba manding sendiri merupakan area dengan vegetasi yang cukup rapat dengan ditandai masih banyaknya pepohonan besar yang tumbuh di area ini. Tempat ini bukan merupakan lokasi yang ideal untuk mendirikan tenda karena sangat rawan terjadinya pohon yang tumbang terkena angin. 

puncak gunung merbabu
puncak gunung merbabu


Berbeda dengan informasi yang saya dapatkan, kami setidaknya memerlukan waktu 11 jam perjalanan untuk bisa sampai puncak gunung Merbabu melalui jalur Suwanting. Perjalanan terberat adalah ketika menuju ke pos 3 setelah keluar dari area Lemba Manding. Area yang kita hadapi adalah berupa tanjakan labih dari 60 derajat dengan ditutupi ilalang setinggi diatas lutut orang dewasa. Alhasil dari ketidaktepatan kami dalam menghitung waktu perjalanan, kami baru bisa sampai di puncak Kenteng Songo tepat jam 12 siang ( cuaca saat itu sangat panas ). Di pendakian kali inipun saya tidak dapat melihat sunrise dari atas ketinggian 3.142 MDPL. 

Sunsete di pos 3 pendakian merbabu via Suwanting

sunsete di gunung merbabu


Apabila perjalanan kali ini kami tidak bisa melihat sunsete namun kekecewaan kami setidaknya dapat terobati. Melihat matahari terbenam dari atas ketinggian menjadi pengalaman yang tidak terlupakan bagi saya. Selain mungkin karena indahnya panorama yang ditawarkan, perjalanan bersama rekan-rekan dekat saya adalah menjadikan perjalanan kali ini sangat berkesan. Apabila di setiap pendakian gunung, saya seringkali mengabadikan momen dimana sang surya muncul di langit sebelah timur. Diperjalanan kali ini saya dapat melihatnya tenggelam meninggalkan kemegahannya digantikan cahaya bulan dan bintang-bintang yang terlihat temaram, menghiasi perjalanan pulang kami. Mungkin kesempatan melihat matahari terbenam tidak saya dapatkan apabila saya melakukan perjalanan sesuai dengan waktu yang telah kami perkirakan sebelumnya, dimana kami berencana meninggakan pos 3 pada siang hari.

Pelajaran yang dapat saya ambil dari pendakian merbabu via suwanting 

  1. Pilihlah dan rencanakan waktu pendakian secara tepat. Karena melakukan pendakian dengan perencanaan yang tidak cukup matang, maka pendakian kali ini berjalan kurang lancar. Minimnya informasi yang kami peroleh berakibat pada mundurnya waktu sepulang dari puncak. hal ini menjadi pembelajaran bagi kami untuk melakukan manajemen waktu secara tepat untuk pendakian berikutnya.
  2. Mendaki bersama orang-orang terdekat dengan kelompok kecil akan lebih nyaman. Bagaimanapun mendaki dengan kelompok kecil akan jauh lebih menyenangkan dibandingkan dengan  anggota yang lebih banyak. Dengan bergabung dalam kelompok yang kecil saya pribadi lebih bisa menikmati perjalanan dibandingkan dengan harus melakukan perjalanan dengan banyak orang. Biasanya apabila kita melakukan perjalanan dengan banyak orang, suasana akan sangat ramai. Idealnya dalam satu kelompok pendakian terdiri dari 3-6 orang. 
Jalur pendakian Merbabu via Suwanting bagi saya pribadi adalah jalur yang cukup berat. Jauh lebih berat dibandingkan dengan jalur pendakian merbabu melalui Selo ataupun Wekas. Jarak tempuh yang sangat lama membuat beberapa pendaki "ngecamp" untuk yang kedua kali di perjalanan pulang. Di perjalanan pulang kami dapat menemukan beberapa pendaki yang mendirikan tenda di pos 2. Semoga dengan artikel ini, rekan-rekan yang ingin mendaki gunung Merbabu khususnya jalur pendakian via Suwanting dapat mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan dengan lebih matang, baik itu fisik, peralatan maupun perbekalan. Jaga kelestarian alam untuk generasi yang akan datang.