Thursday, 31 August 2017

Nikmatnya nasi Gudeg ceker Bu Witri Solo

Nasi Gudeg ceker Bu Witri Solo. Solo memang terkenal dengan kuliner nasi liwetnya. Kuliner ini akan banyak kita temukan terlebih pada malam hari. Di malam hari, mungkin kita bisa saja dengan mudah menemukan kuliner nasi liwet yang banyak dijumpai terutama di daerah Kraton Mangkunegaran serta daerah Nusukan. Namun kali ini saya tidak akan menuliskan tentang kuliner nasi liwet, melainkan kuliner dengan menu gudeg yang mempunyai citarasa serta ciri khas yang mungkin tidak banyak ditemukan di Kota Solo.

Gudeg ceker Bu Witri Solo
Gudeg ceker Bu Witri


Malam itu, di sebuah warung kecil dan sederhana di depan hotel Asia Solo, nampak kerumunan orang yang sedang mengantri membeli makanan. Memang warung makan ini seringkali terlihat lebih ramai dibandingkan dengan warung makan disekitarnya. Warung makan ini tidak lain adalah warung makan nasi Gudeg Ceker Bu Witri. Saya sudah pernah sekali mengunjungi warung makan ini, sehingga ini adalah kali kedua saya mengunjungi warung makan yang mempunyai 3 menu utama ini.

Gudeg Ceker Bu Witri depan Hotel Asia itulah kata kata yang tertulis pada baner yang berada di depan warung ini, semakin menegaskan saja keberadaan warung gudeg ini di depan hotel Asia Solo. Para pengunjung akan dengan mudah mengingat keberadaan tempat ini karena lokasinya persis di seberang jalan depan hotel Asia . Warung makan ini sangat sederhana, jauh dari kesan mewah, namun jangan ditanya soal citarasa, rasa yang ditawarkan oleh masakan gudeg ini didominasi oleh rasa gurih.

Menu yang ada di warung makan gudeg ceker Bu Witri

Malam itu saya dan rekan saya memesan 2 menu yang berbeda di warung gudeg ini. Ada 3 menu yang ditawarkan di warung gudeg ini, diantaranya :
  • Gudeg ayam
  • Gudeg ceker
  • Gudeg telor
Karena saya tertarik dengan menu utama, yakni gudeg ceker, sayapun memesan 1 porsi gudeg ceker sedangkan rekan saya memilih untuk memesan gudeg telur. Saya sebelumnya pernah makan gudeg telur yang rasanya sangat gurih dan nikmat. Oya meskipun terlihat sederhana, warung gudeg ini tidak pernah sepi oleh pengunjung yang sekedar ingin bersantap sambil menghabiskan malam di kota Solo. Di warung gudeg ini hanya terdapat 2 bangku dengan ukuran panjang dan satu buah televisi. Oya selain makan di bangku yang telah disediakan, kita juga dapat makan gudeg di depan meja besar yang menjadi meja sang empunya pemilik warung makan meracik masakan yang dipesan oleh pembeli.  
   
Pada waktu itu suasana warung cukup ramai. Beberapa pengunjung terlihat menikmati menu yang dihidangkan di meja tepat di meja tempat meracik gudeg yang mereka pesan. Disana disediakan kursi panjang selayaknya kursi pada angkringan yang seringkali kita jumpai di pinggir-pinggir jalan. Kami memilih makan di dalam ruangan yang telah disediakan. Tidak sampai 5 menit pesanan kami sudah diantarkan yakni satu porsi gudeg telor, satu porsi gudeg ceker dan 2 gelas es the manis. Tanpa menunggu lama dan setelah selesai berdoa sebelum makan kamipun menyantap makanan yang telah disajikan. 

Nikmatnya gudeg ceker dengan rasa yang gurih

Satu porsi gudeg terdiri dari nasi, kuah dengan santan, nangka muda, kacang tolo dan lauk yang dipesan. Nah apabila anda memesan ceker, satu porsi gudeg ceker berisi 6 ceker ayam. Sedangkan apabila anda memesan gudeg telur maka akan ditambahkan satu buah telur. Jika anda memesan gudeg ayam, maka lauk juga akan menyesuaikan bagian ayam apa yang akan anda pesan. Bisa suwiran, brutu, sayap ataupun jeroan. Anda juga bisa memesan tambahan lauk seperti memesan ceker saja untuk dinikmati tanpa nasi. Hal ini juga dilakukan oleh salah satu pembeli yang kebetulan duduk di samping saya. Hal yang membedakan gudeg ceker Bu Witri dengan gudeg lainnya adalah rasa gurih yang sangat dominan. 

Beberapa warung makan gudeg, selain menyajikan gudeg yang umumnya mempunyai rasa manis mungkin menawarkan menu gudeg dengan rasa asin ataupun gurih. Dari beberapa warung makan yang menyajikan menu gudeg dengan rasa asin ataupun gurih, warung makan gudeg Bu Witri inilah yang menurut saya paling pas untuk soal rasa maupun porsinya. Sebagai tambahan, di warung makan gudeg ceker Bu Witri juga menyediakan tambahan lauk lainnya berupa baceman tahu ataupun tempe. Kenikmatan lain yang bisa anda dapatkan adalah sensasi makan ceker yang telah dimasak hingga lunak sehingga kita dengan mudah mendapatkan daging yang menempel dengan tulang rawannya. Jika dipikir-pikir makan 6 ceker itu kita akan mendapatkan lebih sedikit daging dibandingkan dengan makan menu gudeg dengan suwiran ayam. Lebih mudah karena tinggal makan tanpa harus bersusah payah memisahkan daging dari tulang tetapi kebanyakan pengunjung lebih suka memesan gudeg ceker, termasuk saya. 

Buka 24 Jam

Tidak sampai 15 menit kita sudah menghabiskan menu yang disajikan. Pandangan saya tertuju pada tulisan yang menempel di tembok warung makan tersebut. Disitu diinformasikan bahwa mulai tanggal 17 Agustus warung makan buka 24 jam nonstop !!. Saya tidak sempat mengkoscek informasi tersebut. Jika benar adanya lebih baik, jadi para pengunjung bias setiap saat mempir di warung ini untuk menikmati menu yang disajikan.

Harga yang cukup murah

Untuk soal harga, menu di warung gudeg ceker Bu Witri Solo cukup murah. Untuk 2 porsi gudeg sesuai yang saya pesan di awal artikel ini dengan 2 gelas es teh, saya hanya membayar Rp. 25.000;. Harga yag cukup murah untuk mendapatkan menu makanan dengan citarasa yang istimewa. Jadi bagi anda yang berkunjung ke Solo dan kebetulan melintasi jalan di sekitar Hotel Asia, tidak ada salahnya mampir untuk mencicipi menu gudeg ceker yang cukup terkenal di kota Solo ini. Tetap jaga kesehatan agar bisa tetap jalan-jalan. Salam.

Wednesday, 2 August 2017

camping di gunung andong, berburu golden sunrise di atas 1726 mdpl

“ sef-sef, bangun !!!, jadi lihat Golden Sunrise gak ? rekanku mencoba mengajakku keluar dari tenda camping untuk menyongsong sang fajar keluar dari peraduannya tepat di arah gunung Lawu yang terlihat dari kejauhan. Menikmati Golden sunrise di gunung andong adalah waktu yang paling dinantikan oleh para pendaki atau penikmat alam yang mengunjungi gunung setinggi 1726 mdpl ini. 

saya dengan background gunung Merbabu dan gunung Merapi di jalur pendakian gunung Andong 


Pengalaman camping kali di gunung Andong kali ini merupakan pengalaman pertama yang saya lakukan setelah sebelumya melakukan camping di beberapa tempat lainnya di kawasan Yogyakarta dan area Jawa Tengah. Hal yang menjadi tujuan utama saya melakukan camping di gunung Andong adalah melihat golden sunrise yang menurut rekan saya adalah sunrise terbaik diantara beberapa gunung lainnya yang memiliki ketinggian lebih dibandingkan dengan gunung Andong.


Rute menuju Gunung Andong dari Yogyakarta

Bila rekan rekan berasal dari Yogyakarta, untuk bisa mencapai basecamp gunung Andong rekan-rekan bisa melewati jalan Magelang. Dari arah Kota Yogyakarta ke utara menuju terminar Muntilan. Dari terminal masih lurus ke utara hingga menemukan trafficlight yang kedua, setelah itu belok ke kanan ( arah Ketep-Kopeng ) ikuti arah menuju ke pasar Ngablak ( perhatikan gapura pasar Ngablak yang berwarna biru ). Setelah sampai di pasar Ngablak kita belok ke kiri di gapura pertama menuju ke arah Grabag. Jika rekan-rekan melewati lapangan sepak bola Ngablak berarti rekan-rekan berada di jalur yang benar. Dari lapangan sepakbola, kita lurus sekitar 2 km sampai menemukan pertigaan makam dusun Kenteng ( perhatikan arah penunjuk jalan ) belok kiri dan ikuti jalan tersebut sampai menemukan penunjuk selanjutnya ( sampai menemukan SD Girirejo II), kita belok kanan dan tidak jauh dari tempat itu sampailah kita di Dusun Sawit. 

Untuk bisa mendapatkan pemandangan golden sunrise di gunung Andong maka setidaknya rekan rekan harus mencari waktu camping atau waktu pendakian yang tepat. Musim kemarau, adalah musim yang tepat bagi para pendaki untuk bisa mandapatkan view yang istimewa di pucak gunung andong. Bila rekan -rekan melakukan pendakian di musim penghujan maka sangat dimungkinkan pemandangan di kawasan puncak akan terhalang dengan kabut atau mendung. Namun tidak menjadi jaminan pula jika rekan-rekan melakukan pendakian pada waktu musim kemarau bisa mendapatkan pemandangan yang bagus, karena cuaca tidak bisa diprediksi.

Trek pendakian gunung andong

Trek pendakian yang harus dilalui untuk dapat sampai ke puncak gunung Andong terbilang cukup mudah, bahkan bagi seseorang yang belum melakukan pendakian sama sekali. Terdapat 2 basecamp yang bisa rekan-rekan manfaatkan, salah satunya adalah basecamp Taruna Jaya Giri. Dari basecamp ini rekan-rekan harus berjalan terlebih dahului sekitar 1,5 km untuk dapat sampai ke gapura masuk pendakian gunung Andong, yakni melewati perkebunan sayuran milik warga. Setelah itu barulah menemukan trek yang sesungguhnya, yakni trek masuk ke dalam hutan pinus. Setidaknya ada 2 pos yang harus kamu lewati yakni Pos Watu Wayang dan yang kedua adalah pos Gilicino. Di pos Watu wayang pada waktu saya melakukan pendakian di bulan April tahun lalu terdapat sebuah Gazebo, namun saya tidak tahu sekarang gazebo tersebut masih atau tidak, mengingat gazebo pada waktu itu sudah hampir rusak.

sebelum masuk ke hutan pinus kita akan melewati perkebunan warga terlebih dahulu


Pos pendakian gunung Andong yang kedua adalah pos Gilicino. Pos Gilicino merupakan area yang cukup luas tanpa shelter. Nah  di pos kedua pendakian gunung Andong ini kamu dapat mendirikan tenda karena tempatnya cukup luas. Tapi saran saya, jika tidak terpaksa misalkan turun hujan, atau benar-benar kelelahan, sebaiknya rekan-rekan tetap melanjutkan perjalanan dan mendirikan tenda di camping ground. Camping ground letaknya tidak terlalu jauh dari pos 2. Rekan-rekan harus berjalan kurang lebih 15-30 menit untuk bisa sampai di camping Ground, tempat terbaik kedua melihat Golden sunrise di gunung Andong.


Sumber mata air di gunung Andong

Salah satu hal yang perlu kita pertimbangkan ketika kita melakukan camping atau melakukan pendakian gunung adalah mencari informasi apakah tempat yang menjadi tujuan kita memiliki sumber mata air bersih atau tidak. Hal itu dimaksudkan untuk menyesuaikan kebutuhan logistik terutama air bersih yang perlu kita bawa dari bawah guna memenuhi kebutuhan air kita selama melakukan camping atau pendakian di gunung. Kita wajib bersyukur karena di jalur pendakian gunung Andong, terdapat sumber mata air bersih yang bisa kita manfaatkan untuk keperluan memasak. Sumber mata air tersebut berada di sisi sebelah kanan jalur pendakian diantara pos 1 dengan pos 2. Memang kita harus benar-benar jeli melihatnya karena  sumber mata air ini tertutup oleh rimbunnya semak. Oleh warga sekitar air yang berasal dari sumber mata air tersebut disalurkan melalui pipa paralon sehingga membentuk sebuah "pancuran".

Camping Ground, tempat ideal untuk mendirikan tenda 

Bagi rekan-rekan yang ingin mendaki gunug Andong, terdapat satu tempat yang cukup ideal untuk menghabiskan malam sambil menunggu datangnya pagi. Tempat tersebut adalah camping ground yang memiliki ketinggian  1726 mdpl. Area ini dapat menampung belasan tenda dengan ukuran sedang. Kita bisa melihat kelap-kelip lampu kota Boyolali dan Magelang apabila cuaca cerah. Selain itu kita kita dapat melihat gunung Merapi dan gunung Merbabu dari arah utara. Adakalanya, terutama di saat liburan tiba banyak pendaki yang mengunjungi tempat ini dan menyebabkan beberapa diantaranya tidak memperoleh tempat untuk mendirikan tenda. Alhasil beberapa tempat terpaksa digunakan termasuk jalan atau trek pendakian serta lereng di sisi selatan Camping Ground. Hal ini sangat tidak dianjurkan. Selain mengganggu pendaki yang ingin lewat untuk menuju ke puncak alap-alap, dengan mendirikan tenda di lereng maka sangat beresiko terjatuh ke sisi selatan lereng yang curam. Oleh karenanya apabila rekan-rekan menemukan area ini sudah penuh akan tenda, mungkin sebaiknya rekan-rekan harus kembali ke puncak Jiwa atau puncak makam untuk bisa menemukan tempat yang aman untuk bisa beristirahat sambil mendirikan tenda.

Tenda yang dihantam badai

Tidak terpikirkan oleh saya, saya dan  beberapa rekan yang melakukan camping di gunung Andong harus berhadapan dengan badai dan kabut yang cukup tebal. Kejadian itu terjadi ketika kami baru sampai di belokan puncak makam ke puncak jiwa. Jika tidak salah waktu itu pukul 19:30 dimana kabut mulai menutupi area sekitar dan membuat jarak pandang kami sangat terbatas. Kami berjalan di tengah kabut yang tebal serta berupaya untuk mendapatkan tempat yang tepat untuk mendirikan tenda kami. Tidak sampai 15 menit berjalan, akhirnya kami sampai di camping ground. Dengan cekatan kami mendirikan dome dan segera masuk ke dalamnya. Udara dingin ditambah dengan angin yang berhembus kencang seolah-olah ingin mengoyak tenda kami. Kejadian tersebut berlangsung cukup lama dan barulah sekitar pukul 01;00 badai mulai reda kami pun bisa beristirahat. 


Berburu sunrise Gunung Andong 


Menikmati udara pagi nan bersih di ketinggian 1726 mdpl


Sekitar pukul 04:50 dan setelah rekanku berupaya membangunkanku dan setelah alarm di ponselku berbunyi untuk kesekian kali. Saya baru benar-benar bangun, melongok keluar tenda saya sambil melihat pemandangan yang sudah banyak berubah. Terakhir saya di luar tenda adalah saat saya memasak makanan sambil menghangatkan air untuk membuat kopi hitam kesukaan saya. Badai sudah reda, menyisakan kabut yang menghiasi pemandangan di pagi itu. Sinar berwarna orange merubah pemandangan sekitarnya seolah memaksa warga untuk segera mematikan lampu-lampu di rumah mereka. Di luar ternyata sudah banyak pendaki yang keluar dan berburu pemandangan terbaik yang bisa dilihat di puncak gunung Andong yakni melihat Golden Sunrise. Kami pun segera bergegas, mengambil ponsel serta kamera saku kami dan segera menuju ke puncak alap-alap dengan melewati jalur “punukan sapi “ yang menjadi ciri khas dari gunung Andong.

Gunung Andong dan punuk sapi

Apakah yang menjadi keistimewaan dari gunung Andong? Bila sindoro memiliki padang edelwis dan gunung Merbabu memiliki sabana via Suwanting yang sangat indah, maka gunung Andong memiliki trek yang cukup menarik yakni berupa punggung gunung yang memisahkan antara Camping Ground dengan puncak alap-alap dan memiliki melengkung. Oleh warga yang tinggal di daerah gunung Andong punggungan gunung ini di ibaratkan seperti “punuk sapi “Dalam kehidupan masyarakat pedesaan tempo dulu, sapi merupakan hewan yang sering dipelihara karena sangat berguna untuk membantu pekerjaan terutama di bidang pertanian. Selain itu sapi juga digunakan untuk menarik andong ( meskipun lebih banyak dilakukan oleh kuda). Oleh karena mirip seperti punukan sapi, maka gunung ini disebut gunung Andong yang notabene sebagai hewan penarik Andong.  

punuk sapi jalur pendakian gunung andong

Trek melewati punggungan gunung yang mirip seperti punuk sapi inilah  trek yang harus kamu lewati untuk dapat sampai di puncak alap-alap. Lebarnya kurang lebih 1 meter dan memiliki panjang sekitar 100 meter. Trek ini cukup sempit terutama apabila kamu harus berpapasan dengan pendaki lain yang berlawanan arah. Selain itu di sisi samping kanan dan kiri trek ini berupa jurang yang cukup dalam serta curam, oleh karenanya berhati-hatilah ketika melintasinya.

Puncak alap-alap   

Perjalanan untuk melihat Golden Sunrise pun berlanjut. Kami sampai di puncak alap-alap sekitar jam 05:30. Di tempat ini kami menemukan banyak tenda yang didirikan serta banyak pula pendaki yang berfoto bersama sambil menikmat keindahan pagi itu. Agaknya kami kurang beruntung karena pada waktu kami di puncak alap-alap pemandangan tertutup oleh kabut dan mendung, sehingga hanya nampak sedikit sinar orange diantara awan hitam di arah timur.  

Sinar matahari yang tertutup awan 


Kemunculan sang fajar yang seolah memaksa bintang-bintang harus rela mengilang dari kemegahan malam itu tidak kami dapatkan. Namun kami tidak berkecil hati, rasa syukur tetap kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, rasa syukur atas kesempatan yang diberikan kepada kami sehingga kami beroleh kesempatan untuk menghirup udara yang bersih di salah satu puncak nan mungil gunung Andong di bumi pertiwi Indonesia. Kesempatan untuk dapat mengunjungi puncak gunung andong tidak kami lewatkan begitu saja. Beberapa gambar berhasil kami abadikan.

Tenda yang melindungi kami dari badai 

Puas berfoto kami kembali ke camping Ground tempat kami mendirikan tenda. Jalur yang sebelumnya tertutup oleh kabut kini sudah nampak jelas. Terlihat lereng gunung andong yang masih sangat hijau dan curam. Di perjalanan ke camping ground kami juga berpapasan dengan para pendaki yang hendak menuju puncak alap-alap. Beberapa diantaranya berasal dari luar kota, yakni dari kota Bogor dan Surabaya.


Perjalanan pulang

Selesai membereskan  tenda kami dan setelah selesai memunguti sampah di sekitar lokasi kami mendirikan tenda, kami sepakat untuk meninggalkan tempat itu. Tepat pukul 07:00 kami meninggalkan camping ground dan melanjutkan perjalanan pulang melewati rute yang sama. Di perjalanan pulang, kami disuguhkan pamandangan yang sangat indah. Beberapa gunung dapat kami lihat selama di perjalanan pulang. Diantaranya adalah gunung Merapi, Gunung Merbabu, gunung Sindoro, gunung Sumbing serta Gunung Lawu yang terlihat sangat kecil di sisi tenggara. Selain itu kami juga dapat melihat dataran tinggi dieng serta gunung Slamet yang tinggi menjulang di sisi utara. 

camping ground di pagi hari


Kekecewaan kami tidak melihat Golden Sunrise agaknya terobati dengan panorama yang ditawarkan si mungil gunung Andong. Meskipun termasuk gunung yang kecil namun pemandangan yang ditawarkan gunung ini tidak kalah menarik dibandingkan dengan gunung-gunung lainnya yang memiliki ketinggian ribuan meter di atas gunung Andong. Jalanan setapak dengan rimbunnya pepohonan di sekitar kami, menjadi pemandangan yang tidak bisa dilewatkan begitu saja. Cuaca di pagi itu sangat cerah, setelah sebelumnya kawasan lereng gunung Andong tertutup kabut yang cukup tebal.

perjalanan ke puncak makam


Pemandangan di sekitar gunung Andong pagi itu nampak jelas sekali. Pada waktu kami melakukan pendakian, kami berangkat pada malam hari sehingga kami tidak bisa melihat dengan jelas area di sekeliling kami. Nah di pagi itu dari atas ketinggian kami dapat melihat pemandangan perkebunan warga yang membentang luas dan melihat aktifitas penduduk sekitarnya yang mayoritas adalah petani sayuran. 

Hutan pinus yang menawan

Salah satu tempat di gunung Andong yang sangat indah untuk dilewatkan adalah hutan pinus. Menurut saya hutan pinus di gunung Andong jauh lebih bagus dibandingkan dengan hutan pinus yang berada di Mangunan Yogyakarta. 


Kawasan hutan ini masih bersih dan masih sepi.  Tempat yang tepat untuk menikmati liburan sambil berhammocking ria. Sayang sekali kunjungan saya kali ini tidak membawa hammock karena tidak terpikirkan oleh saya akan melawati hutan pinus. Kawasan ini juga digunakan oelhe waga guna mencari rumput untuk pakan ternak mereka serta mencari kayu bakar untuk keperluan memasak. Pemandangan yang tidak bisa kita dapatkan apabila kita hidup di daerah perkotaan.

Kesimpulan dari kegiatan camping di gunung Andong 

  1. Gunung andong merupakan gunung yang ramah untuk pendaki pemula. Gunung yang memiliki ketinggian 1726 mdpl ini memiliki jalur yang mudah kita lalui dan banyak terdapat bonus di sepanjang perjalanan. 
  2. Selain memiliki jalur yang mudah untuk kita lalui di jalur pendakian gunung Andong terdapat sumber mata air yang bisa kita manfaatkan untuk perbekalan. Sumber mata air tersebut berada di sisi kanan jalur pendakian tepatnya diantara pos 1 ke pos 2.
  3. Bagi rekan-rekan yang ingin mengabadikan pemandangan yang indah dan terhindar dari background lautan manusia :D bisa memilih jadwal pendakian selain hari libur, karena pendakian pada hari libur atau di akhir pekan akan lebih membeludak sehingga kawasan puncak akan dipenuhi oleh pendaki.
  4. Untuk dapat mencapai puncak dari gunung Andong, tidak perlu harus bermalam disana. Hal itu dikarenakan perjalanan untuk dapat mencapai puncaknya relatif singkat. Rekan-rekan hanya memerlukan waktu antara 2-3 jam perjalanan untuk dapat sampai di puncak alap-alap. Oleh karenanya rekan-rekan bisa melakukan pendakian di pagi hari bila tidak ingin bermalam di gunung andong.   
  5. Melakukan camping dengan beberapa orang terutama teman-teman dekat akan jauh lebih bermakna jika dibandingkan dengan melakukan camping dengan banyak orang. Saya pribadi lebih memilih melakukan camping dengan 3-5 orang saja karena apabila mengajak banyak orang akan cenderung gaduh dan saya pribadi tidak bisa menikmati perjalanan.
  6. Meskipun memiliki ketinggian kurang dari 2000 mdpl namun jangan pernah menyepelekan pendakian gunung Andong. Bawalah logistik yang cukup dan peralatan yang safety. Pakailah sepatu atau sandal gunung dan bawalah tenda dome. Melakukan kegiatan camping atau pendakian dengan tidak membawa tenda dome merupakan tindakan yang tidak tepat. Hal itu dikarenakan kita tidak tahu cuaca yang dihadapi, karena cuaca sewaktu-waktu bisa berubah.
  7. Bagi kamu yang suka kegiatan berhammocking ria, tidak ada salahnya membawa hammock. Kawasan hiutan pinus di gunung Andong merupakan tempat yang cukup menarik dan sangat ideal untuk bisa beristirahat di dalam hammock.
sumber referensi : Ruangpendaki

Monday, 10 July 2017

menuntaskan rasa penasaran akan selat di warung selat Vien's Solo

Kota Solo bagi saya adalah kota yang cukup unik, kota ketiga yang sering saya kunjungi selama hidup saya, selain Yogyakarta dan tentunya kota Klaten. Memang kota Yogya dan Solo memiliki banyak persamaan. Selain dikenal sebagai kota dengan banyak peninggalan budaya, kedua kota ini memiliki berbagai macam kekayaan kuliner yang bisa kita nikmati ketika berkunjung kesana. Sebut saja Gudeg sebagai makanan khas yang berasal dari Yogyakarta serta nasi liwet sebagai makanan kas dari kota Solo.


 warung selat Vien's Solo
 selat Vien's Solo


Berbicara mengenai kuliner khas dari kota Solo, selain nasi liwet, kota ini terkenal dengan menu kulinernya yang bernama "Selat". Menurut sejarahnya, Selat Solo merupakan makanan hasil perpaduan antara hidangan asli Solo dengan dengan hidangan khas Eropa. Konon pada masa pemerintahan Kolonial Hindia Belanda, orang-orang Eropa membawa banyak bahan makanan serta memperkenalkan teknik memasak kepada kaum ningrat di wilayah Solo. Beberapa hidangan kelas atas seperti bistik, steak, roti serta keju mulai diperkenalkan kepada keluarga kerajaan serta kaum ningrat. Selama ini pula terjadi perpaduan masakan dari masakan dengan cita rasa Eropa dan masakan dari Jawa. Selat Solo, merupakan salah satu hidangan hasil perpaduan antara masakan dengan citarasa Eropa dengan makanan yang berasal dari Jawa.

Saya sendiri di usia yang lebih dari seperempat abad, belum pernah mencicipi akan hidangan selat solo. Rasa penasaran akan Selat akhirnya dapat tertuntaskan, setelah rekan saya mengajak saya makan hidangan Selat di salah satu rumah makan yang berada di Jalan Hasanudin Solo. Vien"s adalah rumah makan yang dimaksudkan. Rumah makan ini menjajakan selat segar, sup matahari, timlo serta soto ayam.


lokasi warung selat vien"s Solo


Setelah memarkirkan kendaraan kami, kamipun segera masuk rumah makan yang letaknya tidak jauh dari Stasiun Balapan serta Terminal Tirtonadi ini. Banyaknya pelanggan yang datang waktu itu, membuat kami harus rela meluangkan beberapa waktu untuk menunggu sampai pesanan kami datang. Saya memesan selat daging cacah serta minuman segelas es teh untuk mengganjal perut saya yang sudah kosong karena di hari itu belum sempat untuk sarapan. Dari segi penataan ruangan, tidak ada yang istimewa dari tata ruang Rumah makan Vien's ini. Sebuah tempat makan yang cukup luas dengan beberapa meja makan yang dibuat seefisien mungkin untuk bisa menampung pelanggan yang datang ke tempat ini.

antri dulu ya :D


Tidak sampai 10 menit menunggu, pesanan saya sudah diantarkan oleh salah satu pegawai disana. Di hadapan saya sudah tersaji sepiring selat yang terdiri atas telur, dengan beberapa irisan sayuran kacang panjang, wortel, kentang, kuah, daun selada dan tentu saja mayonise. Rekan saya menganjurkan saya untuk menambahkan kecap pedas ke dalam selat yang saya pesan karena dia mengetahui bahwa saya suka akan makanan pedas :D

sebelum


Kesan pertama setelah mencicipi hidangan selat Vien's ini adalah rasa manis-gurih. Rasa manis pada kuah yang disajikan dipadukan dengan gurihnya kentang goreng rasa-rasanya cukup pas untuk lidah saya yang acapkali makan makanan tradisioanal Jawa. Penyajian selat ini seperti makanan pada umumnya disajikan dengan menggunakan sebuah piring dengan porsi yang terbilang "cukup". Tidak terlalu banyak juga tidak terlalu sedikit. Menurut rekan saya, salah satu yang membedakan sajian selat Vien's ini dibandingkan sajian selat di rumah makan lainnya adalah, bila sajian selat di rumah makan lain menggunakan daging utuh, hidangan selat di rumah makan Viens menggunakan daging yang dicincang barulah digoreng dengan dicampuri menggunakan tepung. Hal ini yang membuat daging menjadi semakin gurih berkat campuran bumbu lainnya.

10 menit kemudian


Selain selat, di rumah makan Vien's Solo juga menjajakan menu lainnya seperti sup matahari, sup gelantin, timlo, gado-gado serta soto ayam. Untuk minuman kita bisa memesan es teh, maupun es jeruk segar. Berapakah harga untuk satu porsi selat di rumah makan Vien"s Solo? Saat artikel ini ditulis, untuk satu porsi selat daging cacah kita hanya perlu merogoh kocek Rp.10.000, untuk sup gelanting Rp.8.000: sedangkan sup matahari kita hanya perlu membayar Rp.8.000;. Sangat murah bukan ??. Jadi bila rekan-rekan berkunjung ke Solo, tidak ada salahnya mengunjungi warung makan ini. Selain memiliki cita rasa yang unik hidangan yang dijajakan memiliki harga yang cukup murah.    

Keterangan lokasi : 
Warung Selat Segar & Sup Matahari Vien’s terletak di Jl. Hasanuddin No.99 B, D & E, Solo.
Foodcourt dr.Oen Kandang Sapi Lt 1. phone : 0271- 738396

Friday, 7 July 2017

misteri Candi Sukuh karanganyar, candi unik berbentuk piramida suku maya


Di Kabupaten Karanganyar, tepatnya di timur kota Solo, terdapat sebuah candi yang bernama candi Sukuh. Candi tersebut mirip dengan peninggalan suku Maya di Amerika tepatnya di negara bagian Meksiko. Di negara tersebut, konon terdapat sebuah bangunan kuil yang didirikan pada tahun 800 SM. Kuil tersebut bernama Chichen Itza dan telah ditetapkan sebagai salah satu keajaiban dunia pada tahun 2007. Kalau diperhatikan di gambar, bentuk kuil tersebut tak jauh beda dengan Candi Sukuh yang berada di Karanganyar. Meskipun memiliki ukuran yang jauh lebih besar, keduanya memiliki arsitektur yang sama, yakni berbentuk seperti bentuk piramida.

Kali ini saya  bersama dengan rekan saya berkesempatan mengunjungi Candi ini. Dari berbagai sumber yang saya peroleh, candi Sukuh dikenal sebagai candi yang penuh dengan misteri. Hal itu dikarenakan adanya cerita yang berkembang di kalangan masyarakat tentang adanya ritual uji keperawanan yang dilakukan disana. Candi Sukuh, selain dikenal sebagai tempat uji keperawanan juga dikenal sebagai bangunan suci peninggalan agama Hindu.

candi sukuh karanganyar
bagian utama dari candi sukuh ( sumber : wikipedia )


Rute menuju Candi Sukuh dari Solo

Candi Sukuh berlokasi di Dukuh Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Untuk menuju ke Candi rekan-rekan bisa menggunakan angkutan umum. Jarak candi Sukuh dari kota Karanganyar sekitar 20 km sedangkan dari kota Solo berkisar antara 30-35 km. Jika rekan-rekan ingin menggunakan kendaraan umum bisa menggunakan kendaraan bus ke arah Tawangmangu dan turun di terminal Karangpandan ( terminalnya kecil di sisi kanan jalan ). Dari Terminal Karangpandan lalu ganti angkutan ( menggunakan mini bus ) menuju ke daerah Nglorok. Minibus akan berhenti di Nglorok dan rekan-rekan harus berjalan kaki ke arah kompleks Candi Sukuh. Tanjakan disini cukup berat dan panjang, namun jangan khawatir, ada jasa ojek yang bisa kita gunakan untuk bisa mengantar sampai di pelataran Candi Sukuh. Bila kita menggunakan kendaraan pribadi, dari terminal Karangpandan ikuti jalan yang sudah mulai menanjak ke arah Tawangmangu, lalu belok ke kiri di pertigaan kedua setelah Terminal Karangpandan ( terdapat penunjuk jalan yang cukup jelas di pertigaan ini, belok kanan ke Tawangmangu dan belok kiri ke Candi Sukuh ). Di sepanjang perjalanan kita akan dimanjakan dengan udara khas pegunungan dengan rimbunnya pohon pinus dan sesekali kita akan melewati kebun teh yang cukup luas.

Tidak sampai 2 jam perjalanan dari arah kota Solo sampailah saya di Lokasi Candi Sukuh. Bagi yang baru pertama kali mengunjungi candi ini mungkin akan bingung mencari tempat pembelian tiket. Hal ini dikarenakan letaknya bukan di depan atau jalan utama setelah parkiran kendaraan bermotor, melainkan di bagian pojok kompleks candi. 

Candi Sukuh Teras Pertama

candi sukuh karanganyar
teras pertama candi sukuh


Memasuki area pelataran Candi sukuh kita disambut dengan Gapura Kecil yang mengarah ke sisi barat lereng gunung Lawu. Nampak pemandangan yang masih sangat asri di area ini. Pelataran di Candi Sukuh tidaklah begitu luas, mirip dengan Candi Merak yang berada di daerah Karangnongko Klaten. Nampak dari sini, Candi utama dengan ciri khasnya berbentuk rata pada bagian puncak. Halaman dari Candi Sukuh memiliki 3 teras utama. Menurut cerita yang saya peroleh dari salah satu petugas yang mengelola tempat ini, pada jaman dahulu apabila seseorang hendak mencapai teras utama, maka orang tersebut harus melewati tangga batu yang panjang dari dataran sampai halaman candi. Di pintu masuk ini pula terdapat relief dengan bentuk cukup vulgar. Relief di gapura masuk yang berbentuk alat k*lamin pria dan wanita tersebut memiliki makna tentang kesuburan dan kesucian. Harapannya bagi para pengunjung yang melewati gapura masuk tersebut telah dihapuskan ( dilebur semua pikiran kotor serta hawa nafsu ) guna mempersiapkan diri untuk masuk ke area yang suci di tingkat berikutnya.

Candi sukuh teras yang kedua

candi sukuh karanganyar
teras kedua candi sukuh


Tidak jauh dari teras pertama, kurang lebih berjarak 40 meter kita akan masuk ke bagian teras yang kedua. Terdapat 2 buah tatanan batu besar di teras yang kedua ini. Bila teras yang pertama terdapat atap di bagian gapura sebagai pintu masuk, di teras yang kedua ini saya tidak menemukan atap atau sisi bagian atas dari gapura. Disini hanya ada dwarapala atau patung penjaga pintu yang sudah mengalami beberapa kerusakan.

Bagian utama Candi Sukuh

Tujuan kami tentunya ingin masuk ke bangunan utama Candi Sukuh. Candi dengan ukuran tidak terlalu besar ini jika kita amati bentuknya nampak tidak lazim. Tidak lazim mengingat beberapa bangunan candi di beberapa daerah khususnya di daerah Yogyakarta memiliki bentuk lancip dengan adanya ratna di bagian puncaknya, seperti yang dapat kita temukan di Candi Prambanan atau candi Plaosan. Di bagian atas dari Candi Sukuh terdapat sebuah tempat datar dan bisa kita capai dengan menaiki tangga yang berada di bagian tengah dari Candi. Di bagian samping kanan dan kiri candi terdapat patung kura-kura dengan ukuran yang cukup besar ( kura-kura sebagai lambang dari dunia ).


candi sukuh karanganyar
bagian atas candi 

Pada waktu saya mengunjungi candi Sukuh, Candi Sukuh sangat sepi oleh pengunjung, saya tidak perlu harus mengantri untuk bisa naik ke bagian atas candi. Dengan melewati tangga yang sempit dan dengan lebar kurang lebih 1 meter serta menapaki beberapa anak tangga akhirnya saya sampai di bagian atas candi. Di bagian atas Candi saya dapat melihat keseluruhan kompleks candi temasuk sisi bagian belakang. Disini pula kita bisa menikmati keindahan alam sekitar serta bisa melihat jauh arah kota Solo. Di sisi kanan kita terdapat beberapa arca dengan bentuk-bentuk yang misterius dan di sisi kiri Candi terdapat patung-patung dengan bentuk yang cukup aneh. Di bagian atas candi juga terdapat tempat untuk meletakkan dupa dan tempat yang digunakan untuk menaruh sesaji. Tempat ini dipercaya sebagai tempat tinggal Kyai Sukuh. Seringkali orang datang memberikan sesaji dan kemenyan sebagai bentuk penghormatan kepada Kyai Sukuh. 

Relief misterius di sisi Candi sukuh

Setelah puas mengambil beberapa gambar di atas candi, maka tempat tujuan saya selanjutnya adalah menuju ke bagian relief yang tersusun rapi di sisi kanan candi. Relief-relief disini berbeda dengan relief di beberapa candi lainnya. Banyak tokoh dengan bentuk yang cukup aneh di tempat ini. Sebut saja seorang dengan kepala cukup besar dan berbadan kecil mirip tokoh-tokoh alien yang biasa kita temukan di beberapa film fiksi. Ada juga tokoh dengan mata sipit seperti layaknya seorang Tionghoa. Meskipun dipenuhi dengan relief-relief dengan bentuk aneh, di tempat ini masih ada relief dengan corak khas Nusantara yakni relief yang menceritakan cerita pewayangan. Relief di candi ini mengisahkan cerita kuno Sudamala. Cerita ini dimulai dengan seorang yang diikat pada batang pohon “Kepuh Randu” sedangkan di depannya berdiri seorang dewi yang berwajah menakutkan sambil mengangkat sebilah pedang dan dikawal oleh serombongan hantu. Orang yang diikat ini adalah Sadewa ( Pandawa termuda yang dipersembahkan untuk Betara Durga atau Ratu dari para Hantu ). Sadewa dapat meruwat atau membebaskan Durga dari kutukan yang berwajah Raseksi menjadi dewi yang cantik kembali. Awalnya Durga dikutuk oleh Batara Guru akibat perbuatannya serong kepada seorang gembala. Durga menjadi raseksi dan diusir serta harus turun ke dunia di Setra Gandamayu. Kutukan tersebut telah dilaksanakan meskipun pada akhirnya Durga berhasil dibebaskan oleh Sadewa sebagaimana diceritakan pada relief.

candi sukuh karanganyar
relief dengan berbagai cerita mistis


Selanjutnya tampak Sadewa yang oleh dewi Uma diberikan nama Sudamala ( bersih dari dosa ) berlutut penuh hormat dihadapan Batari Durga beserta pengikutnya yang telah pulih kembali menjadi dewata. Semar, punakawan yang paling setia terhadap Pandawa yang dalam relief terdahulu tampak jongkok dan ketakutan. Nampak pula 3 orang wanita berdiri di atas bantal teratai, menandakan kedudukan mereka sebagai penghuni kayangan yang telah terbebas dari kutukan.

ada yang tahu di relief ini tokoh siapa ???


Relief berikutnya yang dapat kita lihat adalah adegan pertemuan antara Sadewa beserta pengikutnya dengan pendeta buta Tambrapetra dari Nakanwanya. Cerita Sudamala mengisahkan, atas perintah Batari Durga yang telah dibebaskan dan menjadi Dewi Uma kembali, Sadewa harus melangsungkan perkawinan dengan seorang anak dari pendeta buta. Pertapa itu pun berhasil pula dibebaskan dari kebutaan oleh Sadewa. Disini pula kita bisa melihat seorang raksasa bernama Kalantaka diangkat dan ditusuk oleh Bima yaitu kakak Sadewa. Pada bidang relief ini, terdapat inskripsi dengan angka tahun 1371 Caka ( 1449 Masehi ). Bima yang kita jumpai pada beberapa tempat di candi Sukuh, dapat kita kenal dari pahanya yang telanjang, dan juga kainnya dengan motif kotak-kotak. Ia memiliki kuku panjang, yang dapat dipergunakan sebagai senjata untuk menyobek perut musuhnya.

Tugu di candi Sukuh

Selain memiliki beberapa relief yang mempunyai banyak cerita misteri, di candi Sukuh terdapat beberapa bangunan ( menyerupai tugu ) yang memiliki dan berisikan cerita tentang pewayangan. Pada bagian tugu pertama terdapat relief dua orang wanita sedang disisi lainnya terdapat seekor garuda sedang terbang. Pada kedua sisi lainnya kita dapat melihat naga yang merayap secara berurutan. Dua gambar ini termasuk di dalam cerita dua orang wanita bersaudara, Kadru dan Winata, hal ini dikisahkan di dalam cerita Hindu kuno yang sudah banyak tersebar. Agak jauh dari tempat ini kita juga bisa melihat tugu yang dihiasi ornament pada kedua sisinya. Bagian belakang menampakkan seorang raja bersenjatakan sebilah keris dan raksasa yang terbang di atasnya. Sangat disayangkan karena tidak jelas siapakah tokoh yang digambarkan tersebut. Namun gambar disisi muka jelas artinya dimana digambarkan seekor garuda yang terbang membumbung di angkasa sambil mencengkeram seekor gajah pada cakar yang satu dan seekor kura-kura di cakar yang lainnya. Tugu ketiga bagian belakangnya memperlihatkan kepada kita sosok Arjuna. Kita kenal dengan adanya yang bergambar kera, dan rombongan punakawan yang berbaris sambil membawa gong peperangan. 


beberapa tugu nampak dengan kokoh berdiri


Tugu yang keempat memperlihatkan seorang tokoh pahlawan kera ( seperti Hanoman ) dari cerita Rama bersama-sama dengan seorang tokoh raja berdiri di muka seorang pertapa yang menundukkan kepalanya di tugu tersebut. Di bagian muka Candi terdapat sebuah hiasan dengan bentuk tapal kuda namun dengan ukuran yang cukup besar serta di bagian kanan dan kirinya berbentuk seperti kepala Kijang. Sangat disayangkan kepala kijang yang dimaksud telah rusak. Di bagian muka kita juga dapat melihat relief berbentuk Bima di depan Batara Guru, penguasa dari Kahyangan. Di bagian bawah dari tugu ini terdapat beberapa pahatan berupa dua tokoh yang berusaha memperebutkan bayi, dimungkinkan hal ini masih berhubungan dengan tradisi ruwatan untuk anak tunggal agar tidak terkena bala atau bencana.   


Cerita garuda di Candi Sukuh

Di candi Sukuh terdapat patung garuda yang berdiri dengan berhiaskan relief di bagian bawahnya. Pada patung ini terdapat sebuah cerita menarik. Cerita yang dikisahkan adalah sebagai berikut : Pada suatu hari garuda mendengarkan cerita bahwa untuk dapat membebaskan ibunya dari perbudakan, ia harus mampu merebut air minuman para dewa-dewa Amerta dan menyerahkannya pada para naga. Seketika ia memutuskan untuk melaksanakannya, lalu pergilah dia. Di tengah jalan dia merasa lapar dan membuka parunya lebar-lebar seperti goa. Suaranya yang bergemuruh menyebabkan seluruh anggota suatu suku ketakukan dan lari memasuki paruh sang garuda tersebut, anggota suku tersebut kemudian ditelannya. Akan tetapi setelah menelan orang yang berlari ke arahnya, menyebabkan tenggorokannya terasa gatal. Karenanya di antara orang-orang yang ditelannya tersebut terdapat beberapa Brahmana, maka sang garuda memuntahkannya kembali.

patung garuda candi sukuh
patung garuda candi sukuh

Untuk menghilangkan laparnya, ia menyambar seekor kura-kura dan gajah ( kedua binatang ini sebenarnya adalah dua bersaudara dan terkena kutukan ), kedua binatang tersebut dibawa menggunakan cakarnya, kemudian dijatuhkan lalu dimakannya. Dengan demikian kedua binatang tersebut bebas dari kutukannya dan kembali menjadi manusia. Garuda melanjutkan perjalanan menuju tempat penyimpanan Amerta di kayangan. Sesampainya disana, dia menemukan adanya roda dan tombak yang terdiri dari tubuh manusia sehingga tidak memungkinkannya untuk bisa masuk. Dengan cara mengecilkan dirinya, sang garuda bisa masuk lalu menyelinap ke dalam kahyangan dan berhasil merebut amerta yang menjadi incarannya. Akhirnya Amerta tersebut berhasil diserahkan kepada para naga. Sewaktu para naga tersebut memandikan diri dan berebut amerta, maka datanglah Batara Indra merebutnya. Para naga menjilat-jilat tempat dimana air tersebut diletakkan, dan karena tajamnya rumput-rumput disitu, lidah para naga terbelah sebagai mana kita lihat sampai sekarang.

Cerita tersebut hanyalah sebagian kecil cerita yang bisa kita lihat di bagian pahatan dinding atau relief Candi Sukuh. Sebagian besar cerita dapat kita temukan di bagian atas dari sebuah tugu yang berdiri di pojok petak tengah dan menjulang tinggi. Di bagian itu pula kita juga bisa melihat relief sang garuda berada di muka gubug tempat penyimpanan amerta dengan tombak-tombak dan pisaunya. Di beberapa sudut candi terdapat beberapa parit kecil yang berfungsi mengalirkan air hujan yang berasal dari bagian atas candi. Menilik lebih jauh lagi, di dalam batu-batuan candi juga terdapat saluran air. Meskipun kecil, hal ini sangat menarik perhatian dimana pada zaman dahulu sudah ditemukan sistem saluran air yang tertata dengan rapi dan terstruktur.    

Ritual uji keperawanan  dan keperjakaan di candi Sukuh

Sebagai tambahan informasi, candi Sukuh pada zaman dahulu dikenal sebagai tempat untuk menguji kesetian terutama bagi pasangan yang ingin melangsungkan penikahan. Keduanya melakukan ritual untuk menguji apakah pihak dari wanita masih perawan maupun melakukan uji keperjakaan terhadap pihak laki-laki. Adapun ritual yang harus dilakukan adalah : Bagi seorang wanita yang ingin menguji keperawanan dianjurkan untuk melompati sebuah batu pada patung dengan bentuk manusia sedang memegang bagian alat v*talnya, apabila wanita tersebut mengeluarkan darah pada bagian kemaluannya berarti wanita tersebut masih perawan. 

ini dia patung yang dimaksud, patung sebagai ritual uji keperawanan


Selain itu bisa dengan cara lain, yakni : wanita yang akan diuji keperawanannya dianjurkan menggunakan kebaya, setelah itu wanita tersebut dianjukan untuk melangkahi relief persenggamaan. Apabila kebaya yang dipakai terlepas maka artinya wanita tersebut telah berselingkuh atau tidak perawan lagi. Selain itu sesorang wanita juga dinyatakan tidak perawan apabila kain yang dikenakan robek. Hal itu berlaku bagi wanita, bagaimana dengan seorang Pria? Bagi pria yang sudah berselingkuh atau tidak perjaka lagi bila setelah melangkahi relief tersebut dia akan terkencing-kencing. Bagaimana rekan-rekan ?? mau membuktikannya?? kalau saya pribadi meyakini hal tersebut hanya sebagai mitos belaka.

patung dengan bentuk vulgar


Mengunjungi Candi Sukuh tidak ubahnya mengunjungi sebuah tempat yang penuh dengan teka-teki. Ornamen-ornament yang ada disana tidak lazim kita temukan di beberapa candi di tanah Jawa. Banyak pula yang menyebutkan candi Sukuh merupakan candi yang vulgar karena di candi ini terdapat beberapa patung yang secara jelas menampilkan beberapa bentuk alat v*tal manusia. Meskipun demikian, ada baiknya kita harus tetap berfikir positif dalam menanggapi suatu hal terutama menyangkut mitos yang beredar di tengah masyarakat. Pesan yang bisa saya dapatkan setelah berkunjung ke candi Sukuh adalah, bahwasanya seseorang harus bisa menjaga kesetiaan dan kesucian dirinya serta tidak melakukan hal-hal yang gegabah hanya untuk sekedar menuruti hawa nafsu belaka. Demikian pengalaman saya mengunjungi Candi Sukuh Karanganyar, semoga bisa menjadi referensi tempat liburan bagi rekan-rekan.

Bagaimana rekan-rekan, tertarik mengunjungi Candi Sukuh Karanganyar ?? 

Wednesday, 14 June 2017

ziarah ke Goa Maria Mojosongo Solo

Dalam perjalanan ke Kota Solo, saya tiba-tiba diingatkan pada salah satu tempat ziarah umat Katolik yang dulu pernah saya kunjungi 7 tahun silam. Goa Mojosongo adalah nama tempat ziarah yang dimaksudkan. Puji Tuhan, minggu kedua di bulan Juni tahun ini, dimana rekan dan sahabat saya yang beragama muslim sedang menjalankan ibadah puasa, saya berkesempatan mengunjungi serta berziarah di dua tempat ziarah sekaligus yakni Goa Maria Sendangsriningsih dan Goa Maria Mojosongo Solo yang lokasinya cukup tersembunyi di antara rumah-rumah penduduk di kota Surakarta. 

Goa maria Mojosongo Solo
Patung Maria di depan Goa Mojosongo 

Rute menuju Goa Maria Mojosongo Solo

Bagi yang belum pernah ke Goa Maria Mojosongo, mungkin akan sedikit kesulitan untuk mencapai tempat ini karena lokasinya masuk ke dalam area perkampungan. Goa Maria Mojosongo berlokasi di Kampung Debegan RT.04 / RW.05, Mojosongo, Jebres, Kota Surakarta. Bila rekan rekan dari arah Terminal Tirtonadi, terus saja sampai menemukan perempatan di sisi utara RS, dr Oen Kandang Sapi. Setelah itu belok ke utara arah menuju ke perempatan Mojosongo. Sampai di dekat TATV perhatikan plakat penunjuk arah ke Goa Maria di sisi kiri jalan. Lokasi Goa Maria berada di sebuah gang masuk di sisi kiri Jalan Brigjen Katamso.

Goa maria Mojosongo Solo
Taman Getshemani


Masuk di area Goa Maria kita akan menemukan dua patung besar yakni sebuah patung Bunda Maria dan patung Yosef yang berdiri di bagian samping kiri dan kanan gerbang. Kedua patung tersebut seakan menyambut peziarah yang datang ke tempat ini. Ada hal unik dan menjadi kebiasaan pengunjung yang datang ke Goa Maria ini, yakni sebelum masuk ke area peziarahan pengunjung mengusap salah satu patung kemudian membuat tanda Salib.

Goa maria Mojosongo Solo
salah satu sudut taman getshemani


Pada intinya tempat ini dibagi menjadi 7 bagian salah satunya adalah Taman Getshemani. Di taman Getshemani ini juga terdapat sebuah patung Yesus Kristus yang tengah sujud di tengah sebuah kolam. Di tempat ini pula terdapat beberapa terjemahan doa Bapa Kami dalam beberapa bahasa, Bahasa latin, English, Jawa dan tentunya Bahasa Indonesia.

Goa maria Mojosongo Solo


Dari Taman Getshemani kita menuju ke tempat dimana terdapat salib Yubelium. Salib Yubelium berada di sisi kanan belakang dari area Goa Maria. Saya bertemu dengan beberapa orang yang datang silih berganti. Beberapa diantaranya masih menggunakan seragam kantor dan seragam sekolah. Agaknya tempat ini sering dikunjungi oleh beberapa orang yang sengaja menyempatkan diri untuk berdoa setelah mereka pulang dari bekerja atau sekolah. Di samping kiri Salib Yubelium terdapat sebuah Pieta atau patung Bunda Maria membawa Yesus yang telah wafat disalibkan.

salah satu sudut pemberhentian jalan salib

Area jalan salin di Goa Maria Mojosongo berada di sisi kiri dari bangunan utama. Jarak antara satu pemberhentian dengan yang lainnya tergolong dekat. Semua tempat pemberhentian jalan salib terbuat dari ukiran batu alam. Ukiran batu alam tersebut berpadu dengan taman yang tertata dengan rapi rindah membuat tempat ini cukup asri meskipun berada di tengah pemukiman penduduk.

Kapel adorasi Ekaristi


Hal yang membedakan tempat peziarahan ini dengan tempat peziarahan lainnya, bila di beberapa tempat peziarahan Goa Maria berada di luar ruangan, tidak halnya dengan Goa Maria Mojosongo dimana Goa Maria sendiri berada di dalam bangunan utama. Goa Maria terlihat kecil dan berada di pojok kiri. Saya bertemu dengan beberapa ibu-ibu yang berdoa di depan Goa Maria. Di bagian tengah dari bangunan utama, terdapat tempat untuk adorasi sakramen mahakudus dimana penganut Katolik percaya bahwa TubuhDarah, Jiwa, dan Keilahian-Nya hadir dalam rupa hosti yang telah dikonsekrasi. 



Bagi saya pribadi, Goa Maria Mojosongo seakan menjadi oase tersendiri di tengah kesibukan kota Solo. Tempatnya cukup sejuk dan hening membuat peziarah akan betah berlama-lama disini. Tempat ziarah ini juga terbuka untuk umum dalam artian umat lain boleh mengunjunginya. Hal yang perlu diperhatikan ketika mengunjungi tempat ini adalah, kita wajib tetap menjaga keheningan sikap mengingat tempat ini digunakan sebagai tempat untuk berdoa. 

Siapa sangka di tengah pemukiman penduduk yang cukup padat di kota Solo terdapat tempat ziarah umat Katolik yang bernama Goa Maria Mojosongo.   

Monday, 12 June 2017

sore hari di waduk cengklik Boyolali

Waduk Cengklik Solo-Boyolali. Ingin menikmati suasana sunset yang lain di kawasan perbatasan kota Solo dengan Kabupaten Boyolali?, waduk Cengklik tempatnya. Waduk Cengklik terletak di desa Margorejo, Kecamatan Ngemplak Kabupaten Boyolali. Waduk yang terkenal cukup angker ini menjadi tempat wisata yang bisa anda kunjungi apabila anda berkunjung di kota Solo ( letaknya kurang lebih 3 km dari Bandara Adi Sumarmo ) untuk menghabiskan waktu di sore hari dan berburu sunset sambil melihat para pencari ikan yang banyak dijumpai di tempat ini.

waduk cengklik boyolali
perahu milik nelayan yang berada di tepi waduk yang terdapat banyak enceng gondok


Kali ini saya berkesempatan berkunjung di salah satu obyek wisata buatan yakni obyek wisata waduk yang terletak di Kabupaten Boyolali tidak jauh dari Bandara Adi Sumarmo Solo. Karena letaknya yang tidak begitu jauh dari kota Solo tidak jarang orang beranggapan bahwa waduk Cengklik masih masuk dalam administratif kota Solo, hal tersebut tidak benar. Secara administratif waduk Cengklik berada pada wilayah administratif Kabupaten Boyolali. Waduk yang sudah dibangun sejak jaman pemerintahan kolonial Belanda ini kini menjadi tempat yang cukup menarik untuk berhunting foto terutama bagi pecinta fotografi di kota Solo dan sekitarnya.




Pengalaman mengunjungi Waduk Cengklik merupakan pengalaman yang pertama bagi saya. Karena sering ke kota Solo, maka saya sudah cukup hafal tempat-tempat wisata yang patut untuk dikunjungi dan tempat wisata yang cocok untuk menghabiskan waktu di sore hari. Seringkali saya mengunjungi taman wisata Balekambang yang letaknya di dekat terminal Tirtonadi, namun karena sudah terlalu sering kesana, maka saya mencari spot menarik lainnya di pinggiran kota Solo, yakni di waduk Cengklik 

Bagi yang suka akan kegiatan memancing terutama di kota Solo, tentu saja sudah tidak asing lagi dengan Waduk Cengklik. Waduk Cengklik menjadi salah satu tempat memancing favorit dari sekian tempat memancing di kawasan Solo dan sekitarnya. Waduk yang dibangun tahun 1926-1928 oleh Pura Mangkunegara ini memiliki area keramba yang cukup luas serta terdapat jasa penyedia perahu yang dapat disewa baik itu oleh wisatawan ataupun para pemancing yang ingin memancing sampai di tengah danau.       

Rute menuju waduk Cengklik

Waduk Cengklik dapat dengan mudah kita capai. Lokasi waduk Cengklik cukup strategis yakni berlokasi di dekat Bandara Adi Sumarmo dan embarkasi haji. Jika rekan-rekan datang dari arah Yogya atau Klaten, setelah sampai Kartasura, perhatikan papan penunjuk arah di pertigaan yang mengarah ke bandara Adi Sumarmo. Ambil ke kiri ikuti jalan tersebut sampai menemukan perempatan pada jembatan. Sampai di perempatan ambil arah ke kiri ikuti jalan tersebut sampai menemukan waduk Cengklik. Lokasi waduk Cengklik masih 3 km lagi dari perempatan jembatan. 

Keindahan waduk cengklik  

Setelah menyusuri jalanan yang berlubang akhirnya kami sampai di waduk Cengklik. Jika anda dari arah selatan maka pintu masuk kawasan waduk Cengklik ini mungkin tidak terlihat, mengingat area di sekitarnya cukup “kumuh” serta papan tempat wisata yang ada tidak begitu jelas karena telah dimakan usia. Agaknya pemerintah sekitar tidak terlalu memperhatikan keberadaan waduk ini dan tidak mencoba menggali potensi wisata yang ada. Setelah membayar biaya masuk dengan harga Rp.3000; ( biaya retribusi diminta oleh seorang yang tidak mengenakan seragam resmi ) kami diperbolehkan masuk di kawasan waduk dengan tetap membawa motor kami. Sebelumnya saya menanyakan adakah karcis sebagai bukti biaya masuk kawasan waduk Cengklik ? pemuda tersebut mengatakan bahwa tidak ada karcis dan dana disetorkan untuk uang khas muda-mudi sekitar. Memasuki area waduk Cengklik terlihat sejumlah warga terutama anak-anak muda terlihat sedang bersenda gurau di tepian waduk serta beberapa diantaranya sedang mengabadikan moment yang ada, tidak lain adalah mencoba memotret matahari terbenam dan memotret aktifitas pencari ikan yang banyak dijumpai di tempat ini.

waduk cengklik boyolali
di sudut waduk cengklik


Pada saat saya berkunjung ke tempat ini, air yang ada mengalami penyusutan. Hal ini terlihat dengan mengeringnya tepian waduk sehingga di beberapa sudut dapat digunakan oleh para pencari ikan sebagai tempat yang kering untuk memancing dan menebarkan jala mereka. Selain itu di waduk Cengklik banyak ditumbuhi tanaman enceng gondok. Tanaman ini hampir dapat dijumpai di sepanjang tepian dari waduk tepatnya di sisi selatan dan sisi barat.  Mungkin menjadi masalah klasik bagi waduk yang berada di Indonesia bahwasanya saat ini waduk banyak ditumbuhi tanaman enceng gondok yang menjadi salah satu penyebab pendangkalan atau sedimentasi.

waduk cengklik boyolali
nelayan yang sedang menangkap ikan


Perhatian saya tertuju pada salah satu nelayan yang berada di tengah-tengah waduk. Meskipun memiliki ruang gerak yang cukup sempit ( karena terhalang oleh enceng gondok yang banyak tumbuh ) nelayan tersebut tetap mencoba mencari ikan dengan menebar jalanya, mencari tempat yang kemungkinan terdapat banyak ikannya. Saya hanya menemukan seorang nelayan yang menggunakan perahu sampai di tengah waduk, selebihnya hanya pencari ikan yang memancing di tepian waduk. Saya menghampiri seorang bapak yang sedang memancing dan berkesempatan berbincang-bincang dengan beliau, beliau menuturkan bahwa saat ini ikan di waduk ini semakin lama semakin sedikit, hal tersebut tejadi seiring dengan penyusutan jumlah air di waduk Cengklik ini. Bila jumlah air menurun otomatis jumlah ikan juga semakin sedikit. Saya juga menanyakan mengapa beliau tidak memancing ikan ke bagian tengah saja menggunakan perahu.

Kalau pakai perahu akan jauh lebih susah mas, soale banyak enceng gondoknya. Pernah sekali menggunakan perahu, banyak enceng gondok yang menabrak kebawa aliran air, malah susah menepikan perahunya

Itulah penuturan salah satu pencari ikan yang berhasil saya wawancarai di tempat ini. Beliau juga menuturkan bahwa ikan yang banyak didapat di tempat ini adalah ikan dengan jenis patin dan nila. Selebihnya saya menanyakan untuk keperluan apa beliau memancing ikan. Jauh dari perkiraan saya, bahwasanya ikan hasil tangkapan tersebut akan dijadikan lauk pauk, ternyata ikan yang di dapatkan digunakan untuk keperluan pakan ikan lele yang dia pelihara di kolam samping rumahnya :D 

waduk cengklik boyolali
seorang bapak yang sedang memancing di tepi waduk


Berada di kawasan waduk Cengklik selain dapat melihat aktifitas pencari ikan kita juga dapat melihat lalu lalang dan padatnya penerbangan di bandara Adi sumarmo Solo. Pesawat terbang yang melintas tepat di atas kita, maklum saja area waduk Cengklik berada di dekat dengan bandara, sehingga tidak sampai dalam hitungan jam sudah dipastikan dapat terlihat terbang rendang baik itu take off maupun landing. Selain di area waduk Cengklik, tempat memancing lainnya adalah sungai di sisi selatan dari waduk. Di sungai yang letaknya di tepian persawahan milik warga ini juga banyak dijumpai para pemancing ikan. Para pemancing dengan sabarnya menunggu umpan yang dipasangnya disambar ikan yang menjadi buruan mereka. Disini pula kita dapat melihat aktifitas lain yakni para petani padi yang melakukan aktifitas pertanian mengolah tanah di tengah-tengah kesibukan aktifitas perkotaan.    

Tempat ideal untuk hunting foto

Bagi yang suka akan kegiatan fotografi, waduk cengklik merupakan tempat yang ideal untuk hunting foto. Ada banyak spot menarik yang dapat diambil di waduk Cengklik. Selain aktifitas nelayan yang sedang menangkap ikan, aktifitas budidaya ikan yang ada di sisi selatan dari waduk juga tidak kalah menarik. Disana kita dapat melihat budidaya ikan  yang dilakukan menggunakan keramba yang membentang dari sisi barat sampai sisi sebelah timur dari waduk. Waktu terbaik untuk mengunjungi waduk Cengklik adalah ketika sore hari, dimana kita bisa menyaksikan matahari terbenam serta melihat cahaya orange yang perlahan-lahan mulai memudar.



Moment ini yang paling ditunggu-tunggu oleh para pemburu foto untuk mendapatkan gambar yang unik. Oya waduk Cengklik juga terkenal dikarenakan tempat ini sering digunakan sebagai tempat untuk mengambil foto serta banyak yang mengunggahnya ke media sosial. Alhasil waduk yang dahulu hanya digunakan hanya sebagai tempat untuk menampung air guna keperluan irigasi ini kini digunakan untuk wisata masyarakat sekitarnya, khususnya di kota Boyolali dan Solo.

waduk cengklik boyolali
begitu menghayati sampai-sampai masuk ke dalam rimbunan tumbuhan enceng gondok


Sore itu suasana waduk Cengkik cukup ramai dikunjungi oleh masyarakat untuk menghabiskan sore sambil bersenda gurau. Saya sengaja turun ke bagian tepi waduk yang mengering guna mengabadikan beberapa foto enceng gondok yang banyak tumbuh dan hampir menutupi bagian dari tepian waduk tersebut. Dibalik rimbunnya enceng gondok tiba-tiba muncul seseorang dengan membawa peralatan pancing dan melangkah menyusuri waduk,  menjauh ke arah sisi barat. Ternyata tanpa saya sadari di bagian bawah tempat saya duduk ada bapak-bapak yang sedang memancing ikan. Entah bagaimana posisi bapak tersebut ketika memancing karena saya tidak menyadarinya. Keberadaannya seakan berkamuflase dengan tanaman sekitarnya.

waduk cengklik boyolali
yang mengantar saya tidak ketinggalan mau ikut difoto 


Setelah kurang lebih 2 jam menghabiskan waktu di tempat ini, dan setelah senja tiba, kami memutuskan untuk pulang ke Solo. Dari pengalaman saya mengunjungi waduk Cengklik, saya sangat menyayangkan, waduk Cengklik seakan tidak terawat dan pemerintah sekitar tidak memberikan perhatian pada waduk yang saat ini mengalami masalah pendangkalan. Bila dikelola secara lebih serius, waduk Cengklik mungkin bisa menjadi wisata favorit di Kabupaten Boyolali. Selain menjadi tempat wisata yang menarik bagi masyarakat tentunya juga akan menambah pendapatan daerah dari hasil penjualan tiket masuk. Ah.. saya hanya bisa berandai-andai........

Saturday, 10 June 2017

Berhenti sejenak di jalan tembus Tawangmangu ke Sarangan

Perjalanan menuju ke Telaga sarangan dari Tawangmangu hanya membutuhkan waktu 45 menit, namun pemandangan yang ditawarkannya cukup memberi alasan bagi rombongan kami untuk berhenti sejenak menikmati panorama yang disuguhkan. Hal itu kami alami beberapa bulan lalu ketika saya dan rekan-rekan dari tempat saya bekerja melakukan touring menuju Telaga Sarangan dari Tawangmangu. Kami yang bermalam di penginapan dekat dengan tempat wisata alam Tawangmangu melakukan perjalanan pada pagi hari sekitar jam 7.

 jalan tembus Tawangmangu ke Sarangan


Perjalanan rombongan kami dimulai dari tempat kami menginap di daerah dekat dengan tempat wisata alam Grojogan Sewu Tawangmangu. Pagi itu Bapak Santoso, salah satu anggota yang dituakan dan berpengalaman melakukan touring di daerah ini dipercaya memimpin doa. Beliau sedikit memberikan informasi bahwasanya di sepanjang jalan dari Tawangmangu ke Telaga Sarangan kemungkinan akan ada pungutan liar. Namun kami diharapkan untuk tidak berhenti di portal-portal yang dicurigai menjadi tempat pungutan liar tersebut.


Sebelum melakukan perjalanan ke Telaga Sarangan kami mengecek dulu barang-barang bawaan serta kendaraan kami. Pagi itu udara masih sangat dingin meskipun matahari sudah terlihat di sisi sebelah timur. Beberapa dari anggota kami masih terlihat enggan untuk beranjak dari penginapan. Maklum saja kami hanya tidur selama 2,5 jam setelah semalam berbincang-bincang sambil menikmati hidangan yang disuguhkan oleh pengelola penginapan. Tidak lupa sebelum kami berangkat melakukan perjalanan ke Telaga Sarangan, kami mengabadikan gambar terlebih dahulu.


Jalan dari Tawangmangu ke Sarangan atau seringkali orang menyebutnya sebagai jalan tembus Sarangan-Tawangmangu merupakan jalan yang menanjak serta terdapat banyak tikungan yang cukup curam. Jalan tersebut tidak hanya menghubungkan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Magetan saja namun juga menghubungkan dua Propinsi yakni Propinsi Jawa Tengah dan Propinsi Jawa Timur. Beberapa yang melakukan perjalanan ke Telaga Sarangan seringkali keliru dan menyangka bahwa Telaga ini masih dalam satu Kabupaten dengan tempat wisata alam Tawanngmangu. Hal tersebut tidaklah tepat mengingat Telaga Sarangan sudah masuk dalam wilayah Kabupaten Magetan Propinsi Jawa Timur.

 jalan tembus Tawangmangu ke Sarangan

Seperti yang saya utarakan sebelumnya, untuk mengunjungi Telaga Sarangan apabila dari Tawangmangu kita hanya memerlukan kurang lebih 45 menit perjalanan. Namun waktu itu rombongan kami beberapa kali berhenti di tepi jalan. Ya maklum saja, beberapa anggota menggunakan kendaraan yang tergolong sudah berumur. Oleh karenanya membuat mereka seringkali tertinggal di belakang dan memaksa kami untuk berhenti sejenak sambil menunggu anggota yang tertinggal. Meskipun demikian, tidak jarang kami malah berlama-lama di jalan mengabadikan pemandangan yang bagi kami sangat menarik. Berada di sisi selatan dari gunung Lawu dan berada di atas ketinggian membuat udara di sekitar cukup dingin. Pemandangan yang ditawarkan di sepanjang jalan tidak kalah menarik. Dari sini kami bisa melihat puncak dari gunung Lawu, entah itu puncak Hargo Dumilah atau puncak Hargo Dalem.

Hallo........

Perjalanan dilanjutkan melewati kawasan Cemoro Kandang dan Cemoro Sewu. Bagi yang suka dan pernah mendaki gunung Lawu pasti sudah akrab dengan kedua tempat tersebut, Cemoro Sewu menjadi salah satu pintu masuk pendakian gunung Lawu yang banyak dilalui oleh para pendaki. Disini pula kita bisa melihat beberapa angkutan yang membawa pendaki dengan tas-tas carrier mereka berhenti untuk melakukan retribusi. 3 tahun tidak melewati daerah ini perubahan yang paling banyak saya rasakan adalah bertambah banyaknya penjual makanan yang dapat kita temui di sepanjang jalan.


Di sepanjang perjalanan Tawangmangu-Telaga Sarangan kita seringkali berpapasan dengan beberapa kelompok touring lainnya. Beberapa lagi kita berjumpa dengan warga sekitar yang tinggal di daerah lereng Gunung Lawu sisi selatan. Dengan membawa gerobak sayur yang dikaitkan dengan motor mereka, mereka seringkali melintasi jalan yang menanjak dengan kecepatan cukup tinggi. 


Setelah melewati dearah Cemoro Sewu jalan yang akan kita lalui akan semakin lebar. Area hutan yang berada di sisi timur gunung Lawu menjadi hiburan tersendiri bagi pengguna jalan. Pengguna jalan akan dimanjakan dengan eksotisme hutan pinus serta pemandangan Telaga Sarangan yang terlihat dari ketinggian. Di penghujung jalan, sebelumnya kita akan melewati kawasan wisata Kampung Pinus Sarangan yang sering digunakan untuk kegiatan Dunhil Activity sebelum sampai masuk di kawasan wisata Telaga Sarangan.

Dengan dibangunnya jalan Tembus Tawangmangu - Telaga Sarangan tentunya akan menyingkat waktu perjalanan untuk mengunjungi kedua obyek wisata yang sama-sama terletak di lereng Gunung Lawu tersebut. Namun sebaiknya kita tetap berhati-hati ketika melintasi kawasan ini mengingat di beberapa titik seringkali terjadi kecelakaan. Semoga artikel ini sedikit memberi informasi bagi rekan-rekan yang ingin melakukan perjalanan dari arah Tawangmangu menuju ke Telaga Sarangan. Salam satu aspal.