Kamis, 20 April 2017

legenda di balik beningnya air di Umbul Manten Klaten

Tak terasa sudah lebih dari 6 tahun, sejak kelulusan saya dan rekan-rekan saya dari bangku perkuliahan, saya tidak menyambangi daerah di sisi utara Kabupaten Klaten. Kabupaten yang menjadi kota, tempat saya dilahirkan. Daerah tersebut bernama Desa Janti, Kecamatan Polanharjo. Sebuah daerah yang berada di sisi utara Kabupaten Klaten dan berbatasan dengan Kabupaten tetangga yakni Kabupaten Boyolali. Agaknya kenangan bersama dengan rekan-rekan saya menjadi alasan bagi saya untuk kembali menyinggahi tempat-tempat dimana kami melepaskan canda, tawa serta merasakan hangatnya tali persaudaraan yang pernah terjalin sampai saat ini.

 umbul manten klaten



Umbul Manten Klaten, sebuah nama tempat wisata di Desa Janti yang mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita yang tinggal di wilayah Klaten dan sekitarnya. Umbul Manten Klaten belakangan ini menjadi sebuah tempat wisata yang difavoritkan khususnya di Kabupaten Klaten berkat banyaknya yang mengunggah foto umbul ini di media sosial.

Pada siang hari yang sangat menyengat di pertengahan bulan April, saya memacu kendaraan bermotor saya melintasi jalan Yogya - Solo dan berbelok ke utara tepat di pertigaan sisi kiri sesudah kantor samsat Kecamatan Delanggu atau sebelum jembatan dekat dengan pasar Tegal Gondo, Wonosari. Saya melewati jalan di tengah area persawahan yang luas. Pemandangan yang ditawarkan seakan memaksa saya memperlambat laju kendaraan ini untuk menikmati suasana pedesaan yang saya jumpai. Suasana pedesaan dimana kita dapat melihat petani menanam padi, melihat peternak bebek yang sedang sibuk mengatur barisan bebek-bebek mereka dan melihat beberapa orang yang sedang beristirahat di tepi sawah sambil menikmati bekal yang mereka bawa dari rumah. Suasana yang seperti ini adalah suasana yang mungkin tidak akan bisa kita dapatkan apabila kita hidup di area perkotaan yang sangat padat.

jalan menuju umbul manten Klaten
jalan menuju umbul manten Klaten

10 km lebih motor ini melaju meninggalkan jalan besar yang menjadi penghubung antara kota Yogyakarta dan Solo, sampai saya memasuki desa dengan gapura yang bertuliskan " Kawasan Wisata Janti " seolah tulisan tersebut menegaskan bahwa kita sudah masuk daerah yang terkenal dengan obyek wisata mata air serta kolam pemancingannya ini. Tidak sampai 2 km sayapun sudah sampai di Umbul Manten Klaten yang berada tepat di sisi kanan, jalan Janti-Tegalgondo.

Sebuah tembok dengan tinggi kurang lebih 4 meter menutupi umbul manten seolah menyembunyikan keindahannya mata air ini dari pandangan mata. Barulah setelah memasuki sebuah pintu masuk kita dapat melihat betapa eloknya pesona yang ditawarkan Umbul Manten ini. Sebuah kolam alami dengan air yang sangat jernih berada di antara pepohonan tinggi menjulang seakan menjadi oase tersendiri di tengah hari yang sangat terik. Sekelompok pemuda terlihat sedang asik berenang di tengah umbul dan beberapa diantaranya terlihat bersantai serta berhammocking ria pada pepohonan yang tumbuh di sekitaran Umbul Manten.

Sejuknya kawasan Umbul Manten Klaten


Setelah membayar biaya masuk saya tidak lantas segera menanggalkan baju yang saya kenakan untuk langsung berenang di area Umbul Manten, melainkan duduk di kursi kayu yang disediakan dan berbincang-bincang pada salah seorang bapak penunggu mata air dimana saat itu, beliau sedang membersihkan jala ikan miliknya. Dari beliau saya mendapatkan informasi mengenai penamaan Umbul yang kita kenal saat ini sebagai Umbul Manten.

Legenda umbul Manten Klaten

Asal-usul Umbul Manten Klaten tidak lepas dari cerita rakyat atau legenda tentang sepasang pengantin yang hilang di daerah ini. Konon terdapat sepasang pengantin yang melanggar kebiasaan dengan keluar rumah bersama sebelum 40 hari setelah pasca hari pernikahan mereka. Kebiasaan di tempat itu pada Jaman dahulu memang mewajibkan pasangan pengantin untuk tidak keluar rumah bersama sebelum melalui 40 hari pasca pernikahan. Namun karena suatu hal, di  suatu petang, pasangan pengantin itu melanggar wejangan dari penatua dan pergi keluar rumah bersama. Keduanya berjalan dekat dengan sebuah mata air atau umbul. 

Terdapat banyak pohon besar yang tumbuh di kawasan Umbul Manten Klaten


Diceritakan sang suami berjalan di depan dan diikuti oleh isterinya di belakang, saat menoleh ke sisi belakang, sang suami tidak melihat lagi isterinya mengikutinya serta lenyap begitu saja dari pandangan mata, diantara hari yang mulai gelap. Mengalami nasib sama ketika sang isteri melihat kedepan, tiba-tiba sang suami lenyap dari pandangan matanya dan hilang di sekitaran mata air tempat dia berdiri. Hingga saat tidak ada yang mengetahui keberadaan pasangan pengantin itu. Oleh masyarakat umbul yang menjadi tempat dimana pasangan pengantin tersebut menghilang lantas dinamakan umbul manten atau mata air pengantin.

.............................


Umbul Manten Klaten menurut legenda yang berkembang di masyarakat diibaratkan sebagai tangisan sepasang pengantin yang harus berpisah. Tangisan 2 orang yang saling mencintai dan dipisahkan keadaan yang diakibatkan oleh perbuatan mereka sendiri, melanggar peraturan serta kebiasaan yang ada di dalam masyarakat setempat. Dari cerita tentang asal-usul Umbul Manten, kita dapat memetik pelajaran untuk bisa menahan diri dengan mematuhi kebiasaan yang ada dan diyakini baik oleh masyarakat.

area kolam ikan

Berada di area Umbul Manten Klaten membuat kita seolah-olah berada pada suatu kawasan hutan pedalaman. Pohon yang tumbuh di sekitaran tempat ini memiliki akar yang besar serta dapat kita lihat dari atas permukaan air. Semula banyak yang mengira bahwa pohon besar yang tumbuh di tempat ini merupakan pohon beringin raksasa. Namun, menurut penuturan salah seorang petugas yang berjaga disana pohon tersebut adalah pohon ipik dan bukan merupakan pohon beringin. Air yang keluar di Umbul Manten sangat jernih. Bagian dasar umbul manten merupakan tanah dengan pasir halus dan dikelilingi oleh bebatuan. Air yang berasal dari umbul ini kemudian dialirkan pada parit yang mengalir di sebelahnya untuk digunakan masyarakat guna mengaliri kolam-kolam ikan dan beberapa menggunakannya untuk mengaliri sawah mereka.   


Fasilitas yang ada di Umbul Manten


Kondisi Umbul Manten Klaten saat ini berbeda dengan kondisi 6 tahun yang lalu, dimana dahulu area ini masih sepi oleh pengunjung. Saat ini kawasan umbul Manten sudah banyak pengunjung yang berasal baik itu dari daerah Klaten ataupun daerah luar Klaten yang sengaja datang jauh-jauh untuk melihat keindahan yang ditawarkan umbul yang memiliki 2 kolam utama ini. Beberapa fasilitaspun mulai ditambahkan seperti area parkir disertai dengan pos penjagaan, warung makanan yang berada di sisi barat umbul, toilet serta sebuah mushola sederhana yang sengaja dibuat bagi pengunjung yang hendak menunaikan ibadah sholat.

Di sisi selatan dari umbul Manten juga disediakan kolam dengan ukuran yang cukup besar bagi pengunjung yang ingin merasakan terapi ikan. Terdapat puluhan bahkan ratusan ikan kecil-kecil di dalamnya yang siap menggigit, memberikan sensasi serta dianggap layaknya pijatan relaksasi. Di kawasan sekitar umbul Manten Klaten, kita juga bisa menjumpai umbul-umbul lainnya seperti Umbul Pelem yang letaknya tidak jauh dari umbul manten dan beberapa umbul kecil yang berada di sisi utara dari Umbul Pelem. Rata-rata umbul tersebut dimanfaatkan airnya oleh warga untuk keperluan mandi dan mencuci.

Di balik keindahannya yang menawan ternyata Umbul Manten Klaten menyimpan legenda yang sarat akan makna. Cerita rakyat yang berkembang di tengah masyarakat merupakan sebuah kekayaan tersendiri bagi suatu daerah dan menambah daya tarik bagi orang lain untuk datang mengunjunginya.

" Bagaimana, tertarik mengunjungi Umbul Manten Klaten ???"


Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Legenda pariwisata Jawa Tengah 2017 yang diselengarakan oleh Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah.

Rabu, 19 April 2017

ziarahan ke gua Maria Sendangsono, mujizat yang nyata dalam hidup saya

" Gua Maria Sendangsono merupakan tempat peziarahan umat beragama Katolik yang terletak di wilayah paroki Promasan, Kalibawang, Kulonprogo Daerah Istimewa Yogyakarta. Kawasan ini akan ramai pada bulan-bulan tertentu, diantaranya adalah bulan Mei dan bulan Oktober. Di bulan-bulan tersebut banyak yang berziarah di tempat ini untuk berdoa dan mengucap syukur serta memohon berkat di depan patung Bunda Maria yang sudah ada di kawasan ini sejak puluhan tahun silam "

gua Maria Sendangsono
gua Maria Sendangsono

Ucapan syukur keluarga

Berziarah ke gua Maria merupakan suatu kebiasaan yang dilakukan oleh orang yang beragama nasrani khususnya bagi yang beragama Katolik, termasuk saya dan kedua orang tua saya. Peziarahan ke Sendangsono kali ini saya lakukan bersama keluarga saya di penghujung akhir tahun 2016. Tujuan kami berziarah adalah yang pertama mengucap syukur atas segala berkat yang kami peroleh. Yang kedua adalah memanjatkan permohonan kami  di tahun berikutnya. Meskipun saya adalah orang yang tidak religius-religus amat, namun setidaknya saya adalah orang yang tau akan berterimakasih dan bersyukur atas berkat Tuhan serta mujizat yang ada dalam kehidupan saya. Oleh karenanya, berhubung di akhir tahun lalu saya dan kedua orang tua saya mendapatkan libur kerja secara bersamaan, kami tidak menyia-nyiakan waktu yang ada, kami melakukan ziarah ke Gua Maria Sendangsono yang berlokasi di Kabupaten Kulonprogo.

Pengalaman saya berziarah ke Sendangsono adalah pengalaman saya yang ketiga. Kunjungan ke tempat ini yang pertama adalah di tahun 2006, ketika itu saya berziarah dengan rekan-rekan mudika di wilayah saya dan melakukan prosesi jalan salib serta napak tilas Romo Sandjaja.Pr yang kini makamnya sudah dipindahkan di kerkop. Di tahun 2011 saya berziarah bersama dengan rekan-rekan kuliah saya. Dan di tahun ini saya berkesempatan mengunjungi Sendangsono untuk yang ketiga kalinya bersama dengan kedua orang tua serta adik saya. 

Rute menuju Sendangsono

  • Rute menuju Sendangsono dari Yogyakarta. Rute yang bisa ditempuh bila anda dari kota Yogyakarta adalah : Yogyakarta - jalan Godean – Godean – perempatan Nanggulan belok kanan – Kalibawang – Belok ke kiri ke arah gereja Promasan – Dari Gereja Promasan anda bisa menggunakan kendaraan menuju ke Sendangsono atau melakukan jalan salib dari gereja Promasan sampai ke Sendangsono.
  • Rute menuju Sendangsono dari Semarang. Semarang – Pasar Muntilan – belok kanan – ke arah Kalibawang – desa Dekso ikuti arah ke gua maria Sendangsono.

    Karena kami dari Klaten, kami memilih rute dari Muntilan untuk menuju ke Sendangsono. Hal itu tidak lain untuk menghindari kemacetan apabila kami harus melalui jalur Godean, karena waktu itu masih dalam suasana libur natal dan tahun baru. Bisa dipastikan jalan Yogya-Solo akan macet oleh para pemudik. Kami memerlukan waktu sekitar 2 jam perjalanan dari Klaten untuk sampai di Sendangsono. Kami berangkat tepat jam 08:00 dan sampai di Sendangsono pukul 10:10.

    Pada awalnya kami ingin langsung menuju ke Sendangsono tanpa melalui jalur dari arah Gereja Promasan. Namun karena sempat salah rute, akhirnya terpaksa kami melalui gereja Promasan. Dari gereja Promasan, kita harus menempuh kurang lebih 5 menit perjalanan apabila memakai kendaraan bermotor. Oya bagi yang mau melakukan jalan salib, bisa dimulai di gereja Promasan dengan melalui rute yang telah disediakan.


    Pintu masuk area Sendangsono


    Setelah memarkirkan kendaraan kami, kami sekeluarga bergegas menuju ke arah Gua Maria. Berhubung pada waktu itu banyak peziarah yang datang ke Sendangsono, maka kami terpaksa memarkirkan kendaraan kami di halaman rumah warga sekitar. Oleh bapak yang punya rumah, kami dianjurkan melalui samping rumah mereka dan akan sampai di bagian samping gua Maria, hal itu tentunya akan menyingkat perjalanan. Namun karena kami ingin melihat beberapa barang-barang rohani yang banyak dijual di jalan masuk menuju ke tempat ini, maka kami memutuskan untuk masuk tempat ziarah dari pintu utama.

    Di pintu masuk anda bisa berbelanja benda-benda rohani
     yang banyak di jual di tempat ini


    Memasuki area tempat peziarahan Sendangsono, gapura dengan desain yang unik, yakni gapura dengan bentuk melengkung seolah menyambut kedatangan kami. Deretan orang yang berjualan benda-benda rohani seperti lilin, kalung Rosario, salib serta buku-buku doa menjadi pemandangan yang bisa kita lihat sebelum kami masuk ke area jalan salib. Memasuki area jalan salib, kita bisa memilih, mau ke sendang dengan melalui rute jalan salib atau tidak  melalui jalan salib. Karena pada waktu itu kami tidak berencana melakukan prosesi jalan salib maka kami langsung menuju ke arah sendang dengan berjalan lurus ke depan.


    Sejarah Sendangsono Bethlehem Van Java

    Sendangsono sendiri berasal dari 2 kata berbahasa Jawa yakni : Sendang = Mata Air dan Sono = Pohon Sono. Sendangsono  berarti mata air yang berada di bagian bawah pohon sono. Bersumber dari buku Ziarah Gua Maria di Jawa yang ditulis oleh RL Soemijantoro dan Tim Gua Maria. Masyarakat di wilayah Kalibawang pada jaman dahulu seringkali mengalami kesulitan air bersih.

    Patung Bunda Maria sebagai media kita berdoa


    Hal itu disebabkan karena sulitnya menggali sumur guna mendapatkan air bersih untuk memenuhi kebutuhan mereka. Di daerah ini hanya ada 3 sumber mata air. Salah satunya adalah di Sendangsono. Dari ketiga sumber mata air, sumber mata air yang terletak di bawah pohon sono-lah yang paling banyak digunakan oleh masyarakat, mereka memilih sumber ini karena air yang keluar sangatlah bersih. Selain masyarakat tidak jarang pula para Biksu yang baru pulang dari Candi Borobudur atau biara Boro kidul mengambil air di tempat ini. Perjalanan yang jauh membuat mereka lelah dan meminum air yang ada di sendang untuk mengobati dahaga mereka.

    Mata air yang digunakan sebagai tempat pembaptisan pertama
    tepatnya terletak di bawah pohon sono depan gua Maria 


    Sendang di bawah pohon sono juga dikenal masyarakat sebagai sendang yang angker. Masyarakat percaya bahwa ada roh halus yang mendiami sendang ini. Oleh karenanya,untuk mengusir roh ini, masyarakat mengadakan acara selamatan dan sesaji di tempat ini. Atas dasar itu pulalah, Romo Van Lith SJ. Romo kebangsaan Belanda menjadikan tempat ini sebagai tempat yang kudus. Sendang yang dahulunya dikenal sebagai tempat yang angker, digunakannnya sebagai tempat untuk membabtis 173 orang pada tanggal 14 Desember 1904. 173 orang itulah yang menjadi baptisan pertama dan menjadi orang Katolik pertama yang dimandikan di Jawa Tengah. Oleh karena Sendangsono menjadi tempat lahirnya iman kristiani pertama di Jawa Tengah, beberapa orang menyebut Sendangsono sebagai sebutan "Bethlehem Van Java". Hal tersebut dianalogikan sama seperti halnya Bethlehem yang sekarang berada di Palestina, sebagai tempat kelahiran Yesus Kristus.

    Relief yang  menggambarkan 173 baptisan pertama yang terletak di samping Gua Maria 


    Berdirinya gua Maria yang kita kenal sekarang tidak lepas dari peranan seorang pastor yang bernama Pater J.B Prennthaler SJ yang kala itu bertugas di Kalibawang. Romo Prennthaler menganjurkan agar tempat ini didirikan sebuah tempat lambang kekudusan dan kemurnian. Maka dimulailah pembangunan gua Maria. Ada yang menarik dari pembangunan gua Maria di Sendangsono. Patung yang ada di Sendangsono adalah patung Maria yang dipesan khusus dari Negara Perancis. Masyarakat yang ikut dalam proses pembangunan gua Maria bahu membahu mengangkat peti seberat 300 kg ke arah Sendangsono. Gua Maria Sendangsono diberkati pada tanggal 8 Desember 1929 bertepatan dengan 75 tahun Bunda  Maria Tak bernoda oleh pembesar Serikat Jesus, Pater Kalken. Upacara pemberkatan kala itu dihadiri oleh 700 umat. Perayaan misa dirayakan di sebuah gedung Sekolah Dasar yang biasa digunakan sebagai gereja, kemudian disusul dengan prosesi ke Gua Maria


    Berdoa di Gua Maria Sendangsono

    Sebelum berdoa kami sekeluarga membersihkan diri terlebih dahulu di mata air tepatnya di bagian bawah Gua Maria. Mata air yang dahulu dijadikan tempat pembabtisan jemaat yang pertama di tanah Jawa kini sudah ditutup namun airnya tetap masih bisa kita ambil karena pengelola menyalurkan air tersebut pada beberapa kran air di bagian bawahnya sehingga peziarah akan lebih mudah mengambilnya tanpa harus mengantri terlebih dahulu. 


    Tempat untuk kita membasuh dan membersihkan diri kita


    Pada waktu kami sekeluarga mengunjungi Sendangsono, kawasan ini penuh dengan para peziarah. Saya sempat bertanya kepada beberapa diantara mereka. Mereka datang dari kota-kota besar di wilayah pulau Jawa, ada yang berasal dari Surabaya, Semarang, Jakarta dan kota-kota lainnya di sekitar Yogyakarta. Saya pun bertemu salah satu peziarah dari Paroki saya yakni paroki Gondangwinangun Kabupaten Klaten. Untuk mendapatkan tempat duduk tepatnya di patung Bunda Maria kami harus menunggu terlebih dahulu karena banyaknya peziarah di tempat ini. Tidak sampai 15 menit akhirnya kamipun beroleh tempat yang letaknya di ujung pendopo di depan Gua Maria. 


    " Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu di tempat yang tersembunyi, maka Bapamu di tempat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu " 

    Itu adalah ajaran bagi kita tentang berdoa secara benar, yakni di tempat yang tertutp. Namun karena di lokasi ini merupakan kawasan terbuka hal itu tetap diperbolehkan. Berdoa di alam terbuka dengan udara yang sejuk dibawah pohon sono yang berukuran besar dan berusia puluhan tahun tentu akan membuat diri kita semakin khusuk. Meskipun pada waktu itu kawasan ini penuh dengan peziarah yang berdoa dan mendaraskan segala puji syukur serta permohonan mereka melalui perantaraan Bunda Maria namun keheningan tempat ini tetap terjaga. 

     Gua Maria yang penuh dengan para peziarah

     Arsitektur karya Romo Mangun Wijaya PR

    Selesai berdoa kami pun menuju ke bagian atas dari kawasan Sendangsono yakni di bagian Golgota. Di tempat ini sama halnya di tempat-tempat peziarahan Katolik lainnya, terdapat salib dengan ukuran yang cukup besar terletak disamping kapel Maria yang sering digunakan sebagai tempat peribadatan dan misa di hari-hari tertentu. Dari atas Golgota kita bisa melihat sebagian besar kawasan Sendangsono. Menurut catatan sejarah bangunan di kawasan Sendangsono adalah hasil rancangan Romo Mangunwijaya Pr. Kawasan Sendangsono pernah mendapat penghargaan Agha Khan awards sebuah penghargaan di bidang arsitektur dengan konsep yang menyatu dengan alam dan lingkungan.


    Kapel Tritunggal Mahakudus 


    Dalam video 100 tahun Sendangsono diceritakan bahwa dalam proses pembangunan kawasan Sendangsono seperti yang bisa kita jumpai sekarang bukan tanpa  kendala. Dalam sebuah kesaksian warga di video tersebut Romo Mangun sempat mendapat cibiran oleh beberapa masyarakat yang ikut langsung dalam pengerjaannya. Beberapa diantaranya mengatakan bahwa Romo Mangun mengerjakan hal yang mustahil dilakukan. Beliau tidak ingin pohon-pohon yang sudah ada dan tumbuh di sekitar sendang ditebang begitu saja. Oleh kerena itu beliau menyesuaikan bentuk dan konsep bangunan sesuai dengan kondisi alam di wilayah tersebut. Masih dalam sumber yang sama, dalam pengerjaannya seperti menguruk tanah, membuat paving, mengecor semuanya dilakukan dengan cara manual dan dikerjakan secara bergotong royong. Semua cibiran dari masyarakat yang ikut terlibat ditanggapi dengan kepala dingin sampai akhirnya pengerjaan kawasan ini selesai dan menjadi kawasan Sendangsono yang sangat asri serta sangat sejuk apabila kita kunjungi berkat banyaknya pohon-pohon besar yang tumbuh di tempat ini.

    Salah satu hasil rancangan Romo Mangun Pr


    Masih tentang bangunan di kawasan Sendangsono, apabila kita perhatikan beberapa bagian bangunan di tempat ini mempunyai motif-motif yang unik. Sebut saja paving pada bagian tempat untuk mengambil air. Pada bagian tersebut dapat kita lihat motif tumbuh-tumbuhan yang berpadu serasi satu dengan yang lain. Bangunan di tempat ini juga tidak kalah menarik. Sama seperti karya-karya Romo Mangun lainnya seperti Gereja Maria Asumta di Klaten atau kawasan layak huni di bantaran kali Code Yogyakarta yang memadukan konsep menyatu dengan alam. Bangunan ditempat ini juga sentuhan ornament-ornament yang berasal dari alam seperti penggunaan batu alam sebagai penghias bagian pondasinya, penggunaan kayu sebagai tiang kayu sebagai penyangga utama di beberapa teras yang disediakan, dan masih ada beberapa bangunan lainnya yang mempunyai sentuhan aksen alam. 

    Salah satu sudut tempat prosesi jalan salib 

    Kisah Barnabas Sarikromo

    Karena anda sudah membaca artikel saya maka tidak ada salahnya saya memberikan sedikit informasi mengenai beliau. Berbicara tentang benih iman kekhatolikan di daerah Sendangsono rasa-rasanya tidak akan lengkap apabila tidak membicarakan tokoh yang satu ini. Bapak Barnabas Sarikromo adalah Katekis ( pengajar agama profesional dalam gereja Katolik ) pertama di wilayah Kalibawang. Dalam buku Ziarah Gua Maria di Jawa yang ditulis oleh RL Soemijantoro diceritakan bahwa Bapak Sarikromo semula adalah penggemar ilmu gaib dan kegiatan supranatural lainnya. Beliau sering mengadakan olah batin dengan melakukan ritual di beberapa tempat seperti sendang, sungai dan beberapa tempat lainnya. Dalam perjalanannya, karena tidak puas dengan ilmu yang dimiliki Bapak Sarikromo berguru pada seorang yang bernama Dawud. Bapak Dawud sendiri berubah menjadi seorang kristen kerasulan karena gurunya dikalahkan oleh seorang pendeta Kristen yang bernama kyai Sadrach Supranata yang berkedudukan di Karangjasa Kutoarjo. Pertemuan dengan gurunya inilah yang menjadikan Bapak Sarikrama mengenal seorang Bruder berwarganegaraan Belanda yang sedang mengemban misinya di daerah Muntilan yang bernama Bruder Th. Kersten.

    Di depan makam Bapak Barnabas Sarikromo


    Suatu waktu Bapak Sarikromo mengalami sakit pada kedua kakinya sehingga dia tidak bisa berjalan. Untuk berpindah tempat dia harus merangkak ( Jawa = ngesot ). Terdorong keinginannya untuk sembuh Bapak Sarikromo pergi ke Muntilan untuk bertemu Bruder Th. Kersten. SJ, yang menurut Bapak Dawud beliau adalah seorang dokter berkewarganegaraan Belanda yang baik hati. Di Pastoran Muntilan Bapak Sarikromo diterima oleh Bruder Kersten. Luka-lukanya dibersihkan, dibalut dan diganti verbannya setiap hari. Pada saat itulah Bapak Sarikromo untuk yang pertama mengenal ajaran agama Katolik yang disampaikan oleh Romo Vanlith SJ ketika memimpin misa. Sejak saat itu Bapak Sarikromo secara rutin mengikuti pelajaran agama yang disampaikan oleh Romo Vanlith SJ dan diulang oleh Bapak Andreas Martaadmaja. Bapak Sarikrama akhirnya dibaptis oleh Romo Van Lith pada tanggal 20 Mei 1904. Sesudah upacara pembaptisan selesai Bapak Sarikromo mengucapkan janjinya.
      

    " Kaki saya sudah dapat digunakan lagi karena kemurahan Tuhan, Maka selanjutnya akan saya pakai untuk karya Tuhan "

    Selanjutnya Bapak Sarikromo Mengabdikan diri untuk karya kerasulan awam selama 9 tahun tanpa dibayar dengan memberikan bimbingan kepada kurang lebih 200 orang yang tersebar di kawasan Kalibawang. Dikatakan karya kerasulan awam karena daerah tersebut sempat mengalami kekosongan tenaga pastor dan semua murni dilakukan oleh awam. Baru beberapa tahun kemudian datang tenaga misioner diantaranya adalah : Romo L Groenewegen SJ. Romo J. Barendsen SJ, dan Romo JB. Prennthaler SJ yang berasal dari Austria. Romo Prennthaler inipun sempat dipolisikan oleh pemerintah Belanda dan beberapa kali dipindahkan oleh pemerintah Jepang. 

    Selama 25 tahun Bapak Sarikromo melakukan karya kerasulan awam tanpa sekalipun meminta bayaran. Pada tanggal 08 Desember 1929 saat diadakan perayaan 25 tahun misi di Kalibawang, saat itulah Bapak Sarikromo menerima tanda bintang berwujud salib kehormatan emas dari tahta suci Vatican dengan tulisan " Pro Eccleda de Pontificae " beserta piagamnya. Bapak Sarikromo merupakan orang Indonesia pertama yang menerima penghargaan ini.

    Mujizat nyata dalam hidup saya

    Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, mengunjungi kawasan peziarahan Sendangsono memang bukan pengalaman yang pertama bagi saya, setidaknya saya sudah beberapa kali mengunjungi tempat ini bersama dengan rekan-rekan saya. Pada tahun 2011 tepatnya setelah acara kelulusan di tempat kuliah. Saya bersama 4 orang rekan kuliah saya, Mas Bonaventura, Yoga, Mas Patrick serta Wawan sengaja berziarah ke tempat ini tengah malam, berjaga sampai pagi hari. Tujuannya bersyukur atas kelancaran kami dalam menempuh proses pendidikan sampai selesai dan yang kedua adalah memohon agar kami diberikan pekerjaan yang sesuai. Pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan kami dan pekerjaan yang benar-benar kami peroleh dengan cara yang benar. Karena kami percaya apabila pekerjaan tersebut kami dapatkan dengan cara yang tidak benar, maka sama halnya kami hanya akan mengambil rejeki milik orang lain dan hal itu tidak membawa berkat bagi diri kami.


    sehat-sehat terus ya.....


    Iman dan pengharapan kami akan pertolongan Tuhan membuahkan hasil, satu persatu diantara kami mendapatkan panggilan untuk interview bahkan beberapa diantara kami mendapatkan pekerjaan di tempat yang sama. Kami percaya hal itu adalah permohonan kami dan doa-doa yang kami daraskan melalui perantaraan santa perawan Maria.


    Wisata arsitektur dan kawasan wisata religi

    Peziarahan Sendangsono Kalibawang memang merupakan tempat peziarahan bagi umat beragama Katolik namun kawasan ini tidak menutup diri sebagai kawasan wisata arsitektur dan wisata religi yang dapat dikunjungi bagi semua agama. Bagi yang suka akan arsitektur, kawasan ini menyajikan pemandangan yang indah. Bangunan-bangunan hasil rancangan tangan dingin Romo Mangunwijoyo PR tampak tertata rapi dengan memperhatikan konsepnya menyatu dengan alam. Di bagian sisi sebelah kiri dari goa Maria nampak sungai mengalir dengan jembatannya yang unik. Daerah tepi aliran sungai disulap menjadi tempat yang bisa kita jadikan tempat duduk karena dibuat trap-trap paving yang berukuran besar.


    tepi sungai, tempat ini sering digunakan umat ketika misa
    jika area di depan gua maria sudah penuh


    Di akhir kunjungan saya ke Sendangsono saya dan keluarga saya menyempatkan diri untuk membeli oleh-oleh di tempat ini. Karena kami sudah mempunyai rosario dan barang-barang religi lainnya, kami berencana tidak membeli barag-barang tersebut di tempat ini, melainkan membili makanan khas dari kulonprogo. Bingung juga karena sedikit sekali penjual makanan yang menjajakan makanan di tempat ini, sampai akhirnya kami bertemu dengan seorang nenek yang duduk ditemani oleh cucunya menjual gula aren, ampyang dan jenang. Kami pun membeli makanan tersebut untuk dijadikan oleh-oleh untuk kerabat kami di rumah. 

    nenek penjual makanan ditemani cucu dan guguknya

    Keinginan saya untuk tidak membeli cinderamata berupa barang di tempat ini pun sirna. Pasalnya saya tertarik pada sebuah kalung  usang diantara kalung yang lain yang dijual oleh salah satu penjual alat-alat rohani di depan pintu masuk kawasan Sandangsono. Tidak harus berlama-lama menawar untuk mendapat kalung tersebut. Cukup membayar Rp.10.000 saya bisa membawa pulang kalung sebagai cinderamata berziarah di kawasan peziarahan Sendangsono bersama dengan keluarga saya.   





    Itulah tadi pengalaman saya berziarah ke Goa Maria Sendangsono yang berlokasi di Kalibawang Kabupaten Kulonprogo. Oya di Kabupaten Kulonprogo juga terdapat tempat peziarahan yang lain yakni Gua Maria Lawangsih yang bisa anda singgahi. Berziarah ke Gua Maria Sendangsono akan lebih khusuk apabila anda datang pada malam hari karena tempat ini buka 24 jam dan anda bisa tidur menginap pada teras yang telah disediakan di sisi dari Gua Maria. Berdoa di tengah malam di depan Gua dan diantara lilin-lilin yang menyala temaram sambil merenungi apa yang menjadi rencana Tuhan dalam diri kita.



    Minggu, 16 April 2017

    mengunjungi candi sojiwan, prambanan klaten, cerita moral di relief candi

    Candi Sojiwan. Menelusuri peninggalan peradaban Hindu-Budha di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya memang seakan tidak ada habisnya. Salah satu bentuk peninggalan peradaban Hindu dan Budha yang sampai sekarang masih bisa kita jumpai adalah bangunan Candi. Di wilayah Yogyakarta khususnya di daerah Prambanan terdapat beberapa candi yang menarik untuk kita kunjungi. Candi-candi tersebut beberapa ditemukan dalam kondisi rusak karena berbagai macam sebab seperti bencana alam, faktor cuaca dan ulah tangan manusia. Oleh karena adanya kerusakan di beberapa candi, berbagai upaya dilakukan untuk bisa mengembalikan keindahan candi seperti awal dibuat. Meskipun beberapa candi tidak bisa diperbaiki secara keseluruhan seperti dulu kala, upaya perbaikan candi yang dilakukan bertujuan untuk mengembalikan candi yang sudah rusak seperti pada bentuk utamanya. 

    candi sojiwan, prambanan
    Keindahan Candi Sojiwan


    Berbicara mengenai candi yang sudah mengalami proses pemugaran, di Kabupaten Klaten terdapat sebuah candi indah yang berlokasi di perbatasan antara Kabupaten Klaten dengan Propinsi Yogyakarta. Candi tersebut bernama Candi Sojiwan. Candi Sojiwan secara administratif terletak di desa Kebondalem, kecamatan Prambanan, kabupeten Klaten, Jawa Tengah. Candi ini lokasinya tidak jauh dari Candi Ratu Boko dan hanya memerlukan waktu 10 menit perjalanan apabila rekan-rekan menggunakan kendaraan bermotor.

    Rute ke Candi Sojiwan Prambanan Klaten

    Di akhir pekan yang cukup cerah, saya bersama rekan saya yang berasal dari Solo berkesempatan untuk mengunjungi Candi Sojiwan di kecamatan Prambanan. Memang keinginan untuk mengunjungi candi ini sudah lama saya rencanakan, namun baru kesampaian di pertengahan april tahun ini. Agak kesulitan memang untuk bisa mencapai candi ini, pasalnya kita harus menyusuri jalan di tengah pemukiman warga yang berbelok, ditambah lagi tidak ada penunjuk jalan untuk bisa ke lokasi Candi Sojiwan memaksa saya harus menggunakan google map untuk bisa menemukan rute ke arah candi Sojiwan Prambanan. Untuk bisa mencapai candi Sojiwan, apabila dari jalan Jogja-Solo tepat pada gapura perbatasan Propinsi Jawa Tengah dan Propinsi Yogyakarta, di sisi selatan rekan-rekan akan menemukan sebuah gang kecil. Ikuti jalan di gang tersebut melewati perlintasan kereta api. Lurus saja sampai menemukan pertigaan di tengah desa lalu belok kiri melewati area persawahan. Di sisi kanan nanti akan dapat kita lihat Candi Sojiwan yang nampak berdiri di tengah area persawahan. Untuk bisa sampai di sini rekan-rekan juga bisa memanfaatkan jasa becak yang bisa kita temukan di masjid besar di selatan candi Prambanan. Banyak juga wisatawan yang memanfaatkan jasa becak ini untuk sampai di lokasi candi Sojiwan.

    Gedung Museum di area Candi Sojiwan


    Untuk bisa memasuki area Candi Sojiwan kita harus membayar biaya masuk sebesar  Rp.5.000;. Sedangkan kendaraan bermotor bisa diparkirkan di halaman milik warga yang sudah disulap sedemikian rupa sehingga bisa digunakan sebagai tempat parkir dengan dilengkapi bangunan semipermanen. Memasuki area Candi Sojiwan kita akan dihadapkan pada area yang sangat bersih serta sangat terawat. Beberapa pohon besar masih dibiarkan tumbuh di sekeliling candi sehingga menambahkan kesan asri di area ini. Sekilas candi ini mirip dengan candi peninggalan agama Budha karena pada bagian utama yakni bagian puncak dan sekelilingnya dihiasi beberapa stupa kecil. Bangunan berbentuk stupa seperti yang kita ketahui adalah ciri khas dari bangunan dari agama Budha seperti halnya di Candi Borobudur. Namun anggapan saya ternyata salah. Candi Sojiwan merupakan Candi Peninggalan agama Hindu yakni berasal dari salah satu Dinasti kerajaan Mataram Kuno abad ke VIII sampai X masehi.

    Bangunan utama Candi

    Tidak ingin berlama-lama membuang waktu, saya pun mengelilingi bangunan utama dari Candi Sojiwan. Bangunan utama dari Candi Sojiwan menghadap ke sisi barat. Hal ini ditandai dengan adanya pintu masuk yang menghadap ke barat ditambah lagi dengan adanya arca Gupala pada barat pintu masuk yang saat ini hanya tersisa satu serta tidak utuh lagi karena mengalami beberapa kerusakan. Bangunan utama ini terlihat menjulang dengan ketinggian 27 meter dan di bagian puncak terdapat mahkota berbentuk stupa yang merupakan stupa terbesar dari keseluruhan bagian candi. Sebelum masuk ke dalam bagian candi Sojiwan kita akan menemukan sebuah patung makara tepatnya pada tangga di sisi kanan. Umumnya terdapat sepasang makara pada pintu masuk bangunan candi, namun yang saya temui pada Candi Sojiwan hanyalah sebuah makara, dimungkinkan salah satu makara rusak dan diganti dengan batuan polos tanpa ukiran untuk mengganti bagian yang hilang atau rusak.

    candi sojiwan, prambanan
    Bangunan utama candi sojiwan

    Masuk ke dalam bangunan utama Candi Sojiwan, kita akan menemukan ruangan yang cukup besar dan disana terdapat beberapa relung-relung kosong yang dulunya kemungkinan sebagai tempat untuk menaruh arca. Menurut salah satu bapak petugas yang berjaga di pos pengamanan, beberapa arca sengaja dipindahkan untuk menghindari terjadinya kerusakan. Di bagian tengah dari Candi Sojiwan terdapat teras yang dibangun melingkar sehingga kita bisa melihat keseluruhan bagian dari bangunan utama. Pada dinding candi kita bisa melihat beberapa relief seperti relief dengan bentuk sulur atau tumbuh-tumbuhan, relief  berbentuk hewan dan relief bergambar manusia. Dongeng dari Sojiwan, relief yang terpahat di bagian kaki candi merupakan ajaran moral agama Budha dalam bentuk fabel atau cerita binatang. Di teras ini pula kita dapat melihat keseluruhan bagian-bagian candi Sojiwan.

    candi sojiwan, prambanan
    Bagian atap Candi Sojiwan

    Saya memilih duduk sejenak di teras candi dan mengabadikan beberapa gambar dengan kamera yang saya bawa. Nampak dari atas beberapa bagian candi masih dalam kondisi rusak seperti beberapa stupa dan perwara di sisi utara dan beberapa runtuhan bebatuan dengan jumlah yang sangat banyak tepatnya di sisi selatan candi Sojiwan. Konon batuan tersebut adalah reruntuhan candi Sojiwan yang ukurannya sama dengan Candi utama.

    Sejarah berdirinya candi Sojiwan

    Ada beberapa versi tentang tujuan didirikannya Candi Sojiwan. Pertama, Candi Sojiwan didirikan oleh raja beragama Hindu ditujukan untuk menghormati neneknya yang beragama Budha. Raja tersebut bernama raja Balitung, sedangkan neneknya bernama Nini Haji Rakyan Sanjiwana dan versi yang kedua adalah Candi Sojiwan dibangun oleh Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya yang dipersembahkan kepada istrinya Pramodawardhani dari Dinasti Syailendra yang berbeda keyakinan sekitar pertengahan abad ke-9. Rakai Pikatan beragama Hindu, sedangkan Pramodawardhani beragama Buddha. Pembangunan candi ditujukan untuk menghormati dan memupuk kerukanan kehidupan beragama dalam masyarakat yang pada masa itu mayoritas beragama Hindu dan Budha, namun versi yang pertama adalah versi yang paling banyak diyakini kebenarannya mengingat cerita versi yang kedua merujuk pada sejarah Candi Plaosan, sebuah candi di utara candi Prambanan.  

    Beberapa bagian candi yang belum dipugar
     

    Upaya pelestarian dan pemugaran Candi Sojiwan

    Upaya pelestarian dan pemugaran Candi Sojiwan sudah sejak lama dilakukan. Pencarian batu dan proses anastolisis akhirnya dapat direkontruksi kembali ke bentuk utama dari Candi Sojiwan. Dari proses tersebut, maka Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah pada tahun 1996 memulai pemugaran candi utama Sojiwan. Pemugaran dari tahun 1996 sampai tahun 2006 sudah sampai ke bagian tubuh candi, namun karena terjadi bencana alam gempa bumi yang melanda Yogyakarta dan sebagian wilayah Jawa Tengah pada 27 mei tahun 2006 mengakibatkan tubuh candi mengalami keruntuhan. Tindakan penyelamatan setelah gempa tahun 2006 yakni dilakukan kembali pembongkaran candi dan dalam pemasangannya kembali menggunakan kolom. Kemudian batuan isian yang semula berasal dari batu putih kemudian diganti menggunakan isisan dari batuan andesit yang diperkuat dengan angkur besi. Nat-nat antar batuan isian diisi dengan hidrolik mortar. Untuk bagian tertentu dimana ada daya tarik isian antar batu diperkuat menggunakan bligon. Selama dalam proses pemugaran atau rekontruksi juga dilakukan penelitan arkeologi. Sampai saat ini penelitian telah menemukan struktur parit di sekaliling candi, struktur pagar halaman I di sisi sebelah utara dan sisi timur serta 2 candi perwara dan stupa yang sebagian telah direkontruksi. Mengingat rumitnya proses rekontruksi pada Candi Sojiwan, kita bisa membayangkan betapa majunya peradaban nenek moyang kita masa lampau, sudah bisa membuat bangunan candi sedemikian rupa tanpa menggunakan peralatan canggih seperti saat ini.      

    Cerita relief di Candi Sojiwan yang sarat akan pesan moral

    Salah satu sudut museum Arsitektur Candi
    Puas berkeliling area candi Sojiwan, saya menyempatkan diri untuk mencari sedikit informasi di Museum Arsitektur Candi. Di Museum Arsitektur Candi, ada beberapa foto dokumentasi selama candi mengalami pemugaran dan rekontrusksi serta terdapat bagian-bagian dari candi Sojiwan yang sengaja disimpan disana. Disana pula terdapat setidaknya 7 relief yang terbuat dari batu putih berisi cerita nilai-nilai moral dari agama Budha yang menarik untuk kita ketahui. Cerita dari relief tersebut diantaranya :

    Kisah burung berkepala dua : Seekor burung berkepala dua, salah satu kepala makan enak dan satu kepala lainnya dibiarkan begitu saja. Kepala satunya meminta makan namun ditolak dan dijawab oleh kepala lainnya tidak perlu karena nantinya akan masuk perut yang sama. Kapala tersebut marah dan makan makanan beracun dan matilah burung berkepala dua itu. Pesan ini mengingatkan kita untuk bekerjasa untuk kepentingan bersama, tanpa ada kerjasama yang baik maka usaha yang kita lakukan akan kurang baik hasilnya bahkan bisa saja menemui kegagalan" .   

    Kisah buaya dan kera. Isteri seekor buaya meminta suaminya untuk menangkap seekor kera yang sedang duduk di sungai untuk disantap hatinya. Ia meminta suaminya melaksanakan kehendaknya . Suaminya tersebut berkata bohong kepada kera. Dia mengatakan sedang berbaik untuk mengantar kera tersebut ke seberang sungai yang banyak pohon buahnya. Kera itupun setuju lalu duduk di bagian atas buaya menuju ke seberang sungai. Di tengah perjalanan sang buaya mengutarakan maksud yang sebenarnya dari ajakannya itu. Mendengar hal itu sang kera dengan sukarela menyumbangkan hatinya untuk diserahkan dan dimakan isteri buaya. Namun hati yang diinginkan suami buaya tersebut berada di atas pohon, sang kera meninggalkan hatinya disana. Untuk itu sang buaya harus mengantarkan kembali kera untuk semerta merta mengambil hati yang ditinggalkannya :D. Sampai di tepi sungai si kera cerdik tersebut lalu meloncat dan pergi begitu saja. Pesan dari kisah ini menganjurkan kita supaya " Berusaha menjadi pandai agar tidak mudah ditipu".

    Kisah Prajurit dan pedagang. Seorang prajurit yang berasal dari kerajaan mempunyai 2 orang sahabat yang satu adalah rekannya sesama prajurit sedangkan sahabat satunya adalah seorang pedagang. Prajurit itu siap melindungi sahabatnya apabila sahabatnya mengalami gangguan keamanan. Padagang juga berjanji akan menyerahkan hartanya apabila sahabatnya memerlukannya. Suatu hari prajurit itu ingin menunjukkan kepada isterinya kesetiaan mereka sebagai sahabat. Dia berpura-pura mendapat masalah dan terancam dapat dijatuhi hukuman yang berat. Hal ini disampaikan kepada kedua sahabatnya itu. Pedagang mengatakan bahwa ia tidak dapat berbuat apapun sedangkan prajurit mengatakan siap dengan pedang untuk melindunginya. Pesan yang disampaikan adalah : Sahabat seharusnya tanpa pamrih seperti si prajurit.

     relief di candi Sojiwan


    Kisah wanita dan serigala. Seorang petani tua namun kaya raya memiliki isteri muda dan cantik. Isteri petani itu merasa tidak bahagia dengan suaminya. Suatu saat dia bertemu dengan seorang penyamun muda yang sering memuji kecantikannya, wanita tersebut sangat senang dengan pujiannya. Mereka berjalan bersama dan hendak menyeberang sungai. Di tengah jalan timbul watak jahat sang penyamun untuk menguasai harta si wanita. Atas usul penyamun, barang-barangnya diseberangkan dulu oleh penyamun dan dia tidak kembali untuk menjemput wanita tersebut. Si wanita akhirnya menyadari bahwa dirinya sudah tertipu. Pada suatu hari datanglah serigala datang dengan membawa suatu daging pada moncongnya. Melihat ikan yang banyak di sungai, dilepaskan daging yang ada pada moncongnya karena ia bermaksud menangkap ikan untuk dijadikan makanannya. Sementara ia bersiap-siap menangkap ikan, datanglah burung dan menyambar daging yang sudah dilepaskannya tersebut. Ikan-ikan yang semula banyak berkumpul di sungai akhirnya juga pergi semua. Pesan dari kisah ini mengajarkan kita agar tidak serakah dan mensyukuri apa yang kita punya.



    Di tempat ini pula saya mendapatkan wawasan baru tentang bentuk candi yang bisa kita jumpai selama ini di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Bentuk bangunan candi berawal dari bangunan kuil yang berada di India yang terbuat dari bambu. Terdapat 2 macam bangunan kuil bambu yakni wimana dan shikara. Kuil bambu ini kemudian dikembangkan menjadi bangunan batu atau candi. Candi dengan bentuk wimana banyak ditemukan di India selatan. Sedangkan candi dengan bentuk sikhara banyak dibangun di India utara. Di tanah Jawa, candi dengan bentuk Sikhara hanya dapat ditemukan di Dieng Wonosobo yakni candi Bima sedangkan candi Sojiwan sendiri merupakan candi dengan bentuk Wimana.    

    keindahan candi sojiwan


    Candi Sojiwan bagi saya pribadi merupakan candi yang cukup bagus dan sangat direkomendasikan untuk rekan-rekan kunjungi. Lokasinya yang masuk dan berjarak cukup jauh dari jalan raya membuat suasana di tempat ini cukup tenang. Areanya yang bersih dengan rerumputan hijau, tertata dengan rapi, serta dikelilingi area persawahan menambah daya tarik bagi para wisatawan yang jenuh dengan bisingnya kawasan perkotaan. Dengan mengunjungi candi ini kita juga dapat belajar tentang sejarah dan belajar tentang nilai-nilai moral yang diceritakan di beberapa relief candi. Berkaca pada tujuan didirikannya candi Sojiwan. Pada masa lampau sudah ada upaya untuk membina kerukunan hidup di tengah masyarakat dengan tujuan agar kehidupan masyarakat yang beragama Hindu dan Budha dapat berdampingan serta hidup harmonis. Nilai-nilai luhur yang patut kita jaga dan kita pupuk saat ini, agar kita tidak kehilangan identitas sebagai bangsa yang besar serta bangsa yang tidak lupa akan jati diri dan sejarah bangsanya sendiri.

    Meskipun kecil  dan tidak sepopuler candi Prambanan atau Keraton Boko namun candi Sojiwan memiliki daya tarik tersendiri bagi rekan-rekan yang suka mengunjungi tempat-tempat wisata seni dan budaya. Jadi apabila rekan-rekan mengunjungi Candi Prambanan atau Candi Ratu Boko, tidak ada salahnya mampir sejenak mengagumi karya arsitektur bangsa Indonesia yang bermana Candi Sojiwan

    Rabu, 12 April 2017

    menelisik asal usul dan legenda telaga sarangan magetan jawa timur

    Legenda telaga Sarangan Magetan. Asal-susul telaga Sarangan Magetan Jawa Timur tidak bisa dipisahkan dengan cerita tentang Ki Pasir dan Nyi Pasir yang konon tinggal di daerah ini. Berikut ceritanya : 

    " Di lereng gunung Lawu hiduplah sepasang suami isteri bernama Ki pasir dan Nyi pasir. Pasangan ini telah lama hidup berdampingan namun belum dikaruniai seorang anak. Sampai suatu hari keduanya bersemedi memohon Sang Hyang Widi agar mendapatkan keturunan. Sampai akhirnya mereka mendapat anak laki-laki yang diberi nama Jok Lelung. Hari-hari Ki pasir dan Nyi pasir digunakann untuk membuka lahan pertanian dan bercocok tanam di sekitar pondoknya. Hingga pada suatu hari terjadi kejadian aneh yang menimpa keduanya. Saat hendak berladang, salah satu dari mereka menemukan sebuah telur. Ki pasir pun mengambil, membawanya pulang dan merebusnya. Telur yang sudah matang dibaginya kemudian diberikannya kepada isterinya untuk dimakan bersama. Setelah makan telur rebus tersebut Ki pasir dan Nyi Pasir merasakan sesuatu yang aneh pada diri mereka. Tubuh mereka menjadi panas serta gatal. Sepasang suami isteri tersebut mencari sebuah tempat untuk berendam guna menghilangkan rasa panas pada tubuh mereka. Lama-kelamaan tubuh mereka berubah menjadi naga. Keduanya marah dan menggeliat-menggeliat tubuh mereka membentuk cekungan, menyibak-nyibakkan tubuh mereka kesana kemari. Gunung pun hendak digempurnya, pohon-pohon akan mereka robohkan. Mengetahui kedua orang tuanya berubah menjadi naga. Joko Lelung bersemedi memohon Sang Hyang Widi agar niatan kedua orang tuanya dapat digagalkan. Saat kedua orang tuanya berguling guling membuat cekungan, timbul niatan Ki Pasir dan Nyi Pasir untuk mengurungkan niat mereka. Namun tak urung, sumber yang menjadi tempat pelampiasan kemarahan keduanya menjadi sebuah kubangan berukuran raksasa. Kini kubangan raksasa tersebut dikenal dengan sebutan telaga pasir atau Telaga Sarangan". 


     legenda telaga sarangan magetan jawa timur
    Telaga sarangan Magetan Jawa Timur

    Telaga Sarangan atau masyarakat sering menyebutnya sebagai telaga pasir, merupakan telaga alami yang secara administratif terletak di desa Sarangan, kelurahan Plaosan, Kabupaten Magetan Propinsi Jawa Timur. Panorama di tempat ini sangat indah. Selain udaranya yang sangat sejuk, kita dapat melihat gelombang air layaknya ombak di tepi pantai.


    Perjalanan ke Telaga Sarangan dari Tawangmangu

    Kali ini saya mendapat kesempatan untuk jalan-jalan ke Telaga Sarangan bersama dengan rekan-rekan seprofesi dengan saya dari Yogyakarta. Setelah sebelumnya saya dan rombongan bermalam di daerah Air Terjun Grojogan Sewu, pagi hari kami bergegas menuju ke Telaga Sarangan Magetan Jawa Timur. Pagi hari sekitar jam 07:45 kami memacu sepeda motor kami melalui jalan tembus Tawangmangu-Magetan melalui Cemoro Sewu. Bagi rekan-rekan yang hobi naik gunung pasti sudah mengetahui daerah ini. Cemoro Sewu merupakan salah satu jalur pendakian gunung Lawu yang sering dilalui karena medannya yang lebih mudah dibandingkan dengan jalur lainnya. Perjalanan dari Sarangan ke Tawangmangu kita harus menempuh waktu selama kurang lebih 30 menit.

    Lokasi Telaga Sarangan di kaki Gunung Lawu

    Telaga sarangan Magetan merupakan telaga yang terletak di atas ketinggian. Telaga ini berada pada ketinggian kurang lebih 1.200 meter di atas permukaan air laut, atau 500 meter lebih rendah dibandingkan dengan ketinggian gunung Andong Magelang. Letaknya yang berada di lereng gunung Lawu membuat udara di sekitar area ini sangat dingin. Oya Telaga sarangan juga bisa kita lihat dari ketinggian apabila kita melalui jalur pendakian gunung Lawu tepatnya apabila kita melalui pos 4 watu kapur kapur ke arah sumur Jolotundo.

     legenda telaga sarangan magetan jawa timur
    Telaga sarangan dilihat dari gunung Lawu ( Pendakian Lawu tahun 2013 )

    Setelah menempuh rute menuju telaga Sarangan yang cukup menanjak, akhirnya rombongan kami sampai di lokasi sekitar pukul 08:30. Pikir kami, kami diwajibkan untuk membayar biaya masuk ke dalam obyek wisata, namun pada saat itu kami tidak mendapatkan petugas yang berjaga di pos pintu masuk kawasan obyek wisata, oleh karenanya kami segera bergegas memarkirkan kendaraan kami di tempat parkir yang telah disediakan. Memasuki kawasan Telaga Sarangan kita akan disambut dengan banyaknya orang yang berjualan di pinggir telaga. Mulai dari jualan sate kelinci khas Tawangmangu sampai orang yang berjualan bunga edelweis dapat kita temui di lokasi ini. Beberapa rekan saya memilih untuk mengisi perut mereka dengan sarapan di tepi telaga. Rekan saya Catur mengajak saya untuk berkeliling telaga dengan berjalan kaki menikmati udara dingin yang cukup menjadi alasan bagi saya untuk selalu mengenakan jaket selama berada di kawasan ini.

     legenda telaga sarangan magetan jawa timur
    suasana di tepi telaga sarangan


    Berjalan berkeliling telaga sarangan mengingatkan kembali pada kenangan lama saya bersama dengan ayah saya. Jika ingatan ini tidak berkhianat, saya pernah mengunjungi tempat ini pada tahun 1998, saat itu saya masih duduk di Sekolah Dasar. Masih jelas dalam ingatan saya bahwa di tengah-tengah telaga ini terdapat sebuah pulau kecil dan pada waktu itu masih sedikit orang yang menyewakan speed boat untuk digunakan mengelilingi kawasan Telaga Sarangan. Saat ini di kawasan Telaga Sarangan kita dapat dengan mudah menjumpai penyedia speed boat yang bisa kita gunakan mengelilingi telaga ini dengan membayar biaya sebesar 60 ribu untuk sekali sewa. Di kawasan ini pula kita dapat menggunakan jasa penyedia ojek kuda dengan tarif yang sama dengan penyedia speed boat.

     legenda telaga sarangan magetan jawa timur
    parahlayang yang melintas tepat di atas telaga


    Setelah dirasa cukup berjalan berkeliling area Telaga Sarangan, saya pun memilih untuk duduk di kursi yang telah disediakan di tepian telaga, menikmati pemandangan gunung Lawu dengan puncaknya yang nampak tinggi menjulang. Puncak yang konon menjadi tempat moksanya Prabu Brawijaya V dari kerajaan Majapahit tempat dimana dia memilih untuk mengasingkan diri ditemani oleh pengawal-pengawalnya yang masih setia. Ketika sedang duduk bersantai di tepi telaga, pandangan saya tertuju pada sebuah parahlayang yang terbang tepat di atas speed boat saat itu sedang melintas mengelilingi telaga. Entah darimana obyek itu datang, namun menurut pengalaman saya, kegiatan ini sering dilakukan di area kebun teh Kemuning Karanganyar. Disana biasa digunakan sebagai landasan pacu kegiatan parahlayang.

    Di depan Patung Ki Pasir yang menjadi icon  Telaga Sarangan

    Di penghujung kunjungan saya di Telaga Sarangan, saya menyempatkan mengambil gambar pada sebuah gapura atau lebih tepatnya pada bangunan yang menjadi icon dari Telaga Sarangan. Bangunan itu berbentuk patung 2 ular raksasa yang terlihat berhadapan satu dengan yang lainnya. Terdapat sebuah gunungan di tengah kedua patung yang memiliki tinggi sekitar 3 meter ini. Patung naga tersebut tidak lain adalah sosok Ki Pasir dan Nyi Pasir yang berubah menjadi wujud ular dan menjadi legenda asal-usul Telaga Sarangan yang berkembang khususnya di wilayah Sarangan, Plaosan, Jawa Timur.

    Selasa, 11 April 2017

    pengalaman rafting di sungai elo magelang Jawa Tengah

    Pengalaman Rafting di Sungai Elo Magelang. Ingin merasakan Rafting atau arung jeram dengan harga yang terjangkau? Rafting di sungai Elo Magelang tempatnya....Kegiatan rafting di Sungai Elo Kabupaten Magelang yang saya ceritakan kali ini adalah pengalaman rafting bersama dengan rekan-rekan kerja saya yakni rekan kerja satu ruangan di salah satu Rumah Sakit swasta di kota Yogyakarta. Sudah menjadi kebiasaan bagi kami untuk mengadakan acara bersama, seperti acara arisan ataupun acara pergi berwisata bersama yang diadakan selama beberapa bulan sekali. Seringkali acara yang diadakan mengikutsertakan anggota keluarga masing-masing, namun acara Rafting di sungai Elo kali ini dikhusus bagi karyawan saja. Alasan mengapa kami sering melakukan kegiatan kebersamaan adalah, selain untuk bisa lebih mempererat tali silaturahmi, mengenal anggota keluarga rekan juga melepaskan kepenatan kami dalam bekerja. Bagaimanapun juga bekerja dengan stressor yang cukup tinggi membuat kami terkadang jenuh. Oleh karenanya dikesempatan kali ini kami sengaja mencari tempat yang bisa melepaskan kepenatan kami, bebas berteriak dan meluapkan segala emosi kami. Kami memilih untuk melakukan rafting bersama di sungai Elo Kabupaten Magelang Jawa Tengah.  

    pengalaman rafting di sungai elo magelang
    angkat dayungmu, ekspresikan aksimu


    Meskipun saya termasuk orang yang suka akan kegiatan outdoor, entah itu mendaki gunung, susur pantai ataupun rapling, namun saya belum pernah mempunyai pengalaman mengikuti rafting atau arung jeram di sungai. Alasannya sederhana, karena saya tidak suka kegiatan dengan media air ( meskipun saya juga bisa berenang ). Namun karena acara kali ini adalah acara kebersamaan antar karyawan satu ruangan di tempat kerja saya maka saya wajib mengikutinya. Jarang-jarang juga punya pengalaman seperti ini :D.


    Sebelumnya panitia acara telah membuat schedule acara dan telah menghubungi pihak jasa penyedia layanan wisata yang akan memandu dan mengatur acara kami baik itu dari segi teknis maupun menyediakan logistik serta dokumentasi. Pihak panitia telah menghubungi salah satu jasa wisata yang cukup recomended, kalau tidak salah EO waktu itu adalah KOMPAS. Bukan kompas TV lho ya, tapi kompas adventure salah satu jasa wisata yang biasa mengatur tentang teknis rafting di sungai Elo Magelang.

    pengalaman rafting di sungai elo magelang
    anggota didominasi oleh kaum hawa :D

    Hari yang telah dijadwalkan pun tiba. Sesuai dengan kesepakatan sebelumnya rombongan kami berkumpul di parkiran pengunjung tempat kami bekerja. Rencana kami berangkat tepat jam 07:00 harus mundur karena beberapa dari kami datang terlambat, bisa kami maklumi juga karena mereka pulang dari dinas jaga malam, pastinya badan capek dan repot dalam mempersiapkan diri. Tidak kurang dari 30 menit menunggu akhirnya anggota kami sudah lengkap dan kami berangkat tepat pukul 07:45 dengan menggunakan sebuah minibus yang bisa mengangkut sekitar 15 orang. Berangkat menggunakan minibus yang ditumpangi orang dengan kapasitas penuh membuat kami harus pandai-pandai mengatur tempat duduk dan pandai-pandai mengatur barang bawaan. Kami berangkat dari Yogyakarta dengan menyusuri jalan Magelang melalui Ringroad Utara. Menurut informasi yang kami peroleh wisata Citra Elo beralamat di Jalan Sendangsono KM 02, Kecamatan Mungkid, Borobudur Kabupaten Magelang Jawa Tengah. 

    Perjalanan kami menyusuri jalan Magelang berjalan dengan lancar meskipun harus berdesak-desakan sampai insiden yang membuat perjalanan kami tidak nyaman ( mungkin bagi sebagian anggota kami menjadi semakin lebih seru ) yakni ban belakang mobil yang kami tumpangi pecah. Kejadian tersebut terjadi di daerah Tempel tepatnya sebelum Jembatan kali Krasak. Saat ban belakang mobil yang kami tumpangi pecah, sang sopir langsung menepikan mobil ke arah kiri ke arah kiri. Apabila sedikit saja oleng ke kanan mobil yang kami tumpangi mungkin sudah menabrak marka jalan. Untungnya ( masih sedikit untung ) lalu lintas jalan Magelang pagi itu cukup sepi. Maklumlah kami berangkat hari Minggu pagi, jadi kondisi lalu lintas masih sepi. Harapan kami mobil tersebut dapat segera diperbaiki, ban yang pecah dapat segera diganti dengan ban cadangan dan kami bisa melanjutkan perjalanan kami. Namun ternyata ban cadangan yang ada di bagian bawah juga sudah sobek, Duuuuuh biyung........   


    pengalaman rafting di sungai elo magelang
    om telotet om...bannya pecah om.......

    Di tengah kegusaran kami, mas supir yang berinisial Bowo berusaha meredam gejolak yang terjadi dengan mencari bengkel terdekat untuk bisa memperbaiki keadaan. Namun ternyata pihak bengkel tidak bisa memperbaiki ban cadangan yang sobek, hal tersebut dikarenakan sobekan ban dirasa cukup besar dan sangat beresiko apabila tetap dipaksa untuk dipakai. Akhirnya kami memutuskan untuk naik bus. Mungkin ide tersebut terdengar cukup konyol, kita berusaha mencari bus yang kosong untuk bisa kita “charter” menuju ke lokasi rafting. Beberapa kali kami menemukan bus yang lewat, namun beberapa diantaranya berisi penumpang selebihnya adalah bus Pariwisata yang berisi penuh dengan penumpang. Pikir kami tidak mungkin mau sopir bus tersebut mengantarkan kita karena sudah berisi penumpang. Setelah beberapa saat kami menunggu akhirnya lewat sebuah bus dengan kapasitas yang kecil dan tidak berisi penumpang, kami kompak berteriak dan melambaikan tangan ke arah bus tersebut. Apa yang terjadi? Apakah bus Berhenti ?? Tentu tidak!!, alih-alih bus tersebut berhenti, yang berhenti justru truk kosong di belakangnya. Sopir truk tersebut berhenti dan menawarkan kami tumpangan karena mereka juga menuju ke arah yang sama. Akhirnya disepakai kami naik truk untuk menuju ke Citra Elo, sementara kami melanjutkan perjalanan mas supir melanjutkan membenahi ban mobil yang pecah, sebenarnya kasihan juga ditinggal sendirian, namun apa mau dikata, perjalanan harus segera dilanjutkan.


    pengalaman rafting di sungai elo magelang
    Selfie di atas jembatan sungai Krasak 


    Pengemudi truk tidak mematok atau meminta harga khusus untuk bisa mengantarkan kami ke lokasi rafting. Segeralah perjalanan kami berlanjut, yang namanya tidak pernah naik kendaraan bak terbuka pasti akan heboh sendiri diatas truk, untungnya saat itu tidak ada polisi lalu lintas yang berjaga di seputaran kota. Tidak sampai satu jam perjalanan sopir truk memberhentikan kami di tepi sungai Elo.
    “ Loh kog berhenti disini pak ?”
    Pak sopir : Iya mbak lokasi raftingnya ya di sungai ini?
    Setau saya ada di jalan ke Borobudur itu pak ?
    Pak sopir : Owh iya mbak lokasi basecampnya memang disana, saya baru nggeh, saya antar kesana sekarang.

    Begitulah percakapan kami dengan pak Sopir. Beliau baru sadar bahwa untuk mengikuti rafting di sungai Elo harus berkumpul dan melakukan koordinasi dulu dengan penyelenggara yakni di lokasi basecamp Citra Elo yang berada di jalan menuju ke Jalan Sendangsono. 

    pengalaman rafting di sungai elo magelang
    akhirnya sampai juga :D

    Pukul 10:00 sampailah rombongan kami di basecamp Citra Elo yang berada di Jalan Raya Sendangsono KM. 0.2, Kecamatan Mungkid Borobudur, Progowati, Mungkid, Magelang, Jawa Tengah. Sampai disana kami disambut oleh salah satu petugas penyedia layanan wisata yang sebelumnya telah menunggu kami. Jadwal rafting harus mundur dari yang direncanakan sebelumnya. Disana kami dipersilahkan untuk berganti baju dan menitipkan barang-barang yang kami bawa terlebih dahulu. Tidak ada penitipan khusus yang disediakan jadi semua barang merupakan tanggung jawab masing-masing anggota. Kebetulan waktu itu salah satu rekan kami membawa mobil sehingga semua barang-barang bawaan kami dapat tersimpan dengan aman di dalamnya. Oya sekedar informasi, sebaiknya kita tidak memakai atau mengenakan alas kaki selama kegiatan rafting berlangsung. Karena hal tersebut malah akan menyulitkan pergerakan kita selama di atas perahu karet ataupun ketika kita tercebur di dalam air. Setelah selesai mempersiapkan diri kami dibawa ke lokasi rafting yakni sungai Elo tempat dimana kita diturunkan oleh pak supir Truk yang kita tumpangi waktu awal perjalanan tadi. 

    gapura masuk Citra Elo ( Berada di sisi kiri jalan dari arah jl. Magelang ) 

    Dengan menggunakan sebuah mobil kami dibawa menuju ke tepian sungai Elo. Di dalam mobil ini juga dibawa semua perlengkapan rafting, baik itu perahu ( dibawa dengan ditalikan di atas mobil ) pelampung, dayung dan helm. Tidak sampai 20 menit perjalanan sampailah kami di pinggir sungai Elo yang menjadi tempat berkumpul dan tempat sebagai titik awal kegiatan rafting atau arung jeram. Pada waktu itu kami melakukan kegiatan pada hari Minggu, sehingga banyak sekali pengunjung yang mengharuskan kita untuk antri menggunakan tempat yang ada sekedar untuk melakukan pemanasan dan mendengarkan instruksi serta teknis kegiatan yang akan dilakukan. Nah yang tidak kalah penting dari kegiatan rafting kali ini adalah pemanasan dan mengetahui tentang teknis rafting atau arung jeram. Sebelum melakukan kegiatan rafting, instruktur akan mengajarkan kita tentang bagaimana cara mendayung yang benar, bagaimana cara memposisikan badan kita ketika jatuh di air dan bagaimana cara kita ketika menghadapi aliran yang kuat serta medan yang curam. Disampaikan pula rute perjalanan yang akan kami lewati yakni aliran sungai Elo dengan panjang sekitar 12 km dengan waktu tempuh sekitar 2,5 jam perjalanan. Setelah selesai mendengarkan instruksi kami diperkenankan menggunakan peralatan rafting kami berupa helm dan pelampung.


    petualanganpun dimulai


    Waktu yang dinantikan telah tiba !!!, rombongan kami yang terbagi menjadi 4 kelompok dipersilahkan menuju ke perahu masing-masing. Dalam satu perahu dapat dinaiki oleh 7 orang, yakni 6 orang anggota dan satu orang sebagai guide yang duduk di posisi paling belakang. Di dalam perahu kita tidak diperkenankan membawa handphone ataupun kamera, kacuali sport kamera yang bisa dipasang di bagian depan dari perahu yang kami tumpangi. Selain itu kami juga tidak membawa air mineral, karena menurut pihak penyelenggara di tengah perjalanan nanti rombongan kami akan berhenti untuk beristirahat sambil menikmati snack dan air kelapa yang telah disediakan oleh pengelola. Mantab dah !!!. 


    itu helm ya, bukan semangka 


    Ayunan dayung kami mulai silih barganti, membuat perahu kami semakin ke tengah aliran sungai, nah bila perahu sudah ke bagian tengah, kita tidak perlu bersusah payah mendayung, tinggal mengikuti aliran air sungai sambil menikmati pemandangan yang ditawarkan oleh alam sekitarnya. Perahu kami dapat bergerak menuju ke bagian hilir sungai. Beruntungnya kami karena pada saat itu langit sangat cerah meskipun hari sebelumnya kawasan Yogyakarta dan sekitarnya ( termasuk wilayah yang digunakan untuk rafting ) diguyur hujan yang cukup lebat lebat, hal tersebut membuat warna air sungai menjadi kecoklatan karena bercampur dengan endapan lumpur yang dibawanya. Pemandangan di sekitar sungai Elo sungguh istimewa, kami dapat melihat pemandangan yang tidak bisa kami temukan terutama di perkotaan. Suasana alam yang sangat asri ditambah lagi dengan pemandangan aktifitas warga pedesaan yang tinggal di daerah pinggir sungai membuat kita betah belama-lama di atas perahu. Beberapa diantaranya melakukan aktifitas berladang, memancing ikan serta mencuci pakaian di tepi sungai. 

    moment yang dinantikan, yakni menuruni jeram dengan aliran sungai yang deras


    Perahu kami bergerak mengikuti aliran air yang kami rasakan semakin lama semakin deras. Saat itu pula terlihat beberapa bebatuan dengan ukuran yang cukup besar berada di bagian aliran sungai. Kami diperintahkan oleh leader untuk mendayung lebih keras lagi guna membelokkan laju perahu kami untuk menghindari bebatuan tersebut. Kesulitan pertama berhasil kami lewati, namun itu tidak seberapa, di sepanjang aliran sungai Elo terdapat beberapa rintangan lainnya seperti aliran air berupa turunan dengan bebatuan di bagian tengah, pepohonan yang berada dibagian atas aliran sungai yang memaksa kita harus “ tiarap” untuk bisa meghindarinya. Setelah kurang lebih 1 jam perjalanan dengan mengarungi setengah dari jalur rafting, sampailah kita di tempat yang dijanjikan oleh penyeleggara, yakni tempat bagi kami untuk beristirahat, minum air kelapa muda sambil makan makanan ringan yang telah disediakan. 

    coba tebak, kedua lelaki ini sedang melihat apa ??!!


    Di sebuah gubuk kecil kami beristirahat sambil duduk-duduk pada kursi bambu hasil karya warga sekitar. Kami mencicipi makanan yang menurut seorang guide merupakan makanan khas dari daerah tersebut. Makanan yang terbuat dari ketan dibungkus dengan daun kelapa muda berbentuk terompet dan makannya harus dibuka dulu dengan cara diurai daun pembungkusnya, sayang saya tidak mempunyai fotonya. Selain itu kami juga disuguhkan kelapa muda, yang membuat terasa berisi penuh dengan cairan air kelapa yang saya minum :D

    Setelah dirasa cukup waktu untuk beristirahat, kami dipersilahkan untuk melanjutkan perjalanan kami. Sebelum melanjutkan perjalanan, kami meminta fotografer mengambil beberapa gambar kami. 


    “  sekarang helm dilepas, masukkan ke dalam air, dalam hitungan ketiga silahkan ayunkan helm setinggi-tingginya ke atas "

    Begitulah arahan dari fotografer untuk mendapatkan kesan gambar yang seru dengan cipratan air. Setelah itu kami dipersilahkan untuk memakai helm kita masing-masing. Jika dipikir-pikir kog kita nurut-nurut aja ya ??!! padahal jelas helm tersebut akan basah :D. Selain itu rekan saya yang cowok mengajak foto dengan melepas baju, saya enggan menerima tawaran tersebut namun beberapa rekan saya nekat melakukannya, hal tersebut membuat saya tertawa geli jika melihat fotonya kembali. 

    prepare, perjalanan masih jauh.....!!! 


    Setelah selesai beristirahat kami dipersilahkan untuk kembali ke perahu kita masing-masing guna menyelesaikan perjalanan yang tinggal separuhnya. Jalur aliran sungai yang dihadapi semakin ke hilir semakin curam serta dalam. Disini pula perahu yang kami tumpangi seringkali menabrak perahu-perahu dari kelompok lain, di kesempatan itulah menjadi kesempatan bagi kelompok rekan untuk melancarkan keisengan mereka dengan cara memukulkan dayung dan mengarahkan cipratan air kepada kita yang posisinya di belakang mereka, maka perang air pun dimulai. Hal itu menyebabkan kelompok-kelompok lain melakukan hal yang sama.

    posisi yang seperti ini yang paling ditunggu untuk bisa menyerang "musuh" dari arah depan :D

    Ditenggelamkan itu wajib

    Mungkin sudah menjadi kebiasaan di tempat ini bahwa semua anggota harus minimal sekali mencebur ke aliran sungai Elo. Demikian pula yang terjadi di kelompok saya. Entah itu sengaja maupun tidak disengaja ( dengan cara ditarik dari perahu lalu diceburkan ) anggota kelompok satu per satu dapat merasakan sensasi dinggin dan derasnya aliran sungai tersebut. Bagi kamu yang tidak bisa berenang, jangan khawatir, sudah diajari kog di awal sebelum anda melakukan rafting tentang bagaiaman cara agar tubuh dapat mengambang di permukaan air, sedangkan hal yang paling penting agar tidak tenggelam adalah “ jangan panik”. Jika kamu sudah panik terlebih dulu alih-alih akan mengambang, justru kamu akan kesulitan dalam memposisikan tubuhmu mengikuti aliran air sehingga tidak bisa mengambang dengan posisi yang tepat. Salah satu anggota rafting yang menjadi korban rekan-rekan satu kelompok dengan kami adalah anggota paling senior yang bernama Harul Harisman. Pria lajang kelahiran Gunungkidul ini dari awal sudah mengatakan :

    “ aku ora isoh renang, pokoke aku ora arep jegur “

    Justru karena beliau sudah mengatakan demikian mungkin menjadi semangat bagi kami untuk bisa menenggelamkan beliau. Beberapa kali usaha kami gagal karena kami tidak cukup kuat mendorong beliau dari posisi tempat dia duduk. Namun berkat kerjasama tim yang baik dan berkat bantuan rekan-rekan dari perahu lainnya ( ditarik dengan menggunakan ujung dayung yang melengkung ) akhirnya usaha untuk memaksa rekan kita yang satu ini berbuah manis :D. Rekan saya yang kebetulan memiliki postur tubuh paling besar dibandingkan dengan semua anggota tersebut berhasil kita “paksa” untuk masuk ke dalam air. Sebenarnya antara kasihan dan senang, kasihan melihat ekspresinya yang pucat karena takut dengan air, dan senang karena aksi kita sukses.




    Perjalanan berlanjut menyusuri kawasan sungai elo dengan segala keunikannya


    Perjalanan kami menyusuri aliran kali Elo pun berlanjut. Semakin ke hilir pemandangan semakin menawan, kita dapat menyusuri bawah jembatan kecil. Anak-anak telihat dengan asiknya bermain di bagian jembatan tersebut tanpa sedikitpun rasa takut di wajah mereka. Disini pula saya juga dapat melihat biawak yang hidup secara liar. Pikir saya adalah kadal, namun setelah saya amati ternyata binatang yang berbentuk kadal tersebut memiliki jengger di bagian bawah dan berwarna hitam. Namun sangat disayangkan karena kami tidak diperkenankan membawa kamera, maka saya tidak bisa mendokumentasikan pengalaman saya tersebut. 

    hal yang paling seru, perahu menabrak batu


    Tidak sampai 1.5 jam perjalanan terhitung dari tempat kami beristirahat maka sampailah kita ke bagian ujung lintasan rafting di sungai Elo. Di bagian ujung trek inilah jeram yang paling besar dan paling menantang dibandingkan dengan hal serupa yang kami temui di beberapa tempat sebelumnya.


    Jeram di ujung lintasan rafting 


    Setelah sampai di bagian tepi sungai kami bergegas menuju tempat berkumpul yakni tepat di bagian atas aliran sungai. Perlengkapan pribadi yang kami pakai ( dayung, jaket dan helm ) tetap kita bawa dan kita kumpulkan di tempat kami berkumpul. Sambil menunggu mobil yang akan membawa kami ke basecamp kami mengeringkan badan kami terlebih dahulu.


    setelah selesai rafting, perahu harus diangkut ke basecamp


    Tidak sampai 15 menit menunggu maka datanglah mobil yang akan membawa kita ke basecamp citra elo. Kondisi  badan yang basah dan perut yang mulai lapar agaknya tidak menjadi alasan bagi kami untuk tetap bersenda gurau dan saling menceritakan pengalaman seru kami di dalam mobil yang mengangkut kami. Tidak beberapa lama perjalanan sampailah kami di basecamp Citra Elo. Tujuan awal kami adalah kamar mandi. Di basecamp Citra Elo terdapat banyak fasilitas yang bisa anda gunakan, seperti kamar mandi dengan jumlah yang cukup banyak. Sekitar 20 an kamar mandi bisa anda gunakan di tempat ini. 

    Hati yang bergembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang ( Amsl )


    Beberapa tips yang bisa anda coba ketika melakukan rafting di sungai Elo adalah :

    1. Sebaiknya anda tidak membawa ponsel ataupun kamera ketika melakukan rafting atau arung jeram terkecuali anda mempunyai sport camera yan bisa anda letakkan pada helm yang anda gunakan. 
    2. Bawalah tas plastik sebagai tempat menyimpan pakaian anda yang basah.
    3. Untuk mendapatkan dokumentasi yang baik, anda bisa menyewa jasa fotografer yang ada. Untuk biaya yang harus anda keluarkan, tiap penyedia jasa akan mematok tarif yang tidak jauh berbeda satu dengan yang lainnya.
    4. Jangan menggunakan alas kaki baik itu sandal gunung maupun sepatu, karena apabila anda menggunakan sandal atau sepatu, anda akan kesulitan bergerak terutama ketika anda harus terjatuh dan berenang di air.
    5. Perhatikan selalu arahan dari pemandu atau guide, anggota diperbolehkan untuk terjun ke dalam air namun harus di tempat-tempat yang cukup aman, dalam artian tempat yang airnya tenang dan tidak terdapat bebatuan yang beresiko dapat membuat kita cidera.
    6. Bagi yang menggunakan kacamata atau softlens ( seperti saya :D ) lebih baik dilepas, terkecuali bagi anda yang sama sekali sangat bergantung menggunakan kacamata, sebaiknya membawa lap kacamata untuk membersihkannya apabila terkena air.

    Fasilitas yang tersedia di Citra Elo dan bisa anda gunakan 

    • Gazebo. Terdapat beberapa gazebo yang bisa anda  gunakan untuk bersantai setelah lelah melakukan arung jeram. Dengan adanya gazebo di tempat ini akan sangat membantu terutama bagi anda yang mengajak anak kecil, untuk bisa megajaknya bermain di dalam gazebo. 
    • Mushola. Di basecamp Citra Elo juga menyediakan sebuah mushola bagi anda yang menjalankan ibadah sholat. Lokasi mushola di tempat ini berada di paling pojok barat dari basecamp.
    • Resto. Di basecamp Citra Elo juga menyediakan resto yang bisa anda gunakan. Anda dapat memesan makanan di tempat ini.
    • Kamar mandi yang cukup banyak. Bagi anda yang ingin membersihkan diri setelah berbasah-basah di sungai, di basecamp Citra Elo terdapat sekitar 20 an kamar mandi yang bisa anda gunakan secara bergantian.

    Informasi lainnya :

    1. Biaya yang harus anda keluarkan untuk bisa menikmati kegiatan Rafting atau arung jeram di sungai Elo Magelang ini adalah Rp.600.000 / perahu. Mungkin di tempat Rafting lainnya cara menghitunganya berdasarkan jumlah anggota yang ikut, namun untuk rafting di sungai Elo ini berbeda. Satu perahu dapat diisi oleh 6 orang. 
    2. Beberapa layanan atau fasilitas yang anda dapatkan, diantaranya : guide, transportasi dari basecamp menuju ke lokasi, perlengkapan safety ( helm, pelampung ). Untuk dokumentasi maka anda harus mengeluarkan biaya tambahan. 
    3. Informasi yang kami peroleh dari guide yang memandu kami, untuk jadwal Rafting dibagi menjadi 2. Yang pertama adalah jadwal pagi sekitar jam 08:00-10:00 WIB, sedangkan yang siang sekitar jam 13:00-15:00. Setelahnya tidak akan dilayani mengingat apabila terlalu sore maka kegiatan rafting akan selesai pada malam hari dan akan terlalu beresiko.

    Demikian pengalaman Rafting atau arung jeram di sungai Elo Kabupaten Magelang Jawa Tengah yang saya lakukan bersama dengan rekan-rekan saya. Bila anda ingin melakukan kegiatan serupa namun di lokasi yang berbeda, pengalaman " merasakan sensasi arung jeram di sungai serayu Banjarnegara " milik rekan saya mas Ghozaliq ini mungkin bisa menjadi bahan pertimbangan anda. Semoga informasi ini bermanfaat bagi anda, tetap jaga kesehatan agar bisa jalan-jalan. salam....