Showing posts with label alam. Show all posts
Showing posts with label alam. Show all posts

Monday, 12 June 2017

sore hari di waduk cengklik Boyolali

Waduk Cengklik Solo-Boyolali. Ingin menikmati suasana sunset yang lain di kawasan perbatasan kota Solo dengan Kabupaten Boyolali?, waduk Cengklik tempatnya. Waduk Cengklik terletak di desa Margorejo, Kecamatan Ngemplak Kabupaten Boyolali. Waduk yang terkenal cukup angker ini menjadi tempat wisata yang bisa anda kunjungi apabila anda berkunjung di kota Solo ( letaknya kurang lebih 3 km dari Bandara Adi Sumarmo ) untuk menghabiskan waktu di sore hari dan berburu sunset sambil melihat para pencari ikan yang banyak dijumpai di tempat ini.

waduk cengklik boyolali
perahu milik nelayan yang berada di tepi waduk yang terdapat banyak enceng gondok


Kali ini saya berkesempatan berkunjung di salah satu obyek wisata buatan yakni obyek wisata waduk yang terletak di Kabupaten Boyolali tidak jauh dari Bandara Adi Sumarmo Solo. Karena letaknya yang tidak begitu jauh dari kota Solo tidak jarang orang beranggapan bahwa waduk Cengklik masih masuk dalam administratif kota Solo, hal tersebut tidak benar. Secara administratif waduk Cengklik berada pada wilayah administratif Kabupaten Boyolali. Waduk yang sudah dibangun sejak jaman pemerintahan kolonial Belanda ini kini menjadi tempat yang cukup menarik untuk berhunting foto terutama bagi pecinta fotografi di kota Solo dan sekitarnya.




Pengalaman mengunjungi Waduk Cengklik merupakan pengalaman yang pertama bagi saya. Karena sering ke kota Solo, maka saya sudah cukup hafal tempat-tempat wisata yang patut untuk dikunjungi dan tempat wisata yang cocok untuk menghabiskan waktu di sore hari. Seringkali saya mengunjungi taman wisata Balekambang yang letaknya di dekat terminal Tirtonadi, namun karena sudah terlalu sering kesana, maka saya mencari spot menarik lainnya di pinggiran kota Solo, yakni di waduk Cengklik 

Bagi yang suka akan kegiatan memancing terutama di kota Solo, tentu saja sudah tidak asing lagi dengan Waduk Cengklik. Waduk Cengklik menjadi salah satu tempat memancing favorit dari sekian tempat memancing di kawasan Solo dan sekitarnya. Waduk yang dibangun tahun 1926-1928 oleh Pura Mangkunegara ini memiliki area keramba yang cukup luas serta terdapat jasa penyedia perahu yang dapat disewa baik itu oleh wisatawan ataupun para pemancing yang ingin memancing sampai di tengah danau.       

Rute menuju waduk Cengklik

Waduk Cengklik dapat dengan mudah kita capai. Lokasi waduk Cengklik cukup strategis yakni berlokasi di dekat Bandara Adi Sumarmo dan embarkasi haji. Jika rekan-rekan datang dari arah Yogya atau Klaten, setelah sampai Kartasura, perhatikan papan penunjuk arah di pertigaan yang mengarah ke bandara Adi Sumarmo. Ambil ke kiri ikuti jalan tersebut sampai menemukan perempatan pada jembatan. Sampai di perempatan ambil arah ke kiri ikuti jalan tersebut sampai menemukan waduk Cengklik. Lokasi waduk Cengklik masih 3 km lagi dari perempatan jembatan. 

Keindahan waduk cengklik  

Setelah menyusuri jalanan yang berlubang akhirnya kami sampai di waduk Cengklik. Jika anda dari arah selatan maka pintu masuk kawasan waduk Cengklik ini mungkin tidak terlihat, mengingat area di sekitarnya cukup “kumuh” serta papan tempat wisata yang ada tidak begitu jelas karena telah dimakan usia. Agaknya pemerintah sekitar tidak terlalu memperhatikan keberadaan waduk ini dan tidak mencoba menggali potensi wisata yang ada. Setelah membayar biaya masuk dengan harga Rp.3000; ( biaya retribusi diminta oleh seorang yang tidak mengenakan seragam resmi ) kami diperbolehkan masuk di kawasan waduk dengan tetap membawa motor kami. Sebelumnya saya menanyakan adakah karcis sebagai bukti biaya masuk kawasan waduk Cengklik ? pemuda tersebut mengatakan bahwa tidak ada karcis dan dana disetorkan untuk uang khas muda-mudi sekitar. Memasuki area waduk Cengklik terlihat sejumlah warga terutama anak-anak muda terlihat sedang bersenda gurau di tepian waduk serta beberapa diantaranya sedang mengabadikan moment yang ada, tidak lain adalah mencoba memotret matahari terbenam dan memotret aktifitas pencari ikan yang banyak dijumpai di tempat ini.

waduk cengklik boyolali
di sudut waduk cengklik


Pada saat saya berkunjung ke tempat ini, air yang ada mengalami penyusutan. Hal ini terlihat dengan mengeringnya tepian waduk sehingga di beberapa sudut dapat digunakan oleh para pencari ikan sebagai tempat yang kering untuk memancing dan menebarkan jala mereka. Selain itu di waduk Cengklik banyak ditumbuhi tanaman enceng gondok. Tanaman ini hampir dapat dijumpai di sepanjang tepian dari waduk tepatnya di sisi selatan dan sisi barat.  Mungkin menjadi masalah klasik bagi waduk yang berada di Indonesia bahwasanya saat ini waduk banyak ditumbuhi tanaman enceng gondok yang menjadi salah satu penyebab pendangkalan atau sedimentasi.

waduk cengklik boyolali
nelayan yang sedang menangkap ikan


Perhatian saya tertuju pada salah satu nelayan yang berada di tengah-tengah waduk. Meskipun memiliki ruang gerak yang cukup sempit ( karena terhalang oleh enceng gondok yang banyak tumbuh ) nelayan tersebut tetap mencoba mencari ikan dengan menebar jalanya, mencari tempat yang kemungkinan terdapat banyak ikannya. Saya hanya menemukan seorang nelayan yang menggunakan perahu sampai di tengah waduk, selebihnya hanya pencari ikan yang memancing di tepian waduk. Saya menghampiri seorang bapak yang sedang memancing dan berkesempatan berbincang-bincang dengan beliau, beliau menuturkan bahwa saat ini ikan di waduk ini semakin lama semakin sedikit, hal tersebut tejadi seiring dengan penyusutan jumlah air di waduk Cengklik ini. Bila jumlah air menurun otomatis jumlah ikan juga semakin sedikit. Saya juga menanyakan mengapa beliau tidak memancing ikan ke bagian tengah saja menggunakan perahu.

Kalau pakai perahu akan jauh lebih susah mas, soale banyak enceng gondoknya. Pernah sekali menggunakan perahu, banyak enceng gondok yang menabrak kebawa aliran air, malah susah menepikan perahunya

Itulah penuturan salah satu pencari ikan yang berhasil saya wawancarai di tempat ini. Beliau juga menuturkan bahwa ikan yang banyak didapat di tempat ini adalah ikan dengan jenis patin dan nila. Selebihnya saya menanyakan untuk keperluan apa beliau memancing ikan. Jauh dari perkiraan saya, bahwasanya ikan hasil tangkapan tersebut akan dijadikan lauk pauk, ternyata ikan yang di dapatkan digunakan untuk keperluan pakan ikan lele yang dia pelihara di kolam samping rumahnya :D 

waduk cengklik boyolali
seorang bapak yang sedang memancing di tepi waduk


Berada di kawasan waduk Cengklik selain dapat melihat aktifitas pencari ikan kita juga dapat melihat lalu lalang dan padatnya penerbangan di bandara Adi sumarmo Solo. Pesawat terbang yang melintas tepat di atas kita, maklum saja area waduk Cengklik berada di dekat dengan bandara, sehingga tidak sampai dalam hitungan jam sudah dipastikan dapat terlihat terbang rendang baik itu take off maupun landing. Selain di area waduk Cengklik, tempat memancing lainnya adalah sungai di sisi selatan dari waduk. Di sungai yang letaknya di tepian persawahan milik warga ini juga banyak dijumpai para pemancing ikan. Para pemancing dengan sabarnya menunggu umpan yang dipasangnya disambar ikan yang menjadi buruan mereka. Disini pula kita dapat melihat aktifitas lain yakni para petani padi yang melakukan aktifitas pertanian mengolah tanah di tengah-tengah kesibukan aktifitas perkotaan.    

Tempat ideal untuk hunting foto

Bagi yang suka akan kegiatan fotografi, waduk cengklik merupakan tempat yang ideal untuk hunting foto. Ada banyak spot menarik yang dapat diambil di waduk Cengklik. Selain aktifitas nelayan yang sedang menangkap ikan, aktifitas budidaya ikan yang ada di sisi selatan dari waduk juga tidak kalah menarik. Disana kita dapat melihat budidaya ikan  yang dilakukan menggunakan keramba yang membentang dari sisi barat sampai sisi sebelah timur dari waduk. Waktu terbaik untuk mengunjungi waduk Cengklik adalah ketika sore hari, dimana kita bisa menyaksikan matahari terbenam serta melihat cahaya orange yang perlahan-lahan mulai memudar.



Moment ini yang paling ditunggu-tunggu oleh para pemburu foto untuk mendapatkan gambar yang unik. Oya waduk Cengklik juga terkenal dikarenakan tempat ini sering digunakan sebagai tempat untuk mengambil foto serta banyak yang mengunggahnya ke media sosial. Alhasil waduk yang dahulu hanya digunakan hanya sebagai tempat untuk menampung air guna keperluan irigasi ini kini digunakan untuk wisata masyarakat sekitarnya, khususnya di kota Boyolali dan Solo.

waduk cengklik boyolali
begitu menghayati sampai-sampai masuk ke dalam rimbunan tumbuhan enceng gondok


Sore itu suasana waduk Cengkik cukup ramai dikunjungi oleh masyarakat untuk menghabiskan sore sambil bersenda gurau. Saya sengaja turun ke bagian tepi waduk yang mengering guna mengabadikan beberapa foto enceng gondok yang banyak tumbuh dan hampir menutupi bagian dari tepian waduk tersebut. Dibalik rimbunnya enceng gondok tiba-tiba muncul seseorang dengan membawa peralatan pancing dan melangkah menyusuri waduk,  menjauh ke arah sisi barat. Ternyata tanpa saya sadari di bagian bawah tempat saya duduk ada bapak-bapak yang sedang memancing ikan. Entah bagaimana posisi bapak tersebut ketika memancing karena saya tidak menyadarinya. Keberadaannya seakan berkamuflase dengan tanaman sekitarnya.

waduk cengklik boyolali
yang mengantar saya tidak ketinggalan mau ikut difoto 


Setelah kurang lebih 2 jam menghabiskan waktu di tempat ini, dan setelah senja tiba, kami memutuskan untuk pulang ke Solo. Dari pengalaman saya mengunjungi waduk Cengklik, saya sangat menyayangkan, waduk Cengklik seakan tidak terawat dan pemerintah sekitar tidak memberikan perhatian pada waduk yang saat ini mengalami masalah pendangkalan. Bila dikelola secara lebih serius, waduk Cengklik mungkin bisa menjadi wisata favorit di Kabupaten Boyolali. Selain menjadi tempat wisata yang menarik bagi masyarakat tentunya juga akan menambah pendapatan daerah dari hasil penjualan tiket masuk. Ah.. saya hanya bisa berandai-andai........

Saturday, 10 June 2017

Berhenti sejenak di jalan tembus Tawangmangu ke Sarangan

Perjalanan menuju ke Telaga sarangan dari Tawangmangu hanya membutuhkan waktu 45 menit, namun pemandangan yang ditawarkannya cukup memberi alasan bagi rombongan kami untuk berhenti sejenak menikmati panorama yang disuguhkan. Hal itu kami alami beberapa bulan lalu ketika saya dan rekan-rekan dari tempat saya bekerja melakukan touring menuju Telaga Sarangan dari Tawangmangu. Kami yang bermalam di penginapan dekat dengan tempat wisata alam Tawangmangu melakukan perjalanan pada pagi hari sekitar jam 7.

 jalan tembus Tawangmangu ke Sarangan


Perjalanan rombongan kami dimulai dari tempat kami menginap di daerah dekat dengan tempat wisata alam Grojogan Sewu Tawangmangu. Pagi itu Bapak Santoso, salah satu anggota yang dituakan dan berpengalaman melakukan touring di daerah ini dipercaya memimpin doa. Beliau sedikit memberikan informasi bahwasanya di sepanjang jalan dari Tawangmangu ke Telaga Sarangan kemungkinan akan ada pungutan liar. Namun kami diharapkan untuk tidak berhenti di portal-portal yang dicurigai menjadi tempat pungutan liar tersebut.


Sebelum melakukan perjalanan ke Telaga Sarangan kami mengecek dulu barang-barang bawaan serta kendaraan kami. Pagi itu udara masih sangat dingin meskipun matahari sudah terlihat di sisi sebelah timur. Beberapa dari anggota kami masih terlihat enggan untuk beranjak dari penginapan. Maklum saja kami hanya tidur selama 2,5 jam setelah semalam berbincang-bincang sambil menikmati hidangan yang disuguhkan oleh pengelola penginapan. Tidak lupa sebelum kami berangkat melakukan perjalanan ke Telaga Sarangan, kami mengabadikan gambar terlebih dahulu.


Jalan dari Tawangmangu ke Sarangan atau seringkali orang menyebutnya sebagai jalan tembus Sarangan-Tawangmangu merupakan jalan yang menanjak serta terdapat banyak tikungan yang cukup curam. Jalan tersebut tidak hanya menghubungkan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Magetan saja namun juga menghubungkan dua Propinsi yakni Propinsi Jawa Tengah dan Propinsi Jawa Timur. Beberapa yang melakukan perjalanan ke Telaga Sarangan seringkali keliru dan menyangka bahwa Telaga ini masih dalam satu Kabupaten dengan tempat wisata alam Tawanngmangu. Hal tersebut tidaklah tepat mengingat Telaga Sarangan sudah masuk dalam wilayah Kabupaten Magetan Propinsi Jawa Timur.

 jalan tembus Tawangmangu ke Sarangan

Seperti yang saya utarakan sebelumnya, untuk mengunjungi Telaga Sarangan apabila dari Tawangmangu kita hanya memerlukan kurang lebih 45 menit perjalanan. Namun waktu itu rombongan kami beberapa kali berhenti di tepi jalan. Ya maklum saja, beberapa anggota menggunakan kendaraan yang tergolong sudah berumur. Oleh karenanya membuat mereka seringkali tertinggal di belakang dan memaksa kami untuk berhenti sejenak sambil menunggu anggota yang tertinggal. Meskipun demikian, tidak jarang kami malah berlama-lama di jalan mengabadikan pemandangan yang bagi kami sangat menarik. Berada di sisi selatan dari gunung Lawu dan berada di atas ketinggian membuat udara di sekitar cukup dingin. Pemandangan yang ditawarkan di sepanjang jalan tidak kalah menarik. Dari sini kami bisa melihat puncak dari gunung Lawu, entah itu puncak Hargo Dumilah atau puncak Hargo Dalem.

Hallo........

Perjalanan dilanjutkan melewati kawasan Cemoro Kandang dan Cemoro Sewu. Bagi yang suka dan pernah mendaki gunung Lawu pasti sudah akrab dengan kedua tempat tersebut, Cemoro Sewu menjadi salah satu pintu masuk pendakian gunung Lawu yang banyak dilalui oleh para pendaki. Disini pula kita bisa melihat beberapa angkutan yang membawa pendaki dengan tas-tas carrier mereka berhenti untuk melakukan retribusi. 3 tahun tidak melewati daerah ini perubahan yang paling banyak saya rasakan adalah bertambah banyaknya penjual makanan yang dapat kita temui di sepanjang jalan.


Di sepanjang perjalanan Tawangmangu-Telaga Sarangan kita seringkali berpapasan dengan beberapa kelompok touring lainnya. Beberapa lagi kita berjumpa dengan warga sekitar yang tinggal di daerah lereng Gunung Lawu sisi selatan. Dengan membawa gerobak sayur yang dikaitkan dengan motor mereka, mereka seringkali melintasi jalan yang menanjak dengan kecepatan cukup tinggi. 


Setelah melewati dearah Cemoro Sewu jalan yang akan kita lalui akan semakin lebar. Area hutan yang berada di sisi timur gunung Lawu menjadi hiburan tersendiri bagi pengguna jalan. Pengguna jalan akan dimanjakan dengan eksotisme hutan pinus serta pemandangan Telaga Sarangan yang terlihat dari ketinggian. Di penghujung jalan, sebelumnya kita akan melewati kawasan wisata Kampung Pinus Sarangan yang sering digunakan untuk kegiatan Dunhil Activity sebelum sampai masuk di kawasan wisata Telaga Sarangan.

Dengan dibangunnya jalan Tembus Tawangmangu - Telaga Sarangan tentunya akan menyingkat waktu perjalanan untuk mengunjungi kedua obyek wisata yang sama-sama terletak di lereng Gunung Lawu tersebut. Namun sebaiknya kita tetap berhati-hati ketika melintasi kawasan ini mengingat di beberapa titik seringkali terjadi kecelakaan. Semoga artikel ini sedikit memberi informasi bagi rekan-rekan yang ingin melakukan perjalanan dari arah Tawangmangu menuju ke Telaga Sarangan. Salam satu aspal.

Wednesday, 31 May 2017

blusukan ke curug gede patuk gunungkidul yogyakarta

Berawal dari adanya sebuah plakat penunjuk arah menuju ke sebuah curug yang terlihat ketika saya mengunjungi Gunung Api Purba, saya bersama dengan rekan saya berkesempatan mengunjungi Curug tersebut. Curug yang dimaksud bernama Curug Gede yang terletak di Dusun Gambyong, Desa Oro-oro, Kecamatan Patuk Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Sebelumnya kunjungan kali ini, saya beberapa waktu yang lalu pernah "hampir" sampai ke tempat ini, namun karena pada waktu itu akses jalan ke Curug Gede sempat di tutup karena ada upaya perbaikan jalan, sayapun harus mengurungkan niat untuk sekedar bisa ngadem di curug yang letaknya di perbatasan antara Kabupaten Sleman dan Kabupaten Gunungkidul ini.

curug gede patuk gunungkidul
curug gede patuk gunungkidul 

Memasuki pergantian musim antara musim penghujan dan musim kemarau adalah waktu yang tepat untuk mencari dan mengunjungi curug. Di wilayah Gununkidul Yogyakarta memang terdapat beberapa curug atau air terjun kecil yang sifatnya musiman. Dikatakan musiman karena apabila musim kemarau tiba beberapa curug mengalami penyusutan debit air atau bahkan tidak memiliki air sama sekali sehingga akan berupa sebuah tebing yang gersang. Sedangkan apabila musim penghujan, curug-curug tersebut memiliki air yang cukup banyak namun berwarna keruh. Hal itu disebabkan oleh adanya lumpur yang terbawa oleh aliran air sehingga menyebabkan warna airnya kecoklatan.

Rute menuju Curug Gede Patuk Yogyakarta

Dari Yogyakarta - menuju ke arah Wonosari Gunungkidul - Sampai di perempatan kantor Polisi sektor Patuk kita belok ke kiri ( ke arah wisata Gunung Api Purba ) - melalui desa Oro-Oro dan melewati area dengan beberapa tower televisi - Ikuti jalan tersebut sampai di perempatan Puskesmas Patuk I ( Puskesmasnya di sisi kanan jalan ) - perhatikan arah, bila kita ke kanan kita menuju ke Gunung Api Purba - lurus menuju Klaten - sedangkan kiri menuju ke Curug Gede atau ke arah Sendang Sriningsih. Ambil jalan yang kiri kurang lebih 3-4 km kita sudah sampai di Curug Gede Patuk Gunungkidul.  

Jalan menuju ke Curug Gede Patuk Gunungkidul tidak seperti yang saya bayangkan. Bilamana dulu saya terpaksa membatalkan kunjungan saya ke Curug Gede karena ada perbaikan jalan, harapannya, kunjungan saya kali ini saya bisa melewati rute yang mulus dan mudah untuk dilalui. Namun ternyata kondisi jalan yang harus saya lalui tidak jauh berbeda dari beberapa waktu lalu. Jalan menuju ke Curug Gede ternyata masih dalam proses perbaikan dan belum sepenuhnya selesai. Area yang berpasir dan berdebu merupakan rute yang harus dilewati untuk sampai Curug Gede Patuk Gunungkidul.

jalan menuju curug gede patuk
jalan menuju curug gede

Untuk sampai ke Curug Gede Patuk Gunungkidul, apabila rekan-rekan dari kota Yogyakarta akan memerlukan waktu sekitar 45 menit sampai satu jam perjalanan dengan kendaraan bermotor. Sebenarnya rekan-rekan bisa saja melewati jalan yang lain, yakni jalan mblusuk melewati Prambanan -  Candi Ijo - Sendangsriningsih serta melewati desa-desa kecil lainnya. Namun saya tetap merekomendasikan rute Patuk selain memiliki penunjuk arah yang jelas, kondisi jalan melalui rute Patuk lebih baik apabila dibandingkan dengan jalan melewati Sendangsriningsih.

untuk bisa menuju curug harus melewati jalan yang terbuat dari bambu


Sampai di area Curug Gede Patuk, saya memarkirkan kendaraan bermotor saya pada sebuah warung yang letaknya tidak jauh dari arah pintu masuk. Untuk bisa masuk ke Curug Gede pada waktu itu tidak dipungut retribusi sepeserpun. Menyusuri rute masuk ke arah Curug Gede dari arah tempat parkir terlihat bahwa tempat wisata ini kurang terawat. Dengan melewati jalan yang terbuat dari tatanan bambu yang sudah lapuk dimakan usia kami harus berhati hati dalam melangkah karena di bawah kami adalah selokan air dan di sisi kanan kami adalah area persawahan yang cukup dalam.



Untuk bisa ke lokasi Curug Gede Patuk, kami harus melewati jalan yang menurun serta belum dimistar. Sebuah tali tampar yang disediakan agaknya cukup membantu kami sebagai sebuah pegangan karena jalan yang dilalui terlalu licin oleh banyaknya debu dan kerikil di sekitarnya. Tidak jauh kami melangkah suara gemericik air sudah bisa terdengar dari arah kanan bawah kami. Setelah melewati sebuah gubuk kecil dan melewati beberapa anak tangga akhirnya sampailah kami ke Curug Gede Patuk Gunungkidul.

curug gede gunungkidul
ini dia air terjun mungil, curug gede gunungkidul


Pada saat kami mengunjungi Curug Gede tempat ini sepi oleh pengunjung. Hanya terlihat beberapa orang yang sedang asik memancing di bagian bawah Curug. Dari merekapulalah saya mengetahui bahwa tempat dimana jatuhnya air atau bagian kubanggar tidak terlalu dalam. Pasalnya beberapa diantara mereka memancing hampir mendekati tepat disisi bagian bawah Curug. Bila kita perhatikan, air yang berasal dari atas tidak langsung jatuh ke sisi bawah, melainkan menimpa dinding tebing terlebih dahulu sehingga menciptakan cipratan air yang membasahi area sekitar curug dan membuat area sekitarnya menjadi licin untuk dipijak.

beberapa orang yang sedang memancing di curug gede

Karena penasaran akan apa yang mereka dapat, sayapun turun dan berbincang-bincang dengan mereka. Saat itu mereka belum mendapatkan satupun ikan karena mereka juga baru datang untuk memancing di tempat ini.  Menurut mereka area Curug Gede akan sangat ramai pada hari Minggu. Beberapa pengunjung seringkali datang secara rombongan dan beberapa diantara pengunjung juga sering camping serta mendirikan tenda di sekitar aliran sungai di sisi bagian bawah Curug. Oleh karenanya untuk keperluan memancing mereka menghindari hari Minggu atau hari-hari dimana tempat ini banyak dikunjungi orang termasuk di hari-hari besar nasional.

 
Menyusuri kawasan Curug Gede Patuk, kita akan menemukan suasana yang masih sangat tenang dan cukup asri. Tempat ini cocok digunakan sebagai tempat untuk sekedar ngadem meskipun akses menuju ke tempat ini tergolong cukup sulit dilalui. Fasilitas di tempat ini juga sangat minim.Hanya terdapat dua gazebo yang kondisinya sudah rusak.


Karena waktu itu sudah sore dan kami harus kembali ke Yogyakarta guna memesan tiket kereta api tujuan Solo, kamipun tidak bisa berlama-lama di tempat ini. Harapannya kami bisa mengunjungi lagi Curug Gede di Desa Patuk ini tentunya dengan kondisi yang jauh lebih terawat dan dengan fasilitas yang cukup ramah bagi pengunjung :D. Semoga dengan artikel sederhana ini menambah minat rekan-rekan semua untuk mengunjungi Curug Gede di Desa Patuk Kabupaten Gunungkidul.

Wednesday, 3 May 2017

Umbul Brintik Klaten, merasakan kesegaran mata air nan jernih dan alami

Umbul Brintik Klaten. Kabupaten Klaten memiliki banyak mata air atau umbul yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber mata air untuk keperluan kebutuhan air minum, keperluan irigasi, perikanan ataupun sebagai tempat wisata seperti umbul manten. Di daerah tempat tinggal saya, terdapat sebuah kawasan yang memiliki cukup banyak mata air, daerah tersebut berada di Kecamatan Kebonarum, Klaten. Di daerah ini, sumber mata air banyak dimanfaatkan untuk keperluan perikanan selebihnya digunakan untuk keperluan irigasi dan wisata. Di daerah ini pula terdapat tempat pemandian alami yang bernama umbul Pluneng yang konon sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu dan masih bertahan sampai saat ini. Namun dikesempatan kali ini saya ingin bercerita tentang kunjungan saya ke Umbul Pluneng, melainkan ke Umbul Brintik yang lokasinya berada sekitar 3-4 km di utara Umbul Pluneng.

umbul brintik Kebonarum Klaten
beningnya air di Umbul Brintik


Rute menuju Umbul Brintik Kebonarum Klaten

Umbul Brintik berada di Desa Malangjiwan, Kecamatan Kebonarum, Kabupaten Klaten. Jalan menuju ke Umbul Brintik sangat mudah untuk kita lalui. Pertigaan dari arah Pabrik Gula Gondang ke utara - Pertigaan Basin - ambil kiri, ikuti jalan kurang lebih 3 km - Perempatan Pasar Pokoh - ambil kanan 2 km - sampai menemukan gapura masuk desa Malangjiwan, ambil jalan di sisi kanan desa. Umbul Brintik berada di sisi kanan jalan.

Lokasi Umbul Brintik berada di pinggir desa, atau tepatnya berada di tepi area persawahan. Umbul ini menjadi tempat favorit belajar berenang karena memiliki kedalaman tidak lebih dari 1,5 meter. Dahulu di kawasan ini tidak disediakan tempat parkir dan untuk masuk ke dalamnya tidak dikenakan biaya. Parkirnyapun masih di sebelah pematang sawah. Namun beberapa tahun terakhir, untuk bisa masuk ke dalam umbul kita harus membayar Rp.3000; serta sudah disediakan tempat parkir di sebelah timur meskipun masih belum layak disebut tempat parkir.

umbul brintik Kebonarum Klaten
warung makan di sisi timur umbul


Sesampainya di Umbul Brintik kita akan menemukan banyak orang yang berjualan di sisi luar pemandian. Beberapa menawarkan jasa pelampung untuk kita kenakan ketika berenang di dalam umbul. Meskipun tergolong dangkal, bagi beberapa orang yang tidak bisa berenang adanya penyewaan pelampung dirasa cukup membantu, terlebih bagi pengunjung yang membawa buah hati mereka untuk diajak berenang. Harga yang ditawarkan masih sangat terjangkau dan masih bisa ditawar :D. Memang di sisi selatan Umbul Brintik disediakan kolam khusus anak-anak dengan kedalaman air tidak sampai setinggi lutut orang dewasa yang belum dipugar belum lama ini, namun bagi yang ingin mengajak anaknya berenang di dalam Umbul Brintik tidak ada salahnya melengkapinya dengan pelampung. 

umbul brintik Kebonarum Klaten
kolam renang untuk anak

Umbul Brintik sendiri merupakan sebuah pemandian atau kolam renang alami yang memiliki luas kurang lebih  400 meter persegi. Di sekeliling tempat pemandian ini dibangun tembok melingkar yang seringkali digunakan tempat bagi anak-anak untuk terjun dan melakukan gerakan salto sebelum masuk ke dalam air. Masuk ke dalam area umbul, saya mendapati banyak orang yang memanfaatkan tempat ini untuk mandi dan berenang. Meskipun siang sangat panas, air di Umbul Brintik ini terasa cukup  dingin dan segar. Hal itu dikarenakan air yang ada berasal dari mata air yang mengalir di bagian dasar umbul.

umbul brintik Kebonarum Klaten

Sesampainya di dalam area Umbul Brintik saya tidak langsung berenang, namun duduk sejenak dan memperhatikan beberapa anak-anak yang sedang asik berenang disana. Anak-anak tersebut seolah tanpa rasa takut melompat dari atas pagar sesekali beberapa diantara mereka melakukan gerakan salto dipinggir umbul. Hal yang mungkin tidak pernah saya lakukan di usia-usia seperti mereka. 

umbul brintik Kebonarum Klaten
terbang :D

Tidak hanya banyak dikunjungi oleh anak-anak dan kelompok muda saja, namun Umbul Brintik juga banyak dikunjungi oleh lansia. Terlihat beberapa lansia memanfaatkan tempat ini untuk mandi dan beberapa diantaranya terlihat saling bertegur sapa dipinggir kolam pemandian.

pernah coba gerakan ini??? 


Saya tidak mengetahui secara pasti mengapa umbul ini disebut sebagai Umbul Brintik. Namun cerita dari orang tua saya, konon umbul ini disebut umbul Brintik karena banyaknya gelembung udara yang berasal dari dasar umbul. Gelembung udara yang muncul di permukaan air akan dapat terlihat ketika kondisi air tenang ( Dalam Bahasa Jawa Brintik berarti bentol-bentol atau bergelembung ). Tidak seperti umbul atau kolam renang pada umumnya yang pada bagian dasarnya dimistar, bagian dasar umbul Brintik sengaja dibiarkan begitu saja dan masih berupa pasir dan bebatuan. Berenang di Umbul Brintik Klaten membuat kita berasa berenang ditengah alam. Meskipun kondisinya berada ditepi sawah yang gersang namun disisi selatan dari umbul terdapat beberapa pepohonan tinggi dan menambah keasrian tempat ini.

semangat bu :D

Di bagian samping bawah dari Umbul Brintik juga dibuat kolam penampungan air dari air buangan yang berasal dari kolam di bagian atasnya. Air yang ada kemudian disalurkan ke parit-parit kecil dan digunakan untuk keperluan lainnya seperti keperluan irigasi dan keperluan budidaya ikan.  

air yang berasal dari kolam pemandian dialirkan ke kolam penampungan 


Fasilitas di Umbul Brintik meskipun masih sangat minim namun saya rasa cukup untuk ukuran sebuah pemandian di pinggir desa. Fasilitas di tempat ini diantaranya adalah : dua kamar bilas sekaligus kamar ganti, tempat duduk di tepi pemandiann, mushola disisi barat dan serta beberapa warung makan yang banyak kita jumpai ditimur area pemandian. 

fasilitas di Umbul Brintik

Harapan saya sebagai warga Klaten, semoga kedepannya Umbul Brintik dapat dikembangkan dan dibenahi mengingat di beberapa bagian sudah mengalami kerusakan. Pengembangan tempat ini harus tetap menjaga kelestarian alam serta menjaga kualitas mata airnya, bukan semata-mata hanya digunakan sebagai tempat menaruh barang-barang berkarat demi sebuah foto selfie didalam air yang tentu akan berdampak pada tercemarnya sumber mata air.


" Tertarik mengunjungi Umbul Brintik Klaten " 

Thursday, 20 April 2017

legenda di balik beningnya air di Umbul Manten Klaten

Tak terasa sudah lebih dari 6 tahun, sejak kelulusan saya dan rekan-rekan saya dari bangku perkuliahan, saya tidak menyambangi daerah di sisi utara Kabupaten Klaten. Kabupaten yang menjadi kota, tempat saya dilahirkan. Daerah tersebut bernama Desa Janti, Kecamatan Polanharjo. Sebuah daerah yang berada di sisi utara Kabupaten Klaten dan berbatasan dengan Kabupaten tetangga yakni Kabupaten Boyolali. Agaknya kenangan bersama dengan rekan-rekan saya menjadi alasan bagi saya untuk kembali menyinggahi tempat-tempat dimana kami melepaskan canda, tawa serta merasakan hangatnya tali persaudaraan yang pernah terjalin sampai saat ini.

 umbul manten klaten



Umbul Manten Klaten, sebuah nama tempat wisata di Desa Janti yang mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita yang tinggal di wilayah Klaten dan sekitarnya. Umbul Manten Klaten belakangan ini menjadi sebuah tempat wisata yang difavoritkan khususnya di Kabupaten Klaten berkat banyaknya yang mengunggah foto umbul ini di media sosial.

Pada siang hari yang sangat menyengat di pertengahan bulan April, saya memacu kendaraan bermotor saya melintasi jalan Yogya - Solo dan berbelok ke utara tepat di pertigaan sisi kiri sesudah kantor samsat Kecamatan Delanggu atau sebelum jembatan dekat dengan pasar Tegal Gondo, Wonosari. Saya melewati jalan di tengah area persawahan yang luas. Pemandangan yang ditawarkan seakan memaksa saya memperlambat laju kendaraan ini untuk menikmati suasana pedesaan yang saya jumpai. Suasana pedesaan dimana kita dapat melihat petani menanam padi, melihat peternak bebek yang sedang sibuk mengatur barisan bebek-bebek mereka dan melihat beberapa orang yang sedang beristirahat di tepi sawah sambil menikmati bekal yang mereka bawa dari rumah. Suasana yang seperti ini adalah suasana yang mungkin tidak akan bisa kita dapatkan apabila kita hidup di area perkotaan yang sangat padat.

jalan menuju umbul manten Klaten
jalan menuju umbul manten Klaten

10 km lebih motor ini melaju meninggalkan jalan besar yang menjadi penghubung antara kota Yogyakarta dan Solo, sampai saya memasuki desa dengan gapura yang bertuliskan " Kawasan Wisata Janti " seolah tulisan tersebut menegaskan bahwa kita sudah masuk daerah yang terkenal dengan obyek wisata mata air serta kolam pemancingannya ini. Tidak sampai 2 km sayapun sudah sampai di Umbul Manten Klaten yang berada tepat di sisi kanan, jalan Janti-Tegalgondo.

Sebuah tembok dengan tinggi kurang lebih 4 meter menutupi umbul manten seolah menyembunyikan keindahannya mata air ini dari pandangan mata. Barulah setelah memasuki sebuah pintu masuk kita dapat melihat betapa eloknya pesona yang ditawarkan Umbul Manten ini. Sebuah kolam alami dengan air yang sangat jernih berada di antara pepohonan tinggi menjulang seakan menjadi oase tersendiri di tengah hari yang sangat terik. Sekelompok pemuda terlihat sedang asik berenang di tengah umbul dan beberapa diantaranya terlihat bersantai serta berhammocking ria pada pepohonan yang tumbuh di sekitaran Umbul Manten.

Sejuknya kawasan Umbul Manten Klaten


Setelah membayar biaya masuk saya tidak lantas segera menanggalkan baju yang saya kenakan untuk langsung berenang di area Umbul Manten, melainkan duduk di kursi kayu yang disediakan dan berbincang-bincang pada salah seorang bapak penunggu mata air dimana saat itu, beliau sedang membersihkan jala ikan miliknya. Dari beliau saya mendapatkan informasi mengenai penamaan Umbul yang kita kenal saat ini sebagai Umbul Manten.

Legenda umbul Manten Klaten

Asal-usul Umbul Manten Klaten tidak lepas dari cerita rakyat atau legenda tentang sepasang pengantin yang hilang di daerah ini. Konon terdapat sepasang pengantin yang melanggar kebiasaan dengan keluar rumah bersama sebelum 40 hari setelah pasca hari pernikahan mereka. Kebiasaan di tempat itu pada Jaman dahulu memang mewajibkan pasangan pengantin untuk tidak keluar rumah bersama sebelum melalui 40 hari pasca pernikahan. Namun karena suatu hal, di  suatu petang, pasangan pengantin itu melanggar wejangan dari penatua dan pergi keluar rumah bersama. Keduanya berjalan dekat dengan sebuah mata air atau umbul. 

Terdapat banyak pohon besar yang tumbuh di kawasan Umbul Manten Klaten


Diceritakan sang suami berjalan di depan dan diikuti oleh isterinya di belakang, saat menoleh ke sisi belakang, sang suami tidak melihat lagi isterinya mengikutinya serta lenyap begitu saja dari pandangan mata, diantara hari yang mulai gelap. Mengalami nasib sama ketika sang isteri melihat kedepan, tiba-tiba sang suami lenyap dari pandangan matanya dan hilang di sekitaran mata air tempat dia berdiri. Hingga saat tidak ada yang mengetahui keberadaan pasangan pengantin itu. Oleh masyarakat umbul yang menjadi tempat dimana pasangan pengantin tersebut menghilang lantas dinamakan umbul manten atau mata air pengantin.

.............................


Umbul Manten Klaten menurut legenda yang berkembang di masyarakat diibaratkan sebagai tangisan sepasang pengantin yang harus berpisah. Tangisan 2 orang yang saling mencintai dan dipisahkan keadaan yang diakibatkan oleh perbuatan mereka sendiri, melanggar peraturan serta kebiasaan yang ada di dalam masyarakat setempat. Dari cerita tentang asal-usul Umbul Manten, kita dapat memetik pelajaran untuk bisa menahan diri dengan mematuhi kebiasaan yang ada dan diyakini baik oleh masyarakat.

area kolam ikan

Berada di area Umbul Manten Klaten membuat kita seolah-olah berada pada suatu kawasan hutan pedalaman. Pohon yang tumbuh di sekitaran tempat ini memiliki akar yang besar serta dapat kita lihat dari atas permukaan air. Semula banyak yang mengira bahwa pohon besar yang tumbuh di tempat ini merupakan pohon beringin raksasa. Namun, menurut penuturan salah seorang petugas yang berjaga disana pohon tersebut adalah pohon ipik dan bukan merupakan pohon beringin. Air yang keluar di Umbul Manten sangat jernih. Bagian dasar umbul manten merupakan tanah dengan pasir halus dan dikelilingi oleh bebatuan. Air yang berasal dari umbul ini kemudian dialirkan pada parit yang mengalir di sebelahnya untuk digunakan masyarakat guna mengaliri kolam-kolam ikan dan beberapa menggunakannya untuk mengaliri sawah mereka.   


Fasilitas yang ada di Umbul Manten


Kondisi Umbul Manten Klaten saat ini berbeda dengan kondisi 6 tahun yang lalu, dimana dahulu area ini masih sepi oleh pengunjung. Saat ini kawasan umbul Manten sudah banyak pengunjung yang berasal baik itu dari daerah Klaten ataupun daerah luar Klaten yang sengaja datang jauh-jauh untuk melihat keindahan yang ditawarkan umbul yang memiliki 2 kolam utama ini. Beberapa fasilitaspun mulai ditambahkan seperti area parkir disertai dengan pos penjagaan, warung makanan yang berada di sisi barat umbul, toilet serta sebuah mushola sederhana yang sengaja dibuat bagi pengunjung yang hendak menunaikan ibadah sholat.

Di sisi selatan dari umbul Manten juga disediakan kolam dengan ukuran yang cukup besar bagi pengunjung yang ingin merasakan terapi ikan. Terdapat puluhan bahkan ratusan ikan kecil-kecil di dalamnya yang siap menggigit, memberikan sensasi serta dianggap layaknya pijatan relaksasi. Di kawasan sekitar umbul Manten Klaten, kita juga bisa menjumpai umbul-umbul lainnya seperti Umbul Pelem yang letaknya tidak jauh dari umbul manten dan beberapa umbul kecil yang berada di sisi utara dari Umbul Pelem. Rata-rata umbul tersebut dimanfaatkan airnya oleh warga untuk keperluan mandi dan mencuci.

Di balik keindahannya yang menawan ternyata Umbul Manten Klaten menyimpan legenda yang sarat akan makna. Cerita rakyat yang berkembang di tengah masyarakat merupakan sebuah kekayaan tersendiri bagi suatu daerah dan menambah daya tarik bagi orang lain untuk datang mengunjunginya.

" Bagaimana, tertarik mengunjungi Umbul Manten Klaten ???"


Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Legenda pariwisata Jawa Tengah 2017 yang diselengarakan oleh Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah.

Wednesday, 12 April 2017

menelisik asal usul dan legenda telaga sarangan magetan jawa timur

Legenda telaga Sarangan Magetan. Asal-susul telaga Sarangan Magetan Jawa Timur tidak bisa dipisahkan dengan cerita tentang Ki Pasir dan Nyi Pasir yang konon tinggal di daerah ini. Berikut ceritanya : 

" Di lereng gunung Lawu hiduplah sepasang suami isteri bernama Ki pasir dan Nyi pasir. Pasangan ini telah lama hidup berdampingan namun belum dikaruniai seorang anak. Sampai suatu hari keduanya bersemedi memohon Sang Hyang Widi agar mendapatkan keturunan. Sampai akhirnya mereka mendapat anak laki-laki yang diberi nama Jok Lelung. Hari-hari Ki pasir dan Nyi pasir digunakann untuk membuka lahan pertanian dan bercocok tanam di sekitar pondoknya. Hingga pada suatu hari terjadi kejadian aneh yang menimpa keduanya. Saat hendak berladang, salah satu dari mereka menemukan sebuah telur. Ki pasir pun mengambil, membawanya pulang dan merebusnya. Telur yang sudah matang dibaginya kemudian diberikannya kepada isterinya untuk dimakan bersama. Setelah makan telur rebus tersebut Ki pasir dan Nyi Pasir merasakan sesuatu yang aneh pada diri mereka. Tubuh mereka menjadi panas serta gatal. Sepasang suami isteri tersebut mencari sebuah tempat untuk berendam guna menghilangkan rasa panas pada tubuh mereka. Lama-kelamaan tubuh mereka berubah menjadi naga. Keduanya marah dan menggeliat-menggeliat tubuh mereka membentuk cekungan, menyibak-nyibakkan tubuh mereka kesana kemari. Gunung pun hendak digempurnya, pohon-pohon akan mereka robohkan. Mengetahui kedua orang tuanya berubah menjadi naga. Joko Lelung bersemedi memohon Sang Hyang Widi agar niatan kedua orang tuanya dapat digagalkan. Saat kedua orang tuanya berguling guling membuat cekungan, timbul niatan Ki Pasir dan Nyi Pasir untuk mengurungkan niat mereka. Namun tak urung, sumber yang menjadi tempat pelampiasan kemarahan keduanya menjadi sebuah kubangan berukuran raksasa. Kini kubangan raksasa tersebut dikenal dengan sebutan telaga pasir atau Telaga Sarangan". 


 legenda telaga sarangan magetan jawa timur
Telaga sarangan Magetan Jawa Timur

Telaga Sarangan atau masyarakat sering menyebutnya sebagai telaga pasir, merupakan telaga alami yang secara administratif terletak di desa Sarangan, kelurahan Plaosan, Kabupaten Magetan Propinsi Jawa Timur. Panorama di tempat ini sangat indah. Selain udaranya yang sangat sejuk, kita dapat melihat gelombang air layaknya ombak di tepi pantai.


Perjalanan ke Telaga Sarangan dari Tawangmangu

Kali ini saya mendapat kesempatan untuk jalan-jalan ke Telaga Sarangan bersama dengan rekan-rekan seprofesi dengan saya dari Yogyakarta. Setelah sebelumnya saya dan rombongan bermalam di daerah Air Terjun Grojogan Sewu, pagi hari kami bergegas menuju ke Telaga Sarangan Magetan Jawa Timur. Pagi hari sekitar jam 07:45 kami memacu sepeda motor kami melalui jalan tembus Tawangmangu-Magetan melalui Cemoro Sewu. Bagi rekan-rekan yang hobi naik gunung pasti sudah mengetahui daerah ini. Cemoro Sewu merupakan salah satu jalur pendakian gunung Lawu yang sering dilalui karena medannya yang lebih mudah dibandingkan dengan jalur lainnya. Perjalanan dari Sarangan ke Tawangmangu kita harus menempuh waktu selama kurang lebih 30 menit.

Lokasi Telaga Sarangan di kaki Gunung Lawu

Telaga sarangan Magetan merupakan telaga yang terletak di atas ketinggian. Telaga ini berada pada ketinggian kurang lebih 1.200 meter di atas permukaan air laut, atau 500 meter lebih rendah dibandingkan dengan ketinggian gunung Andong Magelang. Letaknya yang berada di lereng gunung Lawu membuat udara di sekitar area ini sangat dingin. Oya Telaga sarangan juga bisa kita lihat dari ketinggian apabila kita melalui jalur pendakian gunung Lawu tepatnya apabila kita melalui pos 4 watu kapur kapur ke arah sumur Jolotundo.

 legenda telaga sarangan magetan jawa timur
Telaga sarangan dilihat dari gunung Lawu ( Pendakian Lawu tahun 2013 )

Setelah menempuh rute menuju telaga Sarangan yang cukup menanjak, akhirnya rombongan kami sampai di lokasi sekitar pukul 08:30. Pikir kami, kami diwajibkan untuk membayar biaya masuk ke dalam obyek wisata, namun pada saat itu kami tidak mendapatkan petugas yang berjaga di pos pintu masuk kawasan obyek wisata, oleh karenanya kami segera bergegas memarkirkan kendaraan kami di tempat parkir yang telah disediakan. Memasuki kawasan Telaga Sarangan kita akan disambut dengan banyaknya orang yang berjualan di pinggir telaga. Mulai dari jualan sate kelinci khas Tawangmangu sampai orang yang berjualan bunga edelweis dapat kita temui di lokasi ini. Beberapa rekan saya memilih untuk mengisi perut mereka dengan sarapan di tepi telaga. Rekan saya Catur mengajak saya untuk berkeliling telaga dengan berjalan kaki menikmati udara dingin yang cukup menjadi alasan bagi saya untuk selalu mengenakan jaket selama berada di kawasan ini.

 legenda telaga sarangan magetan jawa timur
suasana di tepi telaga sarangan


Berjalan berkeliling telaga sarangan mengingatkan kembali pada kenangan lama saya bersama dengan ayah saya. Jika ingatan ini tidak berkhianat, saya pernah mengunjungi tempat ini pada tahun 1998, saat itu saya masih duduk di Sekolah Dasar. Masih jelas dalam ingatan saya bahwa di tengah-tengah telaga ini terdapat sebuah pulau kecil dan pada waktu itu masih sedikit orang yang menyewakan speed boat untuk digunakan mengelilingi kawasan Telaga Sarangan. Saat ini di kawasan Telaga Sarangan kita dapat dengan mudah menjumpai penyedia speed boat yang bisa kita gunakan mengelilingi telaga ini dengan membayar biaya sebesar 60 ribu untuk sekali sewa. Di kawasan ini pula kita dapat menggunakan jasa penyedia ojek kuda dengan tarif yang sama dengan penyedia speed boat.

 legenda telaga sarangan magetan jawa timur
parahlayang yang melintas tepat di atas telaga


Setelah dirasa cukup berjalan berkeliling area Telaga Sarangan, saya pun memilih untuk duduk di kursi yang telah disediakan di tepian telaga, menikmati pemandangan gunung Lawu dengan puncaknya yang nampak tinggi menjulang. Puncak yang konon menjadi tempat moksanya Prabu Brawijaya V dari kerajaan Majapahit tempat dimana dia memilih untuk mengasingkan diri ditemani oleh pengawal-pengawalnya yang masih setia. Ketika sedang duduk bersantai di tepi telaga, pandangan saya tertuju pada sebuah parahlayang yang terbang tepat di atas speed boat saat itu sedang melintas mengelilingi telaga. Entah darimana obyek itu datang, namun menurut pengalaman saya, kegiatan ini sering dilakukan di area kebun teh Kemuning Karanganyar. Disana biasa digunakan sebagai landasan pacu kegiatan parahlayang.

Di depan Patung Ki Pasir yang menjadi icon  Telaga Sarangan

Di penghujung kunjungan saya di Telaga Sarangan, saya menyempatkan mengambil gambar pada sebuah gapura atau lebih tepatnya pada bangunan yang menjadi icon dari Telaga Sarangan. Bangunan itu berbentuk patung 2 ular raksasa yang terlihat berhadapan satu dengan yang lainnya. Terdapat sebuah gunungan di tengah kedua patung yang memiliki tinggi sekitar 3 meter ini. Patung naga tersebut tidak lain adalah sosok Ki Pasir dan Nyi Pasir yang berubah menjadi wujud ular dan menjadi legenda asal-usul Telaga Sarangan yang berkembang khususnya di wilayah Sarangan, Plaosan, Jawa Timur.

Friday, 24 March 2017

air terjun sigembor kulonprogo, curug cantik berlokasi di tepi jalan girimulyo

Air terjun Sigembor Kulonprogo. Menyusuri jalur wisata alam berupa wisata air terjun di Girimulyo, Kulonprogo mungkin akan memerlukan sehari lebih. Ada setidaknya 6 wisata air di daerah ini yang menarik untuk kita sambangi. Dari masing-masing tempat wisata tentu ada keistimewaannya yang membedakannya satu dengan lainnya. Sebagai contoh air terjun Kedung Pedut yang terkenal dengan keindahan airnya yang memiliki dua warna. Atau air terjun Kembang Soka yang memiliki kedung cukup besar di dasarnya sehingga dapat dimanfaatkan sebagai layaknya kolam renang alami. 


air terjun si gembor kulonprogo
air terjun sigembor kulonprogo

Berbicara mengenai air terjun yang berada di Kulonprogo atau tepatnya di daerah Girimulyo, ada satu air terjun yang letaknya berada tepat di seberang jalan. Mungkin rekan-rekan yang melewati jalur menuju ke air terjun Kembang Soka atau air terjun Kedung Pedut sudah mengetahui keberadaan air terjun ini namun tidak mengetahui namanya. Nama air terjun yang dimaksud adalah air terjun Si gembor

Air terjun Sigembor secara administratif berlokasi di Banyunganti, Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta. Keberadaan air terjun ini seolah tertutup oleh rimbunnya pepohonan yang berada di sekitarnya. Hal tersebut ditambah lagi dengan tidak adanya papan petunjuk yang menyebabkan beberapa wisatawan tidak mengetahui nama air terjun yang ditumbuhi banyak lumut disekitarnya ini. 

Rute menuju air terjun Sigembor Kulonprogo

Rute menuju air terjun Sigembor Kulonprogo dari Yogyakarta - Tugu Yogyakarta ke barat - Ringroad Barat - Jalan Godean - Pasar Godean - Melewati Jembatan Sungai Progo- Perempatan Bangjo Nanggulan - Lurus menuju ke arah wisata Goa Kiskendo ( Melewati Tanjakan Perbukitan menoreh yang panjang )  Ikuti jalan tersebut sampai menemukan perempatan pasar Jonggrangan - dari Pasar Jonggrangan ikuti jalan menuju ke arah Goa Kiskendo. Dari Goa Kiskendo kita akan menemukan pertigaan pertama - ambil yang arah kiri sampai menemukan pertigaan - ikuti arah yang menuju ke Kokap atau Waduk Sermo. Sekitar 5 menit memacu kendaraan kita, kita dapat mendengarkan suara gemericik air di sebelah kanan kita dan dapat melihat air terjun dengan ukuran cukup besar disana. Itulah air terjun Sigembor Kulonprogo.

Rute menuju air terjun si gembor kulonprogo
Rute menuju air terjun sigembor kulonprogo


Air terjun Sigembor memang tidak setenar air terjun Kembang Soka ataupun air terjun Kedung Pedut. Namun air terjun ini menawarkan keunikan tersendiri yakni area air terjun yang masih sangat rimbun karena lebatnya pepohonan dan banyaknya tumbuhan lumut yang menempel di daerah sekelilingnya. Untuk mencapai lokasi air terjun, maka kita harus berjalan kaki dan menyusuri aliran air yang mengalir dari bagian atas. Dengan melewati aliran air atau tepi aliran ai kita harus berhati hati karena area ditempat ini sangat licin, serta tidak dilengkapi dengan pengaman di sekililingnya. 

Jalan di tepi aliran sungai di bagian bawah air terjun Si Gembor


Sampai di lokasi air terjun Sigembor, kita dapat menikmati keindahan yang ditawarkan air terjun ini. Berada di bagian bawah air terjun Sigembor mengingatkan saya dengan air terjun Setawing yang letaknya tidak jauh dari pasar Jonggrangan. Karakteristik air terjun ini hampir sama dengan air terjun atau curug Setawing yakni air yang berasal dari bagian atas tidak begitu saja jatuh pada dasar, melainkan jatuh pada dinding air terjun, menimbulkan cipratan air yang menyebar di sekelilingnya. Di lokasi air terjun Sigembor, mungkin kita tidak akan bisa leluasa bermain air, pasalnya area air terjun Sigembor tidaklah terlalu luas ditambah dengan lokasi kubanggar dibawahnya yang sempit dan curam. 

air terjun si gembor kulonprogo


Di area air terjun Sigembor Kulonprogo, tidak disediakan parkir khusus bagi kendaraan pengunjung. Apabila kita ingin menikmati keindahan air terjun ini, kita harus memarkirkan kendaraan kita di pinggir jalan atau tepatnya di samping jembatan kecil yang ada disana. Di area ini juga tidak ada fasilitas seperti tempat sampah atau toilet. Diharapkan rekan-rekan yang kesana dapat menjaga kelestarian lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan.

Waktu yang tepat mengunjungi air terjun Sigembor Kulonprogo adalah pada musim penghujan atau pergantian musim penghujan ke musim kemarau, dimana air yang mengalir akan cukuplah deras. Berbeda jika rekan-rekan mengunjungi air terjun ini pada saat musim kemarau, dimana debit air yang ada akan sangat berkurang.

Dengan segala keistimewaan yang dimilikinya, air terjun Sigembor Kulonprogo patut anda kunjungi ketika anda ke Girimulyo. Lokasinya yang berada di tepi jalan membuat air terjun Si Gembor menjadi tempat yang ideal untuk menepi sejenak sebelum anda kembali pulang ke kediaman anda masing-masing. 

Tertarik mengunjungi air terjun Si gembor Kulonprogo ?