Senin, 10 Juli 2017

menuntaskan rasa penasaran akan selat di warung selat Vien's Solo

Kota Solo bagi saya adalah kota yang cukup unik, kota ketiga yang sering saya kunjungi selama hidup saya, selain Yogyakarta dan tentunya kota Klaten. Memang kota Yogya dan Solo memiliki banyak persamaan. Selain dikenal sebagai kota dengan banyak peninggalan budaya, kedua kota ini memiliki berbagai macam kekayaan kuliner yang bisa kita nikmati ketika berkunjung kesana. Sebut saja Gudeg sebagai makanan khas yang berasal dari Yogyakarta serta nasi liwet sebagai makanan kas dari kota Solo.


 warung selat Vien's Solo
 selat Vien's Solo


Berbicara mengenai kuliner khas dari kota Solo, selain nasi liwet, kota ini terkenal dengan menu kulinernya yang bernama "Selat". Menurut sejarahnya, Selat Solo merupakan makanan hasil perpaduan antara hidangan asli Solo dengan dengan hidangan khas Eropa. Konon pada masa pemerintahan Kolonial Hindia Belanda, orang-orang Eropa membawa banyak bahan makanan serta memperkenalkan teknik memasak kepada kaum ningrat di wilayah Solo. Beberapa hidangan kelas atas seperti bistik, steak, roti serta keju mulai diperkenalkan kepada keluarga kerajaan serta kaum ningrat. Selama ini pula terjadi perpaduan masakan dari masakan dengan cita rasa Eropa dan masakan dari Jawa. Selat Solo, merupakan salah satu hidangan hasil perpaduan antara masakan dengan citarasa Eropa dengan makanan yang berasal dari Jawa.

Saya sendiri di usia yang lebih dari seperempat abad, belum pernah mencicipi akan hidangan selat solo. Rasa penasaran akan Selat akhirnya dapat tertuntaskan, setelah rekan saya mengajak saya makan hidangan Selat di salah satu rumah makan yang berada di Jalan Hasanudin Solo. Vien"s adalah rumah makan yang dimaksudkan. Rumah makan ini menjajakan selat segar, sup matahari, timlo serta soto ayam.


lokasi warung selat vien"s Solo


Setelah memarkirkan kendaraan kami, kamipun segera masuk rumah makan yang letaknya tidak jauh dari Stasiun Balapan serta Terminal Tirtonadi ini. Banyaknya pelanggan yang datang waktu itu, membuat kami harus rela meluangkan beberapa waktu untuk menunggu sampai pesanan kami datang. Saya memesan selat daging cacah serta minuman segelas es teh untuk mengganjal perut saya yang sudah kosong karena di hari itu belum sempat untuk sarapan. Dari segi penataan ruangan, tidak ada yang istimewa dari tata ruang Rumah makan Vien's ini. Sebuah tempat makan yang cukup luas dengan beberapa meja makan yang dibuat seefisien mungkin untuk bisa menampung pelanggan yang datang ke tempat ini.

antri dulu ya :D


Tidak sampai 10 menit menunggu, pesanan saya sudah diantarkan oleh salah satu pegawai disana. Di hadapan saya sudah tersaji sepiring selat yang terdiri atas telur, dengan beberapa irisan sayuran kacang panjang, wortel, kentang, kuah, daun selada dan tentu saja mayonise. Rekan saya menganjurkan saya untuk menambahkan kecap pedas ke dalam selat yang saya pesan karena dia mengetahui bahwa saya suka akan makanan pedas :D

sebelum


Kesan pertama setelah mencicipi hidangan selat Vien's ini adalah rasa manis-gurih. Rasa manis pada kuah yang disajikan dipadukan dengan gurihnya kentang goreng rasa-rasanya cukup pas untuk lidah saya yang acapkali makan makanan tradisioanal Jawa. Penyajian selat ini seperti makanan pada umumnya disajikan dengan menggunakan sebuah piring dengan porsi yang terbilang "cukup". Tidak terlalu banyak juga tidak terlalu sedikit. Menurut rekan saya, salah satu yang membedakan sajian selat Vien's ini dibandingkan sajian selat di rumah makan lainnya adalah, bila sajian selat di rumah makan lain menggunakan daging utuh, hidangan selat di rumah makan Viens menggunakan daging yang dicincang barulah digoreng dengan dicampuri menggunakan tepung. Hal ini yang membuat daging menjadi semakin gurih berkat campuran bumbu lainnya.

10 menit kemudian


Selain selat, di rumah makan Vien's Solo juga menjajakan menu lainnya seperti sup matahari, sup gelantin, timlo, gado-gado serta soto ayam. Untuk minuman kita bisa memesan es teh, maupun es jeruk segar. Berapakah harga untuk satu porsi selat di rumah makan Vien"s Solo? Saat artikel ini ditulis, untuk satu porsi selat daging cacah kita hanya perlu merogoh kocek Rp.10.000, untuk sup gelanting Rp.8.000: sedangkan sup matahari kita hanya perlu membayar Rp.8.000;. Sangat murah bukan ??. Jadi bila rekan-rekan berkunjung ke Solo, tidak ada salahnya mengunjungi warung makan ini. Selain memiliki cita rasa yang unik hidangan yang dijajakan memiliki harga yang cukup murah.    

Keterangan lokasi : 
Warung Selat Segar & Sup Matahari Vien’s terletak di Jl. Hasanuddin No.99 B, D & E, Solo.
Foodcourt dr.Oen Kandang Sapi Lt 1. phone : 0271- 738396

Jumat, 07 Juli 2017

misteri Candi Sukuh karanganyar, candi unik berbentuk piramida suku maya


Di Kabupaten Karanganyar, tepatnya di timur kota Solo, terdapat sebuah candi yang bernama candi Sukuh. Candi tersebut mirip dengan peninggalan suku Maya di Amerika tepatnya di negara bagian Meksiko. Di negara tersebut, konon terdapat sebuah bangunan kuil yang didirikan pada tahun 800 SM. Kuil tersebut bernama Chichen Itza dan telah ditetapkan sebagai salah satu keajaiban dunia pada tahun 2007. Kalau diperhatikan di gambar, bentuk kuil tersebut tak jauh beda dengan Candi Sukuh yang berada di Karanganyar. Meskipun memiliki ukuran yang jauh lebih besar, keduanya memiliki arsitektur yang sama, yakni berbentuk seperti bentuk piramida.

Kali ini saya  bersama dengan rekan saya berkesempatan mengunjungi Candi ini. Dari berbagai sumber yang saya peroleh, candi Sukuh dikenal sebagai candi yang penuh dengan misteri. Hal itu dikarenakan adanya cerita yang berkembang di kalangan masyarakat tentang adanya ritual uji keperawanan yang dilakukan disana. Candi Sukuh, selain dikenal sebagai tempat uji keperawanan juga dikenal sebagai bangunan suci peninggalan agama Hindu.

candi sukuh karanganyar
bagian utama dari candi sukuh ( sumber : wikipedia )


Rute menuju Candi Sukuh dari Solo

Candi Sukuh berlokasi di Dukuh Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Untuk menuju ke Candi rekan-rekan bisa menggunakan angkutan umum. Jarak candi Sukuh dari kota Karanganyar sekitar 20 km sedangkan dari kota Solo berkisar antara 30-35 km. Jika rekan-rekan ingin menggunakan kendaraan umum bisa menggunakan kendaraan bus ke arah Tawangmangu dan turun di terminal Karangpandan ( terminalnya kecil di sisi kanan jalan ). Dari Terminal Karangpandan lalu ganti angkutan ( menggunakan mini bus ) menuju ke daerah Nglorok. Minibus akan berhenti di Nglorok dan rekan-rekan harus berjalan kaki ke arah kompleks Candi Sukuh. Tanjakan disini cukup berat dan panjang, namun jangan khawatir, ada jasa ojek yang bisa kita gunakan untuk bisa mengantar sampai di pelataran Candi Sukuh. Bila kita menggunakan kendaraan pribadi, dari terminal Karangpandan ikuti jalan yang sudah mulai menanjak ke arah Tawangmangu, lalu belok ke kiri di pertigaan kedua setelah Terminal Karangpandan ( terdapat penunjuk jalan yang cukup jelas di pertigaan ini, belok kanan ke Tawangmangu dan belok kiri ke Candi Sukuh ). Di sepanjang perjalanan kita akan dimanjakan dengan udara khas pegunungan dengan rimbunnya pohon pinus dan sesekali kita akan melewati kebun teh yang cukup luas.

Tidak sampai 2 jam perjalanan dari arah kota Solo sampailah saya di Lokasi Candi Sukuh. Bagi yang baru pertama kali mengunjungi candi ini mungkin akan bingung mencari tempat pembelian tiket. Hal ini dikarenakan letaknya bukan di depan atau jalan utama setelah parkiran kendaraan bermotor, melainkan di bagian pojok kompleks candi. 

Candi Sukuh Teras Pertama

candi sukuh karanganyar
teras pertama candi sukuh


Memasuki area pelataran Candi sukuh kita disambut dengan Gapura Kecil yang mengarah ke sisi barat lereng gunung Lawu. Nampak pemandangan yang masih sangat asri di area ini. Pelataran di Candi Sukuh tidaklah begitu luas, mirip dengan Candi Merak yang berada di daerah Karangnongko Klaten. Nampak dari sini, Candi utama dengan ciri khasnya berbentuk rata pada bagian puncak. Halaman dari Candi Sukuh memiliki 3 teras utama. Menurut cerita yang saya peroleh dari salah satu petugas yang mengelola tempat ini, pada jaman dahulu apabila seseorang hendak mencapai teras utama, maka orang tersebut harus melewati tangga batu yang panjang dari dataran sampai halaman candi. Di pintu masuk ini pula terdapat relief dengan bentuk cukup vulgar. Relief di gapura masuk yang berbentuk alat k*lamin pria dan wanita tersebut memiliki makna tentang kesuburan dan kesucian. Harapannya bagi para pengunjung yang melewati gapura masuk tersebut telah dihapuskan ( dilebur semua pikiran kotor serta hawa nafsu ) guna mempersiapkan diri untuk masuk ke area yang suci di tingkat berikutnya.

Candi sukuh teras yang kedua

candi sukuh karanganyar
teras kedua candi sukuh


Tidak jauh dari teras pertama, kurang lebih berjarak 40 meter kita akan masuk ke bagian teras yang kedua. Terdapat 2 buah tatanan batu besar di teras yang kedua ini. Bila teras yang pertama terdapat atap di bagian gapura sebagai pintu masuk, di teras yang kedua ini saya tidak menemukan atap atau sisi bagian atas dari gapura. Disini hanya ada dwarapala atau patung penjaga pintu yang sudah mengalami beberapa kerusakan.

Bagian utama Candi Sukuh

Tujuan kami tentunya ingin masuk ke bangunan utama Candi Sukuh. Candi dengan ukuran tidak terlalu besar ini jika kita amati bentuknya nampak tidak lazim. Tidak lazim mengingat beberapa bangunan candi di beberapa daerah khususnya di daerah Yogyakarta memiliki bentuk lancip dengan adanya ratna di bagian puncaknya, seperti yang dapat kita temukan di Candi Prambanan atau candi Plaosan. Di bagian atas dari Candi Sukuh terdapat sebuah tempat datar dan bisa kita capai dengan menaiki tangga yang berada di bagian tengah dari Candi. Di bagian samping kanan dan kiri candi terdapat patung kura-kura dengan ukuran yang cukup besar ( kura-kura sebagai lambang dari dunia ).


candi sukuh karanganyar
bagian atas candi 

Pada waktu saya mengunjungi candi Sukuh, Candi Sukuh sangat sepi oleh pengunjung, saya tidak perlu harus mengantri untuk bisa naik ke bagian atas candi. Dengan melewati tangga yang sempit dan dengan lebar kurang lebih 1 meter serta menapaki beberapa anak tangga akhirnya saya sampai di bagian atas candi. Di bagian atas Candi saya dapat melihat keseluruhan kompleks candi temasuk sisi bagian belakang. Disini pula kita bisa menikmati keindahan alam sekitar serta bisa melihat jauh arah kota Solo. Di sisi kanan kita terdapat beberapa arca dengan bentuk-bentuk yang misterius dan di sisi kiri Candi terdapat patung-patung dengan bentuk yang cukup aneh. Di bagian atas candi juga terdapat tempat untuk meletakkan dupa dan tempat yang digunakan untuk menaruh sesaji. Tempat ini dipercaya sebagai tempat tinggal Kyai Sukuh. Seringkali orang datang memberikan sesaji dan kemenyan sebagai bentuk penghormatan kepada Kyai Sukuh. 

Relief misterius di sisi Candi sukuh

Setelah puas mengambil beberapa gambar di atas candi, maka tempat tujuan saya selanjutnya adalah menuju ke bagian relief yang tersusun rapi di sisi kanan candi. Relief-relief disini berbeda dengan relief di beberapa candi lainnya. Banyak tokoh dengan bentuk yang cukup aneh di tempat ini. Sebut saja seorang dengan kepala cukup besar dan berbadan kecil mirip tokoh-tokoh alien yang biasa kita temukan di beberapa film fiksi. Ada juga tokoh dengan mata sipit seperti layaknya seorang Tionghoa. Meskipun dipenuhi dengan relief-relief dengan bentuk aneh, di tempat ini masih ada relief dengan corak khas Nusantara yakni relief yang menceritakan cerita pewayangan. Relief di candi ini mengisahkan cerita kuno Sudamala. Cerita ini dimulai dengan seorang yang diikat pada batang pohon “Kepuh Randu” sedangkan di depannya berdiri seorang dewi yang berwajah menakutkan sambil mengangkat sebilah pedang dan dikawal oleh serombongan hantu. Orang yang diikat ini adalah Sadewa ( Pandawa termuda yang dipersembahkan untuk Betara Durga atau Ratu dari para Hantu ). Sadewa dapat meruwat atau membebaskan Durga dari kutukan yang berwajah Raseksi menjadi dewi yang cantik kembali. Awalnya Durga dikutuk oleh Batara Guru akibat perbuatannya serong kepada seorang gembala. Durga menjadi raseksi dan diusir serta harus turun ke dunia di Setra Gandamayu. Kutukan tersebut telah dilaksanakan meskipun pada akhirnya Durga berhasil dibebaskan oleh Sadewa sebagaimana diceritakan pada relief.

candi sukuh karanganyar
relief dengan berbagai cerita mistis


Selanjutnya tampak Sadewa yang oleh dewi Uma diberikan nama Sudamala ( bersih dari dosa ) berlutut penuh hormat dihadapan Batari Durga beserta pengikutnya yang telah pulih kembali menjadi dewata. Semar, punakawan yang paling setia terhadap Pandawa yang dalam relief terdahulu tampak jongkok dan ketakutan. Nampak pula 3 orang wanita berdiri di atas bantal teratai, menandakan kedudukan mereka sebagai penghuni kayangan yang telah terbebas dari kutukan.

ada yang tahu di relief ini tokoh siapa ???


Relief berikutnya yang dapat kita lihat adalah adegan pertemuan antara Sadewa beserta pengikutnya dengan pendeta buta Tambrapetra dari Nakanwanya. Cerita Sudamala mengisahkan, atas perintah Batari Durga yang telah dibebaskan dan menjadi Dewi Uma kembali, Sadewa harus melangsungkan perkawinan dengan seorang anak dari pendeta buta. Pertapa itu pun berhasil pula dibebaskan dari kebutaan oleh Sadewa. Disini pula kita bisa melihat seorang raksasa bernama Kalantaka diangkat dan ditusuk oleh Bima yaitu kakak Sadewa. Pada bidang relief ini, terdapat inskripsi dengan angka tahun 1371 Caka ( 1449 Masehi ). Bima yang kita jumpai pada beberapa tempat di candi Sukuh, dapat kita kenal dari pahanya yang telanjang, dan juga kainnya dengan motif kotak-kotak. Ia memiliki kuku panjang, yang dapat dipergunakan sebagai senjata untuk menyobek perut musuhnya.

Tugu di candi Sukuh

Selain memiliki beberapa relief yang mempunyai banyak cerita misteri, di candi Sukuh terdapat beberapa bangunan ( menyerupai tugu ) yang memiliki dan berisikan cerita tentang pewayangan. Pada bagian tugu pertama terdapat relief dua orang wanita sedang disisi lainnya terdapat seekor garuda sedang terbang. Pada kedua sisi lainnya kita dapat melihat naga yang merayap secara berurutan. Dua gambar ini termasuk di dalam cerita dua orang wanita bersaudara, Kadru dan Winata, hal ini dikisahkan di dalam cerita Hindu kuno yang sudah banyak tersebar. Agak jauh dari tempat ini kita juga bisa melihat tugu yang dihiasi ornament pada kedua sisinya. Bagian belakang menampakkan seorang raja bersenjatakan sebilah keris dan raksasa yang terbang di atasnya. Sangat disayangkan karena tidak jelas siapakah tokoh yang digambarkan tersebut. Namun gambar disisi muka jelas artinya dimana digambarkan seekor garuda yang terbang membumbung di angkasa sambil mencengkeram seekor gajah pada cakar yang satu dan seekor kura-kura di cakar yang lainnya. Tugu ketiga bagian belakangnya memperlihatkan kepada kita sosok Arjuna. Kita kenal dengan adanya yang bergambar kera, dan rombongan punakawan yang berbaris sambil membawa gong peperangan. 


beberapa tugu nampak dengan kokoh berdiri


Tugu yang keempat memperlihatkan seorang tokoh pahlawan kera ( seperti Hanoman ) dari cerita Rama bersama-sama dengan seorang tokoh raja berdiri di muka seorang pertapa yang menundukkan kepalanya di tugu tersebut. Di bagian muka Candi terdapat sebuah hiasan dengan bentuk tapal kuda namun dengan ukuran yang cukup besar serta di bagian kanan dan kirinya berbentuk seperti kepala Kijang. Sangat disayangkan kepala kijang yang dimaksud telah rusak. Di bagian muka kita juga dapat melihat relief berbentuk Bima di depan Batara Guru, penguasa dari Kahyangan. Di bagian bawah dari tugu ini terdapat beberapa pahatan berupa dua tokoh yang berusaha memperebutkan bayi, dimungkinkan hal ini masih berhubungan dengan tradisi ruwatan untuk anak tunggal agar tidak terkena bala atau bencana.   


Cerita garuda di Candi Sukuh

Di candi Sukuh terdapat patung garuda yang berdiri dengan berhiaskan relief di bagian bawahnya. Pada patung ini terdapat sebuah cerita menarik. Cerita yang dikisahkan adalah sebagai berikut : Pada suatu hari garuda mendengarkan cerita bahwa untuk dapat membebaskan ibunya dari perbudakan, ia harus mampu merebut air minuman para dewa-dewa Amerta dan menyerahkannya pada para naga. Seketika ia memutuskan untuk melaksanakannya, lalu pergilah dia. Di tengah jalan dia merasa lapar dan membuka parunya lebar-lebar seperti goa. Suaranya yang bergemuruh menyebabkan seluruh anggota suatu suku ketakukan dan lari memasuki paruh sang garuda tersebut, anggota suku tersebut kemudian ditelannya. Akan tetapi setelah menelan orang yang berlari ke arahnya, menyebabkan tenggorokannya terasa gatal. Karenanya di antara orang-orang yang ditelannya tersebut terdapat beberapa Brahmana, maka sang garuda memuntahkannya kembali.

patung garuda candi sukuh
patung garuda candi sukuh

Untuk menghilangkan laparnya, ia menyambar seekor kura-kura dan gajah ( kedua binatang ini sebenarnya adalah dua bersaudara dan terkena kutukan ), kedua binatang tersebut dibawa menggunakan cakarnya, kemudian dijatuhkan lalu dimakannya. Dengan demikian kedua binatang tersebut bebas dari kutukannya dan kembali menjadi manusia. Garuda melanjutkan perjalanan menuju tempat penyimpanan Amerta di kayangan. Sesampainya disana, dia menemukan adanya roda dan tombak yang terdiri dari tubuh manusia sehingga tidak memungkinkannya untuk bisa masuk. Dengan cara mengecilkan dirinya, sang garuda bisa masuk lalu menyelinap ke dalam kahyangan dan berhasil merebut amerta yang menjadi incarannya. Akhirnya Amerta tersebut berhasil diserahkan kepada para naga. Sewaktu para naga tersebut memandikan diri dan berebut amerta, maka datanglah Batara Indra merebutnya. Para naga menjilat-jilat tempat dimana air tersebut diletakkan, dan karena tajamnya rumput-rumput disitu, lidah para naga terbelah sebagai mana kita lihat sampai sekarang.

Cerita tersebut hanyalah sebagian kecil cerita yang bisa kita lihat di bagian pahatan dinding atau relief Candi Sukuh. Sebagian besar cerita dapat kita temukan di bagian atas dari sebuah tugu yang berdiri di pojok petak tengah dan menjulang tinggi. Di bagian itu pula kita juga bisa melihat relief sang garuda berada di muka gubug tempat penyimpanan amerta dengan tombak-tombak dan pisaunya. Di beberapa sudut candi terdapat beberapa parit kecil yang berfungsi mengalirkan air hujan yang berasal dari bagian atas candi. Menilik lebih jauh lagi, di dalam batu-batuan candi juga terdapat saluran air. Meskipun kecil, hal ini sangat menarik perhatian dimana pada zaman dahulu sudah ditemukan sistem saluran air yang tertata dengan rapi dan terstruktur.    

Ritual uji keperawanan  dan keperjakaan di candi Sukuh

Sebagai tambahan informasi, candi Sukuh pada zaman dahulu dikenal sebagai tempat untuk menguji kesetian terutama bagi pasangan yang ingin melangsungkan penikahan. Keduanya melakukan ritual untuk menguji apakah pihak dari wanita masih perawan maupun melakukan uji keperjakaan terhadap pihak laki-laki. Adapun ritual yang harus dilakukan adalah : Bagi seorang wanita yang ingin menguji keperawanan dianjurkan untuk melompati sebuah batu pada patung dengan bentuk manusia sedang memegang bagian alat v*talnya, apabila wanita tersebut mengeluarkan darah pada bagian kemaluannya berarti wanita tersebut masih perawan. 

ini dia patung yang dimaksud, patung sebagai ritual uji keperawanan


Selain itu bisa dengan cara lain, yakni : wanita yang akan diuji keperawanannya dianjurkan menggunakan kebaya, setelah itu wanita tersebut dianjukan untuk melangkahi relief persenggamaan. Apabila kebaya yang dipakai terlepas maka artinya wanita tersebut telah berselingkuh atau tidak perawan lagi. Selain itu sesorang wanita juga dinyatakan tidak perawan apabila kain yang dikenakan robek. Hal itu berlaku bagi wanita, bagaimana dengan seorang Pria? Bagi pria yang sudah berselingkuh atau tidak perjaka lagi bila setelah melangkahi relief tersebut dia akan terkencing-kencing. Bagaimana rekan-rekan ?? mau membuktikannya?? kalau saya pribadi meyakini hal tersebut hanya sebagai mitos belaka.

patung dengan bentuk vulgar


Mengunjungi Candi Sukuh tidak ubahnya mengunjungi sebuah tempat yang penuh dengan teka-teki. Ornamen-ornament yang ada disana tidak lazim kita temukan di beberapa candi di tanah Jawa. Banyak pula yang menyebutkan candi Sukuh merupakan candi yang vulgar karena di candi ini terdapat beberapa patung yang secara jelas menampilkan beberapa bentuk alat v*tal manusia. Meskipun demikian, ada baiknya kita harus tetap berfikir positif dalam menanggapi suatu hal terutama menyangkut mitos yang beredar di tengah masyarakat. Pesan yang bisa saya dapatkan setelah berkunjung ke candi Sukuh adalah, bahwasanya seseorang harus bisa menjaga kesetiaan dan kesucian dirinya serta tidak melakukan hal-hal yang gegabah hanya untuk sekedar menuruti hawa nafsu belaka. Demikian pengalaman saya mengunjungi Candi Sukuh Karanganyar, semoga bisa menjadi referensi tempat liburan bagi rekan-rekan.

Bagaimana rekan-rekan, tertarik mengunjungi Candi Sukuh Karanganyar ?? 

Rabu, 14 Juni 2017

ziarah ke Goa Maria Mojosongo Solo

Dalam perjalanan ke Kota Solo, saya tiba-tiba diingatkan pada salah satu tempat ziarah umat Katolik yang dulu pernah saya kunjungi 7 tahun silam. Goa Mojosongo adalah nama tempat ziarah yang dimaksudkan. Puji Tuhan, minggu kedua di bulan Juni tahun ini, dimana rekan dan sahabat saya yang beragama muslim sedang menjalankan ibadah puasa, saya berkesempatan mengunjungi serta berziarah di dua tempat ziarah sekaligus yakni Goa Maria Sendangsriningsih dan Goa Maria Mojosongo Solo yang lokasinya cukup tersembunyi di antara rumah-rumah penduduk di kota Surakarta. 

Goa maria Mojosongo Solo
Patung Maria di depan Goa Mojosongo 

Rute menuju Goa Maria Mojosongo Solo

Bagi yang belum pernah ke Goa Maria Mojosongo, mungkin akan sedikit kesulitan untuk mencapai tempat ini karena lokasinya masuk ke dalam area perkampungan. Goa Maria Mojosongo berlokasi di Kampung Debegan RT.04 / RW.05, Mojosongo, Jebres, Kota Surakarta. Bila rekan rekan dari arah Terminal Tirtonadi, terus saja sampai menemukan perempatan di sisi utara RS, dr Oen Kandang Sapi. Setelah itu belok ke utara arah menuju ke perempatan Mojosongo. Sampai di dekat TATV perhatikan plakat penunjuk arah ke Goa Maria di sisi kiri jalan. Lokasi Goa Maria berada di sebuah gang masuk di sisi kiri Jalan Brigjen Katamso.

Goa maria Mojosongo Solo
Taman Getshemani


Masuk di area Goa Maria kita akan menemukan dua patung besar yakni sebuah patung Bunda Maria dan patung Yosef yang berdiri di bagian samping kiri dan kanan gerbang. Kedua patung tersebut seakan menyambut peziarah yang datang ke tempat ini. Ada hal unik dan menjadi kebiasaan pengunjung yang datang ke Goa Maria ini, yakni sebelum masuk ke area peziarahan pengunjung mengusap salah satu patung kemudian membuat tanda Salib.

Goa maria Mojosongo Solo
salah satu sudut taman getshemani


Pada intinya tempat ini dibagi menjadi 7 bagian salah satunya adalah Taman Getshemani. Di taman Getshemani ini juga terdapat sebuah patung Yesus Kristus yang tengah sujud di tengah sebuah kolam. Di tempat ini pula terdapat beberapa terjemahan doa Bapa Kami dalam beberapa bahasa, Bahasa latin, English, Jawa dan tentunya Bahasa Indonesia.

Goa maria Mojosongo Solo


Dari Taman Getshemani kita menuju ke tempat dimana terdapat salib Yubelium. Salib Yubelium berada di sisi kanan belakang dari area Goa Maria. Saya bertemu dengan beberapa orang yang datang silih berganti. Beberapa diantaranya masih menggunakan seragam kantor dan seragam sekolah. Agaknya tempat ini sering dikunjungi oleh beberapa orang yang sengaja menyempatkan diri untuk berdoa setelah mereka pulang dari bekerja atau sekolah. Di samping kiri Salib Yubelium terdapat sebuah Pieta atau patung Bunda Maria membawa Yesus yang telah wafat disalibkan.

salah satu sudut pemberhentian jalan salib

Area jalan salin di Goa Maria Mojosongo berada di sisi kiri dari bangunan utama. Jarak antara satu pemberhentian dengan yang lainnya tergolong dekat. Semua tempat pemberhentian jalan salib terbuat dari ukiran batu alam. Ukiran batu alam tersebut berpadu dengan taman yang tertata dengan rapi rindah membuat tempat ini cukup asri meskipun berada di tengah pemukiman penduduk.

Kapel adorasi Ekaristi


Hal yang membedakan tempat peziarahan ini dengan tempat peziarahan lainnya, bila di beberapa tempat peziarahan Goa Maria berada di luar ruangan, tidak halnya dengan Goa Maria Mojosongo dimana Goa Maria sendiri berada di dalam bangunan utama. Goa Maria terlihat kecil dan berada di pojok kiri. Saya bertemu dengan beberapa ibu-ibu yang berdoa di depan Goa Maria. Di bagian tengah dari bangunan utama, terdapat tempat untuk adorasi sakramen mahakudus dimana penganut Katolik percaya bahwa TubuhDarah, Jiwa, dan Keilahian-Nya hadir dalam rupa hosti yang telah dikonsekrasi. 



Bagi saya pribadi, Goa Maria Mojosongo seakan menjadi oase tersendiri di tengah kesibukan kota Solo. Tempatnya cukup sejuk dan hening membuat peziarah akan betah berlama-lama disini. Tempat ziarah ini juga terbuka untuk umum dalam artian umat lain boleh mengunjunginya. Hal yang perlu diperhatikan ketika mengunjungi tempat ini adalah, kita wajib tetap menjaga keheningan sikap mengingat tempat ini digunakan sebagai tempat untuk berdoa. 

Siapa sangka di tengah pemukiman penduduk yang cukup padat di kota Solo terdapat tempat ziarah umat Katolik yang bernama Goa Maria Mojosongo.   

Senin, 12 Juni 2017

sore hari di waduk cengklik Boyolali

Waduk Cengklik Solo-Boyolali. Ingin menikmati suasana sunset yang lain di kawasan perbatasan kota Solo dengan Kabupaten Boyolali?, waduk Cengklik tempatnya. Waduk Cengklik terletak di desa Margorejo, Kecamatan Ngemplak Kabupaten Boyolali. Waduk yang terkenal cukup angker ini menjadi tempat wisata yang bisa anda kunjungi apabila anda berkunjung di kota Solo ( letaknya kurang lebih 3 km dari Bandara Adi Sumarmo ) untuk menghabiskan waktu di sore hari dan berburu sunset sambil melihat para pencari ikan yang banyak dijumpai di tempat ini.

waduk cengklik boyolali
perahu milik nelayan yang berada di tepi waduk yang terdapat banyak enceng gondok


Kali ini saya berkesempatan berkunjung di salah satu obyek wisata buatan yakni obyek wisata waduk yang terletak di Kabupaten Boyolali tidak jauh dari Bandara Adi Sumarmo Solo. Karena letaknya yang tidak begitu jauh dari kota Solo tidak jarang orang beranggapan bahwa waduk Cengklik masih masuk dalam administratif kota Solo, hal tersebut tidak benar. Secara administratif waduk Cengklik berada pada wilayah administratif Kabupaten Boyolali. Waduk yang sudah dibangun sejak jaman pemerintahan kolonial Belanda ini kini menjadi tempat yang cukup menarik untuk berhunting foto terutama bagi pecinta fotografi di kota Solo dan sekitarnya.




Pengalaman mengunjungi Waduk Cengklik merupakan pengalaman yang pertama bagi saya. Karena sering ke kota Solo, maka saya sudah cukup hafal tempat-tempat wisata yang patut untuk dikunjungi dan tempat wisata yang cocok untuk menghabiskan waktu di sore hari. Seringkali saya mengunjungi taman wisata Balekambang yang letaknya di dekat terminal Tirtonadi, namun karena sudah terlalu sering kesana, maka saya mencari spot menarik lainnya di pinggiran kota Solo, yakni di waduk Cengklik 

Bagi yang suka akan kegiatan memancing terutama di kota Solo, tentu saja sudah tidak asing lagi dengan Waduk Cengklik. Waduk Cengklik menjadi salah satu tempat memancing favorit dari sekian tempat memancing di kawasan Solo dan sekitarnya. Waduk yang dibangun tahun 1926-1928 oleh Pura Mangkunegara ini memiliki area keramba yang cukup luas serta terdapat jasa penyedia perahu yang dapat disewa baik itu oleh wisatawan ataupun para pemancing yang ingin memancing sampai di tengah danau.       

Rute menuju waduk Cengklik

Waduk Cengklik dapat dengan mudah kita capai. Lokasi waduk Cengklik cukup strategis yakni berlokasi di dekat Bandara Adi Sumarmo dan embarkasi haji. Jika rekan-rekan datang dari arah Yogya atau Klaten, setelah sampai Kartasura, perhatikan papan penunjuk arah di pertigaan yang mengarah ke bandara Adi Sumarmo. Ambil ke kiri ikuti jalan tersebut sampai menemukan perempatan pada jembatan. Sampai di perempatan ambil arah ke kiri ikuti jalan tersebut sampai menemukan waduk Cengklik. Lokasi waduk Cengklik masih 3 km lagi dari perempatan jembatan. 

Keindahan waduk cengklik  

Setelah menyusuri jalanan yang berlubang akhirnya kami sampai di waduk Cengklik. Jika anda dari arah selatan maka pintu masuk kawasan waduk Cengklik ini mungkin tidak terlihat, mengingat area di sekitarnya cukup “kumuh” serta papan tempat wisata yang ada tidak begitu jelas karena telah dimakan usia. Agaknya pemerintah sekitar tidak terlalu memperhatikan keberadaan waduk ini dan tidak mencoba menggali potensi wisata yang ada. Setelah membayar biaya masuk dengan harga Rp.3000; ( biaya retribusi diminta oleh seorang yang tidak mengenakan seragam resmi ) kami diperbolehkan masuk di kawasan waduk dengan tetap membawa motor kami. Sebelumnya saya menanyakan adakah karcis sebagai bukti biaya masuk kawasan waduk Cengklik ? pemuda tersebut mengatakan bahwa tidak ada karcis dan dana disetorkan untuk uang khas muda-mudi sekitar. Memasuki area waduk Cengklik terlihat sejumlah warga terutama anak-anak muda terlihat sedang bersenda gurau di tepian waduk serta beberapa diantaranya sedang mengabadikan moment yang ada, tidak lain adalah mencoba memotret matahari terbenam dan memotret aktifitas pencari ikan yang banyak dijumpai di tempat ini.

waduk cengklik boyolali
di sudut waduk cengklik


Pada saat saya berkunjung ke tempat ini, air yang ada mengalami penyusutan. Hal ini terlihat dengan mengeringnya tepian waduk sehingga di beberapa sudut dapat digunakan oleh para pencari ikan sebagai tempat yang kering untuk memancing dan menebarkan jala mereka. Selain itu di waduk Cengklik banyak ditumbuhi tanaman enceng gondok. Tanaman ini hampir dapat dijumpai di sepanjang tepian dari waduk tepatnya di sisi selatan dan sisi barat.  Mungkin menjadi masalah klasik bagi waduk yang berada di Indonesia bahwasanya saat ini waduk banyak ditumbuhi tanaman enceng gondok yang menjadi salah satu penyebab pendangkalan atau sedimentasi.

waduk cengklik boyolali
nelayan yang sedang menangkap ikan


Perhatian saya tertuju pada salah satu nelayan yang berada di tengah-tengah waduk. Meskipun memiliki ruang gerak yang cukup sempit ( karena terhalang oleh enceng gondok yang banyak tumbuh ) nelayan tersebut tetap mencoba mencari ikan dengan menebar jalanya, mencari tempat yang kemungkinan terdapat banyak ikannya. Saya hanya menemukan seorang nelayan yang menggunakan perahu sampai di tengah waduk, selebihnya hanya pencari ikan yang memancing di tepian waduk. Saya menghampiri seorang bapak yang sedang memancing dan berkesempatan berbincang-bincang dengan beliau, beliau menuturkan bahwa saat ini ikan di waduk ini semakin lama semakin sedikit, hal tersebut tejadi seiring dengan penyusutan jumlah air di waduk Cengklik ini. Bila jumlah air menurun otomatis jumlah ikan juga semakin sedikit. Saya juga menanyakan mengapa beliau tidak memancing ikan ke bagian tengah saja menggunakan perahu.

Kalau pakai perahu akan jauh lebih susah mas, soale banyak enceng gondoknya. Pernah sekali menggunakan perahu, banyak enceng gondok yang menabrak kebawa aliran air, malah susah menepikan perahunya

Itulah penuturan salah satu pencari ikan yang berhasil saya wawancarai di tempat ini. Beliau juga menuturkan bahwa ikan yang banyak didapat di tempat ini adalah ikan dengan jenis patin dan nila. Selebihnya saya menanyakan untuk keperluan apa beliau memancing ikan. Jauh dari perkiraan saya, bahwasanya ikan hasil tangkapan tersebut akan dijadikan lauk pauk, ternyata ikan yang di dapatkan digunakan untuk keperluan pakan ikan lele yang dia pelihara di kolam samping rumahnya :D 

waduk cengklik boyolali
seorang bapak yang sedang memancing di tepi waduk


Berada di kawasan waduk Cengklik selain dapat melihat aktifitas pencari ikan kita juga dapat melihat lalu lalang dan padatnya penerbangan di bandara Adi sumarmo Solo. Pesawat terbang yang melintas tepat di atas kita, maklum saja area waduk Cengklik berada di dekat dengan bandara, sehingga tidak sampai dalam hitungan jam sudah dipastikan dapat terlihat terbang rendang baik itu take off maupun landing. Selain di area waduk Cengklik, tempat memancing lainnya adalah sungai di sisi selatan dari waduk. Di sungai yang letaknya di tepian persawahan milik warga ini juga banyak dijumpai para pemancing ikan. Para pemancing dengan sabarnya menunggu umpan yang dipasangnya disambar ikan yang menjadi buruan mereka. Disini pula kita dapat melihat aktifitas lain yakni para petani padi yang melakukan aktifitas pertanian mengolah tanah di tengah-tengah kesibukan aktifitas perkotaan.    

Tempat ideal untuk hunting foto

Bagi yang suka akan kegiatan fotografi, waduk cengklik merupakan tempat yang ideal untuk hunting foto. Ada banyak spot menarik yang dapat diambil di waduk Cengklik. Selain aktifitas nelayan yang sedang menangkap ikan, aktifitas budidaya ikan yang ada di sisi selatan dari waduk juga tidak kalah menarik. Disana kita dapat melihat budidaya ikan  yang dilakukan menggunakan keramba yang membentang dari sisi barat sampai sisi sebelah timur dari waduk. Waktu terbaik untuk mengunjungi waduk Cengklik adalah ketika sore hari, dimana kita bisa menyaksikan matahari terbenam serta melihat cahaya orange yang perlahan-lahan mulai memudar.



Moment ini yang paling ditunggu-tunggu oleh para pemburu foto untuk mendapatkan gambar yang unik. Oya waduk Cengklik juga terkenal dikarenakan tempat ini sering digunakan sebagai tempat untuk mengambil foto serta banyak yang mengunggahnya ke media sosial. Alhasil waduk yang dahulu hanya digunakan hanya sebagai tempat untuk menampung air guna keperluan irigasi ini kini digunakan untuk wisata masyarakat sekitarnya, khususnya di kota Boyolali dan Solo.

waduk cengklik boyolali
begitu menghayati sampai-sampai masuk ke dalam rimbunan tumbuhan enceng gondok


Sore itu suasana waduk Cengkik cukup ramai dikunjungi oleh masyarakat untuk menghabiskan sore sambil bersenda gurau. Saya sengaja turun ke bagian tepi waduk yang mengering guna mengabadikan beberapa foto enceng gondok yang banyak tumbuh dan hampir menutupi bagian dari tepian waduk tersebut. Dibalik rimbunnya enceng gondok tiba-tiba muncul seseorang dengan membawa peralatan pancing dan melangkah menyusuri waduk,  menjauh ke arah sisi barat. Ternyata tanpa saya sadari di bagian bawah tempat saya duduk ada bapak-bapak yang sedang memancing ikan. Entah bagaimana posisi bapak tersebut ketika memancing karena saya tidak menyadarinya. Keberadaannya seakan berkamuflase dengan tanaman sekitarnya.

waduk cengklik boyolali
yang mengantar saya tidak ketinggalan mau ikut difoto 


Setelah kurang lebih 2 jam menghabiskan waktu di tempat ini, dan setelah senja tiba, kami memutuskan untuk pulang ke Solo. Dari pengalaman saya mengunjungi waduk Cengklik, saya sangat menyayangkan, waduk Cengklik seakan tidak terawat dan pemerintah sekitar tidak memberikan perhatian pada waduk yang saat ini mengalami masalah pendangkalan. Bila dikelola secara lebih serius, waduk Cengklik mungkin bisa menjadi wisata favorit di Kabupaten Boyolali. Selain menjadi tempat wisata yang menarik bagi masyarakat tentunya juga akan menambah pendapatan daerah dari hasil penjualan tiket masuk. Ah.. saya hanya bisa berandai-andai........

Sabtu, 10 Juni 2017

Berhenti sejenak di jalan tembus Tawangmangu ke Sarangan

Perjalanan menuju ke Telaga sarangan dari Tawangmangu hanya membutuhkan waktu 45 menit, namun pemandangan yang ditawarkannya cukup memberi alasan bagi rombongan kami untuk berhenti sejenak menikmati panorama yang disuguhkan. Hal itu kami alami beberapa bulan lalu ketika saya dan rekan-rekan dari tempat saya bekerja melakukan touring menuju Telaga Sarangan dari Tawangmangu. Kami yang bermalam di penginapan dekat dengan tempat wisata alam Tawangmangu melakukan perjalanan pada pagi hari sekitar jam 7.

 jalan tembus Tawangmangu ke Sarangan


Perjalanan rombongan kami dimulai dari tempat kami menginap di daerah dekat dengan tempat wisata alam Grojogan Sewu Tawangmangu. Pagi itu Bapak Santoso, salah satu anggota yang dituakan dan berpengalaman melakukan touring di daerah ini dipercaya memimpin doa. Beliau sedikit memberikan informasi bahwasanya di sepanjang jalan dari Tawangmangu ke Telaga Sarangan kemungkinan akan ada pungutan liar. Namun kami diharapkan untuk tidak berhenti di portal-portal yang dicurigai menjadi tempat pungutan liar tersebut.


Sebelum melakukan perjalanan ke Telaga Sarangan kami mengecek dulu barang-barang bawaan serta kendaraan kami. Pagi itu udara masih sangat dingin meskipun matahari sudah terlihat di sisi sebelah timur. Beberapa dari anggota kami masih terlihat enggan untuk beranjak dari penginapan. Maklum saja kami hanya tidur selama 2,5 jam setelah semalam berbincang-bincang sambil menikmati hidangan yang disuguhkan oleh pengelola penginapan. Tidak lupa sebelum kami berangkat melakukan perjalanan ke Telaga Sarangan, kami mengabadikan gambar terlebih dahulu.


Jalan dari Tawangmangu ke Sarangan atau seringkali orang menyebutnya sebagai jalan tembus Sarangan-Tawangmangu merupakan jalan yang menanjak serta terdapat banyak tikungan yang cukup curam. Jalan tersebut tidak hanya menghubungkan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Magetan saja namun juga menghubungkan dua Propinsi yakni Propinsi Jawa Tengah dan Propinsi Jawa Timur. Beberapa yang melakukan perjalanan ke Telaga Sarangan seringkali keliru dan menyangka bahwa Telaga ini masih dalam satu Kabupaten dengan tempat wisata alam Tawanngmangu. Hal tersebut tidaklah tepat mengingat Telaga Sarangan sudah masuk dalam wilayah Kabupaten Magetan Propinsi Jawa Timur.

 jalan tembus Tawangmangu ke Sarangan

Seperti yang saya utarakan sebelumnya, untuk mengunjungi Telaga Sarangan apabila dari Tawangmangu kita hanya memerlukan kurang lebih 45 menit perjalanan. Namun waktu itu rombongan kami beberapa kali berhenti di tepi jalan. Ya maklum saja, beberapa anggota menggunakan kendaraan yang tergolong sudah berumur. Oleh karenanya membuat mereka seringkali tertinggal di belakang dan memaksa kami untuk berhenti sejenak sambil menunggu anggota yang tertinggal. Meskipun demikian, tidak jarang kami malah berlama-lama di jalan mengabadikan pemandangan yang bagi kami sangat menarik. Berada di sisi selatan dari gunung Lawu dan berada di atas ketinggian membuat udara di sekitar cukup dingin. Pemandangan yang ditawarkan di sepanjang jalan tidak kalah menarik. Dari sini kami bisa melihat puncak dari gunung Lawu, entah itu puncak Hargo Dumilah atau puncak Hargo Dalem.

Hallo........

Perjalanan dilanjutkan melewati kawasan Cemoro Kandang dan Cemoro Sewu. Bagi yang suka dan pernah mendaki gunung Lawu pasti sudah akrab dengan kedua tempat tersebut, Cemoro Sewu menjadi salah satu pintu masuk pendakian gunung Lawu yang banyak dilalui oleh para pendaki. Disini pula kita bisa melihat beberapa angkutan yang membawa pendaki dengan tas-tas carrier mereka berhenti untuk melakukan retribusi. 3 tahun tidak melewati daerah ini perubahan yang paling banyak saya rasakan adalah bertambah banyaknya penjual makanan yang dapat kita temui di sepanjang jalan.


Di sepanjang perjalanan Tawangmangu-Telaga Sarangan kita seringkali berpapasan dengan beberapa kelompok touring lainnya. Beberapa lagi kita berjumpa dengan warga sekitar yang tinggal di daerah lereng Gunung Lawu sisi selatan. Dengan membawa gerobak sayur yang dikaitkan dengan motor mereka, mereka seringkali melintasi jalan yang menanjak dengan kecepatan cukup tinggi. 


Setelah melewati dearah Cemoro Sewu jalan yang akan kita lalui akan semakin lebar. Area hutan yang berada di sisi timur gunung Lawu menjadi hiburan tersendiri bagi pengguna jalan. Pengguna jalan akan dimanjakan dengan eksotisme hutan pinus serta pemandangan Telaga Sarangan yang terlihat dari ketinggian. Di penghujung jalan, sebelumnya kita akan melewati kawasan wisata Kampung Pinus Sarangan yang sering digunakan untuk kegiatan Dunhil Activity sebelum sampai masuk di kawasan wisata Telaga Sarangan.

Dengan dibangunnya jalan Tembus Tawangmangu - Telaga Sarangan tentunya akan menyingkat waktu perjalanan untuk mengunjungi kedua obyek wisata yang sama-sama terletak di lereng Gunung Lawu tersebut. Namun sebaiknya kita tetap berhati-hati ketika melintasi kawasan ini mengingat di beberapa titik seringkali terjadi kecelakaan. Semoga artikel ini sedikit memberi informasi bagi rekan-rekan yang ingin melakukan perjalanan dari arah Tawangmangu menuju ke Telaga Sarangan. Salam satu aspal.

Rabu, 07 Juni 2017

Candi Barong Prambanan, wujud pengharapan terhadap Dewi kesuburan

Candi Barong Prambanan-Yogyakarta. "Candi yang diatas sana itu namanya Candi Barong dek, lokasinya di atas bukit. Kalau mau kesana bisa lewat rute jalan mblusuk dari Candi Banyunibo ke timur lalu ikuti saja jalannya yang menanjak, atau adek lewat saja jalan arah SMP Prambanan Klaten lurus ke arah Spot Riyadi. Ikuti saja jalannya sampai menemukan papan penunjuk arah ke Candi Barong." 

Candi Barong Prambanan
Candi Barong Prambanan

Itulah obrolan singkat saya tentang dengan salah satu Bapak pegawai dinas purbakala yang saat itu sedang bertugas berjaga di loket pembelian tiket masuk tempat wisata budaya Candi Banyunibo. Memang saya sendiri mengetahui adanya Candi Barong ketika saya mengunjungi Candi Banyunibo. Menurut informasi yang saya peroleh, Candi Barong berlokasi tidak jauh dari Candi Banyunibo, oleh karenanya saya disarankan untuk mengunjungi Candi tersebut.

Rute menuju Candi Barong  

Secara administratif Candi Barong berlokasi di Dusun Candisari, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta. Bila rekan-rekan dari arah Jalan Yogya - Solo bisa melalui rute Prambanan ke selatan. Dari arah Yogya, kita berbelok ke selatan tepat di pertigaan jalan di sisi selatan gapura - ikuti jalan tersebut sampai menemukan jalan yang menanjak - belok kiri melewati SMP Prambanan Klaten -  sampai di pertigaan ambil kiri - ikuti jalan tersebut - sampai di pertigaan ( bila ke kiri ke arah Spot Riyadi ). Kita ikuti jalan yang ke kanan kurang lebih 1 km, kita sudah sampai di Candi Barong. Sebenarnya untuk bisa mencapai Candi Barong kita bisa saja melalui jalan di sisi timur Candi Bayunibo, namun rute tersebut cukup sulit dilalui dan menanjak, oleh karenanya bila rekan-rekan tidak suka dengan perjalanan yang sulit, bisa melewati rute yang telah saya sebutkan :D. 


Tempat pembelian tiket candi barong
Tempat pembelian tiket dan pusat informasi


Candi Barong bukanlah satu-satunya peninggalan purbakala yang bisa kita temukan di daerah tersebut. Di daerah itu kita juga bisa menemukan area dengan banyak bebatuan yang nampaknya belum dipugar. Situs Purbakala tersebut terletak di sisi kiri sebelum tempat pemesanan tiket masuk Candi Barong. Setelah membayar biaya masuk sebesar Rp.5000; saya pun bergegas menuju ke arah bangunan utama Candi Barong. 
Begitu mendengar Candi Barong, dalam pikiran saya terbersit sebuah Candi yang ukurannya tidaklah terlalu besar dan kondisinya tidak begitu terawat seperti beberapa situs purbakala lainnya yang biasa saya temukan di sekitar Kabupaten Klaten dan Kecamatan Prambanan. Namun dugaan saya ternyata tidak tepat. Candi Barong adalah sebuah Candi yang eksotis serta terawat dengan cukup baik yang lokasinya berada di atas bukit dengan pemandangan sekitar yang mempesona. Terletak pada bukit dengan ketinggian 199,27 meter di atas permukaan air laut, membuat Candi ini nampak megah apabila kita melihatnya dari area yang cukup jauh. 

Sudah berasa di Hollywod 


Pintu masuk Candi Barong berada di sisi Selatan Candi, namun saya malah masuk halaman Candi dari arah utara, alhasil saya harus memutar palataran disisi utara Candi terlebih dahulu sebelum sampai di pintu utama. Maklum saja, ini adalah kunjungan saya yang pertama, jadi belum hafal tentang bagian-bagian dari Candi Barong. Area di sisi utara Candi merupakan pelataran yang ditumbui oleh rerumputan. Di beberapa sudut disediakan gazebo yang bisa pengunjung gunakan sebagai tempat berteduh apabila hari sangat panas atau ketika turun hujan ; D. 

Sejarah Candi Barong 

Bersumber dari info yang saya baca di papan informasi, Keberadaan Candi Barong diketahui berdasarkan catatan dari Belanda yang disusun oleh ROD pada tahun 1915. Dalam catatan Belanda tersebut, Candi Barong disebut sebagai Candi Sari Soro Gedug. Namun oleh masyarakat sekitar candi tersebut lazim disebut sebagai Candi Barong. Hal itu dikarenakan adanya sebuah dekorasi kala yang oleh masyarakat Jawa diidentikkan dengan Barongan

Candi Barong dilihat dari sisi Timur


Candi Barongan didirikan sebagai tempat  bagi agama Hindu untuk memuja dewa Wisnu dan Dewi Sri. Dewa Wisnu merupakan salah satu Dewa dari Trimurti yang berkedudukan sebagai Dewa pemelihara. Sedangkan Dewi Sri merupakan salah satu cakti dari Dewa Wisnu, dianggap sebagai Dewi Padi dalam kehidupan masyarakat Jawa. Pemujaan kepada Dewa Wisnu dan Dewi Sri terkait dengan kehidupan masyarakat pada waktu itu yang sebagian besar menggantungkan hidupnya dari hasil pertanian. Oleh karena kondisi lingkungan yang tandus maka masyarakat sekitar berharap dengan melakukan pemujaan terhadap Dewa Wisnu dan Dewi Sri mendatangkan berkah berupa kesuburan dan hasil panen yang baik terhadap tanaman pangan yang mereka tanam di sekitar Candi Barong   



Untuk upaya pemugaran Candi Barong sendiri sudah dilakukan sejak tahun 1987 dengan diawali dengan pemugaran candi di sisi utara. Sewaktu pemugaran tersebut banyak ditemukan benda-benda arkeologis. Ditemukan pula 9 kotak berbentuk bujur sangkar yang merupakan gambaran dari wastupurusandamala. Menurut Stella Kramisch kotak yang terletak di tengah merupakan tempat terkumpulnya potensi gaib yang menguasai alam semesta, sedangkan ke 8 kotak lainnya merupakan penjelmaan dari Dewa mata angin.


Candi Barong terbagi menjadi 3 bagian. 

Hal yang membedakan candi Barong dengan candi-candi lainnya di daerah Yogyakarta adalah, selain candi ini berdiri di atas bukit yang cukup gersang Candi Barong mempunyai halaman atau pelataran yang cukup luas. Adapun 3 halaman atau tingkatan dari Candi Barong diantaranya: 

Halaman pertama merupakan halaman berupa area rerumputan yang luas dan berbentuk persegi, area ini menurut salah satu petugas yang berhasil saya wawancarai, pada sore hari sering digunakan sebagai tempat untuk mencari rumput oleh warga sekitar Candi guna keperluan pakan ternak mereka. Namun karena saya berkunjung pada saat siang hari, saya tidak menemukan pencari rumput yang dimaksudkan.

Halaman kedua merupakan pelataran yang cukup luas serta tidak dijumpai bangunan. Di sisi timur terdapat pagar terluar yang pada saat ditemukan masih terkubur di dalam tanah. Di halaman kedua ini kita bisa melihat bekas-bekas bangunan berupa pondasi yang terbuat dari batu andesit. Bekas pondasi yang ada mirip dengan beberapa bagian di Candi Ratu Boko. Kemungkinan bangunan yang berdiri di halaman kedua merupakan bangunan yang terbuat dari bahan kayu dan sudah rusak karena dimakan oleh usia.

Halaman ketiga merupakan bangunan utama dari Candi Barong. Terdapat 2 buah Candi yang berukuran 8,18 x 8,18 meter dengan ketinggian 9,15 meter. Bila kita perhatikan kedua Candi tersebut berada pada posisi yang tidak simetris. Untuk masuk ke halaman ketika terdapat sebuah pintu atau gapura kecil yang berhiaskan ornament kala pada bagian atasnya. Ornament kala di bagian ini memiliki ukuran paling besar dibandingkan dengan ornament serupa di bagian lain dari Candi Barong.

Candi Banyunibo yang nampak dilihat dari pelataran Candi Barong

Menurut informasi yang saya peroleh, Candi induk pada Candi Barong selesai dipugar pada tahun 1992. Pemugaran kemudian dilanjutkan dengan pemugaran talud dan pagar. Dalam proses pemugarannya ditemukan juga sejumlah penemuan arkeologis seperti dua buah patung Dewa Wisnu, dua bauh arca Dewi Sri, beberapa arca yang belum selesai dikerjakan dan sebuah arca dari Dewa Ganesha. Ditemukan juga kotak-kotak peripih yang terbuat dari batuan andesit. Di dalam kotak-kotak tersebut terdapat lembaran-lembaran emas serta perak. Pada lembaran emas terdapat goresan tulisan namun karena kondisinya rusak sehingga tidak bisa terbaca. Selain itu juga ditemukan pula sejumlah peralatan rumah tangga lainnya seperti guci, mangkuk keramik, mata kapak serta sendok.

salah satu sudut candi Barong


Berada di Candi Barong mengingatkan saya pada pengalaman mengunjungi Candi Ijo. Memang kedua Candi ini memiliki beberapa kemiripan. Kemiripan pertama, sama-sama terletak di atas bukit, yang kedua adalah bentuk dari Candi utama Candi Barong yang berjumlah 2 Candi, hampir mirip dengan bentuk dari Candi Ijo yang merupakan 3 candi kecil yang berada di sisi barat dari Candi Utama. Di bagian Candi utama dari Candi Barong, kita akan dapat menemukan beberapa relief dengan hiasan berupa sulur menghiasi area di sekitar relung kosong yang di bagian atasnya terdapat hiasan kala seperti yang telah saya sebutkan. Relung-relung kosong tersebut konon digunakan sebagai tempat meletakkan arca Dewa Wisnu dan Dewi Sri.

Relung kosong, konon dahulu digunakan untuk meletakkan arca Dewa Wisnu dan Dewi Sri


Pada saat saya mengunjungi Candi Barong, hanya terdapat 3 orang pengunjung yang datang ke tempat ini. Hal tersebut sangat berbeda dibandingkan dengan candi-candi lainnya yang banyak dikunjungi. Dimungkinkan akses yang cukup sulit dan minimnya informasi serta publikasi membuat candi ini sepi pengunjung.

ornament kala di pintu masuk teras ketiga

Candi Barong meskipun terletak di atas bukit serta memiliki akses yang sulit untuk dicapai namun saya rasa tempat wisata ini memiliki fasilitas pendukung yang cukup memadai. Di berbagai sudut telah disediakan beberapa gazebo yang bisa dimanfaatkan pengunjung untuk beristirahat, layanan informasi, toilet serta mushola. Hal yang perlu dibenahi oleh pengelola tentu saja area parkir, mengingat area parkir di tempat wisata ini masih sempit dan masih terbuat dari bangunan semipermanen. Harapannya dengan adanya fasilitas yang memadai dan dengan didukung sarana informasi serta publikasi yang cukup, masyarakat menjadi lebih mengetahui keberadaan candi ini dan dapat menumbuhkan minat untuk mengunjungi tempat-tempat wisata budaya lainnya.


fasilitas di Candi Barong

Mengunjungi Candi Barong dan menelisik lebih dalam tentang sejarahnya setidaknya bisa membuka wawasan kita dan mengetahui rekam jejak kehidupan masa lalu nenek moyang kita, bangsa Indonesia. Meskipun berada di tanah yang tandus namun masyarakat pada jaman dahulu yang hidup di sekitar Candi Barong tidak lantas kehilangan akan pengharapan. Pengharapan akan kesuburan tanah, pengharapan akan hasil panen yang melimpah, semua dipanjatkan dengan ucapan syukur kepada Dewa Wisnu serta Dewi Sri sang dewi Padi dan Dewi Kesuburan.

"Bagaimana, pembaca tertarik mengunjungi Candi Barong ??"


Rabu, 31 Mei 2017

blusukan ke curug gede patuk gunungkidul yogyakarta

Berawal dari adanya sebuah plakat penunjuk arah menuju ke sebuah curug yang terlihat ketika saya mengunjungi Gunung Api Purba, saya bersama dengan rekan saya berkesempatan mengunjungi Curug tersebut. Curug yang dimaksud bernama Curug Gede yang terletak di Dusun Gambyong, Desa Oro-oro, Kecamatan Patuk Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Sebelumnya kunjungan kali ini, saya beberapa waktu yang lalu pernah "hampir" sampai ke tempat ini, namun karena pada waktu itu akses jalan ke Curug Gede sempat di tutup karena ada upaya perbaikan jalan, sayapun harus mengurungkan niat untuk sekedar bisa ngadem di curug yang letaknya di perbatasan antara Kabupaten Sleman dan Kabupaten Gunungkidul ini.

curug gede patuk gunungkidul
curug gede patuk gunungkidul 

Memasuki pergantian musim antara musim penghujan dan musim kemarau adalah waktu yang tepat untuk mencari dan mengunjungi curug. Di wilayah Gununkidul Yogyakarta memang terdapat beberapa curug atau air terjun kecil yang sifatnya musiman. Dikatakan musiman karena apabila musim kemarau tiba beberapa curug mengalami penyusutan debit air atau bahkan tidak memiliki air sama sekali sehingga akan berupa sebuah tebing yang gersang. Sedangkan apabila musim penghujan, curug-curug tersebut memiliki air yang cukup banyak namun berwarna keruh. Hal itu disebabkan oleh adanya lumpur yang terbawa oleh aliran air sehingga menyebabkan warna airnya kecoklatan.

Rute menuju Curug Gede Patuk Yogyakarta

Dari Yogyakarta - menuju ke arah Wonosari Gunungkidul - Sampai di perempatan kantor Polisi sektor Patuk kita belok ke kiri ( ke arah wisata Gunung Api Purba ) - melalui desa Oro-Oro dan melewati area dengan beberapa tower televisi - Ikuti jalan tersebut sampai di perempatan Puskesmas Patuk I ( Puskesmasnya di sisi kanan jalan ) - perhatikan arah, bila kita ke kanan kita menuju ke Gunung Api Purba - lurus menuju Klaten - sedangkan kiri menuju ke Curug Gede atau ke arah Sendang Sriningsih. Ambil jalan yang kiri kurang lebih 3-4 km kita sudah sampai di Curug Gede Patuk Gunungkidul.  

Jalan menuju ke Curug Gede Patuk Gunungkidul tidak seperti yang saya bayangkan. Bilamana dulu saya terpaksa membatalkan kunjungan saya ke Curug Gede karena ada perbaikan jalan, harapannya, kunjungan saya kali ini saya bisa melewati rute yang mulus dan mudah untuk dilalui. Namun ternyata kondisi jalan yang harus saya lalui tidak jauh berbeda dari beberapa waktu lalu. Jalan menuju ke Curug Gede ternyata masih dalam proses perbaikan dan belum sepenuhnya selesai. Area yang berpasir dan berdebu merupakan rute yang harus dilewati untuk sampai Curug Gede Patuk Gunungkidul.

jalan menuju curug gede patuk
jalan menuju curug gede

Untuk sampai ke Curug Gede Patuk Gunungkidul, apabila rekan-rekan dari kota Yogyakarta akan memerlukan waktu sekitar 45 menit sampai satu jam perjalanan dengan kendaraan bermotor. Sebenarnya rekan-rekan bisa saja melewati jalan yang lain, yakni jalan mblusuk melewati Prambanan -  Candi Ijo - Sendangsriningsih serta melewati desa-desa kecil lainnya. Namun saya tetap merekomendasikan rute Patuk selain memiliki penunjuk arah yang jelas, kondisi jalan melalui rute Patuk lebih baik apabila dibandingkan dengan jalan melewati Sendangsriningsih.

untuk bisa menuju curug harus melewati jalan yang terbuat dari bambu


Sampai di area Curug Gede Patuk, saya memarkirkan kendaraan bermotor saya pada sebuah warung yang letaknya tidak jauh dari arah pintu masuk. Untuk bisa masuk ke Curug Gede pada waktu itu tidak dipungut retribusi sepeserpun. Menyusuri rute masuk ke arah Curug Gede dari arah tempat parkir terlihat bahwa tempat wisata ini kurang terawat. Dengan melewati jalan yang terbuat dari tatanan bambu yang sudah lapuk dimakan usia kami harus berhati hati dalam melangkah karena di bawah kami adalah selokan air dan di sisi kanan kami adalah area persawahan yang cukup dalam.



Untuk bisa ke lokasi Curug Gede Patuk, kami harus melewati jalan yang menurun serta belum dimistar. Sebuah tali tampar yang disediakan agaknya cukup membantu kami sebagai sebuah pegangan karena jalan yang dilalui terlalu licin oleh banyaknya debu dan kerikil di sekitarnya. Tidak jauh kami melangkah suara gemericik air sudah bisa terdengar dari arah kanan bawah kami. Setelah melewati sebuah gubuk kecil dan melewati beberapa anak tangga akhirnya sampailah kami ke Curug Gede Patuk Gunungkidul.

curug gede gunungkidul
ini dia air terjun mungil, curug gede gunungkidul


Pada saat kami mengunjungi Curug Gede tempat ini sepi oleh pengunjung. Hanya terlihat beberapa orang yang sedang asik memancing di bagian bawah Curug. Dari merekapulalah saya mengetahui bahwa tempat dimana jatuhnya air atau bagian kubanggar tidak terlalu dalam. Pasalnya beberapa diantara mereka memancing hampir mendekati tepat disisi bagian bawah Curug. Bila kita perhatikan, air yang berasal dari atas tidak langsung jatuh ke sisi bawah, melainkan menimpa dinding tebing terlebih dahulu sehingga menciptakan cipratan air yang membasahi area sekitar curug dan membuat area sekitarnya menjadi licin untuk dipijak.

beberapa orang yang sedang memancing di curug gede

Karena penasaran akan apa yang mereka dapat, sayapun turun dan berbincang-bincang dengan mereka. Saat itu mereka belum mendapatkan satupun ikan karena mereka juga baru datang untuk memancing di tempat ini.  Menurut mereka area Curug Gede akan sangat ramai pada hari Minggu. Beberapa pengunjung seringkali datang secara rombongan dan beberapa diantara pengunjung juga sering camping serta mendirikan tenda di sekitar aliran sungai di sisi bagian bawah Curug. Oleh karenanya untuk keperluan memancing mereka menghindari hari Minggu atau hari-hari dimana tempat ini banyak dikunjungi orang termasuk di hari-hari besar nasional.

 
Menyusuri kawasan Curug Gede Patuk, kita akan menemukan suasana yang masih sangat tenang dan cukup asri. Tempat ini cocok digunakan sebagai tempat untuk sekedar ngadem meskipun akses menuju ke tempat ini tergolong cukup sulit dilalui. Fasilitas di tempat ini juga sangat minim.Hanya terdapat dua gazebo yang kondisinya sudah rusak.


Karena waktu itu sudah sore dan kami harus kembali ke Yogyakarta guna memesan tiket kereta api tujuan Solo, kamipun tidak bisa berlama-lama di tempat ini. Harapannya kami bisa mengunjungi lagi Curug Gede di Desa Patuk ini tentunya dengan kondisi yang jauh lebih terawat dan dengan fasilitas yang cukup ramah bagi pengunjung :D. Semoga dengan artikel sederhana ini menambah minat rekan-rekan semua untuk mengunjungi Curug Gede di Desa Patuk Kabupaten Gunungkidul.