Rabu, 14 Juni 2017

ziarah ke Goa Maria Mojosongo Solo

Dalam perjalanan ke Kota Solo, saya tiba-tiba diingatkan pada salah satu tempat ziarah umat Katolik yang dulu pernah saya kunjungi 7 tahun silam. Goa Mojosongo adalah nama tempat ziarah yang dimaksudkan. Puji Tuhan, minggu kedua di bulan Juni tahun ini, dimana rekan dan sahabat saya yang beragama muslim sedang menjalankan ibadah puasa, saya berkesempatan mengunjungi serta berziarah di dua tempat ziarah sekaligus yakni Goa Maria Sendangsriningsih dan Goa Maria Mojosongo Solo yang lokasinya cukup tersembunyi di antara rumah-rumah penduduk di kota Surakarta. 

Goa maria Mojosongo Solo
Patung Maria di depan Goa Mojosongo 

Rute menuju Goa Maria Mojosongo Solo

Bagi yang belum pernah ke Goa Maria Mojosongo, mungkin akan sedikit kesulitan untuk mencapai tempat ini karena lokasinya masuk ke dalam area perkampungan. Goa Maria Mojosongo berlokasi di Kampung Debegan RT.04 / RW.05, Mojosongo, Jebres, Kota Surakarta. Bila rekan rekan dari arah Terminal Tirtonadi, terus saja sampai menemukan perempatan di sisi utara RS, dr Oen Kandang Sapi. Setelah itu belok ke utara arah menuju ke perempatan Mojosongo. Sampai di dekat TATV perhatikan plakat penunjuk arah ke Goa Maria di sisi kiri jalan. Lokasi Goa Maria berada di sebuah gang masuk di sisi kiri Jalan Brigjen Katamso.

Goa maria Mojosongo Solo
Taman Getshemani


Masuk di area Goa Maria kita akan menemukan dua patung besar yakni sebuah patung Bunda Maria dan patung Yosef yang berdiri di bagian samping kiri dan kanan gerbang. Kedua patung tersebut seakan menyambut peziarah yang datang ke tempat ini. Ada hal unik dan menjadi kebiasaan pengunjung yang datang ke Goa Maria ini, yakni sebelum masuk ke area peziarahan pengunjung mengusap salah satu patung kemudian membuat tanda Salib.

Goa maria Mojosongo Solo
salah satu sudut taman getshemani


Pada intinya tempat ini dibagi menjadi 7 bagian salah satunya adalah Taman Getshemani. Di taman Getshemani ini juga terdapat sebuah patung Yesus Kristus yang tengah sujud di tengah sebuah kolam. Di tempat ini pula terdapat beberapa terjemahan doa Bapa Kami dalam beberapa bahasa, Bahasa latin, English, Jawa dan tentunya Bahasa Indonesia.

Goa maria Mojosongo Solo


Dari Taman Getshemani kita menuju ke tempat dimana terdapat salib Yubelium. Salib Yubelium berada di sisi kanan belakang dari area Goa Maria. Saya bertemu dengan beberapa orang yang datang silih berganti. Beberapa diantaranya masih menggunakan seragam kantor dan seragam sekolah. Agaknya tempat ini sering dikunjungi oleh beberapa orang yang sengaja menyempatkan diri untuk berdoa setelah mereka pulang dari bekerja atau sekolah. Di samping kiri Salib Yubelium terdapat sebuah Pieta atau patung Bunda Maria membawa Yesus yang telah wafat disalibkan.

salah satu sudut pemberhentian jalan salib

Area jalan salin di Goa Maria Mojosongo berada di sisi kiri dari bangunan utama. Jarak antara satu pemberhentian dengan yang lainnya tergolong dekat. Semua tempat pemberhentian jalan salib terbuat dari ukiran batu alam. Ukiran batu alam tersebut berpadu dengan taman yang tertata dengan rapi rindah membuat tempat ini cukup asri meskipun berada di tengah pemukiman penduduk.

Kapel adorasi Ekaristi


Hal yang membedakan tempat peziarahan ini dengan tempat peziarahan lainnya, bila di beberapa tempat peziarahan Goa Maria berada di luar ruangan, tidak halnya dengan Goa Maria Mojosongo dimana Goa Maria sendiri berada di dalam bangunan utama. Goa Maria terlihat kecil dan berada di pojok kiri. Saya bertemu dengan beberapa ibu-ibu yang berdoa di depan Goa Maria. Di bagian tengah dari bangunan utama, terdapat tempat untuk adorasi sakramen mahakudus dimana penganut Katolik percaya bahwa TubuhDarah, Jiwa, dan Keilahian-Nya hadir dalam rupa hosti yang telah dikonsekrasi. 



Bagi saya pribadi, Goa Maria Mojosongo seakan menjadi oase tersendiri di tengah kesibukan kota Solo. Tempatnya cukup sejuk dan hening membuat peziarah akan betah berlama-lama disini. Tempat ziarah ini juga terbuka untuk umum dalam artian umat lain boleh mengunjunginya. Hal yang perlu diperhatikan ketika mengunjungi tempat ini adalah, kita wajib tetap menjaga keheningan sikap mengingat tempat ini digunakan sebagai tempat untuk berdoa. 

Siapa sangka di tengah pemukiman penduduk yang cukup padat di kota Solo terdapat tempat ziarah umat Katolik yang bernama Goa Maria Mojosongo.   

Senin, 12 Juni 2017

sore hari di waduk cengklik Boyolali

Waduk Cengklik Solo-Boyolali. Ingin menikmati suasana sunset yang lain di kawasan perbatasan kota Solo dengan Kabupaten Boyolali?, waduk Cengklik tempatnya. Waduk Cengklik terletak di desa Margorejo, Kecamatan Ngemplak Kabupaten Boyolali. Waduk yang terkenal cukup angker ini menjadi tempat wisata yang bisa anda kunjungi apabila anda berkunjung di kota Solo ( letaknya kurang lebih 3 km dari Bandara Adi Sumarmo ) untuk menghabiskan waktu di sore hari dan berburu sunset sambil melihat para pencari ikan yang banyak dijumpai di tempat ini.

waduk cengklik boyolali
perahu milik nelayan yang berada di tepi waduk yang terdapat banyak enceng gondok


Kali ini saya berkesempatan berkunjung di salah satu obyek wisata buatan yakni obyek wisata waduk yang terletak di Kabupaten Boyolali tidak jauh dari Bandara Adi Sumarmo Solo. Karena letaknya yang tidak begitu jauh dari kota Solo tidak jarang orang beranggapan bahwa waduk Cengklik masih masuk dalam administratif kota Solo, hal tersebut tidak benar. Secara administratif waduk Cengklik berada pada wilayah administratif Kabupaten Boyolali. Waduk yang sudah dibangun sejak jaman pemerintahan kolonial Belanda ini kini menjadi tempat yang cukup menarik untuk berhunting foto terutama bagi pecinta fotografi di kota Solo dan sekitarnya.




Pengalaman mengunjungi Waduk Cengklik merupakan pengalaman yang pertama bagi saya. Karena sering ke kota Solo, maka saya sudah cukup hafal tempat-tempat wisata yang patut untuk dikunjungi dan tempat wisata yang cocok untuk menghabiskan waktu di sore hari. Seringkali saya mengunjungi taman wisata Balekambang yang letaknya di dekat terminal Tirtonadi, namun karena sudah terlalu sering kesana, maka saya mencari spot menarik lainnya di pinggiran kota Solo, yakni di waduk Cengklik 

Bagi yang suka akan kegiatan memancing terutama di kota Solo, tentu saja sudah tidak asing lagi dengan Waduk Cengklik. Waduk Cengklik menjadi salah satu tempat memancing favorit dari sekian tempat memancing di kawasan Solo dan sekitarnya. Waduk yang dibangun tahun 1926-1928 oleh Pura Mangkunegara ini memiliki area keramba yang cukup luas serta terdapat jasa penyedia perahu yang dapat disewa baik itu oleh wisatawan ataupun para pemancing yang ingin memancing sampai di tengah danau.       

Rute menuju waduk Cengklik

Waduk Cengklik dapat dengan mudah kita capai. Lokasi waduk Cengklik cukup strategis yakni berlokasi di dekat Bandara Adi Sumarmo dan embarkasi haji. Jika rekan-rekan datang dari arah Yogya atau Klaten, setelah sampai Kartasura, perhatikan papan penunjuk arah di pertigaan yang mengarah ke bandara Adi Sumarmo. Ambil ke kiri ikuti jalan tersebut sampai menemukan perempatan pada jembatan. Sampai di perempatan ambil arah ke kiri ikuti jalan tersebut sampai menemukan waduk Cengklik. Lokasi waduk Cengklik masih 3 km lagi dari perempatan jembatan. 

Keindahan waduk cengklik  

Setelah menyusuri jalanan yang berlubang akhirnya kami sampai di waduk Cengklik. Jika anda dari arah selatan maka pintu masuk kawasan waduk Cengklik ini mungkin tidak terlihat, mengingat area di sekitarnya cukup “kumuh” serta papan tempat wisata yang ada tidak begitu jelas karena telah dimakan usia. Agaknya pemerintah sekitar tidak terlalu memperhatikan keberadaan waduk ini dan tidak mencoba menggali potensi wisata yang ada. Setelah membayar biaya masuk dengan harga Rp.3000; ( biaya retribusi diminta oleh seorang yang tidak mengenakan seragam resmi ) kami diperbolehkan masuk di kawasan waduk dengan tetap membawa motor kami. Sebelumnya saya menanyakan adakah karcis sebagai bukti biaya masuk kawasan waduk Cengklik ? pemuda tersebut mengatakan bahwa tidak ada karcis dan dana disetorkan untuk uang khas muda-mudi sekitar. Memasuki area waduk Cengklik terlihat sejumlah warga terutama anak-anak muda terlihat sedang bersenda gurau di tepian waduk serta beberapa diantaranya sedang mengabadikan moment yang ada, tidak lain adalah mencoba memotret matahari terbenam dan memotret aktifitas pencari ikan yang banyak dijumpai di tempat ini.

waduk cengklik boyolali
di sudut waduk cengklik


Pada saat saya berkunjung ke tempat ini, air yang ada mengalami penyusutan. Hal ini terlihat dengan mengeringnya tepian waduk sehingga di beberapa sudut dapat digunakan oleh para pencari ikan sebagai tempat yang kering untuk memancing dan menebarkan jala mereka. Selain itu di waduk Cengklik banyak ditumbuhi tanaman enceng gondok. Tanaman ini hampir dapat dijumpai di sepanjang tepian dari waduk tepatnya di sisi selatan dan sisi barat.  Mungkin menjadi masalah klasik bagi waduk yang berada di Indonesia bahwasanya saat ini waduk banyak ditumbuhi tanaman enceng gondok yang menjadi salah satu penyebab pendangkalan atau sedimentasi.

waduk cengklik boyolali
nelayan yang sedang menangkap ikan


Perhatian saya tertuju pada salah satu nelayan yang berada di tengah-tengah waduk. Meskipun memiliki ruang gerak yang cukup sempit ( karena terhalang oleh enceng gondok yang banyak tumbuh ) nelayan tersebut tetap mencoba mencari ikan dengan menebar jalanya, mencari tempat yang kemungkinan terdapat banyak ikannya. Saya hanya menemukan seorang nelayan yang menggunakan perahu sampai di tengah waduk, selebihnya hanya pencari ikan yang memancing di tepian waduk. Saya menghampiri seorang bapak yang sedang memancing dan berkesempatan berbincang-bincang dengan beliau, beliau menuturkan bahwa saat ini ikan di waduk ini semakin lama semakin sedikit, hal tersebut tejadi seiring dengan penyusutan jumlah air di waduk Cengklik ini. Bila jumlah air menurun otomatis jumlah ikan juga semakin sedikit. Saya juga menanyakan mengapa beliau tidak memancing ikan ke bagian tengah saja menggunakan perahu.

Kalau pakai perahu akan jauh lebih susah mas, soale banyak enceng gondoknya. Pernah sekali menggunakan perahu, banyak enceng gondok yang menabrak kebawa aliran air, malah susah menepikan perahunya

Itulah penuturan salah satu pencari ikan yang berhasil saya wawancarai di tempat ini. Beliau juga menuturkan bahwa ikan yang banyak didapat di tempat ini adalah ikan dengan jenis patin dan nila. Selebihnya saya menanyakan untuk keperluan apa beliau memancing ikan. Jauh dari perkiraan saya, bahwasanya ikan hasil tangkapan tersebut akan dijadikan lauk pauk, ternyata ikan yang di dapatkan digunakan untuk keperluan pakan ikan lele yang dia pelihara di kolam samping rumahnya :D 

waduk cengklik boyolali
seorang bapak yang sedang memancing di tepi waduk


Berada di kawasan waduk Cengklik selain dapat melihat aktifitas pencari ikan kita juga dapat melihat lalu lalang dan padatnya penerbangan di bandara Adi sumarmo Solo. Pesawat terbang yang melintas tepat di atas kita, maklum saja area waduk Cengklik berada di dekat dengan bandara, sehingga tidak sampai dalam hitungan jam sudah dipastikan dapat terlihat terbang rendang baik itu take off maupun landing. Selain di area waduk Cengklik, tempat memancing lainnya adalah sungai di sisi selatan dari waduk. Di sungai yang letaknya di tepian persawahan milik warga ini juga banyak dijumpai para pemancing ikan. Para pemancing dengan sabarnya menunggu umpan yang dipasangnya disambar ikan yang menjadi buruan mereka. Disini pula kita dapat melihat aktifitas lain yakni para petani padi yang melakukan aktifitas pertanian mengolah tanah di tengah-tengah kesibukan aktifitas perkotaan.    

Tempat ideal untuk hunting foto

Bagi yang suka akan kegiatan fotografi, waduk cengklik merupakan tempat yang ideal untuk hunting foto. Ada banyak spot menarik yang dapat diambil di waduk Cengklik. Selain aktifitas nelayan yang sedang menangkap ikan, aktifitas budidaya ikan yang ada di sisi selatan dari waduk juga tidak kalah menarik. Disana kita dapat melihat budidaya ikan  yang dilakukan menggunakan keramba yang membentang dari sisi barat sampai sisi sebelah timur dari waduk. Waktu terbaik untuk mengunjungi waduk Cengklik adalah ketika sore hari, dimana kita bisa menyaksikan matahari terbenam serta melihat cahaya orange yang perlahan-lahan mulai memudar.



Moment ini yang paling ditunggu-tunggu oleh para pemburu foto untuk mendapatkan gambar yang unik. Oya waduk Cengklik juga terkenal dikarenakan tempat ini sering digunakan sebagai tempat untuk mengambil foto serta banyak yang mengunggahnya ke media sosial. Alhasil waduk yang dahulu hanya digunakan hanya sebagai tempat untuk menampung air guna keperluan irigasi ini kini digunakan untuk wisata masyarakat sekitarnya, khususnya di kota Boyolali dan Solo.

waduk cengklik boyolali
begitu menghayati sampai-sampai masuk ke dalam rimbunan tumbuhan enceng gondok


Sore itu suasana waduk Cengkik cukup ramai dikunjungi oleh masyarakat untuk menghabiskan sore sambil bersenda gurau. Saya sengaja turun ke bagian tepi waduk yang mengering guna mengabadikan beberapa foto enceng gondok yang banyak tumbuh dan hampir menutupi bagian dari tepian waduk tersebut. Dibalik rimbunnya enceng gondok tiba-tiba muncul seseorang dengan membawa peralatan pancing dan melangkah menyusuri waduk,  menjauh ke arah sisi barat. Ternyata tanpa saya sadari di bagian bawah tempat saya duduk ada bapak-bapak yang sedang memancing ikan. Entah bagaimana posisi bapak tersebut ketika memancing karena saya tidak menyadarinya. Keberadaannya seakan berkamuflase dengan tanaman sekitarnya.

waduk cengklik boyolali
yang mengantar saya tidak ketinggalan mau ikut difoto 


Setelah kurang lebih 2 jam menghabiskan waktu di tempat ini, dan setelah senja tiba, kami memutuskan untuk pulang ke Solo. Dari pengalaman saya mengunjungi waduk Cengklik, saya sangat menyayangkan, waduk Cengklik seakan tidak terawat dan pemerintah sekitar tidak memberikan perhatian pada waduk yang saat ini mengalami masalah pendangkalan. Bila dikelola secara lebih serius, waduk Cengklik mungkin bisa menjadi wisata favorit di Kabupaten Boyolali. Selain menjadi tempat wisata yang menarik bagi masyarakat tentunya juga akan menambah pendapatan daerah dari hasil penjualan tiket masuk. Ah.. saya hanya bisa berandai-andai........

Sabtu, 10 Juni 2017

Berhenti sejenak di jalan tembus Tawangmangu ke Sarangan

Perjalanan menuju ke Telaga sarangan dari Tawangmangu hanya membutuhkan waktu 45 menit, namun pemandangan yang ditawarkannya cukup memberi alasan bagi rombongan kami untuk berhenti sejenak menikmati panorama yang disuguhkan. Hal itu kami alami beberapa bulan lalu ketika saya dan rekan-rekan dari tempat saya bekerja melakukan touring menuju Telaga Sarangan dari Tawangmangu. Kami yang bermalam di penginapan dekat dengan tempat wisata alam Tawangmangu melakukan perjalanan pada pagi hari sekitar jam 7.

 jalan tembus Tawangmangu ke Sarangan


Perjalanan rombongan kami dimulai dari tempat kami menginap di daerah dekat dengan tempat wisata alam Grojogan Sewu Tawangmangu. Pagi itu Bapak Santoso, salah satu anggota yang dituakan dan berpengalaman melakukan touring di daerah ini dipercaya memimpin doa. Beliau sedikit memberikan informasi bahwasanya di sepanjang jalan dari Tawangmangu ke Telaga Sarangan kemungkinan akan ada pungutan liar. Namun kami diharapkan untuk tidak berhenti di portal-portal yang dicurigai menjadi tempat pungutan liar tersebut.


Sebelum melakukan perjalanan ke Telaga Sarangan kami mengecek dulu barang-barang bawaan serta kendaraan kami. Pagi itu udara masih sangat dingin meskipun matahari sudah terlihat di sisi sebelah timur. Beberapa dari anggota kami masih terlihat enggan untuk beranjak dari penginapan. Maklum saja kami hanya tidur selama 2,5 jam setelah semalam berbincang-bincang sambil menikmati hidangan yang disuguhkan oleh pengelola penginapan. Tidak lupa sebelum kami berangkat melakukan perjalanan ke Telaga Sarangan, kami mengabadikan gambar terlebih dahulu.


Jalan dari Tawangmangu ke Sarangan atau seringkali orang menyebutnya sebagai jalan tembus Sarangan-Tawangmangu merupakan jalan yang menanjak serta terdapat banyak tikungan yang cukup curam. Jalan tersebut tidak hanya menghubungkan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Magetan saja namun juga menghubungkan dua Propinsi yakni Propinsi Jawa Tengah dan Propinsi Jawa Timur. Beberapa yang melakukan perjalanan ke Telaga Sarangan seringkali keliru dan menyangka bahwa Telaga ini masih dalam satu Kabupaten dengan tempat wisata alam Tawanngmangu. Hal tersebut tidaklah tepat mengingat Telaga Sarangan sudah masuk dalam wilayah Kabupaten Magetan Propinsi Jawa Timur.

 jalan tembus Tawangmangu ke Sarangan

Seperti yang saya utarakan sebelumnya, untuk mengunjungi Telaga Sarangan apabila dari Tawangmangu kita hanya memerlukan kurang lebih 45 menit perjalanan. Namun waktu itu rombongan kami beberapa kali berhenti di tepi jalan. Ya maklum saja, beberapa anggota menggunakan kendaraan yang tergolong sudah berumur. Oleh karenanya membuat mereka seringkali tertinggal di belakang dan memaksa kami untuk berhenti sejenak sambil menunggu anggota yang tertinggal. Meskipun demikian, tidak jarang kami malah berlama-lama di jalan mengabadikan pemandangan yang bagi kami sangat menarik. Berada di sisi selatan dari gunung Lawu dan berada di atas ketinggian membuat udara di sekitar cukup dingin. Pemandangan yang ditawarkan di sepanjang jalan tidak kalah menarik. Dari sini kami bisa melihat puncak dari gunung Lawu, entah itu puncak Hargo Dumilah atau puncak Hargo Dalem.

Hallo........

Perjalanan dilanjutkan melewati kawasan Cemoro Kandang dan Cemoro Sewu. Bagi yang suka dan pernah mendaki gunung Lawu pasti sudah akrab dengan kedua tempat tersebut, Cemoro Sewu menjadi salah satu pintu masuk pendakian gunung Lawu yang banyak dilalui oleh para pendaki. Disini pula kita bisa melihat beberapa angkutan yang membawa pendaki dengan tas-tas carrier mereka berhenti untuk melakukan retribusi. 3 tahun tidak melewati daerah ini perubahan yang paling banyak saya rasakan adalah bertambah banyaknya penjual makanan yang dapat kita temui di sepanjang jalan.


Di sepanjang perjalanan Tawangmangu-Telaga Sarangan kita seringkali berpapasan dengan beberapa kelompok touring lainnya. Beberapa lagi kita berjumpa dengan warga sekitar yang tinggal di daerah lereng Gunung Lawu sisi selatan. Dengan membawa gerobak sayur yang dikaitkan dengan motor mereka, mereka seringkali melintasi jalan yang menanjak dengan kecepatan cukup tinggi. 


Setelah melewati dearah Cemoro Sewu jalan yang akan kita lalui akan semakin lebar. Area hutan yang berada di sisi timur gunung Lawu menjadi hiburan tersendiri bagi pengguna jalan. Pengguna jalan akan dimanjakan dengan eksotisme hutan pinus serta pemandangan Telaga Sarangan yang terlihat dari ketinggian. Di penghujung jalan, sebelumnya kita akan melewati kawasan wisata Kampung Pinus Sarangan yang sering digunakan untuk kegiatan Dunhil Activity sebelum sampai masuk di kawasan wisata Telaga Sarangan.

Dengan dibangunnya jalan Tembus Tawangmangu - Telaga Sarangan tentunya akan menyingkat waktu perjalanan untuk mengunjungi kedua obyek wisata yang sama-sama terletak di lereng Gunung Lawu tersebut. Namun sebaiknya kita tetap berhati-hati ketika melintasi kawasan ini mengingat di beberapa titik seringkali terjadi kecelakaan. Semoga artikel ini sedikit memberi informasi bagi rekan-rekan yang ingin melakukan perjalanan dari arah Tawangmangu menuju ke Telaga Sarangan. Salam satu aspal.

Rabu, 07 Juni 2017

Candi Barong Prambanan, wujud pengharapan terhadap Dewi kesuburan

Candi Barong Prambanan-Yogyakarta. "Candi yang diatas sana itu namanya Candi Barong dek, lokasinya di atas bukit. Kalau mau kesana bisa lewat rute jalan mblusuk dari Candi Banyunibo ke timur lalu ikuti saja jalannya yang menanjak, atau adek lewat saja jalan arah SMP Prambanan Klaten lurus ke arah Spot Riyadi. Ikuti saja jalannya sampai menemukan papan penunjuk arah ke Candi Barong." 

Candi Barong Prambanan
Candi Barong Prambanan

Itulah obrolan singkat saya tentang dengan salah satu Bapak pegawai dinas purbakala yang saat itu sedang bertugas berjaga di loket pembelian tiket masuk tempat wisata budaya Candi Banyunibo. Memang saya sendiri mengetahui adanya Candi Barong ketika saya mengunjungi Candi Banyunibo. Menurut informasi yang saya peroleh, Candi Barong berlokasi tidak jauh dari Candi Banyunibo, oleh karenanya saya disarankan untuk mengunjungi Candi tersebut.

Rute menuju Candi Barong  

Secara administratif Candi Barong berlokasi di Dusun Candisari, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta. Bila rekan-rekan dari arah Jalan Yogya - Solo bisa melalui rute Prambanan ke selatan. Dari arah Yogya, kita berbelok ke selatan tepat di pertigaan jalan di sisi selatan gapura - ikuti jalan tersebut sampai menemukan jalan yang menanjak - belok kiri melewati SMP Prambanan Klaten -  sampai di pertigaan ambil kiri - ikuti jalan tersebut - sampai di pertigaan ( bila ke kiri ke arah Spot Riyadi ). Kita ikuti jalan yang ke kanan kurang lebih 1 km, kita sudah sampai di Candi Barong. Sebenarnya untuk bisa mencapai Candi Barong kita bisa saja melalui jalan di sisi timur Candi Bayunibo, namun rute tersebut cukup sulit dilalui dan menanjak, oleh karenanya bila rekan-rekan tidak suka dengan perjalanan yang sulit, bisa melewati rute yang telah saya sebutkan :D. 


Tempat pembelian tiket candi barong
Tempat pembelian tiket dan pusat informasi


Candi Barong bukanlah satu-satunya peninggalan purbakala yang bisa kita temukan di daerah tersebut. Di daerah itu kita juga bisa menemukan area dengan banyak bebatuan yang nampaknya belum dipugar. Situs Purbakala tersebut terletak di sisi kiri sebelum tempat pemesanan tiket masuk Candi Barong. Setelah membayar biaya masuk sebesar Rp.5000; saya pun bergegas menuju ke arah bangunan utama Candi Barong. 
Begitu mendengar Candi Barong, dalam pikiran saya terbersit sebuah Candi yang ukurannya tidaklah terlalu besar dan kondisinya tidak begitu terawat seperti beberapa situs purbakala lainnya yang biasa saya temukan di sekitar Kabupaten Klaten dan Kecamatan Prambanan. Namun dugaan saya ternyata tidak tepat. Candi Barong adalah sebuah Candi yang eksotis serta terawat dengan cukup baik yang lokasinya berada di atas bukit dengan pemandangan sekitar yang mempesona. Terletak pada bukit dengan ketinggian 199,27 meter di atas permukaan air laut, membuat Candi ini nampak megah apabila kita melihatnya dari area yang cukup jauh. 

Sudah berasa di Hollywod 


Pintu masuk Candi Barong berada di sisi Selatan Candi, namun saya malah masuk halaman Candi dari arah utara, alhasil saya harus memutar palataran disisi utara Candi terlebih dahulu sebelum sampai di pintu utama. Maklum saja, ini adalah kunjungan saya yang pertama, jadi belum hafal tentang bagian-bagian dari Candi Barong. Area di sisi utara Candi merupakan pelataran yang ditumbui oleh rerumputan. Di beberapa sudut disediakan gazebo yang bisa pengunjung gunakan sebagai tempat berteduh apabila hari sangat panas atau ketika turun hujan ; D. 

Sejarah Candi Barong 

Bersumber dari info yang saya baca di papan informasi, Keberadaan Candi Barong diketahui berdasarkan catatan dari Belanda yang disusun oleh ROD pada tahun 1915. Dalam catatan Belanda tersebut, Candi Barong disebut sebagai Candi Sari Soro Gedug. Namun oleh masyarakat sekitar candi tersebut lazim disebut sebagai Candi Barong. Hal itu dikarenakan adanya sebuah dekorasi kala yang oleh masyarakat Jawa diidentikkan dengan Barongan

Candi Barong dilihat dari sisi Timur


Candi Barongan didirikan sebagai tempat  bagi agama Hindu untuk memuja dewa Wisnu dan Dewi Sri. Dewa Wisnu merupakan salah satu Dewa dari Trimurti yang berkedudukan sebagai Dewa pemelihara. Sedangkan Dewi Sri merupakan salah satu cakti dari Dewa Wisnu, dianggap sebagai Dewi Padi dalam kehidupan masyarakat Jawa. Pemujaan kepada Dewa Wisnu dan Dewi Sri terkait dengan kehidupan masyarakat pada waktu itu yang sebagian besar menggantungkan hidupnya dari hasil pertanian. Oleh karena kondisi lingkungan yang tandus maka masyarakat sekitar berharap dengan melakukan pemujaan terhadap Dewa Wisnu dan Dewi Sri mendatangkan berkah berupa kesuburan dan hasil panen yang baik terhadap tanaman pangan yang mereka tanam di sekitar Candi Barong   



Untuk upaya pemugaran Candi Barong sendiri sudah dilakukan sejak tahun 1987 dengan diawali dengan pemugaran candi di sisi utara. Sewaktu pemugaran tersebut banyak ditemukan benda-benda arkeologis. Ditemukan pula 9 kotak berbentuk bujur sangkar yang merupakan gambaran dari wastupurusandamala. Menurut Stella Kramisch kotak yang terletak di tengah merupakan tempat terkumpulnya potensi gaib yang menguasai alam semesta, sedangkan ke 8 kotak lainnya merupakan penjelmaan dari Dewa mata angin.


Candi Barong terbagi menjadi 3 bagian. 

Hal yang membedakan candi Barong dengan candi-candi lainnya di daerah Yogyakarta adalah, selain candi ini berdiri di atas bukit yang cukup gersang Candi Barong mempunyai halaman atau pelataran yang cukup luas. Adapun 3 halaman atau tingkatan dari Candi Barong diantaranya: 

Halaman pertama merupakan halaman berupa area rerumputan yang luas dan berbentuk persegi, area ini menurut salah satu petugas yang berhasil saya wawancarai, pada sore hari sering digunakan sebagai tempat untuk mencari rumput oleh warga sekitar Candi guna keperluan pakan ternak mereka. Namun karena saya berkunjung pada saat siang hari, saya tidak menemukan pencari rumput yang dimaksudkan.

Halaman kedua merupakan pelataran yang cukup luas serta tidak dijumpai bangunan. Di sisi timur terdapat pagar terluar yang pada saat ditemukan masih terkubur di dalam tanah. Di halaman kedua ini kita bisa melihat bekas-bekas bangunan berupa pondasi yang terbuat dari batu andesit. Bekas pondasi yang ada mirip dengan beberapa bagian di Candi Ratu Boko. Kemungkinan bangunan yang berdiri di halaman kedua merupakan bangunan yang terbuat dari bahan kayu dan sudah rusak karena dimakan oleh usia.

Halaman ketiga merupakan bangunan utama dari Candi Barong. Terdapat 2 buah Candi yang berukuran 8,18 x 8,18 meter dengan ketinggian 9,15 meter. Bila kita perhatikan kedua Candi tersebut berada pada posisi yang tidak simetris. Untuk masuk ke halaman ketika terdapat sebuah pintu atau gapura kecil yang berhiaskan ornament kala pada bagian atasnya. Ornament kala di bagian ini memiliki ukuran paling besar dibandingkan dengan ornament serupa di bagian lain dari Candi Barong.

Candi Banyunibo yang nampak dilihat dari pelataran Candi Barong

Menurut informasi yang saya peroleh, Candi induk pada Candi Barong selesai dipugar pada tahun 1992. Pemugaran kemudian dilanjutkan dengan pemugaran talud dan pagar. Dalam proses pemugarannya ditemukan juga sejumlah penemuan arkeologis seperti dua buah patung Dewa Wisnu, dua bauh arca Dewi Sri, beberapa arca yang belum selesai dikerjakan dan sebuah arca dari Dewa Ganesha. Ditemukan juga kotak-kotak peripih yang terbuat dari batuan andesit. Di dalam kotak-kotak tersebut terdapat lembaran-lembaran emas serta perak. Pada lembaran emas terdapat goresan tulisan namun karena kondisinya rusak sehingga tidak bisa terbaca. Selain itu juga ditemukan pula sejumlah peralatan rumah tangga lainnya seperti guci, mangkuk keramik, mata kapak serta sendok.

salah satu sudut candi Barong


Berada di Candi Barong mengingatkan saya pada pengalaman mengunjungi Candi Ijo. Memang kedua Candi ini memiliki beberapa kemiripan. Kemiripan pertama, sama-sama terletak di atas bukit, yang kedua adalah bentuk dari Candi utama Candi Barong yang berjumlah 2 Candi, hampir mirip dengan bentuk dari Candi Ijo yang merupakan 3 candi kecil yang berada di sisi barat dari Candi Utama. Di bagian Candi utama dari Candi Barong, kita akan dapat menemukan beberapa relief dengan hiasan berupa sulur menghiasi area di sekitar relung kosong yang di bagian atasnya terdapat hiasan kala seperti yang telah saya sebutkan. Relung-relung kosong tersebut konon digunakan sebagai tempat meletakkan arca Dewa Wisnu dan Dewi Sri.

Relung kosong, konon dahulu digunakan untuk meletakkan arca Dewa Wisnu dan Dewi Sri


Pada saat saya mengunjungi Candi Barong, hanya terdapat 3 orang pengunjung yang datang ke tempat ini. Hal tersebut sangat berbeda dibandingkan dengan candi-candi lainnya yang banyak dikunjungi. Dimungkinkan akses yang cukup sulit dan minimnya informasi serta publikasi membuat candi ini sepi pengunjung.

ornament kala di pintu masuk teras ketiga

Candi Barong meskipun terletak di atas bukit serta memiliki akses yang sulit untuk dicapai namun saya rasa tempat wisata ini memiliki fasilitas pendukung yang cukup memadai. Di berbagai sudut telah disediakan beberapa gazebo yang bisa dimanfaatkan pengunjung untuk beristirahat, layanan informasi, toilet serta mushola. Hal yang perlu dibenahi oleh pengelola tentu saja area parkir, mengingat area parkir di tempat wisata ini masih sempit dan masih terbuat dari bangunan semipermanen. Harapannya dengan adanya fasilitas yang memadai dan dengan didukung sarana informasi serta publikasi yang cukup, masyarakat menjadi lebih mengetahui keberadaan candi ini dan dapat menumbuhkan minat untuk mengunjungi tempat-tempat wisata budaya lainnya.


fasilitas di Candi Barong

Mengunjungi Candi Barong dan menelisik lebih dalam tentang sejarahnya setidaknya bisa membuka wawasan kita dan mengetahui rekam jejak kehidupan masa lalu nenek moyang kita, bangsa Indonesia. Meskipun berada di tanah yang tandus namun masyarakat pada jaman dahulu yang hidup di sekitar Candi Barong tidak lantas kehilangan akan pengharapan. Pengharapan akan kesuburan tanah, pengharapan akan hasil panen yang melimpah, semua dipanjatkan dengan ucapan syukur kepada Dewa Wisnu serta Dewi Sri sang dewi Padi dan Dewi Kesuburan.

"Bagaimana, pembaca tertarik mengunjungi Candi Barong ??"


Rabu, 31 Mei 2017

blusukan ke curug gede patuk gunungkidul yogyakarta

Berawal dari adanya sebuah plakat penunjuk arah menuju ke sebuah curug yang terlihat ketika saya mengunjungi Gunung Api Purba, saya bersama dengan rekan saya berkesempatan mengunjungi Curug tersebut. Curug yang dimaksud bernama Curug Gede yang terletak di Dusun Gambyong, Desa Oro-oro, Kecamatan Patuk Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Sebelumnya kunjungan kali ini, saya beberapa waktu yang lalu pernah "hampir" sampai ke tempat ini, namun karena pada waktu itu akses jalan ke Curug Gede sempat di tutup karena ada upaya perbaikan jalan, sayapun harus mengurungkan niat untuk sekedar bisa ngadem di curug yang letaknya di perbatasan antara Kabupaten Sleman dan Kabupaten Gunungkidul ini.

curug gede patuk gunungkidul
curug gede patuk gunungkidul 

Memasuki pergantian musim antara musim penghujan dan musim kemarau adalah waktu yang tepat untuk mencari dan mengunjungi curug. Di wilayah Gununkidul Yogyakarta memang terdapat beberapa curug atau air terjun kecil yang sifatnya musiman. Dikatakan musiman karena apabila musim kemarau tiba beberapa curug mengalami penyusutan debit air atau bahkan tidak memiliki air sama sekali sehingga akan berupa sebuah tebing yang gersang. Sedangkan apabila musim penghujan, curug-curug tersebut memiliki air yang cukup banyak namun berwarna keruh. Hal itu disebabkan oleh adanya lumpur yang terbawa oleh aliran air sehingga menyebabkan warna airnya kecoklatan.

Rute menuju Curug Gede Patuk Yogyakarta

Dari Yogyakarta - menuju ke arah Wonosari Gunungkidul - Sampai di perempatan kantor Polisi sektor Patuk kita belok ke kiri ( ke arah wisata Gunung Api Purba ) - melalui desa Oro-Oro dan melewati area dengan beberapa tower televisi - Ikuti jalan tersebut sampai di perempatan Puskesmas Patuk I ( Puskesmasnya di sisi kanan jalan ) - perhatikan arah, bila kita ke kanan kita menuju ke Gunung Api Purba - lurus menuju Klaten - sedangkan kiri menuju ke Curug Gede atau ke arah Sendang Sriningsih. Ambil jalan yang kiri kurang lebih 3-4 km kita sudah sampai di Curug Gede Patuk Gunungkidul.  

Jalan menuju ke Curug Gede Patuk Gunungkidul tidak seperti yang saya bayangkan. Bilamana dulu saya terpaksa membatalkan kunjungan saya ke Curug Gede karena ada perbaikan jalan, harapannya, kunjungan saya kali ini saya bisa melewati rute yang mulus dan mudah untuk dilalui. Namun ternyata kondisi jalan yang harus saya lalui tidak jauh berbeda dari beberapa waktu lalu. Jalan menuju ke Curug Gede ternyata masih dalam proses perbaikan dan belum sepenuhnya selesai. Area yang berpasir dan berdebu merupakan rute yang harus dilewati untuk sampai Curug Gede Patuk Gunungkidul.

jalan menuju curug gede patuk
jalan menuju curug gede

Untuk sampai ke Curug Gede Patuk Gunungkidul, apabila rekan-rekan dari kota Yogyakarta akan memerlukan waktu sekitar 45 menit sampai satu jam perjalanan dengan kendaraan bermotor. Sebenarnya rekan-rekan bisa saja melewati jalan yang lain, yakni jalan mblusuk melewati Prambanan -  Candi Ijo - Sendangsriningsih serta melewati desa-desa kecil lainnya. Namun saya tetap merekomendasikan rute Patuk selain memiliki penunjuk arah yang jelas, kondisi jalan melalui rute Patuk lebih baik apabila dibandingkan dengan jalan melewati Sendangsriningsih.

untuk bisa menuju curug harus melewati jalan yang terbuat dari bambu


Sampai di area Curug Gede Patuk, saya memarkirkan kendaraan bermotor saya pada sebuah warung yang letaknya tidak jauh dari arah pintu masuk. Untuk bisa masuk ke Curug Gede pada waktu itu tidak dipungut retribusi sepeserpun. Menyusuri rute masuk ke arah Curug Gede dari arah tempat parkir terlihat bahwa tempat wisata ini kurang terawat. Dengan melewati jalan yang terbuat dari tatanan bambu yang sudah lapuk dimakan usia kami harus berhati hati dalam melangkah karena di bawah kami adalah selokan air dan di sisi kanan kami adalah area persawahan yang cukup dalam.



Untuk bisa ke lokasi Curug Gede Patuk, kami harus melewati jalan yang menurun serta belum dimistar. Sebuah tali tampar yang disediakan agaknya cukup membantu kami sebagai sebuah pegangan karena jalan yang dilalui terlalu licin oleh banyaknya debu dan kerikil di sekitarnya. Tidak jauh kami melangkah suara gemericik air sudah bisa terdengar dari arah kanan bawah kami. Setelah melewati sebuah gubuk kecil dan melewati beberapa anak tangga akhirnya sampailah kami ke Curug Gede Patuk Gunungkidul.

curug gede gunungkidul
ini dia air terjun mungil, curug gede gunungkidul


Pada saat kami mengunjungi Curug Gede tempat ini sepi oleh pengunjung. Hanya terlihat beberapa orang yang sedang asik memancing di bagian bawah Curug. Dari merekapulalah saya mengetahui bahwa tempat dimana jatuhnya air atau bagian kubanggar tidak terlalu dalam. Pasalnya beberapa diantara mereka memancing hampir mendekati tepat disisi bagian bawah Curug. Bila kita perhatikan, air yang berasal dari atas tidak langsung jatuh ke sisi bawah, melainkan menimpa dinding tebing terlebih dahulu sehingga menciptakan cipratan air yang membasahi area sekitar curug dan membuat area sekitarnya menjadi licin untuk dipijak.

beberapa orang yang sedang memancing di curug gede

Karena penasaran akan apa yang mereka dapat, sayapun turun dan berbincang-bincang dengan mereka. Saat itu mereka belum mendapatkan satupun ikan karena mereka juga baru datang untuk memancing di tempat ini.  Menurut mereka area Curug Gede akan sangat ramai pada hari Minggu. Beberapa pengunjung seringkali datang secara rombongan dan beberapa diantara pengunjung juga sering camping serta mendirikan tenda di sekitar aliran sungai di sisi bagian bawah Curug. Oleh karenanya untuk keperluan memancing mereka menghindari hari Minggu atau hari-hari dimana tempat ini banyak dikunjungi orang termasuk di hari-hari besar nasional.

 
Menyusuri kawasan Curug Gede Patuk, kita akan menemukan suasana yang masih sangat tenang dan cukup asri. Tempat ini cocok digunakan sebagai tempat untuk sekedar ngadem meskipun akses menuju ke tempat ini tergolong cukup sulit dilalui. Fasilitas di tempat ini juga sangat minim.Hanya terdapat dua gazebo yang kondisinya sudah rusak.


Karena waktu itu sudah sore dan kami harus kembali ke Yogyakarta guna memesan tiket kereta api tujuan Solo, kamipun tidak bisa berlama-lama di tempat ini. Harapannya kami bisa mengunjungi lagi Curug Gede di Desa Patuk ini tentunya dengan kondisi yang jauh lebih terawat dan dengan fasilitas yang cukup ramah bagi pengunjung :D. Semoga dengan artikel sederhana ini menambah minat rekan-rekan semua untuk mengunjungi Curug Gede di Desa Patuk Kabupaten Gunungkidul.

Rabu, 24 Mei 2017

Taman sari Yogyakarta Istana air di lingkungan Keraton

Taman sari Yogyakarta atau Taman sari Watercastle merupakan salah satu tempat wisata yang banyak dikunjungi baik itu oleh wisatawan lokal maupun wisatawan asing yang sedang berlibur ke Yogyakarta. Situs ini memiliki sejarah yang panjang, sebuah kolam rekreasi yang dibangun kurang lebih 200 tahun yang lalu dan menjadi tempat rekreatif bagi sang raja untuk menenangkan diri dari segala beban psikologis yang dihadapinya dalam memimpin, mengambilan keputusan yang mengandung keadilan, kebenaran, kemakmuran, kebenaran serta kemenangan.

Kawasan Taman Sari

Sudah menjadi hal yang lumrah bahwasanya seiring dengan bertambahnya beban serta tanggung jawab yang diemban oleh seorang raja, beban psikologis yang dihadapinya akan semakin meningkat. Hampir setiap hari raja dihadapkan oleh segala macam keruwetan dalam bidang pemerintahan. Permasalahan yang muncul seringkali memaksa seorang pemimpin harus bisa berfikir secara jernih guna mengambil keputusan secara arif dan bijaksana karena segala keputusan dan kebijakannya sangat berpengaruh terhadap hidup orang banyak.



Oleh karenanya seorang raja sebagai pemimpin kerajaan memerlukan tempat yang tenang, sebuah lingkungan yang santai guna menopang ketepatannya dalam memimpin dan mengambil keputusan. Taman Sari Yogyakarta atau Taman sari Watercastle dibangun untuk memenuhi segala kebutuhan keluarga Keraton Yogyakarta sebagai tempat yang rekreatif dan sebagai jawaban dari keseimbangan beban psikologisnya itu.

Pintu masuk kawasan Taman Sari ( Gapura Panggung )


Atas ajakan rekan saya dari Solo, di hari Minggu yang cukup cerah saya berkesempatan untuk mengunjungi kawasan Taman Sari Yogyakarta. Untuk menuju ke Taman Sari kita bisa melalui Malioboro - alun-alun utara - masuk ke kawasan Keraton tepatnya di jalan Taman. Kawasan Tamansari terletak kurang lebih 400 meter dari halaman Kemagangan Keraton Yogyakarta sedangkan apabila kita menggunakan kendaraan bermotor cukup memerlukan 5 menit saja dari arah Keraton. Memasuki kawasan Taman Sari kita akan bertemu dengan bangunan yang cukup unik yakni pintu gerbang Taman Sari lengkap dengan 2 patung naga di sisi kiri dan kananya. Bangunan itu disebut sebagai Gapura Panggung. Setelah membayar tiket masuk dan membayar biaya tambahan karena saya membawa sebuah kamera saya'pun dipersilahkan masuk oleh petugas yang berjaga disana.

area Pencaosan Taman Sari
area Pencaosan

Secara umum, kompleks  Taman sari dapat dibagi menjadi 4 bagian yakni : Danau segaran, Gedhog Gapura Heyeg, Pasarean Dalem Ledog Sari dan yang terakhir adalah Jembatan Gantung yang kini sudah tidak tersisa lagi. Masuk di area pertama setelah Gapura Panggung, kita dihadapkan peda sebuah area yang cukup luas dengan setidaknya 4 bangunan limas di sisi kiri dan kanan kita. Bangunan tersebut bernama tempat pencaosan ( pos penjagaan ) serta digunakan sebagai tempat paseban ( ruang ganti ) yang digunakan oleh abdi dalem Keraton sebelum dan setelah selesai bertugas. Area inipun cukup sejuk dengan adanya pepohonan disekitarnya. Setelah memasuki area ini, kita akan memasuki area kolam pemandian.

Kolam pemandian Taman Sari

Kolam pemandian Taman Sari terletak di sebelah selatan masjid dan bila kita perhatikan, area ini membujur dari sisi utara ke selatan. Terdiri dari dari 3 bagian utama, yakni kolam yang dibangun khusus untuk mandi putra-putri sultan yakni kolam pemandian atau Umbul Kawitan, yang kedua adalah kolam pemandian yang dikhususkan bagi permaisuri yakni Umbul Pamuncar. Khusus untuk Sultan Sendiri dibangun sebuah kolam yang bernama Umbul Panguras. Sementara itu diantara umbul panguras dan Pamuncar dibangun sebuah bangunan yang digunakan untuk menyimpan barang-barang pusaka Sultan yang disebut sebagai Gedung Cemeti.

Menara Taman Sari
Menara Taman Sari 

Area kolam pemandian dipenuhi dengan air yang berwarna hijau tosca. Air yang memenuhi kolam pemandian disalurkan melalui saluran air dan bermuara pada pancuran dengan bentuk yang unik yakni bentuk mirip dengan bunga teratai pada bagian tengah kolam. Tepat diantara umbul kawitan dan umbul pamuncar dipisahkan oleh sebuah sekat berupa jalan yang bisa kita lalui. Bila kita perhatikan di sisi selatan dari kolam pemandian terdapat sebuah bangunan yang cukup besar dan terlihat menjulang dibandingkan dengan bangunan yang lainnya. Menurut pemandu menara itu digunakan sebagai tempat bagi Sultan untuk mengamati selir dan puterinya yang sedang mandi di bawah.

area Taman Sari yang digunakan untuk keperluan Fotografi


Di sisi selatan dari kolam pemandian terdapat beberapa ruang kecil yang membujur dari utara ke selatan dan terdiri dari 10 kamar. Menurut pemandu, kamar-kamar tersebut berfungsi sebagai tempat tidur permaisuri raja. Sedangkan bangunan di sisi utara dari pemandian digunakan khusus bagi Sultan. Ruangan di sisi utara kolam terdiri dari 2 kamar. Konon tempat ini digunakan sebagai tempat untuk bersemedi sedangkan ruangan yang lain digunakan sebagai tempat bertemunya Sultan dengan penguasa Pantai Selatan Jawa yakni Kanjeng Ratu Kidul.


Setelah melalui kolam pemandian Taman Sari tujuan saya selanjutnya adalah menuju ke Masjid Taman Sari. Sebelum menuju masjid kita akan melalui sebuah area yang cukup luas dimana di sisi kiri dan kanannya terdapat beberapa rumah warga tempat menjual cinderamata dan beberapa diantaranya digunakan sebagai tempat untuk menyimpan hasil karya warga sekitar berupa lukisan. Di ujung tempat ini terdapat sebuah gapura besar yakni Gapura Agung. Kita bisa naik ke sisi atas gapura untuk melihat area sekitar Taman Sari dari atas ketinggian. Dari atas Gapura Agung ini pula kita bisa melihat area Taman Sari yang semakin terhimpit oleh pemukiman warga.

Masjid di Taman Sari

Setelah puas berkeliling kawasan pemandian saya melanjutkan perjalanan menuju ke masjid Taman Sari yang tergolong masjid dengan asiterktur unik. Masjid ini dikatakan unik karena terdiri dari 2 lantai dengan pondasi berbentuk lingkaran dan memiliki diameter 25 meter. Di bagian tengah dari masjid tersebut terdapat sebuah tempat yang digunakan sebagai tempat untuk wudhu yang bernama Sumur Gumuling. 



Di bagian tengah-tengah dari sumur ini terdapat tangga yang ujungnya bertemu pada satu titik. Tangga yang berjumlah 5 tersebut menyiratkan  5 rukun Islam. 4 tangga dari arah bawah dan satu tangga sebagai penghubung antara lantai 1 masjid dan lantai 2. Diceritakan bahwa lantai pertama masjid di Taman Sari diperuntukkan sebagai tempat sholat bagi permaisuri raja sedangkan lantai dua digunakan sebagai tempat untuk sholat Sultan.

Sumur Gumuling
Sumur Gumuling

Tidak jauh dari masjid terdapat sebuah terowongan yang panjangnya kurang lebih 25 km. Ujung dari terowongan ini konon berada di pantai selatan yakni pantai Parangkusumo. Terowongan ini dibangun dan berfungsi sebagai jalan penyelamatan apabila terjadi peperangan. Kondisi terowongan cukup terawat dan seperti bangunan-bangunan di bawah tanah lainnya, kondisi cukup pengap akan dirasakan oleh pengunjung ketika singgah di tempat ini.



Terowongan Taman Sari
Terowongan yang ujungnya sampai ke Pantai Parangkusumo


Bila kita perhatikan dengan seksama relief-relief yang berada pada beberapa sudut Taman Sari merupakan relief dengan corak gabungan antara gaya arsitektur Eropa, Cina, Hindu, Budha dan Islam. Ciri khas Eropa muncul dikarenakan sosok arsitek yang merancang Taman Sari adalah seorang berkebangsaan Portugis yang terdampar di Laut Selatan. Setelah diselidiki oleh Keraton, pria yang terdampar itu memiliki keterampilan merancang bangunan karena dia adalah seorang arsitek. Maka dari itu pihak Keraton Yogyakarta mempercayakan tanggung jawab mendesain area Taman Sari berupa gapura, plengkung, dan benteng yang mengelilingi area Keraton Yogyakarta.

Gapura Agung Taman Sari
Gapura Agung Taman Sari

Masih banyak lagi bangunan-bangunan di Taman Sari yang menarik untuk kita singgahi seperti Pulau Panembung yang berada di sisi selatan Pulau Kenanga dimana kita harus berjalan menyusuri sebuah terowongan dengan penjang ratusan meter untuk bisa sampai disana. Pulau Panembung sendiri dipercaya sebagai tempat semedi Sultan untuk memohon sesuatu kepada Yang Maha Kuasa.


Di beberapa bangunan di area Taman Sari memiliki beberapa pintu yang menghubungkan antara bangunan satu dengan bangunan lainnya. Tidak sedikit pula kita akan menemukan perkampungan warga yang mengimpit kompleks Taman Sari. Memang beberapa bangunan di Taman Sari kini sudah dijadikan pemukiman seperti area Jembatan Gantung. Beberapa area seperti Pasarean Dalem Ledoksari dan Kolam Gajiwarti kini sudah tidak ada lagi serta tidak meninggalkan bekas yang bisa kita amati. 

Adanya Kampung Cyber

Di penghujung kunjungan saya ke area Taman Sari saya menyempatkan diri untuk mengunjungi sebuah kampung yang letaknya tidak jauh dari kompleks Taman Sari. Nama kampung tersebut adalah kampung Cyber. Kampung Cyber bukanlah sebuah kampung yang besar seperti yang kita bayangkan. Kampung Cyber merupakan sebuah RT dimana setiap rumah warganya sudah terkoneksi dengan jaringan internet. Penggagas dari adanya kampung ini adalah mahasiswa dari UGM dan resmi dibuka pada tahun 2009.

kampung Cyber
Salah satu sudut kampung Cyber





















Menyusuri setiap sudut kampung Cyber kita akan menemukan beberapa lukisan mural. Nampak pula sebuah gambar yang memperlihatkan kunjungan Mark Zuckerberg pendiri Facebook ketika mengunjungi tempat ini pada tahun 2014 silam. Adanya kampung Cyber menambah daya tarik tersendiri khususnya di kawasan Taman Sari Yogyakarta.

Taman Sari yang kita kunjungi sekarang mungkin sudah berbeda dengan Taman Sari 200 tahun yang lalu. Kini Taman Sari bagai sebuah monumen sejarah dimana di setiap sudutnya bercerita tentang kehidupan keluarga kerajaan di masa lalu. Semua rahasia, misteri serta problematika dalam kerajaan tersimpan rapi dalam sebuah taman air yang keberadaannya sudah semakin terhimpit oleh beberapa bangunan penduduk disekitarnya. Keindahan sebuah taman air yang menyatukan gaya arsitektur China, Budha, Islam dan budaya lokal yakni budaya Jawa menambah daya tarik Taman Sari sebagai destinasi wisata budaya dan sejarah yang wajib dikunjungi ketika berlibur ke Yogyakarta.


" Bagaimana, tertarik mengunjungi Taman Sari Watercastle ???"

Rabu, 03 Mei 2017

Umbul Brintik Klaten, merasakan kesegaran mata air nan jernih dan alami

Umbul Brintik Klaten. Kabupaten Klaten memiliki banyak mata air atau umbul yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber mata air untuk keperluan kebutuhan air minum, keperluan irigasi, perikanan ataupun sebagai tempat wisata seperti umbul manten. Di daerah tempat tinggal saya, terdapat sebuah kawasan yang memiliki cukup banyak mata air, daerah tersebut berada di Kecamatan Kebonarum, Klaten. Di daerah ini, sumber mata air banyak dimanfaatkan untuk keperluan perikanan selebihnya digunakan untuk keperluan irigasi dan wisata. Di daerah ini pula terdapat tempat pemandian alami yang bernama umbul Pluneng yang konon sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu dan masih bertahan sampai saat ini. Namun dikesempatan kali ini saya ingin bercerita tentang kunjungan saya ke Umbul Pluneng, melainkan ke Umbul Brintik yang lokasinya berada sekitar 3-4 km di utara Umbul Pluneng.

umbul brintik Kebonarum Klaten
beningnya air di Umbul Brintik


Rute menuju Umbul Brintik Kebonarum Klaten

Umbul Brintik berada di Desa Malangjiwan, Kecamatan Kebonarum, Kabupaten Klaten. Jalan menuju ke Umbul Brintik sangat mudah untuk kita lalui. Pertigaan dari arah Pabrik Gula Gondang ke utara - Pertigaan Basin - ambil kiri, ikuti jalan kurang lebih 3 km - Perempatan Pasar Pokoh - ambil kanan 2 km - sampai menemukan gapura masuk desa Malangjiwan, ambil jalan di sisi kanan desa. Umbul Brintik berada di sisi kanan jalan.

Lokasi Umbul Brintik berada di pinggir desa, atau tepatnya berada di tepi area persawahan. Umbul ini menjadi tempat favorit belajar berenang karena memiliki kedalaman tidak lebih dari 1,5 meter. Dahulu di kawasan ini tidak disediakan tempat parkir dan untuk masuk ke dalamnya tidak dikenakan biaya. Parkirnyapun masih di sebelah pematang sawah. Namun beberapa tahun terakhir, untuk bisa masuk ke dalam umbul kita harus membayar Rp.3000; serta sudah disediakan tempat parkir di sebelah timur meskipun masih belum layak disebut tempat parkir.

umbul brintik Kebonarum Klaten
warung makan di sisi timur umbul


Sesampainya di Umbul Brintik kita akan menemukan banyak orang yang berjualan di sisi luar pemandian. Beberapa menawarkan jasa pelampung untuk kita kenakan ketika berenang di dalam umbul. Meskipun tergolong dangkal, bagi beberapa orang yang tidak bisa berenang adanya penyewaan pelampung dirasa cukup membantu, terlebih bagi pengunjung yang membawa buah hati mereka untuk diajak berenang. Harga yang ditawarkan masih sangat terjangkau dan masih bisa ditawar :D. Memang di sisi selatan Umbul Brintik disediakan kolam khusus anak-anak dengan kedalaman air tidak sampai setinggi lutut orang dewasa yang belum dipugar belum lama ini, namun bagi yang ingin mengajak anaknya berenang di dalam Umbul Brintik tidak ada salahnya melengkapinya dengan pelampung. 

umbul brintik Kebonarum Klaten
kolam renang untuk anak

Umbul Brintik sendiri merupakan sebuah pemandian atau kolam renang alami yang memiliki luas kurang lebih  400 meter persegi. Di sekeliling tempat pemandian ini dibangun tembok melingkar yang seringkali digunakan tempat bagi anak-anak untuk terjun dan melakukan gerakan salto sebelum masuk ke dalam air. Masuk ke dalam area umbul, saya mendapati banyak orang yang memanfaatkan tempat ini untuk mandi dan berenang. Meskipun siang sangat panas, air di Umbul Brintik ini terasa cukup  dingin dan segar. Hal itu dikarenakan air yang ada berasal dari mata air yang mengalir di bagian dasar umbul.

umbul brintik Kebonarum Klaten

Sesampainya di dalam area Umbul Brintik saya tidak langsung berenang, namun duduk sejenak dan memperhatikan beberapa anak-anak yang sedang asik berenang disana. Anak-anak tersebut seolah tanpa rasa takut melompat dari atas pagar sesekali beberapa diantara mereka melakukan gerakan salto dipinggir umbul. Hal yang mungkin tidak pernah saya lakukan di usia-usia seperti mereka. 

umbul brintik Kebonarum Klaten
terbang :D

Tidak hanya banyak dikunjungi oleh anak-anak dan kelompok muda saja, namun Umbul Brintik juga banyak dikunjungi oleh lansia. Terlihat beberapa lansia memanfaatkan tempat ini untuk mandi dan beberapa diantaranya terlihat saling bertegur sapa dipinggir kolam pemandian.

pernah coba gerakan ini??? 


Saya tidak mengetahui secara pasti mengapa umbul ini disebut sebagai Umbul Brintik. Namun cerita dari orang tua saya, konon umbul ini disebut umbul Brintik karena banyaknya gelembung udara yang berasal dari dasar umbul. Gelembung udara yang muncul di permukaan air akan dapat terlihat ketika kondisi air tenang ( Dalam Bahasa Jawa Brintik berarti bentol-bentol atau bergelembung ). Tidak seperti umbul atau kolam renang pada umumnya yang pada bagian dasarnya dimistar, bagian dasar umbul Brintik sengaja dibiarkan begitu saja dan masih berupa pasir dan bebatuan. Berenang di Umbul Brintik Klaten membuat kita berasa berenang ditengah alam. Meskipun kondisinya berada ditepi sawah yang gersang namun disisi selatan dari umbul terdapat beberapa pepohonan tinggi dan menambah keasrian tempat ini.

semangat bu :D

Di bagian samping bawah dari Umbul Brintik juga dibuat kolam penampungan air dari air buangan yang berasal dari kolam di bagian atasnya. Air yang ada kemudian disalurkan ke parit-parit kecil dan digunakan untuk keperluan lainnya seperti keperluan irigasi dan keperluan budidaya ikan.  

air yang berasal dari kolam pemandian dialirkan ke kolam penampungan 


Fasilitas di Umbul Brintik meskipun masih sangat minim namun saya rasa cukup untuk ukuran sebuah pemandian di pinggir desa. Fasilitas di tempat ini diantaranya adalah : dua kamar bilas sekaligus kamar ganti, tempat duduk di tepi pemandiann, mushola disisi barat dan serta beberapa warung makan yang banyak kita jumpai ditimur area pemandian. 

fasilitas di Umbul Brintik

Harapan saya sebagai warga Klaten, semoga kedepannya Umbul Brintik dapat dikembangkan dan dibenahi mengingat di beberapa bagian sudah mengalami kerusakan. Pengembangan tempat ini harus tetap menjaga kelestarian alam serta menjaga kualitas mata airnya, bukan semata-mata hanya digunakan sebagai tempat menaruh barang-barang berkarat demi sebuah foto selfie didalam air yang tentu akan berdampak pada tercemarnya sumber mata air.


" Tertarik mengunjungi Umbul Brintik Klaten "